Thursday, December 29, 2011

Resensi Buku: Sekretaris Dodol Mencari Cinta

Udah lama aye kagak baca buku-buku humor. Sebenarnya pengen, cuman godaan buku-buku serius bin tebal, kagak ade matinye. Padahal, entu buku-buku kagak kelar-kelar dibaca. Ya ealaaah… emak rempong gini, susyeh bener cari waktu buat baca buku. Sekalinya ada ya pas ngelonin anak-anak. Eh, baru satu ampe dua halaman, udah molor.

Info Penerbit: Era Intermedia

Penerbit Era Intermedia adalah Penerbit Buku-Buku Islam, di antaranya buku anak, buku motivasi, parenting, panduan ibadah, panduan pernikahan, dan sebagainya.

Persyaratan Naskah:

Minimal 150 halaman (225.000 karakter)
Ukuran Buku A5 (14,5 x 21 Cm)
Ukuran font 12

Isi lengkap termasuk :
- Daftar Isi
- Sinopsis
- Kata Pengantar
- Daftar Pustaka
- Biodata Penulis.

Download formulir pengiriman naskah, di sini:
http://www.eraintermedia.com/index.php?option=com_ckforms&view=ckforms&id=3&Itemid=11

atau, www.eraintermedia.com

Naskah dikirim langsung melalui website di atas (softcopy)

Info Penerbit: Real Books/ Semesta Hikmah

Penerbit Real Books/Semesta Hikmah menerima naskah kreatif Anda.

Bisa dikirim via email: semestahikmah@ymail.com

atau via pos melalui alamat:

Penerbit Real Books/Semesta Hikmah
d.a. Perum Boko Permata Asri C4/8 Bokoharjo Prambanan Sleman Yogyakarta 55572
No. Telp. (0274) 4398720

-+ 4 minggu naskah Anda akan mendapatkan jawaban kepastian layak tidaknya untuk diterbitkan. Jika tidak layak, bila dikirim via email, maka file naskah akan kami delete untuk menjaga keamanan.

Info Penerbit: Imania, Etera

Penerbit Imania dan Etera memburu naskah berupa:

1. Fiksi, dalam bentuk novel; untuk remaja dan dewasa

2. Nonfiksi, dalam bentuk kisah inspirasi, memoar, keislaman (populer), kesehatan, perempuan; untuk remaja dan dewasa

Kriteria naskah:

1. Naskah harus karya asli
2. Belum pernah dipublikasikan penerbit lain.
3. Memiliki cerita yang unik dan tidak pasaran.
4. Memiliki peluang pasar (marketabilitas) yang bagus.
5. Harus menyertakan sinopsis Prosedur Pengajuan Naskah:

Jika naskah telah memenuhi kriteria tersebut di atas, kirimkan beserta:
1. CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap nomor telepon yang dapat dihubungi.
2. Naskah diketik komputer:
* untuk fiksi dewasa, minimal 200 halaman, ketik 1.5 spasi, font times new roman 12.

* untuk nonfiksi, minimal 200 halaman, ketik 1,5 spasi, font times new roman 12.

4. Kirim ke: etera_imania@yahoo.com

Keterangan: * Jangka waktu evaluasi naskah maks. 2 bulan. * Apabila naskah layak terbit, kami akan kabari via e-mail dan telepon. Dilanjutkan dengan pembuatan Surat Perjanjian Kontrak Penerbitan.

Info Penerbit: Lingkar Pena

Cara Mengirim Naskah ke Lingkar Pena

Lingkar Pena menerima naskah berupa:
1. Fiksi, dalam bentuk novel; untuk remaja dan dewasa
2. Nonfiksi, dalam bentuk kisah inspirasi, memoar, keislaman (populer), kesehatan, perempuan; untuk remaja dan dewasa
3. PCPK (Penulis Cilik Punya Karya): novel atau kumpulan cerpen, yang ditulis oleh anak-anak usia 7-14 tahun

Tuesday, December 27, 2011

Tips Menulis: Menulis Novel dengan Bahasa Sederhana


Judul: Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerbit: Kansha Book

Menulis kisah yang hebat, inspiratif, dan menyentuh, ternyata tidak perlu kata-kata rumit, njelimet, berputar-putar, kaya diksi, dan yang disebut sebagian besar orang sebagai “nyastra.” Inilah sebuah kisah hebat, yang ditulis dengan bahasa sederhana. Membacanya, serasa tak ingin meletakkannya sebelum usai dibaca semuanya.

Resensi Buku: RAHASIA PENGANTIN BARU (2)



Penulis: Leyla Hana
Penerbit: Quanta (Imprint P.T Elex Media Komputindo)
Tebal: 200 hal
Terbit:November 2011
Harga:Rp 39.800

Secara naluriah, keinginan untuk berpasang-pasangan melaui jalan pernikahan dimiliki oleh semua manusia. Kecenderungan untuk berkasih sayang dengan lawan jenis dan memiliki keturunan adalah fitrah manusia. Jadi amatlah wajar jika seorang manusia memiliki keingnan untuk menikah.

Monday, December 26, 2011

Resensi Buku: JEAN SOFIA (3)


Mohon maaf, kalo saya paling males nulisin sinopsis meski judulnya lagi me-review, untuk novel ini, satu tagline ini rasanya cukup untuk menggambarkan keseluruhan isi cerita : kisah cinta beda agama dengan segala lika-liku dan perjuangan pahit-manisnya.

Mohon maaf juga, kalau kali ini saya nggak menyinggung soal unsur intrinsik dari fiksi yang biasanya jadi bahan obrolan dalam review, karena untuk penulis sekelas Leyla Hana, saya yakin rata-rata unsur ini telah terpenuhi dengan baik, dan apa yang terpenting adalah bagaimana karya yang dihasilkan menarik bagi pembaca.

Wednesday, December 21, 2011

Info Penerbit: GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Kami selalu menerima naskah dari penulis untuk kami terbitkan, bila naskah tersebut kami nilai memenuhi standar penerbitan kami. Namun, maaf sekali, kami tidak bisa menerima naskah yang dikirimkan melalui e-mail, karena akan menyulitkan tim editor dalam melakukan penilaian naskah.

Apabila Anda ingin menerbitkan naskah Anda, silakan kirimkan naskah tersebut ke alamat kami di
PT Gramedia Pustaka Utama
Gedung Kompas Gramedia Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270

Cantumkan jenis naskah Anda di sudut kiri atas. Fiksi/Nonfiksi. Remaja/Dewasa. Dll. Untuk memudahkan proses seleksi/pengkategorian.

Naskah yang dikirimkan harus dalam bentuk print out, lengkap (tidak hanya cuplikan naskah).Sertakan pula sinopsis cerita.

Tebal naskah untuk novel 100-200 halaman. (Bisa lebih asal jangan berlebihan)

Untuk buku anak, lengkapi dengan contoh ilustrasi. Konsep cerita (terutama untuk buku berseri).

Jenis kertas yang digunakan bebas, asal mudah dan enak dibaca. Ukuran font 12pt, dan spasi 1,5. Tema naskah juga bebas, selama tidak menyinggung SARA dan vulgar.

Sertakan bersama naskah Anda, data diri singkat.

Naskah sebaiknya sudah dijilid, agar tidak tercecer selama dibaca oleh tim editor kami.

Setelah masuk ke meja redaksi, naskah akan dibaca oleh tim editor selama minimal 4-5 bulan. Naskah yang belum bisa kami terbitkan, akan kami kembalikan.

Untuk keterangan lebih lanjut, Anda dapat menghubungi 53650110 ext. 3511/3512 (redaksi fiksi/nonfiksi).
Atau via e-mail: fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers.com

NB.: Kami tidak memungut bayaran apapun kepada penulis yang ingin menerbitkan naskahnya.

Resensi Buku: RAHASIA PENGANTIN BARU


Memasuki gerbang pernikahan itu laksana memasuki hutan rimba yang asing. Semuanya ada di sana. Pemandangan yang indah, aneka ragam satwa yang memikat dan lain-lain. Tetapi, ada juga bahaya yang mengintai setiap saat. Diperlukan kewaspadaan ketika berpetualang di dalamnya.

Monday, December 19, 2011

Serial Emak Rempong: Emang Enak Anak Kembar?

