Wednesday, September 28, 2011

Monday, September 26, 2011

Novel: Cinta Buat Chira (16)

16

Hari yang tidak ditunggu pun tiba. Cira tak mampu menengadahkan kepalanya saat Putty ke sekolah tanpa memakai jilbabnya! Putty lepas jilbab! Lepas jilbab!!! Cira tertunduk.
“Gila! Ini benar-benar gila, Put!!!” seru Milly yang sengaja datang ke kelas Putty untuk melihat Putty yang telah melepas jilbab.
“Akhirnya elu lepas jilbab juga, Put!” kata Fera.
“Iya. Kita kan masih muda. Nggak usahlah pake jilbab dulu.” Tambah June. Ugh! Cira sebal mendengar ocehan itu.
“Ya, gue pikir juga gitu. Gue ngerasa…gimana ya? Dari pada gue munafik, sekarang gue pake besok enggak, mendingan kan gue nggak pake dulu sampe bener-bener siap.” Kata Putty sambil mengibaskan rambutnya yang telah melewati bahu itu.
“Iya, Put. Bener! Mendingan kita habisin dulu lah masa muda ini. Kalo pake jilbab kan susah. Mau ngikutin mode, nggak bisa!” kata Milly disertai anggukan kepala Fera dan June. Cira muak mendengarnya. Belum lagi dengan penggemar Putty yang langsung bersorak kegirangan melihat Putty lepas jilbab.
“Hentikan!!!” teriak Cira, kencang sekencang-kencangnya. Hening. Semua mata menatap Cira. Cira menatap Putty, tajam.
“Cira? Elu…kenapa?” tanya Putty tak mengerti. Setetes air bening jatuh di pipi Cira. Tanpa menjawab pertanyaan Putty, Cira berlari meninggalkan kelas. Meninggalkan Putty dan kawan-kawan yang terbengong-bengong.
***
“Hidayah itu bisa datang bisa pergi.” seseorang membuat Cira mendongak. Ia buru-buru menghapus airmatanya melihat siapa yang datang menemaninya menangis di teras musholla yang sepi ini. Farhan.
“Makanya kita jangan buru-buru senang setelah menerima hidayah. Kita justru harus mawas diri dan berdoa agar Allah tidak mengambil hidayah yang telah kita dapatkan.” Farhan melanjutkan. Cira tertunduk. Isak tangisnya masih terdengar.
“Gue…gue nggak tahu harus ngomong. Gue kecewa dengan Putty. Gue sebel. Semua salah gue yang nggak bisa ngingetin Putty.” Rutuknya.
“Kalau Allah menyayangi seseorang maka Dia akan memudahkan orang itu untuk melakukan perbuatan baik.” Kata Farhan sembari menghela napas. Cira terperangah mendengarnya.
“Kalau Allah…” bibirnya tak mampu lagi mengucap. Farhan mengangguk.
“Ya. Makanya kita harus selalu berdoa agar Allah selalu menetapkan hidayah ini dalam diri kita karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi besok.”
“Berarti Allah…nggak sayang sama Putty, dong? Putty kan cantik, cerdas…”
“Allah tidak melihat seseorang melihat dari fisiknya. Dia melihat seseorang dari ketakwaannya.” Farhan memotong ucapan Cira. Cira tergugu. “Allah hanya sedang menguji Putty. Sayang sekali, ia tidak lulus ujian.” Kata Farhan sebelum meninggalkan Cira yang termangu.
***
Terima kasih Allah, atas cinta yang Kau berikan kepadaku sehingga sampai hari ini Kau masih memberikan hidayahMu kepadaku. Tapi aku tak ingin sendirian. Aku ingin Putty pun mendapatkan hidayah dariMu. Aku tahu dulu ia tak serius mendekatiMu. Ia mendekatiMu hanya untuk merebut simpati kak Adrian. Makanya sekarang ia goyah karena kak Adrian menolaknya. Aku ingin Putty kembali ya Allah. Bisakah Kau mengembalikan Putty ke jalan yang dulu? Aku yakin Kau bisa, ya Allah. Aku yakin….
***
“Gue minta maaf, Ra kalau elu marah karena gue udah ngelepas jilbab.” Pinta Putty pada keesokan harinya. Cira diam. Putty menghela napas.
Please dong, Ra. Gue kan juga punya hak untuk memilih apa yang ingin gue lakukan. Kita kan masih muda, Ra. Masih labil. Wajar aja kalau kita masih plin plan dalam mengambil keputusan.” Lanjutnya. Ganti Cira yang menghela napas.
“Gue ngerti.”
“Trus, kenapa elu masih marah?”
“Karena…karena elu udah mempermainkan hukum Allah.”
“Cira, lu kalo ngomong jangan yang berat-berat, dong.”
“Iya, jilbab itu hukum Allah. Nggak bisa elu permainkan.”
“Ya…gue kan nggak tahu. Ya…gue tahu gue salah. Lain kali gue akan mikir dalem-dalem dulu kalau mau mutusin sesuatu.”
Cira menatap Putty, dalam. “Jadi bener elu lepas jilbab karena kecewa sama kak Adrian?”
“Ya, nggak lah!” sambar Putty. “Bukan karena dia! Enak aja! Tapi karena gue emang masih pingin bebas. Apalagi lu kan tau gue ditawarin jadi model?”
“Maksud elu…elu serius dengan tawaran jadi model itu?” Cira terbelalak. Putty mengangguk cepat.
“Iya, Ra. Gue kan udah datengin agensi model itu sama nyokap gue, terus tadi malem agensi model itu nelpon gue. Malam minggu besok katanya ada acara pertemuan para model. Gue disuruh dateng karena banyak banget klien yang hadir. Siapa tahu ada yang mau make gue jadimodel.” Jelasnya dengan wajah berbinar. Cira justru tak tersenyum menanggapinya.
“Lu kok kelihatan nggak senang sih, Ra?” Putty mengeryitkan kening. Cira hanya menjawabnya dengan helaan napas.
“Lu mau kan nemenin gue, Ra?” Putty mengerjapkan mata.
“Ke mana?”
“Yah ke acara para model itu! Asyik tau, kita bakalan ketemu banyak orang beken!” jelas Putty, antusias.
“Nggak, ah! Gila aja lu!” Cira menggeleng cepat.
“Ih, kok gila sih? Serius! Waras!”
“Itu bukan tempat gue, Put!”
“Ye! Trus, tempat lu tuh di masjid gitu? Lu jangan batasin pergaulan lu dong, Ra! Ya, Ra, ya? Temenin gue?” harap Putty. Cira menggeleng cepat.
“Enggak, ah. Gue malu.”
“Plis, Ra…. Lu mau gue jadi orang cengo’ di situ? Temenin gue….”
“Aduh, Put….”
Please, Ra. Please….”
Cira pun luluh. Lagipula apa salahnya menemani Putty? Ia kan jadi bisa menjaganya.
***
Allah, terima kasih atas cintaMu. Sekarang aku tahua rti diriku. Aku memang tidak secantik Putty, tapi justru itu yang harus kusyukuri. Godaan untuk mencapai cintaMu tidak terlampau berat. Bayangkan jika harus menjadi Putty? Untuk memakai jilbabsaja beratnya bukan main. Jelas, karena Putty cantik dan ia ditawari jadimodel. Mana ada model pakai jilbab? Ah, Putty. Andai kau tahu cinta Allah itu lebih indah.
“Cira!! Buruan! Lu nggak denger apa temen lu dari tadi klakson melulu!” teriak Rana  dari ruang tengah. Cira geleng-geleng kepala mendengarnya.
“Iya, iya,tau.” Katanya sambil berlalu meninggalkan Rana dan pacarnya. Cira bertekad, Rana adalah sasaran dakwahnya yang  harus berhasil! Rana terkejut melihat Cira berpenampilan rapi.
“Eh, lu mau ke mana? Kok elu nggak bilang-bilang kalau udah punya pacar?”
“Emang gue mau pacaran? Gue pergi dulu ama Putty. Assalamu’alaikum!” seru Cira.
“Eh, jangan-jangan lu pacaran sama Putty lagi?!” seru Rana. Bodo, ah! Cira nggak mau dengerin! Emang gue pikirin?!
Putty tersenyum senang melihat Cira.
“Makasih banget ya, Ra, elu mau nemenin gue….” Katanya sambil membukakan pintu buat Cira. Cira mengangguk. Putty yang tadi duduk di depan, di sebelah supir, ganti duduk di belakang bersama Cira. Cira heran melihat Putty memakai jaket.
