Friday, July 8, 2011

Cinta Buat Chira (1)

1
“CIRA!!! Buruan!!!” teriakan menggema barusan keluar dari bibir Rana, adik Cira yang merasa sudah lumutan menunggu si lelet Cira di mobil pick up milik tetangga mereka. Cira sendiri malah cuek bebek. Dia masih saja berdiri di atas timbangan badan yang selalu dinaikinya setiap hari itu.
“Enam puluh tiga?! Kok naik lagi, sih?!!” teriak Cira, nggak kalah nyaring sama suara adiknya tadi.
“Cira! Buruan! Kalo enggak gue tinggal, lho!” teriak Rana, lagi. Cira merengut.
“Reseh banget sih lu! Bentar lagi ngapa?!” teriak Cira, tak mau kalah. Ditatapnya cermin sekali lagi. Jerawat-jerawat besar masih setia nongol di wajahnya meskipun ia sudah rajin memakai obat jerawat. Malah sepertinya ada dua pendatang baru. Duh, sebel! Cira jadi malas lihat cermin.
“Buruan, Cira! Kan nggak enak sama bang Romi. Kita udah numpang juga masih ngerepotin!” gerutu Rana pas Cira sudah ada di depannya. Cira malah senyam-senyum ke bang Romi yang lagi pasang tampang judes.
“Maaf ya, bang.” Katanya, santai. Wajah bang Romi tambah judes lagi.
“Ntar deh, bang. Kalo Cira udah berani naik motor ke sekolah, Cira nggak numpang mobil bang Romi lagi.” Kata Cira, mencoba menyenangkan hati bang Romi.
“Nggak! Nggak boleh! Selamanya lu nggak boleh bawa motor ke sekolah! Ntar tuh motor keberatan eh lu jatuh lagi! Lu kan selalu ketiban sial. Gue sih nggak khawatirin elunya, tapi motornya!” protes Rana. Cira melotot.
“Apaan sih lu!! Suka-suka gue, dong!”
“Udah! Udah! Kakak-adek juga berantem mulu. Abang sih nggak keberatan kalian numpang terus di mobil abang. Tapi tahu diri, dong. Abang kan juga mesti cepet-cepet ke pasar.” Sela bang Romi.
“Cira nih yang nggak tahu diri! Dandan aja dilamain! Mending kalo lu nambah cantik!” sungut Rana.
“Heh! Enak aja! Bang Romi yang kepagian!” Cira tak mau kalah.
“Eh, kok bang Romi malah yang disalahin?!”
“Maap, bang, maap!!!”
***
Cira menghela napas lega. Akhirnya sampai juga ia di sekolahnya tercinta. Untung dia nggak telat. Kalau telat, bisa jadi bahan tertawaan di kelas.
“CIRA!!!” teriak seseorang, tiba-tiba. Kali ini teriakan itu datang dari teman sekelasnya yang cerewet dan…PLOK!
“Apa kabar?! Gue liat lu makin gendut aja!” cetus Milly, kasar. Habis pake acara main teplok segala sih! Cira melotot.
“Lu yang kalem dikit kenapa, Mil?” Protes Cira sambil mengelus punggungnya yang sakit.
“Eh, kayaknya jerawat nambah lagi, tuh!”celetuk Milly tanpa mengindahkan protes Cira barusan. Cira mengelus-elus wajahnya.
“Biarin. Yang penting gue tetep cantik.” Katanya, pede.
“APA?!”
“YANG PENTING GUE TETEP CANTIK!!!” teriak Cira sambil berlari pergi menjauhi Milly. Ia tak mau mendengar tawa Milly yang menggelegar.
BRUK!!!
“Heh! Kalo jalan hati-hati, dong!” omel Fera yang barusan tubuhnya hampir jatuh akibat ditabrak Cira. 
Sorry, sorry, Fer!” pinta Cira, berkali-kali. Fera menatapnya, sinis.
“Kalo elu nggak gendut sih nggak pa-pa. Tapi lu pikir-pikir dong kalo nabrak orang! Lu tuh bisa bikin orang terjungkal!” maki Fera, sadis. Beberapa detik kemudian, ia menjerit histeris.
“AUOU!!”