Anak Kembar, Emang Enaaak?
Tahun 2009 bisa dikatakan sebagai tahun penuh kerempongan. Ya, di bulan Desember 2008, saya melahirkan anak kedua yang usianya hanya terpaut setahun dengan si kakak. Tanggal 11 Desember 2008, Ismail berumur satu tahun. Dan di tanggal 31 Desember 2008, adiknya yang kami beri nama Ahmad Sidiq Aghniya, terlahir ke dunia.

Saturday, December 17, 2011

[RESENSI FILM] PEREMPUAN BERKALUNG SURBAN

Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemain: Revalina S. Temat, Reza Rahadian, Oka Antara, Francine Rosendah
Diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Abidah El Khalieqy

Jika hanya membaca opini-opini mengenai film ini, pemikiran kita akan subyektif, mengikuti pemikiran si pembuat opini. Mulanya, saya pikir film ini menyesatkan, sebagaimana opini yang saya baca di internet. Banyak yang mengatakan bahwa film ini menjelek-jelekkan pesantren dan para kyai di dalamnya.

Friday, December 16, 2011

Info Penerbit: Buah Hati

Buah Hati merupakan salah imprint dari penerbit Lentera yang beralamat di : 

Jl.Kertamukti No.63 Pisangan Ciputat 15419

Telp. +62 21 7421913

Fax. +62 21 7421913


Ada dua divisi di penerbit buah hati ini yaitu : 

1. Parenting 
2. Children (usia 0 s/d 15 tahun) 


Cara mengirim naskah : 

* Untuk pertama kali sebaiknya mengirimkan outline terlebih dahulu disertai dengan contoh naskah (1-2 bagian) 
* Diketik rapi menggunakan huruf Times New Roman font 12 pada kertas A4 

Naskah yang diterima saat ini adalah:

1. Teenlit yaitu naskah fiksi dgn segment pasar remaja (SMP/SMA). PAnjang naskah minimal 50 halaman .
2. Buku Kreatifitas untuk anak TK s/d kelas 3 SD . Naskah ini untuk halaman jadi 32 & 48 halaman. 
3. Buu Aktifitas yaitu science dan matematika untuk anak SD kelas 1 s/d 3. Naskah ini untuk halaman jadi 32 & 48 halaman. 
4. Kumpulan cerita. PAnjang naskah minimal 60 halaman dgn cerita lebih diutamakan khas Indonesia. 
5. Buku Parenting. Panjang naskah minimal 50 halaman 

* NOn fiksi : terutama yang bertema pengasuhan. 
* Fiksi = novel bertema parenting. 


Outline bisa dikirim ke : Fita Riyadi email : fita.riyadi@buahhati.net

Wednesday, December 14, 2011

KUIS: RAHASIA PENGANTIN BARU

Alhamdulillah, buku saya yang terbaru sudah terbit. Buku panduan untuk calon pasangan suami istri, maupun yang baru saja menikah. Rahasia Pengantin Baru (Quanta, Elex Media). Untuk berbagi kebahagiaan, ikutan kuis ini yuk.

Momen pengantin baru tak akan pernah terlupakan. Anda pasti masih ingat kisah menegangkan, lucu, dan seru saat baru menikah dengan pasangan. Ceritakan momen pengantin baru Anda yang paling menarik. Tiga orang pemenang, akan mendapatkan buku Rahasia Pengantin Baru beserta tanda tangan penulis, dan bonus buku lain (judul terserah saya). 

Ketentuan:

  1. Ceritakan kisah menarik seputar pengalaman saat menjadi pengantin baru, sepanjang 1-3 paragraf.
  2. Cerita ditulis di note facebook Anda, sertakan kover buku Rahasia Pengantin Baru.
  3. Tag cerita Anda ke 10 orang teman (terutama yang lajang atau baru menjadi pengantin). Cerita juga ditag ke saya. 
  4. Periode kuis, 15  Desember 2011- 15 Januari 201

Serial Emak Rempong: Bayiku Punya Adik!


Usai melahirkan Ismail, saya sempat terserang perasaan trauma dan tidak ingin melahirkan lagi. Ya, itu karena proses persalinannya yang dipaksa dengan induksi infuse. Rasa sakitnya berlipat-lipat lebih sakit daripada mulas biasa. Saya harus merasakannya selama tiga jam, tanpa berhenti! Ketika saya mengeluh, Bidan malah memarahi saya dan mengatakan bahwa ada ibu lain yang harus menahan selama 12 jam! Ah, yang benar saja! Mungkin saya sudah mati kalau menunggu selama itu.

JEAN SOFIA: Behind the Scene

Keprihatinan itu muncul kala saya kuliah di Semarang, kota yang menurut saya amat toleran. Saya baru duduk di awal semester satu kuliah, ketika berkenalan dengan sepasang  muda-mudi yang berpacaran. Yang perempuan beragama Katolik, yang lelaki beragama Islam. Kami saling bertukar cerita. Si perempuan begitu bersemangat menceritakan kisah cintanya yang terjalin sejak SMA. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, sebuah sekolah Katolik. Di Semarang, banyak terdapat sekolah nonmuslim, dan tak sedikit anak-anak muslim yang disekolahkan di sekolah nonmuslim.

Si perempuan yakin kisah cintanya akan berjalan terus sampai menikah, karena mereka sama-sama setia. Keluarga mereka juga tidak mempermasalahkan perbedaan agama di antara keduanya. Mereka sama-sama toleran. Ah, toleran. Sebuah kata yang sering disalahgunakan. Kita memang harus bertoleransi terhadap penganut agama lain, tapi tidak dalam hal ibadah. Pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah yang suci, diucapkan langsung di hadapan Allah.

Kemudian, saya kembali dihadapkan pada kenyataan yang lebih pahit. Ya, saya melihat sendiri bagaimana akibat dari pernikahan berbeda agama itu. Ketika kami sedang berbincang-bincang di depan kamar kos, cucu ibu kos datang. Umurnya baru 4 tahun. Sejak kemarin, dia sudah datang menyambangi neneknya, si pemilik kos-kosan tempat tinggal kami. Dia datang bersama ibunya, sedangkan ayahnya bekerja di Jakarta. Hanya sesekali pulang ke rumahnya di Solo.

Gadis kecil itu sangat cantik, berwajah Jepang, dengan rambut lurus bak direbonding (halaah…) dan mata sedikit sipit. Agaknya mengikuti ibunya yang cantik jelita bak model metropolitan. Gadis kecil itu ditemani oleh susternya (babysitter). Susternya kelihatan akan menyuapi makan anak majikannya. Anak perempuan memang  lebih banyak bicara dibandingkan anak laki-laki. Di usia 4 tahun, gadis kecil itu sudah lancar bicara dan cerewetnya bukan main. Saya dan teman-teman sangat senang mengajaknya bicara.

Ketika dia hendak disuapi makan, teman saya menyela, “Eh, kan belum baca doa. Baca doa dulu, yuk….” Teman saya membaca doa makan. Tiba-tiba,
“Tante, doaku bukan begitu!” gadis kecil itu menyela.
Kami semua berpandangan, tak mengerti. Sebelum bertanya, gadis kecil itu menjawab duluan,
“Tante, aku kan Katolik, bukan Islam.”

Rasanya mau pingsan di tempat. Ah, tidak salah kok ya dia mau beragama apa. Masalahnya, setahu kami, neneknya beragama Islam, bahkan ibadahnya sangat rajin. Tengah malam sering bangun untuk Tahajud, dan pagi-pagi salat Duha. Tapi, kok bisa cucunya beragama Katolik??? Dari susternyalah kami tahu cerita selengkapnya. Ya, ibu si gadis itu beragama Katolik, sedangkan ayahnya yang anak ibu kos kami, beragama Islam. Mereka menikah berbeda agama. Ah, pingsan lagi, deh….
Si gadis kecil terus berbicara, yang hanya membuat kami terlongong-longong.

“Tante, aku ikutin Mama aja. Papa beliin aku mukena, tapi aku gak mau. Aku lebih suka ke gereja sama Mama… kalau Papa datang, Papa suka ngajak aku solat, tapi aku gak mau. Aku kan Katolik….”
Cinta… ah, cinta harus dikalahkan, bila sudah berhadapan dengan keyakinan. Itu prinsip saya. Tak mungkin ada dua nakhkoda dalam satu kapal. Lihatlah, gadis kecil itu. Sekecil itu, dia sudah harus memilih, antara (agama) mamanya dan (agama) papanya.

