Wednesday, March 28, 2012

Membaca Sekilas Kisah Nyata Pelaku Poligami

Poligami, wanita mana yang ingin dipoligami? Bahkan ada yang memilih dicerai daripada dipoligami. Meskipun demikian, ada juga yang bertahan. Poligami, meskipun dibolehkan di dalam Islam dengan batasan maksimal sampai empat istri, tetap terasa berat. Sebab, zaman sudah berubah. Jika dulu, sebelum dan saat Rasulullah masih ada, poligami menjadi hal biasa di masyarakat, sekarang tidak lagi. Monogami adalah sistem pernikahan yang lazim berlaku di masyarakat, sedangkan poligami tidaklah lazim. Maka, wajar saja jika pelaku poligami menjadi bahan perbincangan seakan-akan telah melakukan aib semacam hamil di luar nikah dan membunuh orang.



Ayat poligami justru diturunkan untuk mengatur praktek poligami. Sebelum ayat itu diturunkan, manusia di belahan bumi manapun, biasa memiliki istri lebih dari satu, bahkan ribuan. Sebab, posisi wanita pada saat itu amatlah rendah. Setelah ayat itu diturunkan, lelaki muslim diharuskan memilih empat saja dari istri-istrinya, sampai yang punya istri sepuluh, harus menceraikan yang enam. Dan setelah itu tidak boleh mempunyai istri lebih dari empat.

Apa pun pernikahan yang dipilih, poligami maupun monogamy, hendaknya tetap membawa kemaslahatan dan bukan kebencian. Sebab, yang terutama adalah tujuan pernikahan itu, yaitu mencapai pernikahan sakinah, mawaddah, warrahmah. Poligami memang berat, tetapi ada beberapa wanita yang justru menghendakinya karena keadaan. Misalnya, wanita yang mandul, tidak bisa memberikan anak untuk suaminya, atau wanita yang sakit-sakitan sehingga tidak bisa melayani suaminya dengan baik.

Buku “Gado-Gado Poligami” berisi kisah-kisah nyata poligami, yang mengisahkan dengan jujur kehidupan para pelaku poligami dari sudut pandang istri pertama, istri kedua dan seterusnya, anak, orang terdekat, sampai masyarakat di sekitarnya. Kisah-kisah di dalamnya sangat menyentuh hati dan menggugah, mengoreksi pandangan kita mengenai poligami.

“Dua Istri di Samping Jenazah Suami,” karya Sukimah Yono, mengisahkan tentang Pakdhe Hardi yang memiliki dua istri. Penulis melihat sendiri adanya perbedaan perlakuan Pakdhe terhadap istri pertama dan keduanya, juga kecemburuan yang muncul di mata istri kedua. Namun, kedua istrinya tetap setia menunggui Pakdhe Hardi di detik-detik menjelang kematiannya.

Ella Sofa, menuliskan kisah seorang wanita dalam karya berjudul, “Aku Menjadi Kuat karena Derita Dipoligami.” Seorang istri yang harus merelakan suaminya berpoligami. Meskipun berat, ia bertahan dalam rumah tangga poligami itu demi anak-anaknya. Bahkan saat seorang lelaki ingin meminangnya, bila ia mau bercerai dengan suaminya. Ia tetap bertahan dalam rumah tangga poligaminya.

“Betapa Sakitnya Dipoligami,” ditulis oleh Nila Kaltia. Mengingatkan kita agar mewaspadai hubungan suami istri jarak jauh, terlebih bila suami tidak ingin istrinya ikut tinggal di tempat dinasnya. Ternyata di tempat dinasnya, Pak Rama telah mempunyai keluarga baru, tanpa izin terhadap Bu Sinta, istrinya.

Eni Martini dalam “Mustajabnya Doa Istri Tua,” mengisahkan tentang tragisnya poligami yang dialami oleh keluarga temannya di masa SMA. Betapa pilihan poligami yang diambil oleh ayah temannya, telah membuat keluarga pertama berantakan.

“Poligami dan Judi,” adalah kisah poligami yang ditulis oleh Siti Ammamah. Tentang seorang suami yang berpoligami, karena terbelit hutang judi. Kisah poligami yang tragis karena diawali dengan perselingkuhan dan kebohongan.

J. Raya mengisahkan poligami seorang lelaki dalam “Fatamorgana Asmara,” yang lebih didasarkan oleh nafsu belaka. Postur tubuhnya yang tinggi dan paras yang ganteng membuatnya mudah menaklukkan wanita mana saja. Sementara ia juga memiliki istri pertama yang sangat tabah menerima perlakuannya.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah nyata tentang poligami yang tersaji di dalam buku ini. Selain kisah nyata, juga ada kisah fiksi yang disajikan dengan singkat oleh lebih dari lima puluh orang penulis. Seakan-akan buku ini ingin membandingkan pandangan poligami dari imajinasi penulis dengan kisah nyata yang terjadi di masyarakat. Penilaian tentang poligami itu sendiri diserahkan kepada para pembaca, sebab buku ini tidak ingin melabelkan baik atau buruk terhadap aturan Allah.

Judul: Gado-Gado Poligami: Antara Fiksi dan Realitas
Penulis: Leyla Hana, Linda Nurhayati, Dkk
Penerbit: Quanta, Elex Media
Harga: Rp 44.800
Sudah tersedia di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia.

3 comments:

  1. menurutku poligami adalah wajar bagi pria normal, dari pada selingkuh
    kemana.mana lebih baik poligami asal bisa mencukupi kebutuhan lahirnya, contoh aku andaikan aku banyak harta pasti aku akan poligami, bayangka aku sangat doyan hub SM, bahkan istri selalu sering menolak................ dengan berbagai alasan.akan jajan takut kena HIV dll.memang pria kayaknya ditakdirkan demikian ...........
    dan aku hanya mengingatkan kaum hawa.....................................
    setelah wanita itu usia 40....45.../50 lebih dikit kebanyakan udah menepose, tapi untuk pria usia demikian itu masih gagah perkasa
    kuat, hebat........apalagi yang udah biasa buka internet,.............
    ada cara untuk memperkuat, tahan lama... agar lebih gedhe......
    lebih panjang dll, dan ini telah aku praktekan bahwa itu semua bisa
    dan apabila anda tertarik bisa hubungi aku :082141300336
    yaa sebenarnya istri saya sangat bahagia , mempunyai suami seperti saya, karena mampu memberi kepuasan yang berlebihan
    namum yaitu tadi karena umur.... ia sekarang ini sering menolak

    ReplyDelete
  2. maka aku mengingatkan sebaiknya perempuan apabila cari suami, usia jangan sama, menurutku yang baik selisih umur 10...15 th
    jadi suami usia 50 istri umur 35 , jadi kalau diajak trek-trekan tu masih bisa , tapi kalau umur sama , aduh kasihan lah suami itu

    ReplyDelete
  3. thanks atas infonya, ditunggu artikel yang lainnya

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...