“Masa’ elu ke pesta pakai jaket sih?” tanyanya, bingung. Putty nyengir.
“Enggak kok. Entar jaketnya dilepas, kok.”
“Oh, dingin, ya?” Cira mengerti. Tapi tak lama ia sadar. Segera ia menguak sedikit jaket Putty.
“Auow! Cira! Yang sopan, dong!!” jerit Putty. Cira terpana melihat gaun merah Putty yang memperlihatkan punggungnya itu.
“Masya Allah! Putty! Seksi banget sih baju lu?!” tanyanya sambil geleng-geleng kepala. Putty mengatupkan jaketnya kembali.
“Ini pilihan nyokap gue! Katanya, ya begini ini baju ke pesta.” Katanya, ketus. Cira menghela napas.
“Lu…nggak malu, Put?”
“Malu?”
“Iya. Setidaknya kan lu pernah pake jilbab. Elu pernah berpakaian rapat.”
“Itu kan dulu. Gue harus membiasakan.”
“Membiasakan apa?”
“Membiasakan jadi model. Entar kan kalau jadi model gue harus mau berpakaian apa aja.”
“Termasuk telanjang?”
“Ih! Elu vulgar banget sih?! Ya, enggak lah! Gue juga tahu diri. Tapi Ra, kalau cuma pakaian kayak gini sih udah biasa.”
“Iya. Buat sebagian orang. Buat gue, enggak tuh!”
Please dong, Ra. Gue kan minta elu nemenin gue, bukan jadi komentator. Suatu saat nanti gue bakalan balik pake jilbab, deh.”
“Oh ya?”
“Udahlah! Lu bikin mood gue jadi jelek aja!”
Putty diam. Cira menghela napas. Ya Allah, tolong bukakan hati Putty. Begitu doanya dalam hati.
***
Mobil yang dikendarai supir Putty akhirnya sampai juga di tempat yang dituju. Sebuah rumah mewah di kawasan Pondok Indah. Banyak mobil mewah berjejer di halaman rumah yang luas itu. Cira menggigit bibir. Ada ragu yang menghadang.
“Ayo, Ra!” ajak Putty yang sudah melepas jaket coklatnya. Cira menghela napas melihat gaun merah Putty yang “hot” itu.
“Put, elu nggak masuk angin?”
“Cira, please, dong. Jangan norak gitu. Dan inget ya, nanti di dalem elu jangan norak!” Putty memeringatkan.
“Kalo elu nggak mau ngajak gue juga nggak pa-pa.”
“Cira! Jangan macem-macem, deh! Ayo!” Putty menarik tangan Cira, kasar. Cira patuh saja mengikutinya.
Suara house musik yang hingar bingar langsung menyambut kedatangan Putty dan Cira. Cira jengah. Ia merasa tak pantas berada di tempat seperti ini. Ia dengan jilbabnya di tengah-tengah para gadis berpakaian minim? Langkah Cira terhenti lagi. Putty geleng-geleng kepala.
“Biasa aja dong, Ra!” rutuknya.
“Gue nunggu di mobil aja deh sama supir.”
“Nggak bisa gitu dong, Ra. Gue kan juga nggak enak sendirian. Nggak ada yang gue kenal di sini. Ayo dong, Ra! Jangan berhenti di sini! Bikin malu aja!” Putty merengut. Cira jadi enggak enak. Kalau Putty marah, bisa gawat.
“Iya deh.” Katanya, terpaksa. Putty tersenyum senang. Ia menggandeng Cira menerobos kumpulan orang yang tengah berpesta.
“Aha! Putty!” seru seseorang, tiba-tiba. Anton! Senyum Putty mengembang.
“Iya, pak Anton. Saya datang.” Katanya, sumringah.
“Tidak usah memanggil “pak”. Kedengerannya saya sudah tua saja.” Anton tersenyum sambil melihat Cira sekilas.
“Ini Cira, pak, eh…Anton…temen saya yang nemenin.” Putty mengenalkan Cira kepada Anton. Anton hanya mangut-manggut.
“Maaf, bisa kan temannya ditinggal di sini dulu. Saya ingin mengenalkan kamu kepada para klien saya.” Katanya. Putty menatap Cira.
“Nggak pa-pa, kok, Put.” Cira mengerti isi hati Putty.
“Kamu bisa makan apa aja di sini.” Anton tersenyum dibuat-buat kepada Cira. Cira merengut. Emangnya gue tong sampah! Rutuknya. Tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum.
“Ya udah, Ra. Gue pergi dulu, ya. Sebentar, kok.” Putty tersenyum. Cira mengaangguk. Sepeninggal Putty, ia jadi bengong sendiri. Ia merasa asing di sini. Asing….
“Bapak-bapak, ini model baru saya, namanya Putty.” Anton mengenalkan Putty pada para pria berjas dan berdasi di hadapannya. Putty memasang senyum semanis mungkin. Para pria itu juga senyam-senyum sambil bergantian berkenalan dengan Putty. Putty menaksir usia mereka sekitar 35-an.
“Putty, mereka ini manajer pemasaran dari berbagai perusahaan. Mereka adalah klien kita. Mereka sering memakai model dari agensi kita.” Anton menjelaskan. Putty manggut-manggut sambil tetap memasang senyum.
“Putty terlihat fresh. Masih sekolah?” tanya salah seorang yang berkumis lebat. Putty mengangguk.
“Iya, Pak. Saya masih kelas 2 SMU.”
“Jangan pakai “pak”, dong. Saya kan masih muda. Baru 31 tahun, lho.” Bapak itu tersenyum. Putty tercekat. Tiga puluh satu tahun, masih muda? Ha ha.
“Eh…iya, iya.” Putty ingin garuk-garuk kepala, tapi nggak etis, dong!
“Saya rasa Putty cocok menjadi model iklan saya. Sebelumnya…sudah pernah main iklan?” tanya pria berkumis itu lagi. Putty menggeleng.
“Dia model baru. Saya menemukannya sewaktu dia sedang berjalan-jalan di mall. Insting saya mengatakan bahwa dia bisa menjadi model besar nanti.” Anton menjelaskan. Para bapak di depannya manggut-manggut.
“Wah, jadi tidak mengawali karir sebagai model sampul?” tanya salah satu dari mereka. Putty menggeleng.
“Kalau begitu masih mentah, dong.”
“Wah, resiko besar kalau kita memakainya.”
“Pasti belum pernah berhadapan dengan kamera, kan?”
“Saya paling malas berurusan dengan model baru.”
Putty diam saja mendengar celotehan mereka. Heh, denger! Meskipun gue baru, gue nggak bakal kalah tau dengan para model yang udah lama itu! Sungutnya dalam hati.
“Tapi saya tertarik memakai Putty. Wajahnya fresh, segar dan kulitnya putih. Cocok sekali dengan kosmetik pemutih yang akan kami luncurkan bulan depan.” Pria berkumis itu berkata lagi. Putty terkesiap mendengarnya.
“Jadi Anda tertarik memakai Putty?” tanya Anton, antusias. Pria berkumis itu tersenyum sambil melirik Putty.
“Ya, tentu. Tapi saya harus banyak berbicara dengan Putty tentang brand yang akan dia iklankan.” Katanya.
“Oh…tentu, tentu, pak! Putty, silahkan ngobrol dengan pak Toni.” Kata Anton, menyebut nama bapak itu. Putty mengangguk senang. Ia pun dibawa menyingkir dari tempat itu karena suara musik yang berisik membuat mereka tak leluasa bicara.
Cira mencari-cari Putty. Aduh…manalagi tuh orang? Bisa-bisanya ngilang di waktu begini. Cira merengut. Lalu, apa arti dirinya? Cira nyesel banget deh dateng ke sini. Ia merasa tak pantas berada di sini. Semuanya glamor, beda dengan dirinya yang sederhana. Ia jadi merasa culun sendiri. Dicarinya Putty ke setiap sudut di ruangan yang besar itu. Tak ada. Aduh…mana sih Putty?
“Dik Putty sudah punya pacar?” tanya Toni dengan senyum palsunya. Kening Putty berkerut.
“Memang apa hubungannya pacar dengan iklan?” tanyanya. Toni tertawa kecil.
“Tidak. Memang tidak ada hubungannya. Saya kan hanya ingin mengetahui sedikit pribadi Putty biar kita bisa enjoy bekerjasama.”
“Oh…belum. Saya belum pernah pacaran.” Jawab Putty, ringan. Terus terang pemilihan tempat yang terpencil ini membuatnya jengah. Toni membawanya ke sebuah ruangan yang agak jauh dari tempat pesta.