Dan sejak itu, tertulislah kisah Jean Sofia di dalam novel ini. Bersetting di Semarang, di mana saya dipertemukan dengan kisah cinta berbeda agama. Bahkan, tahun ini, ah.. sedih rasanya mengingat kisah salah seorang sahabat saya. Saya mendengar kabar bahwa dia sudah melepas jilbabnya karena menjalin cinta dengan pemuda berbeda agama. Sahabat masa kuliah saya di Semarang. Apakah cinta kepada manusia sudah menjauhkannya dari cinta kepada Allah? Padahal, cinta kepada manusia, tidaklah abadi.
Saya merasa harus menyampaikan pesan di dalam novel ini. Cinta memang tak bisa memilih kepada siapa atau apa. Tetapi, hidup haruslah memilih, pilihan yang terbaik untuk menyinari kehidupan kita. Jean Sofia dihadapkan pada cinta terhadap lawan jenis yang berbenturan dengan perbedaan keyakinan.

Maukah kamu saya ceritakan kisah seorang pemuda di zaman tabi’in? Dia tengah kelaparan. Lalu, dilihatnya sebuah rumah dengan jendela terbuka. Dia pun segera memasuki rumah itu dan mencoba untuk mencuri makanan. Niatnya urung dilakukan setelah teringat bahwa perbuatan itu berdosa. Dia kembali ke masjid dan menahan diri dari laparnya.

Tak lama, datang seorang wanita menemui Ustadz penjaga masjid. Wanita itu adalah seorang janda kaya yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya. Dia hendak mencari pemuda yang mau menikah dengannya demi menjaga kehormatannya. Si Ustadz memandang si pemuda yang kelaparan dan menawarkan pemuda itu kepada si janda. Janda itu setuju untuk menikah dengan pemuda kelaparan itu.
Ketika sang pemuda tiba di rumah sang janda, terkejutlah ia, karena rumah itu adalah rumah yang hendak dicurinya beberapa saat lalu. Setelah menikah dengan si janda, dia bukan saja bisa menikmati makanan yang hendak dicurinya, tapi juga seluruh harta si janda. Itulah imbalan dari kemampuannya mengurungkan niat melakukan perbuatan tercela.

Allah pasti membalas setiap usaha kita dalam menjauhi perbuatan haram. Pernikahan beda agama, jatuhnya adalah berzina. Jika kita bisa mengalahkan perasaan cinta itu demi cinta yang lebih baik, niscaya akan kita dapati cinta yang lebih baik. Seperti Jean dan Sofia. 

Saturday, December 10, 2011

Resensi Buku: JEAN SOFIA (2)

Cinta. Ia hadir bagai air. Menyejukkan dan menenangkan. Namun ia bisa datang dengan gemuruh yang riuh. Bagai ombak di laut lepas. Meski di kala lain ia damai bak danau hijau nan memukau.

Siapapun tak ada yang tahu kapan akan dijatuhi cinta. Tiba-tiba ia bisa menimpa tak terduga. Kepada orang yang kadang tak dinyana sebelumnya. Begitu pula yang dialami kedua tokoh dalam novel “Jean Sofia” karya Leyla Imtichanah.

Resensi Buku: JEAN SOFIA


Judul Buku : JEAN SOFIA
Penulis : Leyla Hana
Penerbit : Penerbit Laksana (Diva Press), Yogyakarta
Tahun terbit : September 2011
Cetakan : I
Jumlah halaman : 414 halaman
Ukuran buku : 19 cm x 12 cm
ISBN : 978-602-978-714-6
Harga : Rp. 46.000,- (tanpa diskon)

Thursday, December 8, 2011

Resensi Buku: HATI MEMILIH

Judul: Hati Memilih
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Bukune

Sekali lagi saya diberikan kesempatan untuk membaca novel Mba Riawani Elyta. Sempat terpikir gaya menulisnya akan sama dengan novel pertamanya, Tarapuccino. Lantas tercenganglah saya ketika mendapati nuansa berbeda di novel bersampul hijau pupus nan lembut ini. Kover sederhana tapi memikat. Kalau itu sudah pasti jasa desain kovernya, hehe… Kover yang dapat menggambarkan isinya, sebab isinya pun lembut dan romantis.

Tuesday, December 6, 2011

Motivasi Menulis: Empat Buku dalam Setahun


Alhamdulillah, tak disangka, tahun ini empat buku saya terbit, salah satunya buku antologi. Berturut-turut dari bulan September-Desember. Padahal, saya baru keluar dari goa, setahun yang lalu. Tepatnya, bulan November 2010, saya kembali menyentuh internet. Saya langsung aktif di fesbuk, mencari informasi-informasi menulis dan menerbitkan buku, dan kini hasilnya sudah dapat saya raih.


Serial Emak Rempong: ASI atau SUFOR?

Suami adalah orang yang paling getol menyuruh saya memberikan ASI untuk Ismail. Sebagai calon ayah, dia juga ikut sibuk mencari informasi mengenai ASI dan sebagainya yangberhubungan dengan bayi, sebelum Ismail lahir. Jasanya yang paling besar adalah membelikan saya susu ibu hamil dan menyusui, sekalipun harganya mahal. Lebih baik ibunya yang minum susu formula, daripada bayinya. Mengapa? Karena kalau ibunya yang minum sufor, paling-paling hanya 2-3 kali sehari. Tapi, kalau bayinya? Huuuaaaah…..

Setelah melahirkan Ismail yang penuh perjuangan dan bahkan berharap mati saja karena tak kuat menahan sakit diinfus mulas (astaghfirullah!), saya tidak bisa langsung menyusui Ismail. Bidan yang membantu melahirkan rupanya belum tahu info mengenai Inisiasi Menyusui Dini (hiks!). Bahkan, tatkala payudara saya telah mengeras seperti balon yang hendak meledak, saya tetap tidak diperbolehkan menyusui Ismail. Katanya, “jangan, kan masih sakit itu jahitannya. Masih susah menyusui.” Maksudnya, saya belum bisa duduk dengan benar untuk menyusui. Dia menyuruh saya menunggu tiga hari lagi.

Haduuh… padahal saya mengerti sekali mengenai kolostrum yang sudah ke luar dari payudara saya. Cairan awal ASI berwarna kekuningan yang diyakinkan sebagai imunitas untuk bayi. Entahlah. Sepertinya Ismail tidak mendapatkan kolostrum itu. Ismail malah dapat sufor, mana diminumkannya dengan disangga bantal! Alhamdulillah, Ismail tidak sampai tersedak. Saya dengar, sekarang para bidan muda sudah mendapatkan materi IMD. Syukurlah. Ya, seharusnya setelah melahirkan, bayi langsung diberikan putting ibu, meskipun belum ada ASI-nya.

Heeeiii… jangan hanya menyalahkan bidan, dong. Kalau saya sudah paham mengenai IMD, mengapa saya tidak bersikeras meminta bayi saya untuk menyusu ASI? Sudah. Sudah saya lakukan. Tapi, memang saya tidak terlalu kuat memegang keyakinan karena merasa “awam.” Lah, kan dia yang bidan, jadi dia pasti lebih tahu daripada saya. Belakangan, hal itu saya sesali. Rupanya tidak selalu para bidan dan paramedic itu lebih tahu. Kelak, jika saya melahirkan lagi, saya akan melakukan IMD!

Ismail total menyusu, lagi-lagi karena usaha getol suami. Bayangkan, sepulang dari bidan, bidan memberikan saya oleh-oleh satu paket perlengkapan bayi, plus satu kardus ukuran 150 gr, susu formula untuk bayi! Oow… saya tahu ini pasti bertujuan promosi. Alhamdulillah, suami saya sangat getol mendorong ASI Eksklusif. Susu formula itu hanya sekali dipakai, akibat dorongan ibu mertua, lalu dibuang karena tidak pernah diberikan lagi ke bayi saya. Suami saya bertahan dengan prinsipnya bahwa bayi kami harus mendapatkan ASI Eksklusif.