“Lu juga hati-hati kalau  ngomong!” kata seseorang yang barusan menginjak kaki Fera dengan kejamnya. Cira yang sedianya akan menitikkan airmata karena makian Fera barusan jadi tersenyum riang. Teman sebangkunya, Putty, telah menyelamatkannya. Gadis bermata sipit itu memang yang paling baik pada Cira di kelas ini. Maklum, namanya juga temen sebangku sekaligus sahabatnya.
“Huh! Dasar!” gerutu Fera yang tak mau memperpanjang masalah dengan Putty. Ia tak mau pagi yang indah ini jadi muram gara-gara bertengkar dengan gadis keturunan Cina itu.
“Putty, lu udah ngerjain PR bahasa Inggris belum?” tanya Cira, setelah meletakkan di tasnya di laci meja.
“Bilang makasih dulu dong sama gue. Gue kan udah belain lu barusan.” Kata Putty sambil menyisir rambutnya yang menurut Cira sudah rapi itu.
“Iya deh. Makasih banyak, Putty.” Kata Cira. Ia mengerti betul. Sahabatnya yang satu ini memang selalu pamrih. Setidaknya kita bilang makasih gitu kalo udah ditolongin dia.
“Oke deh. Kembali kasih. Gue udah ngerjain PR bahasa Inggris.” Kata Putty yang kali ini merapikan bandananya yang menurut Cira-lagi-lagi-sudah sangat rapih itu.
Please dong, Put. Gue nyontek….” Mohon Cira.
“Ah, elu. Ngomong sok-sok-an pake bahasa Inggris, tapi PR nyontek.  Sekali-sekali lu usaha kenapa.” Cibir Putty.
“Gue udah usaha. Gue lagi berusaha nyari tempat les bahasa Inggris yang oke, tapi belum nemu-nemu juga.”
“Ye! Bukan itu. Usaha sendiri, dong. BELAJAR! Gue juga nggak ikut les-lessan segala, tapi gue tetep bisa, kan?” kata Putty sambil mengibas-ngibaskan kipas ke tubuhnya. Bibir Cira maju lima senti. Ia sebel banget dengar omongan Putty barusan. Putty yang merasa Cira mulai naik darah, langsung pasang senyum.
“Oke deh. Nih, gue pinjemin. Tapi besok-besok lu harus usaha dulu, kalau nggak bisa baru nanya ke gue. Ntar gue ajarin.” Katanya sambil mengangsurkan buku PR-nya. Wajah Cira langsung berubah ceria.
“Makasih ya, Putty!!!” serunya, ceria. Putty tersenyum diramah-ramahin.
***
Hai! Nama gue Cira. Gue masih kelas satu SMU di SMU deket rumah gue, eh sebenarnya nggak deket sih. Satu jam dari rumah gue kalo nebeng mobil pick up-nya bang Romi, tetangga gue yang punya kios di pasar deket sekolah gue. Lumayan, kan? Bisa ngirit ongkos.
Gue tahu. Gue emang…nggak cantik. Berat gue sekarang enam puluh tiga kilo gram, dengan tinggi 160 senti. Sebenarnya gue nggak terlalu gendut, iya nggak sih? Tapi entah kenapa banyak orang yang ngatain gue gendut. Mungkin karena pipi gue yang tembem ini kali. Padahal kalo gue itung-itung, berat 63 kilo itu ideal dengan tinggi 160 senti. Yah, kelebihan dikit nggak pa-pa, kan? Cuma entah kenapa orang-orang nggak mau nyadar. Emang hobi mereka aja kali ya menghina orang. Yang paling hobi nyakitin hati gue ya trio cerewet, Milly, Fera dan June. Ugh, sebel deh gue ama mereka. Sukanya ngurusin orang lain melulu. Urus tuh diri mereka sendiri!
Bukan gue nggak berusaha diet. Semua obat diet udah gue minum, tapi nggak ada hasilnya.  Nggak turun-turun juga nih berat! Gue maklum, kok. Orang gue nggak gendut. Orang-orang aja tuh yang sirik tapi…selain agak gendut, gue jerawatan. Jerawatnya nggak tanggung-tanggung. Sampai sudah nggak ada tempat lagi buat nyapuin bedak ke wajah gue! Mungkin itu yang bikin gue nggak menarik. Hiks! Gue sedih. Bukan gue nggak pernah usaha buat ngilangin nih jerawat, tapi emang nih jerawat yang nggak mau ilang-ilang. Padahal udah berbagai macam obat jerawat gue coba. Sebel, kan?