“Belum pernah pacaran?” Toni terlihat terkejut.
“Belum.” Jawab Putty. Toni menegak minumannya.
“Silahkan diminum!” katanya. Putty menggeleng.
“Ini kan minuman keras, Pak. Dosa!” sahutnya. Toni tertawa.
“Ya…ya. Saya tahu. Tapi dalam lingkungan seperti ini kamu harus membiasakan itu karena ini sudah menjadi kehidupan kita.”
“Oh ya? Saya tidak perlu begitu, kan?”
“Kamu gadis yang pintar.”
“Ya tentu. Saya memang selalu juara kelas.”
Toni tertawa mendengar kalimat Putty barusan. Benar-benar gadis yang lugu.
“Kenapa tertarik jadi model?”
“Karena saya tahu saya punya potensi. Saya sudah sering mendaftar jadi gadis sampul, tapi ditolak karena tinggi saya kurang.”
“Sayang sekali. Padahal dalam iklan, tinggi tidak masalah. Apalagi kalau hanya menampilkan face….”
“Oh, begitu….”
“Makanya saya tertarik memakai kamu.”
“Bisa jelaskan tentang produknya?”
“Ya, produk kosmetik remaja. Ngomong-ngomong, saya belum menikah. Makanya saya tak suka dipanggil “pak”.” jelas Toni. Kening Putty berkerut. Apa hubungannya status tuh bangkot sama iklannya? Suka nggak nyambung gitu, deh.
“Kenapa, pak, eh, om?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa belum menikah? Kan ngejomblo lama-lama nggak enak.” Putty terpaksa menanggapi. Toni tertawa lagi. Sepertinya ia sudah mulai mabuk. Rasanya tak pantas untuk pria yang bergaya eksekutif itu.
“Ya memang. Tapi susah mencari gadis yang baik untuk dijadikan istri.”
“Ah, banyak kok, om, kalau om memang serius mau menikah.”
“Yah, memang sebenarnya saya saja yang belum siap berkomitmen. Enggak enak kalau sudah diikat.”
Putty hanya manggut-manggut mendengarnya. Gadis 16 tahun sepertinya ngobrol dengan pria berusia 31 tahun seperti pak, eh, om Toni ternyata nyambung juga meski Putty merasa eneg.
“Putty, kamu…” Toni mulai ngelantur. Kening Putty berkerut. Toni merayap mendekatinya.
“Eh, Om, kenapa, Om?”
“Kamu itu model baru, Put. Saya bisa melejitkan kamu. Saya bisa…asal…” Toni semakin mendekat. Putty ketakutan. Gawat! Mana ia terkurung dalam kamar yang terkunci ini lagi!
“Put! Putty! Elu di mana?!” Cira mencari-cari. Tak ada. Putty tak ada di mana-mana. Duh, ia cemas juga. Ke mana sih Putty? Cira pun mencari sampai ke ruangan yang sebenarnya tamu sepertinya dilarang masuk.
“Put! Putty!!”
“Putty…” Toni menggapai tubuh Putty.
“Pak! Sadar, Pak! Om! SADAR!!! Saya kan masih kecil!!!” Putty berteriak. Tanpa sadar ia menangis. Ia  terjebak! Toni sudah meraihnya. Putty berusaha melepaskan diri.
“TOLONG!!!”
“Putty! Putty!!! Elu di mana?!” seru Cira.
“TOLONG!!!” Putty berteriak sekencang-kencangnya. Sambil menangis. Tak ada yang mendengarnya karena suara musik yang keras. Ya Allah! Allah! Ia jadi ingat Allah. Allah, maafin Putty. Selamatin Putty!! pintanya.
“Putty! Putty!” Cira tahu, Putty ada di dalam kamar ini. Ia berusaha membuka pintunya, tapi tak bisa.
“Cira, tolongin gue!!!” jerit Putty sambil menatap mata Toni yang merah. Toni terlihat sangat bernafsu. Putty melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya yang mungil.
“Putty! Buka pintunya, Put! Lu kenapa?!”
“Nggak bisa! Pintunya dikunci!!!” Putty menangis sebisanya.
“Putty…nggak pa-pa, kok. Ini kan demi karir kamu juga….” Toni tersenyum menjijikkan. Putty makin kencang menangis.
“Enak aja!” rutuknya. Cira yang sadar Putty dalam bahaya segera berlari ke luar memanggil supir Putty.
“Aduh, Neng, non Putty kenapa?” tanya si supir, cemas.
“Nggak tau, Pak! Buruan deh pokoknya!” kata Cira, cemas. Bersama supir Putty, ia mendobrak pintu.
BRAK!!!
“Cira!!” Putty menjerit histeris, sementara supirnya sibuk memukuli Toni. Putty menangis sejadi-jadinya di pelukan Cira.
“Cira…Cira gue nyesel, Ra…” Putty sesegukan.
“Ayo, Put, kita tinggalin tempat ini. Kita nggak cocok di sini. Kita jadi anak baik-baik aja, ya.” Cira memapah Putty keluar dari tempat menakutkan itu. Putty masih memeluk Cira, erat dalam perjalanan pulang sementara si supir terus-terusan mengucap syukur.
Alhamdulillah, Neng. Untung Neng nggak pa-pa.” Katanya.
“Gue nyesel, Ra. Gue nyesel….” Putty sesegukan. Cira mengangguk. “Ini pasti balasan dari Allah karena gue udah mempermainkan hukumnya.” Putty makin sesegukan.  Cira mengangguk.
Alhamdulillah, Put. Syukur elu selamat.” Katanya, menabahkan.
“CI…RA!!!”
“Put, udah, Put. Tenang….”
“Gue pengen tobat, Ra. Masih ada waktu, kan?”
“Masih, Put. Tentu aja masih. Sebenarnya gue juga merasa nggak enak waktu pertama kali lepas jilbab, tapi gue berusaha cuek dan akhirnya terbiasa. Padahal gue merasa….” Putty tak sanggup meneruskan kalimatnya. “Cira…kalau elu nggak datang….”
“Itu semua pertolongan Allah, Put. Dia masih menyintai kita. Dia masih melindungi kita sehingga kita nggak tersesat. Kalau nggak ada kejadian ini mungkin elu akan tetap jadi model.” Cira membelai rambut Putty. Putty mengangguk.
“Benarkah Allah menyintai kita, Ra?”
“Iya, Put. Allah menyintai semua hambaNya tanpa melihat fisik, keturunan apalagi harta mereka. Cinta Allah tuh tulus, Put dan nggak akan mati meski kita mati. Beda ama cinta manusia. Kita aja yang suka nggak sadar.” Mata Cira berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat barusan.
“Gue bahagia, Put dengan cinta itu. Gue nggak perlu cinta yang lain. Cinta yang lain itu semu. Fatamorgana. Gue hanya butuh cinta Allah. Cinta Allah, Put. Cukup Allah saja cinta buat gue. Yang lain cuma jembatan untuk menggapai cinta Allah.” Kata Cira. Putty menguatkan pelukannya.
“Gue juga ingin cinta itu, Ra. Ingin sekali….”
***
SELESAI

Alhamdulillah, sudah selesai. Lanjutkan dengan membaca Novel True Love, yuuk...
Klik di sini untuk membaca novel True Love, yaaa

Novel: Cinta Buat Chira (15)

15

Cira menatap Putty yang terlihat tak bersemangat. Sejak cintanya ditolak, Putty sepertinya kehilangan gairah. Beberapa kali ia tak mengerjakan PR dan beberapa kali pula nilai ulangannya jelek. Meskipun itu Putty yang merasakan, tapi Cira ikut sedih juga. Kasihan Putty kalau hanya gara-gara Kak Adrian, predikat juara kelasnya jatuh. Kan, sayang. Lagian kalau Putty nggak ngerjain PR terus, Cira juga yang kena getahnya. Dia kan jadi nggak bisa nyontek. Ah, Putty. Masa’ cuma gara-gara Kak Adrian aja dia jadi gitu, sih?
“Put…” Cira memberanikan diri berbicara. Putty tak menjawab. Cira tahu. Hubungan mereka kan sempat pecah kemarin.
“Put, maafin gue kalau gue ada salah.” Katanya, cepat. Putty tak menjawab lagi. Cira garuk-garuk kepala. Kalau begini sih susah.
“Put…”
“Elu nggak salah, Ra.” Kata Putty. Cira menghela napas lega. Akhirnya Putty mau ngomong juga.
“Terus? Kenapa elu begini?”