Ibu mertua, sebagaimana ibu-ibu zaman dulu, menyarankan agar saya memberikan ASI dan sufor secara bergantian. Katanya, “supaya nanti gak repot kalau kamu mau pergi-pergi. Bayinya bisa dititipin ke siapa gitu, kan susunya bisa diganti dot.” Tapi, suami saya bertahan, sekalipun ibunya yang menyarankan. Ajaib. Padahal, suami saya sangat patuh kepada ibunya. Apa pun perintah ibunya, dituruti. Untuk ASI, no! Sekali ASI, tetap ASI. Selain percaya bahwa ASI jauh lebih baik daripada sufor, lagi-lagi tentu saja suami saya berpikir lebih baik ibunya yang minum sufor, daripada anaknya. Khawatir kalau nanti kelepasan memberikan sufor terus, anak kami kecanduan dan lebih milih sufor.

Memberikan ASI, memang luar biasa. Yap. Benar kata ibu saya. Bila saya bertahan hanya memberikan ASI, berarti saya harus siap menjadi induk kanguru. Hfff…. Setiap dua jam, Ismail menyusu. Otomatis, saya tidak bisa pergi lama-lama. Harus selalu siap sedia kantung susu. Suami membelikan pompa ASI, untuk memeras ASI yang menderas. Bisa juga ASI-nya disimpan di botol, supaya Ismail juga belajar mengisap dari botol. Tapi, saya yang kapok. Ternyata sakit lho memerah ASI pakai pompa manual. Tidak terpikir membeli pompa yang mahal, karena kurang informasi.

Jika saya ingin pergi, maka saya harus membawa-bawa Ismail. Khawatir sewaktu-waktu dia minta menyusu. Alhamdulillah, saya pakai jilbab yang menutupi dada. Jadi, saya bisa menyembunyikan payudara saya sewaktu Ismail minta ASI di tempat umum. Saya ikut risih dan malu melihat ibu-ibu yang begitu enaknya menyusui bayinya dengan memperlihatkan payudaranya di tempat umum. Sekalipun tidak memakai jilbab, bisa kan payudara itu ditutupi oleh kain gendongan?

Kala itu saya berpikir, haduuh… repot juga yah ngasih ASI. Ke mana-mana harus bawa Ismail. Ke mana-mana digelendoti Ismail. Coba kalau pakai sufor. Kalau mau pergi, Ismail bisa dititipi ke orang, kan menyusunya dari botol. Pasti lebih enak deh kalau pakai sufor. Tidak repot seperti kalau memberikan ASI. Dan sekarang, saya menyesali gerutuan itu. Di usia 5 bulan, Ismail harus berhenti minum ASI gara-gara saya hamil lagi!

Ah, ya, tentu saja itu bukan salah bayi di dalam kandungan. Memang, saya dan suami yang kurang informasi. Saya tinggal di pelosok kampung, belum terkoneksi dengan internet, dan suami jarang membelikan majalah atau tabloid (meski sudah sering dipesankan), yang bisa memberikan informasi. Sumber informasi saya hanya dari para bidan dan orang-orang tua (salah satunya ibu mertua). Tahu apa yang mereka sarankan? STOP ASI!

Bayangkan, saya memeriksakan kandungan ke dua orang bidan dan dua-duanya berpendapat bahwa saya harus menghentikan pemberian ASI kepada Ismail.
Nanti anaknya jadi hiperaktif
Nanti anaknya jadi idiot
ASI-nya sudah gak bagus
Bla, bla, bla.

Yang belakangan saya ketahui bahwa informasi-informasi itu MEMBODOHKAN. Wah, bagaimana ya itu para bidan yang memberikan informasi? Mereka belajar gak, sih? Pengen ngomel-ngomel setelah beberapa bulan kemudian, saya tahu bahwa Tandem Nursing dibolehkan selama fisik ibu dan janin di kandungannya baik-baik saja. Tandem nursing, ibu hamil yang menyusui.

Tapi, sudah terlanjur! Ismail sudah beralih ke sufor, karena saya tahu informasi itu setelah beberapa bulan kemudian. Saya hanya bisa ngomel-ngomel dengan suami. Makanya, kalau istri minta dibelikan majalah atau tabloid itu ya dibelikan (karena kami tahu informasi tandem nursing dari majalah). Kalau minta koneksi internet ya dikasih, bila suami tidak mau mencari sendiri di internet. Suami juga tidak bisa disalahkan sih, karena dia yakin dengan keterangan ibu mertua dan DUA BIDAN!

Baiklah. Memang sudah takdir Ismail harus minum sufor. Sejak itu, saya merasakan pontang-panting memberikan sufor. Ya, yang semula saya pikir mudah, ternyata lebih susah. Bayangkan. Bayi seusia Ismail, masih lahap minum susunya. Dan karena masih di bawah 6 bulan, susunya harus sekali minum, tidak boleh disimpan. Jadi, bikinnya pun sedikit-sedikit. Ismail bisa dua jam sekali minum sufor, otomatis saya harus pontang-panting membuatkan sufor. Tentu relative lebih repot daripada ASI. Kalau memberikan ASI, saya tinggal buka kancing baju. Nah ini, saya harus memanaskan air, mencuci botol (botolnya pun harus direbus dulu), dan mengukur suhu sufor supaya Ismail tidak kepanasan.
Malam hari, saya tidak bisa tidur nyenyak. Kalau dulu saat masih ASI, saya bisa kasih ASI sambil tetap tidur. Begitu memberikan sufor, ya saya harus beranjak ke dapur, dan melakukan rutinitas membuat sufor. Akhirnya, saya bawa termos ke kamar, yang hanya berumur singkat karena dibanting oleh Ismail. 

Waaah.. ternyata memberikan sufor jauh lebih repot daripada memberikan ASI. Dan tentu saja, jauh lebih mahal. Suami harus membelikan dua susu; susu untuk ibu hamil dan susu untuk Ismail. Susu untuk Ismail yang jauh lebih boros. Apalagi suami termasuk korban iklan juga. Maunya sufor yang agak mahal, karena lebih banyak gizinya. Masa-masa itu adalah masa yang prihatin buat kami. Banyak sekali pengeluaran untuk bayi, terutama untuk sufor dan diapers. Kami bertekad, bayi kedua nanti harus hemat! Caranya? ASI Eksklusif dua tahun!


Promosi sufor yang gencar memang harus diminimalkan. Banyak ibu yang sebenarnya sanggup memberikan ASI, memilih memberikan sufor agar lebih praktis. Mereka juga berpikir bahwa anak sufor lebih cerdas dan sehat. Lihat saja iklan sufor yang jelas-jelas mempromokan bahwa anak yang minum sufor, jauh lebih cerdas dan kreatif. Nah, daripada ngasih ASI yang rempong plus bikin payudara kendor, mending kan ngasih sufor. Belum yang ngasih sufor karena sibuk kerja dan sakit digigit bayinya.

ASI adalah nutrisi terbaik dari Allah, fitrah seorang ibu kepada bayinya. Mengembalikan fungsi ASI sebagaimana mestinya, telah menggerakkan sebagian ibu-ibu yang Pro ASI untuk mempromosikan ASI. Tindakan yang bagus, untuk menekan pemakaian sufor. Saya gemas juga dengan promosi gila-gilan produsen sufor, bahkan sebal karena sering ditelepon sales sufor. Tapi, lama-lama, ibu-ibu yang Pro ASI itu “keterlaluan” juga, yah. Naga-naganya jadi sama aja dengan sales sufor, bahkan cenderung menyudutkan ibu-ibu yang memberikan sufor. Sebalnya, ada yang memberikan julukan “anak sapi” kepada bayi-bayi yang minum sufor.

Bagaimana kalau kasusnya seperti saya, yang terpaksa memberikan sufor karena ketiadaan informasi mengenai tandem nursing? Suami saya sudah berusaha mendukung pemberian ASI, tetapi takdir berkata lain. Banyak juga lho ibu-ibu yang benar-benar tidak bisa memberikan ASI, misalnya ASI tidak keluar, mengalami koma/ depresi berat setelah melahirkan, dan sebagainya. Padahal, mereka sudah berniat memberikan ASI, hanya takdir berkata lain. Pasti mereka sedih juga kalau disudutkan dengan komentar-komentar negatif mengenai sufor.

Menurut saya, sufor tetap bisa menjadi alternative makanan untuk bayi, jika memang ASI ibu bermasalah. Masih agak sulit untuk menerapkan donor ASI, karena pendonor pun harus dipilih-pilih. ASI yang didonorkan harus berasal dari ibu yang baik, memakan makanan yang baik, dan kelak bayi susuannya tidak boleh menikah dengan bayi pendonor.  So, tidak perlulah saling menyudutkan antara ASI dan Sufor. Ibu hanya mengusahakan, selanjutnya adalah takdir Allah. Saya juga sedih kalau Ismail disebut anak sapi, memangnya sapi yang melahirkan Ismail???  