Selain fisik gue yang nggak mendukung, otak gue juga nggak encer-encer banget. Yah, mungkin karena gue kabanyakan makan, jadi gue nggak bisa mikir yang berat-berat. Walhasil gue jadi bergantung mulu sama Putty. Gue jadi makin sebel deh. Kok nggak ada ya yang bisa dibanggain dari diri gue.
Kadang, eh sering, gue iri sama Putty, temen sebangku gue itu. Wajahnya mulus…banget. Pokoknya nggak ada jerawatnya sedikit pun. Udah gitu badannya langsing, padahal dia makannya nggak kalah banyak sama gue. Gue tahu, sebenarnya banyak cowok di kelas ini yang naksir dia. Tapi Putty pura-pura nggak peka. Ah, Putty. Coba gue kayak elu. Cantik, pinter lagi!
“Hei! Gendut! Lu jangan ngalangin gue, dong!” suara bass Robert memecah kesunyian kelas. Semua anak yang barusan sibuk menyalin PR dari papan tulis langsung tertawa mendengarnya. Cira tertunduk. Ia tahu, seruan itu ditujukan untuknya.
“Hei, item! Lu kalau mau ngatain orang, ngaca dulu dong!” lagi-lagi Putty membela Cira.
“Ye! Putty! Ngapain lu ikut-ikutan?! Diem, ganjen!” balas Robert.
“Tapi lu suka, kan…?” Putty mengerjapkan matanya, genit. Robert jadi salah tingkah. Kelas kembali ramai. Untung sedang tidak ada guru di kelas ini.
“Hei, sudah-sudah. Kalian jangan saling menghina begitu. Dosa.” Kata Farhan, teman sebangku Robert.
“Cie…Farhan. Kesempatan nih lu bilang ke Putty kalau elu naksir dia!” goda Robert. Wajah Farhan langsung merah.
“Apaan sih kamu?” gumamnya, malu. Melihat wajah Farhan yang kemerah-merahan, anak-anak sekelas jadi makin heboh.
“Cie…Farhan…! Baru nyaho nih kita!” seru mereka. Sedangkan Putty sendiri malah mengibas-ngibaskan rambutnya, genit.
“Heh, Robert. Kalo Farhan naksir gue itu normal namanya.” Katanya, centil.
“Kalo gitu, mending kalian jadian aja sekarang!” seru Robert.
“Boleh. Gue sih tinggal menunggu pernyataan dari Farhan.” Sahut Putty, santai. Anak-anak sekelas makin heboh mendengarnya.
Astaghfirullah! Apa-apaan sih kalian?!” Farhan geleng-geleng kepala.
“Alah, elu jangan muna!” Robert mencibir. Farhan sibuk mengelus dada.
“Sudah! Sudah! Kok kalian jadi bertengkar begitu!” sela Cira.
“Iya nih. Sudah diam!” seru Farhan.
“Oh, Farhan pindah ke lain hati, nih, sekarang jadi Cira, ya?!” goda Robert. Gantian Cira yang wajahnya memerah.
“Tuh, Cira ge-er, Han!” cetus Robert.
“Apaan, sih? Sudahlah. Saya nggak naksir siapa-siapa, kok!” Farhan tertunduk. Cira jadi patah hati dibuatnya.
“Tau, nih! Bilang aja lu yang naksir!” sungut Putty.
“Ye!! Sorry, ya!” seru Robert membuat hati Cira semakin  panas. Kelas kembali sunyi tatkala pak Asep, guru Fisika kembali memasuki kelas.