“Ngapain sih elu nanya kalau udah tau?” Putty melengos. Cira manggut-manggut.
“Iya deh. Gue tau. Udah deh, Put. Lupain aja.”
“Tapi gue kan malu, Ra! Apalagi kalau gue ketemu dia!” Putty mulai meluap-luap lagi.
“Iya! Iya! Gue ngerti. Pasti sulit deh ngilangin rasa malunya. Tapi elu nggak boleh terpuruk gini. Elu nggak boleh nunjukin kalo elu kalah.” Cira menatap Putty.
“Maksud lu apa?” Putty balik menatap.
“Ya, elu harus bersikap nggak ada apa-apa. Kak Adrian itu cuma satu cowok dari seribu cowok yang bisa elu dapetin. Tunjukin kalo elu bisa tegar meskipun dia nolak elu.” Jelas Cira. Putty menghela napas.
“Iya, tapi…” dia mulai mewek lagi. Cira garuk-garuk kepala.
“Put, Kak Adrian itu…” baru saja ia mau menjelaskan tentang pacaran yang kemarin dijelaskan Naila, eh Putty udah menyahut,
“Iya, gue tahu! Gimana kalau elu temenin gue nanti malam ke plaza BSD? Gue mau ngilangin suntuk!”
“Plaza BSD, Put?” kening Cira berkerut.
“Iya. Nanti malem kan malem minggu. Habis gue suka sedih kalo inget nanti malem masih jomblo.” Putty merengut. Dengan sangat terpaksa akhirnya Cira mengangguk.
“Ya deh.”
“Oke deh! Ntar malem gue jemput, ya!” Putty tersenyum girang. Cira hanya mengangguk tak berdaya.
***
Cira memakai jilbabnya dengan malas. Sebenarnya malam ini ia memang malas ke luar rumah. Apalagi kalau keluarnya itu buat jalan-jalan ke mall. Mbak Naila pernah bilang kalau sebaiknya waktu yang ada itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Bukan membuang waktu untuk hal-hal yang tak berguna. Jalan-jalan ke mall tanpa ada keperluan kan namanya buang-buang waktu. Apalagi malam minggu begini. Banyak orang. Banyak cowok. Banyak khalwat. Banyak maksiat. Eh, udah tahu kan apa itu ‘khalwat’? Kalo belum tahu, tanya sama guru ngaji masing-masing ya? Pokoknya sebenarnya Cira malas banget nih ke luar rumah. Biar aja dia dibilang jomblo. Emang gue pikirin!
“Ra! Putty, tuh!” seru Rana dari ruang tamu. Cira buru-buru ke luar dari kamarnya. Ia terkejut melihat Putty yang tidak memakai jilbab.
“Put, elu kok….”
“Ah, biasa, kan? Kalau gue ke mall kan emang nggak pake jilbab. Kok elu pake jilbab sih, Ra? Kan nggak enak!” wajah Putty masam.
“Iyalah. Gue kan emang pake jilbab.” Cira tak kalah masam. Ia sebal banget melihat Putty begitu mudah menanggalkan jilbabnya.
“Ya udah deh. Terserah. Yang penting kita enjoy malem ini, okey? Yuk!” Putty menggandeng tangan Cira. Cira mengikuti tak berdaya.
***
Seperti biasa, malam ini maal BSD ramai sekali. Kebanyakan pengunjung adalah para ABG termasuk di dalamnya Putty dan Cira. Entah perasaan macam apa yang melingkupi Cira. Tiba-tiba saja ia merasa malu berada di sini. Tapi mau bagaimana lagi? Ia akan lebih berdosa lagi kalau membiarkan Putty sendirian. Putty kan cantik, apalagi dengan kaus dan jeans ketat yang membalut kulitnya itu. Kalau nggak dijaga, bisa hilang dia. He he he.
“Put, mau ke mana, nih?” tanya Cira dengan nada malas.
“Lho? Kok sekarang jadi elu yang nanya sih? Bukannya elu udah menguasai setiap sudut dari tempat ini? Jadi elu pasti tahu dong mana tempat yang bagus?” Putty tersenyum. Cira menghela napas. Jadi malu kalau mengingat masa lalunya yang suka ngeceng di mall ini. Cie…masa lalu? Kayak udah bertahun-tahun aja dia hidup.
“Ya deh. Kita ke toko buku, yuk!” gandengnya. Putty melongo.
“Toko buku? Yang bener aja, Ra? Eh, tuh kayaknya ada peragaan busana!” serunya menunjuk ke arah panggung yang berdiri di tengah mall.
“Oh, biasa. Pemilihan putra dan putri remaja.”
“Pemilihan putra-putri remaja?” Kening Putty berkerut.
“Iya. Biasanya kalau malam minggu tuh ada pemilihan kayak gitu. Macam-macam namanya. Ada model Valentine, model fotogenik, sampe model Hallowen!” jawab Cira setengah mencibir. Putty terperanjat.
“Wow! Baru tahu!” serunya.
“Mau daftar? Pendaftarannya sih udah jauh-jauh hari, Non! Sekarang tuh penjuriannya.” Jelas Cira.
“Ya…kok lu nggak ngasih tahu gue, sih?” Putty cemberut.
“Gue juga nggak tahu kapan pendaftarannya. Lu musti rajin-rajin ke mall kalau mau ikut. Lagian, emangnya lu mau ikut, Put?” Cira tiba-tiba sadar arah pembicaraan Putty. Putty menjawabnya dengan senyum penuh arti.
“Kita lihat penjuriannya aja, yuk!” gandengnya. Cira menepuk jidat. Duh! Kenapa ia malah memancing Putty?
“Eh, Put! Jangan deh!” serunya.
“Kenapa sih? Cuma liat ginian aja nggak boleh?” Putty ngeyel.Cira hanya bisa geleng-geleng kepala.
Okey, boys and girls! Sekarang saatnya kita mulai pemilihan putra-putri remaja 2004! Lu liat kan di sana tuh! Tuh! Ada cowok-cowok en cewek-cewek yang keren abis! Mereka semua adalah finalis putra-putri remaja 2004. Mereka bakalan nunjukin kebolehan mereka di panggung ini sebentar lagi! Makanya lu-lu pada jangan ke mana-mana, ya? Tetep deh nongkrong di depan sini! Okey?!” suara cempreng pembawa acara memekakkan telinga. Cira menutup telinganya. Ini gara-gara Putty sih yang milih tempat berdiri di depan pengeras suara. Dilihatnya Putty yang senyumnya tampak melebar itu. Ah, pasti Putty lagi ngayal jadi model beken deh. Khayalan yang sempat kandas itu.
Suara musik mengiringi langkah para finalis pemilihan putra-putri remaja ke panggung. Cira menatap para finalis itu. Penampilan mereka benar-benar sempurna. Yang cewek, cantik-cantik dan seksi-seksi. Yang cowok, ganteng-ganteng bikin jantungnya berdebar-debar. Makanya Cira buru-buru menundukkan pandangan. Kan kata Mbak Naila, pandangan itu yang bikin virus merah jambu muncul. Cira bolak-balik ngucap ‘subhanallah’ dan ‘astagfirullah’. Habis, di sisi lain mereka-para finalis-emang keren abis. Sempurna secara fisik, deh! Tapi, apalah artinya fisik kalau  nggak ada iman? Buktinya mereka pede-pedean jual tampang begitu. Apalagi yang cewek-cewek tuh. Pake baju seksi buka aurat nggak tau malu! Ah, udahlah. Cira nggak mau menghujat mulu. Bisa-bisa malah dia yang dosa. Pokoknya yang penting dia melaksanakan tugasnya malam ini. Menjaga Putty biar nggak ngelayap ke mana-mana! Putty? Eh, ngomong-ngomong Putty ke mana, ya?
“Oh jadi nama kamu Putty? Nama yang bagus sekali.” Pria itu memuji Putty yang wajahnya langsung merah.
“Yah, begitulah. Orangtua saya memang gape ngasih nama.” Kata Putty makin sombong. Kening Cira berkerut melihat pria yang sedang mengajak ngomong Putty. Sifat curigationnya muncul. Wah! Siapa ya tuh cowok? Bandar narkoba atau om-om yang lagi nyari mangsa? Cira buru-buru menghampiri Putty yang cuek beybeh dengan kehadirannya.
“Putty kelas berapa?” tanya pria itu lagi.
“Dua SMU, Om.” Putty tersenyum. Cira melotot. Om?! Aduh…Putty! Jangan main-main sama om-om, dong!
“Put, hati-hati!” bisiknya. Putty pura-pura tak mendengar.