Motivasi Menulis: Nulis Saja Dulu!


Sabtu sore, saya dan keluarga berkunjung ke toko buku Gramedia Depok. Niatnya hanya ingin jalan-jalan dan memantau kabar buku-buku saya di toko buku. Kalau beli? Stok buku yang belum dibaca masih banyak, bo. Jadi jangan beli-beli buku dululah. Pada akhirnya, beli buku juga. Buku anak-anak buat anak-anak saya.

Memasuki toko buku Gramedia Depok, saya langsung disambut dengan poster gede Merry Riana. Sedikit yang saya baca dari posternya, agaknya dia seorang pebisnis wanita yang sukses (kalau tidak salah).  Nah, buku itu mengisahkan perjalanan hidupnya, gitu deh. Gak jelas juga, karena saya lebih tertarik dengan buku-buku yang terpajang di depan tangga escalator menuju lantai dua. Ada novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari. Mata langsung biru, alias pengen beli. Tapi ingat tumpukan buku di rumah yang belum baca, dan tidak adanya diskon di tokbuk ini, hehe….. Melihat-lihat novel itu sekilas, yang bergambarkan dua orang pemain filmnya.

Lalu, saya naik ke escalator menuju lantai dua, di mana buku-buku baru dipajang. Sebelumnya, di lantai bawah, ada obral buku, tapi saya hanya beli DVD untuk anak-anak, yang setelah diputar di rumah, tidak nyala! Huhu… harusnya dicoba dulu ya pas di Gramedia. Ya, sudahlah.

Di lantai dua, saya langsung disambut deretan buku-buku terbitan Gagas dan Bukune. Buku apa yang langsung tertangkap pandangan mata saya? POCONGGG. Hadeeeu… maruk bener deh tuh buku. Gak puas di samping kiri, rupanya dia juga ada di depan. Dan begitu saya ke belakang, dia ada juga! Stoknya berapa banyak ya di tokbuk itu???

Ya, sudahlah. Begitulah kalau buku  best seller. Promosi penerbitnya juga oke dan gila-gilaan. Sewaktu bekerja di penerbitan dulu, saya mendengar bahwa untuk bisa memajang buku gila-gilaan seperti itu, penerbit membeli rak khusus, yang harganya bisa puluhan juta. Dibandingkan dengan keuntungan yang kemudian didapat (kabarnya hingga miliaran), tentu bisa membayar biaya yang dikeluarkan. Tapi tidak semua buku mendapatkan perlakuan seperti itu. Penerbit punya hitung-hitungan dan riset pasar untuk menentukan buku mana yang berhak mendapatkan rak khusus tersebut. Kalau rak aslinya sih, semua buku kan sudah ditentukan tempatnya masing-masing. Novel di rak fiksi.

Saya pun memutari lantai dua, berniat mencari buku-buku saya. Saya cari di rak buku pernikahan, lho kok gak ada ya buku Rahasia Pengantin Baru? Saya lanjutkan perjalanan ke rak novel. Alhamdulillah, Jean Sofia langsung tertangkap  pandangan mata, karena ditaruh di tengah-tengah. Tapi… di mana ya buku Rahasia Pengantin Baru? Terpaksa deh menggunakan mesin pencari di Gramedia, yang langsung menjelaskan posisinya. Ternyata memang ada di rak pernikahan, tapi di atas sekali, jadi kalau pandangan mata kita cuma setengahnya, ya gak kelihatan, haha….

Lalu, saya memandangi seluruh lantai dua yang dipenuhi oleh buku-buku. Buku dengan tema kehamilan memenuhi satu rak yang panjang. Ternyata banyak yang punya ide serupa, menulis buku tentang kehamilan. Persaingannya berat, bo. Judulnya pun serupa. Kehamilan bla bla bla. Kalau buku pernikahan masih mending ya, judulnya tidak mirip gitu.

Dua buku saya… ya, meskipun saya sudah punya dua buku, ternyata stoknya di tokbuk Gramedia masih kalah jauh dengan Poconggg.  Jadi? Ayo tulis buku lagi supaya tokbuk Gramedia dipenuhi oleh buku-buku saya! Hahaha…

Ya, berpikir positif sajalah. Wajar, jika kita punya keinginan buku kita diapresiasi oleh orang banyak. Tetapi, persaingannya memang berat. Tidak selalu tema dan tulisan yang bagus, mendapatkan apresiasi setimpal. Contohnya, Ronggeng Dukuh Paruk dan Poconggg. Bila dibandingkan, Poconggg lebih menguasai Gramedia, karena jumlahnya kelihatannya lebih banyak. Tetapi, secara kualitas?
Lagipula, RDP bukan baru sekarang diterbitkan. Novel itu sudah ada puluhan tahun lalu, mungkin sebelum saya lahir. Bagaimana keadaaannya dulu sewaktu baru pertama kali diterbitkan? Mengingat zaman dulu gairah membaca belum sedrastis sekarang, pasti hanya segelintir orang yang mengapresiasikannya. Memang, novel RDP itu terkenal, tapi di kalangan siapa? Di kalangan peminat buku sastra. Apakah remaja kita mengenal RDP? Saya dulu tidak kenal. Remaja sekarang? Pasti kenalnya Poconggg.  Apakah apresiasi yang sedikit itu lantas menyurutkan Ahmad Tohari untuk menulis?

Haaaaii… saya sudah lama melihat novel RDP terbitan lama dan Belantik, sama-sama karya Ahmad Tohari, di rak buku mantan bos saya. Di raknya memang hanya ada novel-novel sastra. Tapi, sekarang saya menyesal KARENA TIDAK MEMBACA BUKU-BUKU ITU. Ya, saya langsung terbayang beratnya diksi sastra dan tidak mau berpusing-pusing membacanya. Apakah jika setelah Ahmad Tohari mendapati apresiasi pembacanya tidak terlalu antusias, lalu ia berhenti menulis, dia dapat melihat RDP difilmkan dan dipajang besar-besaran di Gramedia seperti sekarang?

Boleh saja kita berharap karya kita bisa seperti Poconggg. Tak perlu menulis yang ribet-ribet. Sering kali buku-buku semacam itu BERHASIL karena promosi besar-besaran. Tapi, lihatlah. Banyak buku-buku yang jauh lebih berkualitas, teronggok di rak belakang, masih untung kalau ada pengunjung toko buku yang sudi berjalan ke belakang. Tetapi, waktu akan bicara. Setiap asahan pena kita, insya Allah akan menunjukkan hasilnya. Coba mana ya Rahmania Arunita yang dulu beken dengan Eiffel I’m in Love? Mana di mana dia?

So, mengutip kata-kata seorang penulis pemula yang pernah menyinggung saya, “Yang penting nulis aja dulu!” Hmm.. ternyata dia benar juga. Tidak ada salahnya punya pikiran karya ingin diapresiasi orang banyak, best seller. Bagaimana bisa best seller kalau tidak menulis? Masih mending ada satu orang yang membaca karya kita, daripada tidak. Iya, kan? Iya, kan? :D

Monday, December 5, 2011

Serial Emak Rempong: Awal dari Kerempongan Itu


Ketika sedang hamil anak pertama, tak pernah saya duga bahwa kelak (ketika si kecil lahir) saya akan mengalami kerempongan-kerempongan yang luar biasa. Kehadiran si kakak (saya dan suami sepakat menyebutnya “kakak” sejak dalam kandungan. Tak disangka ternyata bayiku kelak menjadi kakak dalam waktu singkat) mengubah hidup saya dari yang semula santai, menjadi super sibuk. Waktu 24 jam seakan teramat singkat. Sebagian besar hidup saya hanya berpusat padanya.

Alhamdulillah, Ismail lahir lebih cepat dari waktu yang diperkirakan oleh dokter dan bidan-bidan. Lebih cepat sebulan. Mungkin dulu perhitungan kehamilannya kurang akurat. Mungkin juga kelahirannya dipercepat oleh sang bidan, karena Ismail lahir melalui  bantuan perangsang mulas, tablet dan infuse mulas. Mungkin saja dulu bisa ditunggu sampai benar-benar mulas, toh perkiraan lahirnya masih lama. Apa pun, itu sudah menjadi kehendak Allah, dan yang terutama, Ismail lahir dengan selamat, sehat, dan tidak mengalami kelainan apa pun.

