Monday, December 5, 2011

Novel: Come to Me Paquita (3)

TENTANG JOAN

Rupanya Tasya benar-benar membuktikan ucapannya kemarin. Hari ini, pagi-pagi sekali sebelum kuliah pertama dimulai, ia ke tempat kos Paquita yang hanya berada di seberang kampus ekonomi. Ia datang untuk membantu Paquita memakai pakaian yang serasi. 
“Meskipun kamu pake baju muslim, tapi tetap merhatiin penampilan dong. Masak pake jilbab kaos ke kampus? Warnanya ungu lagi! Tau, nggak? Jilbab kaos ini cuma boleh dipake di rumah aja,” kata Tasya, cerewet sambil memegang jilbab kaos Paquita yang sedianya mau dipakai pagi ini.  “Nah, ini aja nih, Ta!” Tasya mengeluarkan gamis kotak-kotak merah tanpa lengan dari dalam lemari pakaian Paquita. “Baju ini bagus banget kalau dipadanin sama kemeja putih!”
Paquita melotot melihat pakaian itu. “Aduh! Enggak, deh! Aku jadi kayak anak SD pake baju itu!” Sebenarnya gamis itu memang dibelikan Ummi khusus untuknya, tapi ia masih malu memakainya.
“Pokoknya kamu harus pake baju ini!”
Paquita cemberut. Karena Tasya terus mendesak, akhirnya ia menuruti saran Tasya tersebut. “Aku bawa yang ini buat cadangan! Siapa tahu nanti ada yang ngetawain!” katanya sambil membawa sepotong pakaian lain yang sesuai seleranya.
Tasya geleng-geleng kepala melihatnya.
 “Yah, lagi-lagi dapat duduk di depan…!” Tasya mengeluh saat dilihatnya kelas telah penuh sesampainya mereka di kampus ekonomi.
“Habis, tadi kamu sibuk nyariin bajuku sih!”
“Ah, nggak pa-pa. Biar orang-orang liat penampilan barumu!”
“Eh, Tasya! Jangan buru-buru!” Paquita malu sendiri. Ia benar-benar canggung memasuki kelas hari ini.
“Wow! Hari ini pakaianmu serasi sekali, Paquita!” seru seseorang, tiba-tiba.
Paquita melotot. Siapa itu? Siapa yang barusan berbicara denganku?
“Ta! Kamu kenapa, sih? Ayo duduk di sini!” Tasya menarik tangan Paquita yang tiba-tiba berhenti di jalan.
“Eh, kamu tadi denger nggak ada yang ngomong sama aku?”
“Emang ada yang ngomong sama kamu?”
“Ye! Gimana, sih? Iya, bener! Aku ya…,” Paquita menghentikan ucapannya. Jangan-jangan… dia lagi!
“Kenapa, Paquita? Bingung? Ini aku yang bicara. Joan. Aku bicara dari dalam lubuk hatiku yang terdalam. Penampilanmu hari  ini berbeda sekali.”
Paquita terbelalak. Suara itu lagi! Aku nggak salah dengar! Ugh! Kenapa sih suara itu selalu menggangguku?!
“Emang kenapa, sih? Sirik banget!” gerutu Paquita, dalam hati.
“Siapa yang sirik? Aku muji kamu, kok!”
“Udah, deh. Nggak usah ngomong lagi. Lagian, kita kan nggak kenal satu sama lain!”
“Aku kan udah ngenalin diri. Kamu aja tuh yang nggak mau kenalan sama aku.”
“Ta…! Ita…!”
“Eh…!” Paquita terkejut. Ditatapnya Tasya yang juga sedang menatapnya.
“Kamu sedang bicara dengan siapa?” tanya Tasya, bingung.
Paquita juga bingung. “Enggak, kok. Nggak… bicara sama siapa-siapa…!”
Tasya geleng-geleng kepala. Something’s fishy here[1]. Sudah dua kali ia memergoki Paquita seperti sedang berbicara dengan seseorang. Entah siapa. Tak lama, Dosen Makroekonomi masuk dan langsung memberikan kuliah. Tasya terpaksa memendam rasa ingin tahunya. Dosen Makroekonomi memberikan kuliah selama satu jam.