“Adik salah satu finalis juga? Kok nggak naik panggung?” tanya pria itu lagi. Putty menggeleng.
“Enggak, saya cuma penonton, kok.”
“Model juga?”
“Enggak. Saya pelajar biasa.” Putty tertunduk.
“Wow! Saya beruntung sekali malam ini bisa  menemukan calon model berbakat seperti Putty!” seru pria itu mengejutkan. Putty melotot. Calon model berbakat?!!!
“Saya?” Putty menunjuk hidung. Pria itu mengangguk cepat.
“Ya! Kenalkan! Saya, Anton. Saya dari agensi model XXX. Saya pencari bakat dan saya baru saja menemukan bakat dari diri Putty.” katanya, memperkenalkan diri sambil memuji. Putty terbelalak. Pencari bakat?! Incredible! Ini yang selalu diimpikannya! Jalan-jalan di mall dan ketemu pencari bakat! Cira khawatir melihat gelagat Putty yang memang mengkhawatirkan itu.
“Put, udah yuk, Put….” Bisiknya sambil menggandeng lengan Putty. Putty menepisnya.
“Cira! Bapak ini pencari bakat dan dia bilang gue berbakat jadi model!!” serunya sambil memeluk Cira sampai gelagapan.
“Iya, Put, tapi, Put….” Cira sulit ngomong.
“Ya benar. Putty berbakat sekali. Kamu punya performance yang bagus. Kamu mau kan bergabung dengan agensi saya? Agensi saya sudah cukup terkenal dalam mengorbitkan gadis-gadis muda seperti kamu menjadi model terkenal. Bahkan bisa melebarkan sayap menjadi pemain iklan, sinetron dan film!” Agensi model itu mengompori. Putty terbelalak.
“Bener, Pak?!” tanyanya tak percaya. Pria di depannya mengangguk.
“Cira! Gue bakalan jadi model!!!” jerit Putty sambil kembali memeluk Cira.
“Put! Sadar, Put! Sadar!!” Cira menepuk-nepuk pipi Cira.
“Sadar gimana sih?! Emangnya gue lagi pingsan?!” Putty melotot.
“Oke, kalau kamu benar-benar mau bergabung dengan agensi saya, besok dateng ke kantor saya. Ini alamatnya.” Pria itu memberikan Putty selembar kartu nama. Putty menerimanya dengan sangat sangat senang.
“Makasih, Pak! Makasih, makasih. Saya nggak akan melewatkan kesempatan ini!” serunya, cepat. Pria itu mengangguk sebelum meninggalkan Putty yang masih bersorak-sorak kegirangan.
“Cira! Unbelievable!” seru Putty dengan mata berbinar. Cira menghela napas.
“Put, elu serius?” tanyanya, pelan.
“Iyalah! Lu tau kan? Ini mimpi gue! Jadi model, bo! Model!!! Terus, abis itu gue jadi artis!” Putty girang.
“Tapi, Put…elu kan…pake jilbab.” Kata Cira, menyadarkan. Putty hening sejenak.
“Oh iya, yah? Gue lupa.” Katanya, pelan. Cira tersenyum. Ia berharap kalimat Putty barusan mengindikasikan ia tak tertarik dengan tawaran jadi model itu.
“Nah, kalau elu jadi model, temen-temen bakalan tau kalau elu tuh pake jilbabnya asal-asalan.” Katanya lagi. Putty mengangguk.
“Iya.”
“Jadi?”
“Gue kan emang asal-asalan pake jilbab. Sekarang aja gue nggak pake jilbab. Apa sebaiknya gue nggak usah pake jilbab aja, ya? Gue lepas jilbab aja ya, Ra? Gue kan juga masih setengah-setengah. Dari pada setengah-setengah, mendingan nggak usah aja. Iya kan, Ra?” tanya Putty membuat Cira terperangah.
“Apa, Put? Apa yang elu omongin tadi? Elu serius?” tanyanya, gamang. Putty tertawa.
“Ya iyalah! Gue pake jilbabnya nanti-nanti aja. Sekarang kan masih kelas dua SMU. Apalagi ada tawaran jadi model. Sayang kalo dilewatin, Ra! Lu juga pasti bangga dong punya teman orang beken kayak gue? Jadi, gue lepas jilbab aja dulu, ya?” ceracaunya yang menurut Cira seperti orang nggak sadar. Putty? Benarkah yang lu bilang tadi?
***
Shock. Gue bener-bener shock dengan kejadian malam ini. Gue ingin waktu diputar kembali dan gue pasti akan menolak ajakan Putty ke mall malam ini. Kalo gue nggak mau ke mall kan pasti Putty juga nggak bakalan ke mall. Dia kan nggak berani sendirian. Ah! Gue bener-bener nyesel. Astagfirullah! Kenapa gue malah menyesali semua yang udah terjadi yah? Terus sekarang gimana, dong? Masa’ Putty malah mundur? Masa’ dia yang udah bagus-bagus pake  jilbab malah lepas? Ntar kalau udah lepas jilbab, terus jadi model, jadi artis, terus…duh, Putty. Gue nggak mau bayangin jadi apa elu nanti. Udah gitu semua salah gue juga. Salah gue yang mau nemenin elu ke mall malam ini. Putty!!!
Cira menenggelamkan kepalanya dalam bantal. Menangis. Ya, hanya itulah yang bisa dilakukannya. Dia benar-benar nggak ingin Putty lepas jilbab dan jadi model. Dia nggak ingin Putty mengumbar auratnya. Dia nggak ingin Putty…. Cira menghapus airmatanya. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya untuk menyadarkan Putty? Apa? Cira bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu sholat. Tentu sholatnya nggak di kamar mandi lah! Dia harus berdoa. Semoga Allah mengembalikan hidayah Putty yang hilang malam ini.
***
Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaa...

Novel: Cinta Buat Chira (14)

14

Ini hari pertama Cira jadi anak kelas dua. Agak deg-deggan juga, sih. Soalnya di hari pertama ini kan dia tampil dengan penampilan baru. Berjilbab, bo! Emang sih, kalau anak-anak Rohis udah pasti tahu dia sudah berjilbab, tapi kalau anak-anak yang nggak ikut Rohis (dan itu lebih banyak) kan nggak tahu. Makanya Cira agak grogi nih menghadapai mereka. Kira-kira apa ya komentar mereka? Ah, sebodo amat lah. Palingan komentar mereka nggak jauh-jauh dari hinaan, cacian dan maikan.  Cira udah kebal! Nggak mempan! Emang Cira pikirin?! Lagian teman-teman sekelasnya yang dulu, kan juga udah berpencar ke mana-mana. Maklum, setiap kenaikan kelas kan penghuni kelasnya diacak lagi. Cira belum tahu nih dia masuk kelas mana dan apakah akan bersama Putty lagi. But, semoga sih dia nggak sekelas lagi sama Tiga Ratu Gosip itu.
“CIRA!!! My God! What happens to you?!!” seru Milly, tiba-tiba. Ugh, Milly! Emang tuh orang suka nongol tiba-tiba!
“Cira? Is that you?” tanya Fera, ikut-ikutan pake bahasa Inggris.
“Cira, kamu juga kena virusnya Putty, ya?” June menatap heran. Cira menghela napas.
“Udah, deh. Kalian nggak usah komentar dulu. Gue mau nyari sahabat gue en kelas gue, nih.” Sahutnya. Milly, Fera dan June menatap Cira dari atas sampai bawah.
“Cira, lu makin jelek tau nggak sih!” cetus Milly, sadis.
“Iya! Makin gembrot, gemuk dan berbobot!” tambah Fera.
“Kayak kura-kura ninja! Iya, nggak, Fren?” June nyengir. Cira terbelalak mendengarnya. Swear! Ini benar-benar menyinggungnya. Keterlaluan!
“DIAM!!!” teriak Cira, kencang, membuat tiga Ratu Gosip terbelalak. Cira melotot.
“Kalian boleh menghina fisik gue sesuka kalian! Tapi jangan hina jilbab gue, dong! Kalian menghina jilbab ini, sama aja kalian menghina Allah yang udah nurunin perintah berjilbab ini!!!”
Tiga Ratu Gosip terbengong-bengong melihat Cira marah. Baru kali ini Cira marah. Biasanya kan ia hanya diam saja kalau dihina.
Cool aja dong, Ra. Kita kan cuma bercanda.” Kata Milly.
“Iya, Ra. Lu kok langsung sewot gitu, sih?” tambah Fera.