Saat ia lahir, saya sama dengan sebagian besar ibu yang begitu antusias menyambut kelahiran bayi pertamanya. Tak sabar ingin menggendong bayi, meskipun tubuh masih lelah dan sakit tidak karuan. Seluruh tubuh saya terasa sakit, sakit di bagian bawah karena jahitan di jalan lahir sebanyak lima jahitan, dan rasa sakit di payudara karena kelenjar payudara mulai bekerja untuk mengeluarkan ASI. Betapa berlipat-lipat rasa sakit yang dialami oleh seorang ibu, membuat saya teringat kembali almarhumah ibu saya yang tidak sempat melihat kelahiran cucunya, bahkan tidak sempat melihat pernikahan saya.

Ya, saya harus berjuang sendirian untuk merawat bayi saya, tanpa arahan dari ibunda tercinta. Memang, saya masih memiliki ibu mertua. Sejak kandungan berumur tujuh bulan, suami menyuruh saya tinggal di rumah ibu mertua agar mendapatkan arahan dan bantuan dalam merawat bayi kami kelak. Jika ibu saya belum meninggal, mungkin saya akan tinggal bersama  ibu kandung sendiri, sebagaimana anak-anak perempuan lainnya. Syukurlah, ibu mertua begitu perhatian dan nyaris seperti ibu kandung sendiri, meski tetap saja mungkin lebih enak bila bersama dengan ibu sendiri. Maklum saja, saya baru setahun mengenal ibu mertua. Berhubung proses menikah tanpa melalui pacaran, saya baru benar-benar mengenal ibu mertua, setelah menikah. Itupun tidak intensif, karena saya tinggal di Bogor, sedangkan ibu mertua di Garut. Sikap merasa asing, masih menghinggapi kami.

Selama tinggal di rumah mertua, saya cukup terbantu. Sebelum melahirkan, Ibu membantu belanja barang-barang keperluan bayi. Tentu saya membutuhkan arahan dari orang yang lebih berpengalaman, sebab saya tidak tahu keperluan apa saja yang mesti dibeli. Ibu juga banyak memberikan informasi mengenai kehamilan dan melahirkan, seperti makanan apa yang harus dikonsumsi, larangan untuk ibu hamil, dan sebagainya. Dan setelah melahirkan, bantuan ibu semakin tak terhitung. Beliau menyiapkan air mandi hangat untuk saya dan bayi, daun sirih untuk menghilangkan gatal-gatal di jalan lahir, membantu mengurus bayi apabila saya sedang ada keperluan, dan lain-lain.

Namun, saya tetap merasa sendiri saat malam tiba. Suami tetap tinggal di Bogor, karena harus bekerja. Di kamar depan (pavilion), saya hanya berdua dengan bayi saya, yang lima hari kemudian diberi nama Ismail. Cuaca Garut yang dingin, ditambah larangan menggunakan diapers, membuat saya tersiksa. Ismail terus menangis dan berkali-kali pipis, sehingga saya harus berkali-kali mengganti popok kainnya. Musim hujan pula, membuat cucian susah kering, sehingga persediaan popok harus ditambah. Ibu mertua masih berpikiran seperti orang-orang zaman dulu, di mana bayi tidak boleh memakai diapers karena nanti jalannya ngangkang.

Saya merasa stress. Tidur malam tak bisa nyenyak. Setiap setengah jam sekali, Ismail pipis, sehingga popok harus diganti. Sebaliknya, jika siang hari, Ismail justru lelap tidur, bahkan harus dibangunkan untuk diberikan ASI. Saya teringat suami, yang di benak saya sedang tidur nyenyak tanpa gangguan suara tangis bayi. Huh, enak sekali dia, batin saya menggerutu. Sementara saya harus menahan kantuk, menggendong dan mendiamkan Ismail yang menangis. Kalau tangisannya tak berhenti-henti sampai terdengar ke kamar mertua yang terpisah kolam ikan, ibu mertua baru datang dan membantu menggendong. Ya, saat itu saya berharap ibu mertua mau menemani saya tidur, tetapi bagaimana ya? Hubungan kami masih ada kesenjangan, jadi ibu mertua hanya sesekali menemani.

Akibat dari keseringan digendong,  Ismail jadi “bau tangan.” Sebuah istilah untuk menyebut kecenderungan bayi yang harus selalu digendong dan tidak mau ditaruh dan ditinggal sendirian. Maklum, namanya juga cucu pertama. Keluarga mertua begitu antusias ingin menggendong Ismail. Saya juga sangat sayang kepada Ismail, salah satu keajaiban dalam hidup saya. Dan sayangnya, saya tidak bisa menyusui sambil tidur, harus duduk dan menggendong dia. Otomatis, Ismail sering berada di gendongan, sehingga jadi “bau tangan.”

Selama tinggal di rumah mertua, hal itu tidak menjadi hambatan. Kalau saya sedang ke kamar mandi atau makan, ibu mertua akan mengambil tugas menggendong. Nanti baru terasa begitu saya sudah kembali ke Bogor, demi memenuhi tugas istri terhadap suaminya. Selama di Garut, suami datang menengok dua minggu sekali. Sebenarnya hanya untuk melampiaskan kangen. Tidak cukup membantu juga, karena suami tidak bisa menggendong bayi baru lahir. Pernah juga dipaksakan ketika saya sudah sangat kesal, Ismail tidak mau diam dari tangisnya. Tapi, rasanya itu hanya sekali-sekalinya, hehe…..

Nah, dua bulan kemudian, ketika Ismail telah berusia dua bulan, saya harus kembali ke Bogor, karena suami sudah tidak tahan lagi ditinggal istrinya. Banyak pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai, terutama urusan menyetrika pakaian. Mencuci pakaian sih bisa, tapi menyetrika pakaian itu lho…. Meskipun mertua meminta saya tetap tinggal sampai Ismail berusia setahun, rasanya tidak adil juga untuk suami. Sesulit apa pun (merawat bayi sendirian) harus saya jalani, karena saya sudah memilih menjadi istri dari suami saya dan ibu dari Ismail.

Dan kerempongan-kerempongan itu benar-benar membuat saya setreeeees….. Dengan sangat terpaksa, saya memakaikan diapers kepada Ismail. Ya, sewaktu di rumah mertua, saya masih bisa bertahan memakai popok kain, karena ada yang membantu mencuci popok. Kalau tidak pembantu harian, ya ibu mertua. Di rumah sendiri? Suami sesekali membantu mencuci popok, kalau hari libur. Hari biasa, ya harus saya yang mengerjakan. Belum terpikir mencari pembantu rumah tangga, karena merasa kerempongan-kerempongan itu masih bisa diatasi.

Selain itu, akibat bau tangan, Ismail tidak bisa ditinggal berlama-lama. Bahkan, untuk mengambil wudhu, suara tangisnya kencang terdengar begitu menyadari saya tidak ada di dekatnya. Sering sekali saya mengambil air wudhu sambil menggendongnya. Mandi? Harus cepat-cepat juga. Saya jadi terbiasa mandi pagi-pagi sewaktu suami belum berangkat ke kantor, jadi ada yang menunggui Ismail. Pokoknya, bayi saya nyaris tidak pernah jauh dari saya. Seperti bayi kanguru yang selalu berada di dalam kantong induknya.

Alhasil, rasa-rasanya hidup saya hanya berputar pada bayi semata. Bahkan, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga banyak terbengkalai. Pernah, suami saya membantu menyetrika pakaian. Sudah tentu cara melipatnya tidak rapi. Pernah juga, tengah hari saya merasa kelaparan karena belum sempat memasak, eh gasnya habis. Begitu ke warung, pasokan gas di warung juga sedang habis. Berjalanlah saya ke luar komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk beli mie ayam. Sudah tentu dengan menggendong Ismail. Sudah pakai payung, tapi masih panas.

Sebelum menikah dan punya anak, saya punya banyak waktu untuk menulis. Selain hobi, juga sudah menjadi profesi. Setelah menikah, saya masih bisa menulis. Bahkan saat hamil pun—kecuali saat ngidam berat—saya masih bisa menulis. Tapi, ketika Ismail lahir, saya sama sekali tak bisa menulis. Ismail selalu ada di gendongan saya, bagaimana mau mengetik? Saat itu, belum ada masalah. Berhubung anak pertama, jadi saya masih lebih memperhatikan Ismail daripada hobi menulis. Tidak mengapalah tak menulis dulu.