***
Namanya Farhan. Yah, boleh dibilang dia adalah salah satu cowok yang gue taksir. Tapi…sepertinya dia nggak naksir gue. Gue emang suka kege-eran liat sikapnya yang suka malu-malu itu. Tapi itu memang karena dia pemalu. Sama semua cewek sikapnya memang begitu. Dulu gue pernah seminggu duduk sama dia. Itu semua kerjaannya senior-senior yang ngerjain kita pas MOS (Masa Orientasi Siswa). Kita semua dituker-tuker bangkunya dan dipasang-pasangangin. Nah, gue dapet deh duduk sama Farhan. Waktu itu hati gue rada kebat-kebit juga. Abis doi ganteng sih. But, gue jadi nggak enak liat sikap doi yang hobi nunduk itu. Nggak pernah sekali pun dia natap gue pas kita lagi ngobrol. Pertama, gue merasa diceukin sih. Tapi habis itu biasa. Mungkin dia emang udah dari sononya begitu. Yang gue suka darinya, dia sama sekali nggak ngerendahin gue. Nggak kayak cowok-cowok lain di kelas ini. Dia nggak pernah menghina gue. Kata-katanya lembut, mana orangnya rajin sholat lagi. Bikin gue tambah simpati aja. Tapi sayang, sekali lagi pasti di hati Farhan nggak ada tempat sedikit pun buat gue.
“Cira! Lu bengong aja seeh…!” seru Putty dengan nada suara yang dibuat-buat.
“Tau nih Cira. Lu jatuh cinta lagi, ya?”  Milly ikut-ikutan. Cira melengos. Sebel. Lagi asyik-asyiknya melamun diganggu. Emang enak?!
“Ra, emang lu jatuh cinta sama siapa lagi, seeh?” tanya Putty sambil menyapukan bedak ke wajahnya. Ya Ampun…nih orang bener-bener ganjen!
“Enggak. Milly aja tuh. Dasar tukang gosip!” sungut Cira.
“Eit! Enak aja! Kan udah keliatan dari muka lu. Lu pasti lagi naksir seseorang, kan?” desak Milly.
“Enggak! Sok tahu! Lagian kalo gue naksir, apa urusan lu? Suka-suka gue, dong!” sungut Cira.
“Emang gue nggak ada urusannya. Cuma gue bilangin, ya. Kalo elu naksir cowok itu lu ngaca dulu. Sesuai nggak sama tampang lu. Jangan naksir cowok yang kelewat TINGGI! Kenyataannya kan elu kalo naksir nggak tanggung-tanggung. Cowoknya favorit semua. Hasilnya kan, hati lu yang sakit.” Cerocos Milly, to the point. Cira dan Putty sampai melongo dibuatnya.
“Eh, Milly. Bukannya elu tuh yang barusan bikin sakit hati Cira?” sindir Putty.
“Eh, gue bukannya mau menyakiti hati Cira. Gue cuma mau ngasih tahu supaya dia jangan banyak BERMIMPI.” Tegas Milly.
“Yah, suka-suka dia dong mau naksir siapa.” Tukas Putty.
“Sudah-sudah. Ngapain sih kalian berantem? Gue mau naksir siapa, terserah gue dong. Lagian gue cuma naksir. Gue nggak berharap banyak, kok.” Sela Cira.
“Ya…tapi kan….” Milly hendak bersuara lagi sebelum dipotong oleh Cira,
“Dan elu, Mil. Lu tuh nggak usah deh ngurusin orang lain. Urus tuh diri lu sendiri. Bibir lu tuh jadi makin doer, tau.” Katanya, pelan tapi DALEM. Milly melongo dibuatnya.  Putty tersenyum sambil mencibir.
“Bener kata dia, Mil. Lu cerewet banget sih.” Kata June, teman sebangku Milly. Milly jadi melongo dua kali. Bisa-bisanya June memihak Cira. Biasanya kan mereka CS-an.
***
Terserah orang mau bilang apa. Gue mau jatuh cinta sama siapa kek, itu terserah gue. Emangnya jatuh cinta itu dosa? Kan cinta datangnya dari Tuhan juga. Apa salah gue kalau gue jatuh cinta? Gue tahu. Gue emang jatuh cinta nggak sama orang yang tepat. Gue selalu mencintai cowok yang lebih tinggi dari gue. Bukan cuma tinggi badannya, tapi juga wajahnya, otaknya, kayanya, dan lain-lainnya. Pokoknya lebih tinggi dari gue. Trus…gue mesti jatuh cinta sama siapa, dong?
“Putty….”
“Apa?”
“Lu pernah jatuh cinta, nggak?”
What?!”
“Lu pernah jatuh cinta, nggak? Kayaknya lu nggak pernah ngomongin cowok yang lu taksir, deh.”