“Bukan begitu. Becanda sih boleh aja, tapi liat-liat dulu, dong. Jangan asal bacot aja. Di mata orang mungkin kalian oke secara fisik. Asal kalian tahu, ya, Allah tuh nggak nilai orang dari fisiknya, tau!” cerocos Cira. Milly, Fera dan June bertatapan.
PLOK. PLOK. PLOK.
“Wow, Cira! Hebat luh! Emang udah saatnya nih tiga Ratu Gosip dikasih pelajaran. Biar mereka nggak asal ngomong!” cetus Putty yang baru datang sambil bertepuk-tangan.
“Eh, Put, lu jangan ikut-ikutan, ya!” ancam Milly.
“Kenapa enggak? Kalian bertiga, jadi Cira juga musti ada temennya, dong!” Putty melirik Cira, tersenyum. Milly, Fera dan June hanya bisa bertatapan.
“Ah, udah, ah! Gue cabut!” kata Fera.
“Gue juga!” June ikut-ikutan. Mau tak mau Milly mengikuti langkah kedua temannya. Cira dan Putty tertawa bersamaan.
“Wah, sukses lu ngerjain tiga Ratu Gosip itu!” seru Putty.
“Ah, enggak. Gue nggak bermaksud ngerjain mereka, kok. Gue cuma nggak suka dengan hinaan mereka tadi.” Cira tersenyum.
“Yah, apa deh. Yang penting sekarang kita sekelas lagi.” Kata Putty, mengejutkan.
“Apa, Put? Kita sekelas lagi?” Cira tak percaya.
“Iya. Tuh pengumumannya di depan ruang TU.” Tunjuk Putty. Tanpa diduga-duga, Cira langsung memeluk Putty.
Alhamdulillah! Akhirnya gue nggak usah repot nyari teman semeja lagi!” serunya, gembira.
“Eh, eh, eh, tunggu! Emang gue udah bilang mau duduk sama elu lagi?” Putty berusaha melepaskan pelukan Cira.
“Ya…Putty…masa’ sih elu nggak  mau duduk sebangku sama gue lagi?” Cira cemberut. Putty tersenyum.
“Mungkin kalau orang lain nggak mau duduk sama elu, Ta. Boros tempat. Tapi kalau gue…so pasti lah!” katanya sambil mengedipkan mata. Kedua mata Cira langsung berbinar-binar.
“Makasih ya, Put! Elu emang sahabat sejati gue!” serunya sambil memeluk Putty lagi.
“Udah! Udah! Lepasin! Entar jilbab gue berantakan, nih! Elu juga musti bersyukur karena kita nggak sekelas sama tiga Ratu Gosip itu!” kata Putty.
“Bener?!” kedua mata Cira terbelalak. Putty mengangguk. Cira langsung memeluknya lagi.
“Gue bahagia banget, Put!!!
“CIRA! UDAH!!!” Putty melengos.
***
“Eh, Ra, nggak terasa ya kita sekarang udah kelas dua. Berarti sekarang kita udah agak gedean dikit.” Kata Putty sebelum melahap baksonya. Cira mengangguk.
“Iya, Ra. Gue juga pengen cepet-cepet dewasa. Gue nggak sabar jadi apa gue nanti.”
“Ah, kalau gue sih nggak mau. Nikmati aja dulu masa muda kita.”
“Ye! Elu!”
“Iya, bener. Eh, menurut elu, kita udah pantes belum, ya, pacaran?” Putty menatap Cira. Cira tak jadi memasukkan bakso ke mulutnya mendengar pertanyaan barusan.
“Pacaran? Emang elu mau pacaran, Put?” tanyanya. Putty tersenyum misterius.
“Iyalah. Kalau gue sih merasa gue udah pantes pacaran. Dulu-dulu tuh gue masih ragu, kayaknya gue masih kecil…banget. Tapi sekarang, kayaknya gue udah siap deh pacaran.”
“Emang elu udah punya gebetan?” tanya Cira lagi.
“Yah…Cira. Masa’ elu lupa, sih? Kan gue udah bilang kalau gue naksir Kak Adrian.” Bisik Putty, takut terdengar penghuni kantin yang lain. Maklum, Adrian itu termasuk beken di sekolah. Cira hampir saja tersedak.
“Jadi…elu serius sama Kak Adrian?”
“Iyalah. Sebenarnya kan sehabis pentas seni di Taman Mini itu, gue mau bilang ke Kak Adrian kalau gue sayang dia. Eh ternyata ada insiden yang menggagalkan rencana gue itu. Ya udah, deh. Gue musti susun rencana lagi.”
“Put, elu…lagi sadar, kan?”
“Ya sadar lah! Emang kenapa sih? Emang nggak boleh cewek nembak cowok? Tuh si Vivi, Mela, Titin, nembak cowoknya duluan dan sekarang mereka masih lengket aja.”
“Put, maksudnya…elu mau nembak Kak Adrian?!”
“IYA!” Putty menutup mulutnya, “Iya, Ra. Emang kenapa sih?” tanyanya sambil tengok kanan-kiri. Cira menelan ludah, tapi itu bukan berarti dia sudah nggak nafsu lagi sama baksonya.
“Lu serius, Put? Elu…udah persiapkan semuanya?”
“Tenang. Gue udah lama mikirin itu dan gue semakin mantap. Kak Adrian adalah jodoh yang cocok buat gue!” kata Putty, mantap.
“Terus…kapan lu akan melaksanakan misi lu itu?”
“Em…kapan, ya? Yah, hari ini juga gue siap kalau gue ketemu Kak Adrian.” Jawab Putty, tersenyum. Cira melongo.
***
Ah, gue nggak mau komentar tentang rencana Putty yang gila itu. Mungkin dia emang udah nggak tahan pengen jadi pacarnya Kak Adrian. Yah, emang sih Kak Adrian tuh ganteng buanget. Pantes aja Putty naksir. Bener-bener deh, Putty. Sukses dia nyembunyiin rahasia ini dari gue. Gue pengen tahu apakah Kak Adrian akan menerimanya? Kalau dilihat-lihat sih, kayaknya nggak ada seorang cowok pun yang akan menolak Putty. Seperti yang selalu gue bilang, Putty itu cantik, pinter dan sekarang dia kelihatan alim karena berjilbab dan ikut Rohis. Kalau gue jadi cowok, pasti susah deh menolak Putty. Gue pasti akan menerimanya. Tapi kalau Kak Adrian? Entahlah. Semoga Putty berhasil.
***
 “CIRA!!!!!!!!!!!!!!!”
Cira cuma bisa bengong mendengar teriakan barusan. Benarkah Putty yang barusan berteriak? Ternyata benar! Saat ini Putty sedang menangis sambil duduk di tempatnya. Cira heran. Tumben-tumbenan Putty nangis?
“Put? Elu nggak pa-pa, kan?” tanyanya sambil duduk di bangkunya. Tangis Putty malah makin kencang.
“Eh, Put, elu kenapa sih? Elu jangan bikin gue bingung dong!” seru Cira, cemas. Putty langsung memeluknya.
“Cira! Gue nggak percaya!!!”
“Nggak percaya apa?”
“Gue…gue…gue ditolak!!!” Tangis Putty meledak. Cira bengong. DITOLAK?
“Maksud elu…apa, Put?”
“Cira…kenapa elu belum ngerti juga, sih? Kemarin gue udah ngomong sama Kak Adrian, dan dia….” Putty sesegukan. Cira mengerti sekarang.
“Put, elu…ditolak?”
“IYA!!!” Putty memeluk Cira lagi. Cira sampai nggak bisa napas.
“Put, Put, udah, Put….” Katanya,  menabahkan. Ia tak habis pikir. Kak Adrian menolak Putty? Memangnya apa yang kurang dari Putty?
“Kak Adrian bilang, dia belum siap menerima gue.” Putty mulai bercerita. Cira melongo.
“Memangnya kenapa?”
“Yah dia bilang: Putty, kita kan masih muda. Jalan kita masih panjang. Kita sekolah aja dulu yang benar. Nanti kalau kita sudah cukup umur, jasmani dan rohani kita sudah siap, baru deh kita berpikir ke sana.” Jelas Putty. Cira manggut-manggut meskipun belum mengerti.
“Aku heran, kenapa pakai persiapan dulu, ya?”
“Makanya, gue juga bingung. Ternyata dia pikir, gue ngajak dia nikah! Dasar otak udang! Mana mungkin gue ngajak dia nikah? Gue juga tahu, gue masih kelas dua SMU! Gue juga nggak mau nikah sekarang meskipun sama orang seganteng dia. Gue kan ngajak dia pacaran! Sebel!” Putty menggerutu. Cira manggut-manggut. Sekarang dia sudah agak mengerti.