Bagaimanapun rempongnya, setiap kali memandang wajah Ismail yang sedang lelap (saat itu adalah saat paling damai dalam hidup saya ;P), saya selalu bersyukur karena ia telah hadir di dalam hidup saya. Sebuah keajaiban yang saya tunggu-tunggu sejak masih SMP. Yap, sejak dulu saya penasaran seperti apa wajah anak saya? Keturunan saya? Alhamdulillah, ia sehat dan tampan. Tidak semua pasangan suami istri seberuntung saya, bukan?
  

Novel: Come to Me Paquita (3)

TENTANG JOAN

Rupanya Tasya benar-benar membuktikan ucapannya kemarin. Hari ini, pagi-pagi sekali sebelum kuliah pertama dimulai, ia ke tempat kos Paquita yang hanya berada di seberang kampus ekonomi. Ia datang untuk membantu Paquita memakai pakaian yang serasi. 
“Meskipun kamu pake baju muslim, tapi tetap merhatiin penampilan dong. Masak pake jilbab kaos ke kampus? Warnanya ungu lagi! Tau, nggak? Jilbab kaos ini cuma boleh dipake di rumah aja,” kata Tasya, cerewet sambil memegang jilbab kaos Paquita yang sedianya mau dipakai pagi ini.  “Nah, ini aja nih, Ta!” Tasya mengeluarkan gamis kotak-kotak merah tanpa lengan dari dalam lemari pakaian Paquita. “Baju ini bagus banget kalau dipadanin sama kemeja putih!”
Paquita melotot melihat pakaian itu. “Aduh! Enggak, deh! Aku jadi kayak anak SD pake baju itu!” Sebenarnya gamis itu memang dibelikan Ummi khusus untuknya, tapi ia masih malu memakainya.
“Pokoknya kamu harus pake baju ini!”
Paquita cemberut. Karena Tasya terus mendesak, akhirnya ia menuruti saran Tasya tersebut. “Aku bawa yang ini buat cadangan! Siapa tahu nanti ada yang ngetawain!” katanya sambil membawa sepotong pakaian lain yang sesuai seleranya.
Tasya geleng-geleng kepala melihatnya.
 “Yah, lagi-lagi dapat duduk di depan…!” Tasya mengeluh saat dilihatnya kelas telah penuh sesampainya mereka di kampus ekonomi.
“Habis, tadi kamu sibuk nyariin bajuku sih!”
“Ah, nggak pa-pa. Biar orang-orang liat penampilan barumu!”
“Eh, Tasya! Jangan buru-buru!” Paquita malu sendiri. Ia benar-benar canggung memasuki kelas hari ini.
“Wow! Hari ini pakaianmu serasi sekali, Paquita!” seru seseorang, tiba-tiba.
Paquita melotot. Siapa itu? Siapa yang barusan berbicara denganku?
“Ta! Kamu kenapa, sih? Ayo duduk di sini!” Tasya menarik tangan Paquita yang tiba-tiba berhenti di jalan.
“Eh, kamu tadi denger nggak ada yang ngomong sama aku?”
“Emang ada yang ngomong sama kamu?”
“Ye! Gimana, sih? Iya, bener! Aku ya…,” Paquita menghentikan ucapannya. Jangan-jangan… dia lagi!
“Kenapa, Paquita? Bingung? Ini aku yang bicara. Joan. Aku bicara dari dalam lubuk hatiku yang terdalam. Penampilanmu hari  ini berbeda sekali.”
Paquita terbelalak. Suara itu lagi! Aku nggak salah dengar! Ugh! Kenapa sih suara itu selalu menggangguku?!
“Emang kenapa, sih? Sirik banget!” gerutu Paquita, dalam hati.
“Siapa yang sirik? Aku muji kamu, kok!”
“Udah, deh. Nggak usah ngomong lagi. Lagian, kita kan nggak kenal satu sama lain!”
“Aku kan udah ngenalin diri. Kamu aja tuh yang nggak mau kenalan sama aku.”
“Ta…! Ita…!”
“Eh…!” Paquita terkejut. Ditatapnya Tasya yang juga sedang menatapnya.
“Kamu sedang bicara dengan siapa?” tanya Tasya, bingung.
Paquita juga bingung. “Enggak, kok. Nggak… bicara sama siapa-siapa…!”
Tasya geleng-geleng kepala. Something’s fishy here[1]. Sudah dua kali ia memergoki Paquita seperti sedang berbicara dengan seseorang. Entah siapa. Tak lama, Dosen Makroekonomi masuk dan langsung memberikan kuliah. Tasya terpaksa memendam rasa ingin tahunya. Dosen Makroekonomi memberikan kuliah selama satu jam.
“Maaf, saya hanya bisa memberikan kuliah selama satu jam saja. Saya ada urusan yang lain. Ini hasil tes kuliah yang lalu. Tolong dibagikan, ya, Joan!” Dosen tersebut menyerahkan hasil tes kepada Joan yang duduk di depannya.
“Wah, sepertinya kamu dianakemaskan oleh Bu Rini,” ucap Paquita, dalam hati.
Joan tersenyum. “Tentu saja. Pertama, aku ganteng. Kedua, aku duduk di depannya.”
“Apa? Ganteng?!”
“Lho? Bukannya kamu juga pernah bilang aku ganteng?”
“Kapan aku pernah bilang begitu?”
“Jangan pura-pura lupa, ah!”
“Ih, kegeeran!”
“Ta! Ita!” seru Tasya, kencang. Paquita terkejut. “Kamu kok bengong mulu, sih?!”
“Enggak, kok….”
“Enggak? Aku lihat sendiri! Nih, aku udah dapet hasil tesku dari Joan. Tuh, kamu ambil sendiri punyamu!” Tasya memperlihatkan kertas hasil tesnya.
Paquita melotot. Apa? Aku harus mengambil sendiri hasil tesku di Joan?! Oh…tidak…!
“Ayo, Ta! Nanti keburu Joan pergi!” seru Tasya, kencang.
Paquita memukul kepalanya sendiri. Aduh… kenapa aku jadi error begini…?!
“Paquita, mau ambil hasil tesmu, nggak? Aku sudah menunggumu, nih!” tanya Joan, tiba-tiba.
Paquita melotot.
“Joan! Aku minta punya Paquita…!” Tasya berlari menghampiri Joan yang sedang berjalan ke luar kelas.
Paquita menatap Joan yang berada jauh darinya itu. Ia segera memalingkan muka begitu melihat Joan juga menatapnya. Ya Allah…! Paquita bingung. Bagaimana mungkin ia bisa berbicara dengan Joan hanya dalam hati?
***
Rasanya Paquita sudah tak tahan ingin menceritakan kejadian ajaib yang dialaminya ini kepada seseorang, entah kepada umminya atau Tasya. Tetapi, apakah mereka akan percaya? Jangan-jangan nanti mereka menganggapnya berhalusinasi. Wah…! Bisa-bisa ia dikirim ke rumah sakit jiwa! Paquita benar-benar bingung. Benarkah suara hati itu ada? Benarkah selama ini ia berbicara dengan Joan melalui hati? Bukankah mereka tidak saling mengenal? Bagaimana mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan hati? Saudara sekandung saja tidak mungkin! Entahlah. Paquita bingung.
“Eh, Ta! Kak Luthfi, tuh!” seru Tasya, tiba-tiba saat Luthfi melewati mereka.
Paquita menggelengkan kepala. Ini lagi! Sukanya melihat cowok kece!
“Cakep banget ya Kak Luthfi itu? Coba dia jadi pacarku….” Tasya berharap.
“Udahlah. Kamu jangan ngomongin itu terus.”
Beberapa akhwat senior menghampiri mereka. Paquita masih ingat nama-nama akhwat senior itu. Afifah, Rina, dan Tyas. Ketiga akhwat itu mengajaknya mengikuti rapat Rohis nanti sore. Rencananya Rohis akan mengadakan seminar. Paquita dan Tasya diminta untuk ikut membantu. Tentu saja kedua gadis itu menyanggupi.
***
Sore ini, Paquita dan Tasya benar-benar datang ke rapat Rohis mereka yang pertama. Mereka kelihatan semangat sekali.