“Maaf, saya hanya bisa memberikan kuliah selama satu jam saja. Saya ada urusan yang lain. Ini hasil tes kuliah yang lalu. Tolong dibagikan, ya, Joan!” Dosen tersebut menyerahkan hasil tes kepada Joan yang duduk di depannya.
“Wah, sepertinya kamu dianakemaskan oleh Bu Rini,” ucap Paquita, dalam hati.
Joan tersenyum. “Tentu saja. Pertama, aku ganteng. Kedua, aku duduk di depannya.”
“Apa? Ganteng?!”
“Lho? Bukannya kamu juga pernah bilang aku ganteng?”
“Kapan aku pernah bilang begitu?”
“Jangan pura-pura lupa, ah!”
“Ih, kegeeran!”
“Ta! Ita!” seru Tasya, kencang. Paquita terkejut. “Kamu kok bengong mulu, sih?!”
“Enggak, kok….”
“Enggak? Aku lihat sendiri! Nih, aku udah dapet hasil tesku dari Joan. Tuh, kamu ambil sendiri punyamu!” Tasya memperlihatkan kertas hasil tesnya.
Paquita melotot. Apa? Aku harus mengambil sendiri hasil tesku di Joan?! Oh…tidak…!
“Ayo, Ta! Nanti keburu Joan pergi!” seru Tasya, kencang.
Paquita memukul kepalanya sendiri. Aduh… kenapa aku jadi error begini…?!
“Paquita, mau ambil hasil tesmu, nggak? Aku sudah menunggumu, nih!” tanya Joan, tiba-tiba.
Paquita melotot.
“Joan! Aku minta punya Paquita…!” Tasya berlari menghampiri Joan yang sedang berjalan ke luar kelas.
Paquita menatap Joan yang berada jauh darinya itu. Ia segera memalingkan muka begitu melihat Joan juga menatapnya. Ya Allah…! Paquita bingung. Bagaimana mungkin ia bisa berbicara dengan Joan hanya dalam hati?
***
Rasanya Paquita sudah tak tahan ingin menceritakan kejadian ajaib yang dialaminya ini kepada seseorang, entah kepada umminya atau Tasya. Tetapi, apakah mereka akan percaya? Jangan-jangan nanti mereka menganggapnya berhalusinasi. Wah…! Bisa-bisa ia dikirim ke rumah sakit jiwa! Paquita benar-benar bingung. Benarkah suara hati itu ada? Benarkah selama ini ia berbicara dengan Joan melalui hati? Bukankah mereka tidak saling mengenal? Bagaimana mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan hati? Saudara sekandung saja tidak mungkin! Entahlah. Paquita bingung.
“Eh, Ta! Kak Luthfi, tuh!” seru Tasya, tiba-tiba saat Luthfi melewati mereka.
Paquita menggelengkan kepala. Ini lagi! Sukanya melihat cowok kece!
“Cakep banget ya Kak Luthfi itu? Coba dia jadi pacarku….” Tasya berharap.
“Udahlah. Kamu jangan ngomongin itu terus.”
Beberapa akhwat senior menghampiri mereka. Paquita masih ingat nama-nama akhwat senior itu. Afifah, Rina, dan Tyas. Ketiga akhwat itu mengajaknya mengikuti rapat Rohis nanti sore. Rencananya Rohis akan mengadakan seminar. Paquita dan Tasya diminta untuk ikut membantu. Tentu saja kedua gadis itu menyanggupi.
***
Sore ini, Paquita dan Tasya benar-benar datang ke rapat Rohis mereka yang pertama. Mereka kelihatan semangat sekali.
Jazakumullah[2] atas kehadiran antum semua. Ini syuro[3] kedua kita untuk membicarakan tentang seminar yang akan kita selenggarakan. Di syuro yang pertama kita sudah menyepakati tema yang akan kita angkat….” Suara  ikhwan di balik tirai membuat dahi Tasya berkerut-kerut.