“Jadi, begitu?”
“Masa’ dia bilang: Putty, kalau pacaran nggak mungkin. Kamu kan tahu pacaran itu dosa. Gue bengong. Pacaran dosa? Gue baru tahu. Gue nggak percaya! Itu pasti cuma akal-akalannya aja buat nolak gue! Gue heran. Apa yang kurang dari gue?! Gue kan cantik, banyak cowok yang naksir gue. Gue juga udah pake jilbab dan udah ikut Rohis. Sebel. Sebel!!!!” Putty menjerit-jerit tak karuan. Cira hanya bisa bengong melihatnya. Putty menatap Cira.
“Cira, kenapa?!!!”
“Nggak tau, Put. Gue juga bingung. Mungkin….” Cira tak melanjutkan kalimatnya.
“Mungkin apa?!!” teriak Putty, kencang. Cira hampir saja meloncat dibuatnya.
“Em…mungkin…elu bukan tipe cewek yang disukainya. Bisa aja, kan?” Cira agak takut saat mengucapkan itu. Putty menatap Cira, lekat. Cira bisa melihat kabut di bola mata Putty.
“Gue…bukan…tipe…cewek…yang disukainya…?” Putty tak terima.
“Itu kan cuma ‘mungkin’, Put.” Cira berusaha mendamaikan hati Putty.
“CIRA!!!!” Putty meraung-raung lagi sambil memeluk Cira. Cira tak bisa berbuat apa-apa. Ditolak emang nggak enak. Apalagi yang ditolak cewek sekaliber Putty. Cira jadi penasaran. Cewek tipe apa sih yang disukai Kak Adrian sampai dia nolak Putty yang udah 99 persen sempurna ini?
***
Ini pelajaran  buat gue. Ternyata nggak semua cowok suka cewek yang cantik kayak Putty. Contohnya Kak Adrian. Kok bisa-bisanya gitu lho dia nolak Putty? Gue nggak ngerti. Apa yang kurang dari Putty? Gue rasa…nggak ada yang kurang. Atau emang persangkaan gue itu benar? Putty bukan tipe cewek yang disukai Kak Adrian. Bisa aja, kan? Trus, kalau Putty aja nggak suka, cewek yang gimana lagi yang disukai Kak Adrian. Perasaan Putty tuh nggak ada yang ngalahin deh di sekolah ini. Kalau di sekolah lain ya nggak tahu ya. Mungkin Kak Adrian udah punya pacar? Iya, yah. Mungkin aja. Tapi kalau udah, penolakannya nggak bakalan ribet kayak gitu dong. Pake bilang belum siap segala. Aneh! Gue jadi penasaran pengen tahu. Tapi gimana caranya? Lagian repot amat sih gue!
***
“Put, besok ikut kajian?” tanya Cira sambil memberesi buku-bukunya usai bel pulang berbunyi. Tak ada jawaban. Wajah Putty malah terlihat kesal.
“Put?”
“Masa’ elu nggak ngerti sih, Ra? Apa perlu gue jelasin lagi? Gue sebel! Sebel!!!” jerit Putty, histeris. Cira terkesiap. Jadi ceritanya Putty masih marah dengan kejadian seminggu lalu itu, neh?
“Maksudnya…elu…nggak mau ikut kajian lagi?” tanyanya, hati-hati.
“Nggak! Jangankan kajian, ikut Rohis pun enggak! Gue nggak mau ketemu sama cowok yang nggak tahu diuntung itu!” hardik Putty. Cira manggut-manggut.
“Ya….”
“Kok ‘ya’, sih?”
“Ya…iya. Berarti gue nggak ada teman ke kajian lagi, dong!”
“Terserah! Kalo elu mau berhenti dari Rohis juga, gue seneng banget, tuh! Ngapain sih ikut Rohis? Bikin bete aja!” Putty memaki.
“Iya, oke, deh. Tapi kan yang salah Kak Adrian, masa’ Rohis jadi kena imbasnya juga?”
“Jelas! Dia kan ketua Rohisnya. Selama ada dia, ya gue nggak mau ikut Rohis lagi!” sahut Putty. Cira menghela napas.
“Ya…Putty. Jadi elu bener-bener nggak mau….”
“Iya! Titik! Udah, ah! Nggak usah ngomongin itu lagi! Kalau elu sahabat sejati gue, mustinya elu juga berhenti dari Rohis!” potong Putty. Cira melongo mendengarnya.
“Gue, Put?”
“Iya lah! Kita kan masuk Rohis bareng, keluarnya juga bareng!”
“Tapi…” Cira berpikir keras, “Nggak mungkin, Put.”
“Kenapa enggak? Oh iya. Elu  masih ngincer Farhan, kan?” Putty menatap Cira, sinis. Cira menggeleng cepat.
“Bukan, Put! Bukan! Gue udah nggak mikirin Farhan lagi, kok!” serunya, cepat.
“Ah, masa’? Karena Farhan udah nggak sekelas sama kita lagi, begitu? Bohong! Elu pasti masih naksir sama Farhan, kan?” Putty menatap Cira, tajam. Cira tersudut.
“Em…bener, kok! Sampai setelah elu nyebut-nyebut nama Farhan sekarang, gue udah nggak mikirin dia lagi.”
“Udahlah, Ra. Gue yakin, elu tuh juga nggak bakalan dapetin hati Farhan. Elu nggak bakalan berhasil, deh. Jadi, daripada elu buang-buang waktu pedekate ke dia lewat Rohis, mendingan berhenti aja dari sekarang. Kalau enggak elu bakalan nyesel kayak gue!” urai Putty. Cira termangu.
“Gue…” Ia bingung hendak berkata apa, “Gue nggak pernah kepikiran begitu,”
“Apa maksud lu?” Putty melotot. Cira menelan ludah.
“Itu cuma pikiran elu aja. Waktu pertama gue ikut Rohis, emang sih karena omongan lu yang bilang kalau Farhan pengen gue ikut Rohis. Tapi lama kelamaan, gue ngerasain sesuatu yang lain. Sesuatu yang nggak cuma soal Farhan aja. Gue ngerasain kebersamaan, persaudaraan dan indahnya Islam di Rohis.” Ucapnya, pelan.
“Lu ngomong apa, sih, Ra?” Putty geleng-geleng kepala.
“Ya…gitu deh. Ikut Rohis, ikut kajian, ikut mentoring, jalan-jalan, semuanya tuh bener-bener nyenengin gitu, lho. Gue pernah nggak ikut mentoring sekali karena flu berat, dan gue merasa kehilangan. Gue rasa gue nggak bisa lepas dari Rohis. Elu salah kalau gue bakalan berhenti dari Rohis cuma gara-gara Farhan.” Cira memperjelas. Putty melongo.
“Elu…gue…gue masih nggak ngerti!”
“Yah, elu nggak bakalan ngerti karena selama ini elu emang nggak deket sama Rohis. Kalau pun elu dateng kajian, pikiran elu ke mana-mana. Jadi, gimana elu bisa ngerti. Pokoknya gitu deh, Put. Sorry ya  gue nggak bisa ngikutin jejak elu lepas dari Rohis.” Cira menatap Putty, dalam. Putty membuang muka.
“Lu emang nggak setia!” makinya.
“Putty…jangan gitu, dong…kita kan nggak selalu harus sama.” Harap Cira. Putty bangkit dari duduknya.
“Gue pikir setelah gue menceritakan semuanya, elu  bakalan ngertiin gue. Ternyata elu cuma mikirin diri lu sendiri! Gue benci!” makinya sebelum meninggalkan Cira yang termangu. Cira hanya bisa menghela napas.
***
Kenapa semuanya jadi begini, ya? Kenapa Putty jadi nyalahin Rohis? Kak Adrian kan beda dengan Rohis dan Rohis bukanlah Kak Adrian. Kalau Putty emang lagi marah sama Kak Adrian, bukan berarti Rohis juga kena getahnya, kan? Udah gitu, gue juga kesangkut lagi. Masa’ gue juga harus meninggalkan Rohis sebagai bukti kesetiaan gue? Duh, Putty. Bukan gue nggak setia, tapi…ah, lu udah tahu, kan? Gue udah ngejelasin semuanya ke elu dengan jelas, las, las! Trus, apalagi? Gue bingung, nih. Besok Putty masih marah sama gue nggak ya? Gue nggak mau marahan sama dia cuma gara-gara masalah sepele ini. Menurut gue sih sepele, tapi menurut Putty kayaknya nggak tuh! Ah, nggak tahu deh. Kita lihat aja besok.