“Ha ha ha ha!” Cira jadi takut mendengar suara tawa Putty. Untung guru bahasa Indonesia belum datang.
“Ayo dong jawab!” desak Cira.
“Gue….” Putty menggantung kalimatnya seraya berpikir. Cira menunggu-nunggu. “Ya jelas aja sering jatuh cinta!” lanjut Putty membuat Cira terbelalak.
“Sering?”
“Iya lah. Gue kan bukan cewek pingitan yang tinggal terus di dalam rumah. Gue kan juga ketemu orang-orang dan tentu aja ada di antara orang tersebut yang gue sukai.” Jelas Putty.
“Tapi kok lu nggak pernah cerita?”
“Ngapain? Gue nggak serius, kok. Pas gue liat, gue emang suka sih. Tapi abis itu gue lupa.”
“Yah…itu sih namanya bukan jatuh cinta. Namanya lu cuma suka doang.”
“Emang…kalo jatuh cinta, gimana?”
“Lu…nggak bakal lupa sama dia. Lu bakal terus mikirin dia, lu pengen ketemu dia. Pokoknya cuma dia yang ada dalam pikiran lu.” Jelas Cira sambil menerawang. Putty terbengong-bengong dibuatnya.
“Lu pernah nggak merasakan hal itu?!” tanya Cira, tiba-tiba. Putty terkaget-kaget dibuatnya.
“Nggak!” jawabnya, cepat.
“Enggak?”
“Kayaknya sih…enggak.”
“Masa’?”
“Iya.”
“Masa’ sih lu belum pernah jatuh cinta?”
“Em….” Putty berpikir keras. “Mungkin.” Jawabnya, bikin penasaran.
“Siapa? Siapa orang yang ‘mungkin’ itu?”
“Kenapa sih elu penasaran banget?” tanya Putty, menyelidik. Cira menghela napas.
“Biar gue ada temennya. Habis gue merasa gue tuh gampang banget jatuh cinta.” Katanya, pelan. Putty tertawa.
“Oh…nggak pa-pa lagi. Gitu aja dipikirin. Oke deh, gue juga pernah jatuh cinta.”
“Sama siapa?” tanya Cira, antusias.  Kening Putty berkerut.
“Lu pengen tau aja. Pokoknya yang penting gue pernah jatuh cinta, jadi elu nggak perlu berkecil hati karena merasa elu terlalu sering jatuh cinta.”
“Iya…tapi gue perlu tahu siapa orangnya biar gue yakin kalau omongan elu tuh bener.” Desak Cira. Putty menatap kedua bola mata Cira yang terlihat penuh harap.
“Yah…oke deh. Dia…senior kita pas MOS dulu. Kak Doni.” Jawabnya, pelan. Cira bengong.
“Jadi…elu naksir Kak Doni?”
“Yah, gitu deh.”
“Lu masih mikirin dia?”
“Yah, dikit-dikit. Kan sekarang kita udah jarang ketemu lagi.”
“Lu kangen sama dia?”
“Mang kenapa sih?”
“Kalo lu kangen, berarti lu benar-benar cinta. Lu pedekate aja, Put. Kalo elu, gue yakin deh berhasil. Soalnya kan lu sepadan sama Doni.” Celoteh  Milly, tiba-tiba. Fera dan June yang ada di sampingnya ikut senyum-senyum. Cira dan Putty bertatapan.
“Kalian nguping, ya?!” jerit Putty, sebal. Bagaimana pun ia malu juga rahasianya terbongkar. Apalagi ini tiga Ratu Gosip yang tahu. Bisa berabe dia!
“Kita nggak nguping. Salah kalian sendiri ngobrolnya kencang-kencang. Jadi, Put, elu naksir Doni?” tanya Milly sekali lagi. Diikuti anggukan kepala June dan Fera. Putty memalingkan wajah. Ia tak mau wajahnya yang merah ketahuan ketiga cewek reseh itu.
“Nggak.”
“Alah…barusan lu ngomong gitu. Pokoknya gue udah tahu kok kalo elu naksir Putty. Nah, sekarang tinggal gimana elu mewujudkan mimpi elu.” Cerocos Fera.
“Mimpi apa?”