“Eh, kayaknya aku kenal deh suara ini!” bisiknya.
Paquita tersenyum. Ia juga ingat siapa pemilik suara itu. Tentu saja sang ketua Rohis, Luthfi.
“Seperti yang sudah kita sepakati, tema seminar yang akan kita angkat adalah Pernikahan Dini….”
“Pernikahan Dini?!” Tasya kaget.
Paquita menyikut lengannya. “Tasya! Jangan bikin malu, dong!” serunya, berbisik. Akhwat-akhwat lain yang memperhatikan tingkah mereka, hanya menggelengkan kepala.
“Ngapain sih ngomongin pernikahan dini? Kuliah aja baru semester satu!”
“Ya sudah, dengerin aja.”
“Dalam syuro hari ini, kita akan menentukan siapa-siapa yang bertugas. Ada usulan?” tanya Luthfi dari balik tirai.
Ane[4] rasa, karena yang mengusulkan tema ini adalah para akhwat, maka sebaiknya panitia dari akhwat. Kita jadi seksi bantu-bantu saja!” celetuk seorang ikhwan.
“Huuu!” para akhwat berseru.
“Gimana para akhwat? Gimana kalau anti[5]-anti yang membuat susunan panitianya?” tanya Luthfi.
“Anti? Anti apa? Anti nyamuk?” tanya Tasya, polos.
Paquita menghela napas. “Diem dulu!” sahutnya, gemas. Tasya menutup mulut.
“Tidak apa-apa. Itu nggak masalah. Kami setuju. Kami juga sudah menyiapkan susunan pengurusnya. Yang pasti, ikhwan-ikhwan kebagian di seksi pengadaan peralatan, dekorasi, dan transportasi.” Afifah berkata.
 “Seksi-seksi lainnya bagaimana? Kalau bisa nanti ane dapat laporannya,” pinta Luthfi.
“Insya Allah,” sahut Afifah yang ternyata ketua Divisi Mulimah.
Syuro terus berjalan. Selain menentukan siapa-siapa saja yang menjadi panitia, mereka juga menentukan pembicara seminar, hari dan tanggal diselenggarakan, dan lain-lain, sampai waktu menunjukkan jam setengah enam sore.
“Paquita dan Tasya mau dimasukkan ke mana, nih?” tanya Rina.
“Kalau aku, bagian konsumsi aja!” seru Tasya, girang.
“Paquita?” kali ini Rina bertanya pada Paquita.
Paquita angkat bahu.
“Udah, ikut aku aja di bagian konsumsi!” ajak Tasya.
“Emh… bagian konsumsi sudah kebanyakan. Gimana kalau Paquita bantuin bikin proposal?” tanya Rina.
“Proposal? Aduh, aku nggak tahu gimana bikinnya?” Paquita menggeleng.
“Insya Allah nanti draft kasarnya dikasih akh[6] Luthfi. Anti tinggal ngetik aja,” ujar Rina.
Paquita mengangguk. Mengetik saja bukan pekerjaan sulit. “Insya Allah, deh,” sahutnya.
Jazakillah ya, Dek. Nanti ane kasih tahu akh Luthfi untuk menyerahkan draftnya ke anti.” Rina tersenyum.
Usai bicara sekitar lima belas menit, Paquita dan Tasya pamit pulang.
***
“Halo, Papa! Apa kabar?” tanya Joan begitu tahu yang meneleponnya adalah Papa tercinta.
“Baik, Joan. Mi principe[7]. Kamu gimana?” Papa balik bertanya. Sudah menjadi kebiasaan lelaki itu berbicara Indonesia-Spanyol. Ia memang pernah berhubungan dengan gadis Spanyol semasa kuliah dulu sehingga menguasai bahasa itu sedikit-sedikit. 
Joan heran. Biasanya kalau Papa ditanya kabarnya, beliau akan menjawab “Puji Tuhan”. Kenapa sekarang tidak?
“Puji Tuhan. Baik juga, Pa. Emh… Papa benar baik-baik saja?” tanyanya, memastikan.