***
Ternyata apa yang tidak diinginkan Cira jadi kenyataan. Putty masih marah padanya. Tidak sedikit pun Putty menatap Cira, apalagi menyapa. Mereka memang duduk semeja, tapi seperti tak saling kenal. Cira jadi nggak enak. Apakah ia memang  harus berhenti dari Rohis untuk membuat Putty senang? Duh, ia nggak bisa. Ia nggak bisa memilih di antara keduanya. Ia ingin tetap bersahabat dengan Putty dan tetap ikut Rohis. Kenapa sih Putty nggak  ngerti?
“Gimana dong, Mbak? Cira bingung, nih.” Cira menatap Mbak Naila yang dari tadi hanya manggut-manggut saja mendengar ceritanya barusan.
“Mbak!” seru Cira lagi. Naila terkesiap, lalu tersenyum.
“Iya, iya, Ra. Mbak ngerti. Masalah seperti ini udah sering banget terjadi.”
“Sering, Mbak?”
“Iya. Nggak cuma Putty yang akhirnya kecewa.”
“Maksud Mbak apa, sih?” Cira nggak ngerti. Naila menatap Cira dan menggenggam tangannya.
“Kamu masuk Rohis bukan karena ikhwan, kan?” tanyanya, dalam. Cira tertunduk. Wajahnya merah seketika.
“Ya…sebenarnya….” Cira nggak enak cerita. Naila tersenyum memahami.
“Ya, Mbak ngerti. Emang banyak sih yang begitu. Kalau niatnya emang nggak bener dari pertama, udah tentu kita akan kecewa. Makanya kalau mau melakukan kebaikan, niat kita jangan sampai salah.” Nasehatnya.
“Iya, Mbak. Awalnya Cira juga gitu, sih. Tapi kan lama-lama enggak. Cuma Putty ini nih. Ternyata niatnya tetep nggak berubah dan ketika dia gagal mendapatkan apa yang dia inginkan, dia kecewa.” Cira menghembuskan napas. Naila mengangguk.
“Bukan cuma Putty. Dulu-dulu juga ada akhwat yang masuk Rohis karena naksir Kak Adrian atau ikhwan yang lainnya. Kebalikannya juga ada. Ada ikhwan yang masuk Rohis karena mengincar akhwat. He he. Lucu, ya?” Naila tertawa kecil. Cira jadi malu karena merasa menjadi bagian dari orang-orang yang disebutkan Naila barusan.
“Seharusnya kan, Dek, niat kita hanya untuk Allah aja. Kita masuk Rohis karena ingin belajar agama lebih banyak dan beramar ma’ruf nahi munkar. Kalau niatnya karena Allah, cobaan seberat apapun pasti akan ikhlas kita jalani. Tapi kalau niatnya melenceng, ya kita akan mudah menyerah.” Lanjut Naila. Cira manggut-manggut.
“Iya, Mbak. Syukur deh niat Cira sekarang udah nggak ke sana lagi.” Cira tersenyum.
“Emang sih ikhwan yang pernah diincar Cira?” selidik Naila. Cira melotot. Yang bener aja?! Masa’ dia harus jujur sama Mbak Naila?
“Ah, enggak, Mbak!” serunya, cepat.
“Ya udah, nggak pa-pa. Yah, pokoknya sekarang Cira lurusin niat aja yah. Semoga niat Cira ikut Rohis murni karena Allah aja.” Naila menepuk-nepuk bahu Cira. Cira mengangguk.
“Tapi, Mbak. Ada yang mau Cira tanyain.”
“Apa?”
“Em…itu lho. Kata Kak Adrian, dia nggak mau pacaran sama Putty karena dia belum siap. Cira nggak ngerti sama kata-katanya itu. Kayaknya kok, aneh banget gitu, lho.” Cira mengertukan kening. Naila tersenyum.
“Oh…itu. Yah, mungkin ini salah Mbak juga karena belum pernah jelasin materi tentang pacaran dalam Islam.”
“Pacaran dalam Islam?” Cira malah makin bingung.
“Iya, Dek. Di dalam Islam, pacaran itu nggak ada. Karena Allah melarang kita mendekati zina dan pacaran adalah salah satu sarana mendekati zina. Jadi sebenarnya Kak Adrian menolak Putty karena dia memang tidak mau pacaran, karena dia tahu pacaran itu nggak ada dalam Islam.” Jelas Naila. Cira manggut-manggut.
“Jadi…begitu, Mbak. Jadi…yang Farhan pernah bilang itu….” Cira jadi teringat sesuatu.
“Farhan?” Naila mengerutkan kening. Cira menutup mulut.
“Em…iya, Mbak. Farhan pernah bilang kalau pacaran itu dosa. Cira nggak ngerti maksudnya. Kalau emang dosa, kok banyak temen kita yang ngelakuin dan orangtua mereka nggak ngelarang? Cira pengen nanya ke Farhan, tapi lupa terus.” Jelasnya. Naila mengangguk.
“Yah, sekarang Cira udah tahu, kan?”
“Terus, Mbak, kalau pacaran nggak boleh, berarti kita nggak boleh jatuh cinta, dong? Padahal kan jatuh cinta datangnya nggak disangka-sangka.” Cira tertunduk. Naila tersenyum.
“Yah, jatuh cinta itu kan fitrah. Tinggal bisa-bisanya kita aja mengelolanya, gimana biar kita nggak jatuh cinta pada waktu yang salah, tempat yang salah dan orang yang salah.”
“Maksudnya?”
“Karena kita masih SMU, kita belum siap nikah, ya sebisa mungkin kita menghindari virus-virus cinta masuk ke dalam hati kita. Rasulullah udah ngasih tahu caranya, diantaranya dengan menundukkan pandangan. Cinta itu kan datang dari pandangan mata.” Jelas Naila. Cira manggut-manggut.
“Wah, berarti kita harus nunduk terus, dong!”
“Ya nggak gitu. Pokoknya asal jangan sampai mata kita melanglang buana aja.”
“Terus, Mbak, kalau kita nggak boleh pacara, dapat jodohnya dari mana?”
“Yah, kalau sudah siap menikah, jodoh itu akan datang dengan sendirinya. Nggak usah khawatir, deh. Malah kualitas jodoh kita akan lebih baik. Perempuan yang baik kan jodohnya dengan lelaki yang baik. Kalau kita nggak pacaran dan menjaga diri, insya Allah kita juga akan mendapatkan pendamping yang nggak pacaran dan menjaga diri. Itu sudah janji Allah.” Urai Naila. Cira takjub mendengar uraian barusan.
“Oh…ternyata begitu, Mbak. Kayaknya simpel banget, ya?”
“Ya…begitulah.”
“Tapi, Mbak…” Cira tertunduk. “Apakah cewek gendut dan nggak menarik seperti Cira ada jodohnya?” tanyanya. Naila menghela napas.
“Cira, jodoh sudah ditentukan Allah. Insya Allah kamu juga ada jodohnya, dan jodoh untuk kamu pastilah yang berkualitas karena dia nggak memandang kamu dari fisik aja. Suatu saat nanti dia akan datang. Kalau dia memang tidak datang, berarti jodoh kamu disiapkan Allah di sana, di kehidupan yang lain. Dan pastilah di kehidupan yang lain itu jodohmu lebih bagus daripada yang di dunia.” Katanya sambil menggenggam tangan Cira. Cira tersenyum. Kata-kata itu dan genggaman tangan itu benar-benar menguatkannya. Ah, Mbak Naila….
“Ya, Mbak….” Entah kenapa Cira tak bisa menahan derai tangisnya. Naila memeluknya.
“Tunggu saja, Cira. Suatu saat nanti pasti akan datang pangeran terbaik yang akan meminangmu.” Katanya, menyejukkan.
***
Semoga apa yang dikatakan Mbak Naila tadi siang benar. Akan ada seorang pangeran yang datang meminangku tanpa melihat fisikku. Tapi…benarkah itu ada? Kalau pun memang tak ada, ya sudah. Mungkin cinta manusia memang tak pantas untukku. Aku akan mencintai Dzat Yang Mahaadil saja. Dia mencintai tanpa memandang fisik kita. Dia mencintai hati yang baik, akhlak yang mulia dan ibadah yang tertuju hanya untukNya. Dia mencintai dengan tulus, lebih tulus daripada manusia mana pun. Aku rasa, aku pun seharusnya hanya mencintai Dia saja. Eh, ngomong-ngomong kalian sudah tahu, kan siapa Dia itu?
***
Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...