“Ya jadi pacar Doni, dong!” seru Milly. Putty buru-buru menutup mulut ember Milly.
“Aduh! Jangan kenceng-kenceng, dong! Reseh!” omel Putty.
“Tau nih, kalian. Ikut-ikutan aja!” seru Cira.
“Heh, kalian. Denger, ya. Emangnya kalo orang jatuh cinta harus pacaran? Nggak, kan? Lagian gue nggak kepikiran buat pacaran.” Tegas Putty.
“Kalo gitu, elu nggak bener-bener jatuh cinta.” Balas Milly. June dan Fera mengangguk-angguk.
“Ye! Lu tau apa tentang cinta?” cibir Putty.
“Tanya tuh Cira. Kalo orang jatuh cinta itu pasti berharap. Kalo elu nggak berharap jadi pacarnya berarti elu nggak bener-bener jatuh cinta.” Tukas June. Putty menatap Cira yang menggeleng.
“Enggak…gue nggak selalu berharap, kok.” Kata Cira.
“Bohong! Itu namanya elu muna. Sekarang buktiin, Put. Kalo elu bener-bener mencintai Doni berarti elu mau pedekate buat mengambil hatinya. Kalo enggak mau, berarti elu bohong. Elu nggak bener-bener jatuh cinta.” Tegas Fera. Putty melongo dibuatnya. Sesaat kemudian ia menatap Cira.
“Ini bukan soal gue jatuh cinta atau enggak. Tapi soal kehormatan. Emangnya bagus cewek nembak cowok duluan? Gengsi, tau!” sungutnya pada ketiga gadis itu.
“Ye…tapi, kan….” Milly, Fera dan June mulai nyerocos lagi.
“Kalo mau, kalian aja sono yang nembak cowok duluan. Ntar kalo kalian berhasil, baru deh gue.” Putty mencibir.
“Kok kita, sih? Kalo kita nggak mungkin lah ya.” Sahut Milly. Putty dan Cira bertatapan.
“Kenapa enggak?” tanya Cira.
“Karena kita nggak jatuh cinta sama siapa pun!” jawab ketiga gadis itu serempak. Putty dan Cira tertawa.
“Masa’ sih kalian nggak jatuh cinta sama satu pun cowok di sekolah ini?” sindir Putty. Ketiga gadis itu bertatapan.
“Jatuh cinta emang enggak.” Kata June.
“Tapi kalau ngecengin….” Fera menggantung kalimatnya.
“Tiap hari lah, ya!” sambung Milly. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Cira dan Putty.
“Alhamdulillah…akhirnya mereka pergi juga.” Ucap Putty sambil mengelus dada. Cira mengacungkan dua jempol. Dia juga sudah pusing mendengar suara ketiga gadis itu dari tadi. Tapi…lho kok mereka balik lagi?
“Bu Nurma udah datang tuh!” seru Putty sambil menyiapkan buku LKS bahasa Indonesianya. Mulut Cira membentuk huruf O. Pantas….
***
Benarkah Putty jatuh cinta pada Kak Doni? Kok Putty nggak pernah bilang-bilang, ya? Apa Putty bohong? Apa dia cuma mau nyenengin hati gue aja? Ah, nggak tahu deh. Selama ini Putty emang tertutup banget sama gue. Meskipun gue sahabatnya, tapi dia nggak pernah banyak cerita sama gue. Malahan gue yang sering curhat. Mungkin Putty memang cuma pengen nyenengin hati gue aja. Sebenarnya dia memang nggak jatuh cinta sama siapa pun. Putty nggak seperti gue yang gampang jatuh cinta. Gue nggak bisa lihat cowok tinggi sedikit. Pasti deh gue langsung jatuh cinta tanpa ngaca dulu. Gue tahu, gue nggak pantes dapetin cowok yang lebih tinggi dari gue karena gue nggak cantik. Gue bukan cuma nggak cantik. Tapi gue…. Cira menatap cermin yang berbalik menatapnya. Cermin itu memantulkan wajah seorang gadis yang wajahnya bak bulan dilihat dari dekat dan tubuhnya seperti bola dengan berat….
“Enam puluh lima kilo gram! Naik lagi!!!” jerit Cira sambil melahap es krim ketiganya.
***

Klik di sini untuk baca kisah selanjutnya yaaa

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...