“Baik. Memangnya kenapa?”
“Enggak, kok. Cuma mastiin. Pa, Joan sudah menemukan gereja tempat Joan berdoa. Papa senang, kan? Joan akan selalu datang ke sana untuk mendoakan Papa agar cepat mendapatkan Mama baru!” urai Joan, terdengar senang.
Hening. Tak ada jawaban.
“Pa, Papa kenapa, sih?”
“Nggak, nggak pa-pa. Papa baik-baik saja. Bagus kalau kamu selalu ingat Tuhan, Jo.”
“Papa juga, kan?”
Hening.
“Pa?”
“Oh, iya! Iya! Tentu saja! Papa selalu ingat Tuhan dalam hati Papa!”
“Sepertinya Papa sudah harus mendapatkan Mama baru. Papa kesepian ya ditinggal Joan?”
“Tentu saja, Jo. Kamu kan anak Papa satu-satunya. Rumah sepi sekali sejak kamu pergi.”
“Makanya, Pa. Cari Mama baru saja!”
“Ah, kamu selalu bilang gitu. Papa kan sudah pernah bilang, Papa masih belum bisa melupakan Mama.”
“Buat apa sih memikirkan Mama?! Mama kan sudah pergi dengan laki-laki lain!” Joan bersungut-sungut. Ia paling benci mendengar Papa menyebut Mama yang meninggalkannya saat ia baru berumur tiga tahun. Mama apa itu?!
“Jangan begitu, Jo. Controle su emocion[8]. Bagaimanapun, dia itu mamamu. Kira-kira, di mana mamamu sekarang, ya?”
“Nggak tahu! Udah deh, Pa! Pokoknya Joan nggak mau dengar soal Mama lagi! Kalau pun suatu hari nanti Mama kembali, Joan tak mau menerimanya!”
“Kalau kamu tidak mau menerima mamamu, apakah kamu juga tidak mau menerima adikmu kembali, Jo?”
“Adik Jo sama seperti Jo. Dia juga korban keegoisan Papa dan Mama!”
“Ya, sudahlah, Jo. Kalau kita membicarakan soal Mama, kita pasti bertengkar. Lebih baik kita tak usah membicarakan soal mamamu lagi. Bagaimana kuliahmu? Baik-baik saja, kan?” Papa mengalihkan pembicaraan.
Joan cerita panjang-lebar tentang kuliahnya. Pembicaraan itu tidak membuat temper[9]-nya kambuh.
Joan mengeluarkan sebingkai foto dari laci belajarnya usai menutup pembicaraan dengan Papa di telepon. Sebingkai foto itu adalah foto keluarganya sebelum tercerai-berai. Di foto itu ada dia sendiri waktu usianya dua tahun, Papa, Mama, dan adiknya. Meskipun ia benci Mama, ia selalu membawa foto itu ke mana pun. Mama adalah wanita yang cantik. Pantas saja Papa sulit melupakan Mama. Wajah Mama itulah yang paling berperan dalam pembentukan wajahnya. Kata Papa, demi Mama ia rela mempertaruhkan segalanya, termasuk keluarganya. Gara-gara Papa menikah dengan Mama, ia diusir oleh keluarganya yang tidak menyetujui pernikahan itu. Ternyata, setelah empat tahun menikah, Mama meninggalkan Papa dan menikah dengan orang lain. Mama bukan hanya meninggalkan Papa, tapi juga Joan. Joan. Mama pergi dengan adiknya meninggalkan ia dan Papa.
***


[1] Ada yang mencurigakan di sini
[2] Semoga Allah membalas kebaikanmu (bhs. Arab)
[3] Rapat (bhs. Arab)
[4] Saya (bhs. Arab)
[5] Kamu, untuk perempuan (bhs. Arab)
[6] Panggilan untuk saudara laki-laki (bhs. Arab)
[7] Pangeranku (bhs. Spanyol)
[8] Kendalikan emosimu (bhs. Spanyol).
[9] Temperamen (istilah untuk orang yang gampang marah)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...