Jazakumullah[2] atas kehadiran antum semua. Ini syuro[3] kedua kita untuk membicarakan tentang seminar yang akan kita selenggarakan. Di syuro yang pertama kita sudah menyepakati tema yang akan kita angkat….” Suara  ikhwan di balik tirai membuat dahi Tasya berkerut-kerut.
“Eh, kayaknya aku kenal deh suara ini!” bisiknya.
Paquita tersenyum. Ia juga ingat siapa pemilik suara itu. Tentu saja sang ketua Rohis, Luthfi.
“Seperti yang sudah kita sepakati, tema seminar yang akan kita angkat adalah Pernikahan Dini….”
“Pernikahan Dini?!” Tasya kaget.
Paquita menyikut lengannya. “Tasya! Jangan bikin malu, dong!” serunya, berbisik. Akhwat-akhwat lain yang memperhatikan tingkah mereka, hanya menggelengkan kepala.
“Ngapain sih ngomongin pernikahan dini? Kuliah aja baru semester satu!”
“Ya sudah, dengerin aja.”
“Dalam syuro hari ini, kita akan menentukan siapa-siapa yang bertugas. Ada usulan?” tanya Luthfi dari balik tirai.
Ane[4] rasa, karena yang mengusulkan tema ini adalah para akhwat, maka sebaiknya panitia dari akhwat. Kita jadi seksi bantu-bantu saja!” celetuk seorang ikhwan.
“Huuu!” para akhwat berseru.
“Gimana para akhwat? Gimana kalau anti[5]-anti yang membuat susunan panitianya?” tanya Luthfi.
“Anti? Anti apa? Anti nyamuk?” tanya Tasya, polos.
Paquita menghela napas. “Diem dulu!” sahutnya, gemas. Tasya menutup mulut.
“Tidak apa-apa. Itu nggak masalah. Kami setuju. Kami juga sudah menyiapkan susunan pengurusnya. Yang pasti, ikhwan-ikhwan kebagian di seksi pengadaan peralatan, dekorasi, dan transportasi.” Afifah berkata.
 “Seksi-seksi lainnya bagaimana? Kalau bisa nanti ane dapat laporannya,” pinta Luthfi.
“Insya Allah,” sahut Afifah yang ternyata ketua Divisi Mulimah.
Syuro terus berjalan. Selain menentukan siapa-siapa saja yang menjadi panitia, mereka juga menentukan pembicara seminar, hari dan tanggal diselenggarakan, dan lain-lain, sampai waktu menunjukkan jam setengah enam sore.
“Paquita dan Tasya mau dimasukkan ke mana, nih?” tanya Rina.
“Kalau aku, bagian konsumsi aja!” seru Tasya, girang.
“Paquita?” kali ini Rina bertanya pada Paquita.
Paquita angkat bahu.
“Udah, ikut aku aja di bagian konsumsi!” ajak Tasya.
“Emh… bagian konsumsi sudah kebanyakan. Gimana kalau Paquita bantuin bikin proposal?” tanya Rina.
“Proposal? Aduh, aku nggak tahu gimana bikinnya?” Paquita menggeleng.
“Insya Allah nanti draft kasarnya dikasih akh[6] Luthfi. Anti tinggal ngetik aja,” ujar Rina.
Paquita mengangguk. Mengetik saja bukan pekerjaan sulit. “Insya Allah, deh,” sahutnya.
Jazakillah ya, Dek. Nanti ane kasih tahu akh Luthfi untuk menyerahkan draftnya ke anti.” Rina tersenyum.
Usai bicara sekitar lima belas menit, Paquita dan Tasya pamit pulang.
***
“Halo, Papa! Apa kabar?” tanya Joan begitu tahu yang meneleponnya adalah Papa tercinta.
“Baik, Joan. Mi principe[7]. Kamu gimana?” Papa balik bertanya. Sudah menjadi kebiasaan lelaki itu berbicara Indonesia-Spanyol. Ia memang pernah berhubungan dengan gadis Spanyol semasa kuliah dulu sehingga menguasai bahasa itu sedikit-sedikit. 
Joan heran. Biasanya kalau Papa ditanya kabarnya, beliau akan menjawab “Puji Tuhan”. Kenapa sekarang tidak?
“Puji Tuhan. Baik juga, Pa. Emh… Papa benar baik-baik saja?” tanyanya, memastikan.
“Baik. Memangnya kenapa?”
“Enggak, kok. Cuma mastiin. Pa, Joan sudah menemukan gereja tempat Joan berdoa. Papa senang, kan? Joan akan selalu datang ke sana untuk mendoakan Papa agar cepat mendapatkan Mama baru!” urai Joan, terdengar senang.
Hening. Tak ada jawaban.
“Pa, Papa kenapa, sih?”
“Nggak, nggak pa-pa. Papa baik-baik saja. Bagus kalau kamu selalu ingat Tuhan, Jo.”
“Papa juga, kan?”
Hening.
“Pa?”
“Oh, iya! Iya! Tentu saja! Papa selalu ingat Tuhan dalam hati Papa!”
“Sepertinya Papa sudah harus mendapatkan Mama baru. Papa kesepian ya ditinggal Joan?”
“Tentu saja, Jo. Kamu kan anak Papa satu-satunya. Rumah sepi sekali sejak kamu pergi.”
“Makanya, Pa. Cari Mama baru saja!”
“Ah, kamu selalu bilang gitu. Papa kan sudah pernah bilang, Papa masih belum bisa melupakan Mama.”
“Buat apa sih memikirkan Mama?! Mama kan sudah pergi dengan laki-laki lain!” Joan bersungut-sungut. Ia paling benci mendengar Papa menyebut Mama yang meninggalkannya saat ia baru berumur tiga tahun. Mama apa itu?!
“Jangan begitu, Jo. Controle su emocion[8]. Bagaimanapun, dia itu mamamu. Kira-kira, di mana mamamu sekarang, ya?”
“Nggak tahu! Udah deh, Pa! Pokoknya Joan nggak mau dengar soal Mama lagi! Kalau pun suatu hari nanti Mama kembali, Joan tak mau menerimanya!”
“Kalau kamu tidak mau menerima mamamu, apakah kamu juga tidak mau menerima adikmu kembali, Jo?”
“Adik Jo sama seperti Jo. Dia juga korban keegoisan Papa dan Mama!”
“Ya, sudahlah, Jo. Kalau kita membicarakan soal Mama, kita pasti bertengkar. Lebih baik kita tak usah membicarakan soal mamamu lagi. Bagaimana kuliahmu? Baik-baik saja, kan?” Papa mengalihkan pembicaraan.
Joan cerita panjang-lebar tentang kuliahnya. Pembicaraan itu tidak membuat temper[9]-nya kambuh.
Joan mengeluarkan sebingkai foto dari laci belajarnya usai menutup pembicaraan dengan Papa di telepon. Sebingkai foto itu adalah foto keluarganya sebelum tercerai-berai. Di foto itu ada dia sendiri waktu usianya dua tahun, Papa, Mama, dan adiknya. Meskipun ia benci Mama, ia selalu membawa foto itu ke mana pun. Mama adalah wanita yang cantik. Pantas saja Papa sulit melupakan Mama. Wajah Mama itulah yang paling berperan dalam pembentukan wajahnya. Kata Papa, demi Mama ia rela mempertaruhkan segalanya, termasuk keluarganya. Gara-gara Papa menikah dengan Mama, ia diusir oleh keluarganya yang tidak menyetujui pernikahan itu. Ternyata, setelah empat tahun menikah, Mama meninggalkan Papa dan menikah dengan orang lain. Mama bukan hanya meninggalkan Papa, tapi juga Joan. Joan. Mama pergi dengan adiknya meninggalkan ia dan Papa.
***


[1] Ada yang mencurigakan di sini
[2] Semoga Allah membalas kebaikanmu (bhs. Arab)
[3] Rapat (bhs. Arab)
[4] Saya (bhs. Arab)
[5] Kamu, untuk perempuan (bhs. Arab)
[6] Panggilan untuk saudara laki-laki (bhs. Arab)
[7] Pangeranku (bhs. Spanyol)
[8] Kendalikan emosimu (bhs. Spanyol).
[9] Temperamen (istilah untuk orang yang gampang marah)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...