Friday, March 30, 2012

Novel: Come to Me Paquita (13-selesai)


CINTA TAK PERNAH BERAKHIR

Usai menikah, Paquita langsung diboyong ke rumah orang tua Luthfi. Seminggu kemudian, pasangan pengantin baru itu berangkat ke Bali. Ikatan dinas memaksa Luthfi untuk tinggal di Bali selama dua tahun. Sebagai istri, Paquita harus mengikuti ke mana suaminya pergi.

Bulan Oktober, Joan dan Tasya diwisuda. Joan langsung diterima bekerja sebagai Account Executif di sebuah perusahaan surat kabar. Sementara itu Tasya belum juga mendapatkan pekerjaan, alias menganggur. Ternyata pekerjaan untuk seorang muslimah berjilbab rapi sepertinya sangat sulit didapat. Padahal ia sangat komukatif dan terampil. Akhirnya, ia membuka usaha sendiri. Usaha katering yang dikelolanya lama-lama menjadi besar karena kemampuan berbisnisnya yang sudah tak diragukan lagi. Tiga tahun berlalu, Tasya baru sadar. Ia belum menikah.

“Kapan kamu nikah, Tas?” tanya Paquita sambil menyuapi anak keduanya yang baru berusia setahun. Ikatan dinas suaminya di Bali sudah selesai dan sekarang keluarga mereka tinggal di Jakarta. Tasya sering datang berkunjung. Sementara Paquita sendiri jarang keluar rumah karena sibuk mengurus dua anaknya yang masih kecil-kecil.

“Jangan nanya itu deh, Ta. Aku pusing, tau nggak?” Tasya memukul kepalanya.
“Pusing kenapa? Pasti banyak kan yang datang mau taaruf sama kamu?”
“Iya, sih. Cuma… memang akunya kali yang belum siap. Semuanya gagal.”
“Masak belum siap? Kamu kan udah dua lima. Aku aja, udah punya anak dua.”
“Nggak tahu. Jodoh itu kan rahasia Allah. Mungkin Allah memang melihat kamu lebih siap dari aku. Yah, memang sih waktu aku lulus, aku ingin punya karier yang bagus dulu baru nikah. Aku ingin kerja di kantoran. Ternyata, susah cari kerjaan.”
“Tapi kan sekarang kamu jadi bos. Udah puas kan jadi wanita karier?”
“Iya, tapi setelah jadi wanita karier, jodoh malah nggak datang-datang.”
“Sabar aja. Setiap orang kan ada pasangannya. Tas, sebenarnya taaruf-taaruf kamu yang dulu, gagal karena apa?”
“Aku nggak boleh suudzon. Tapi… sepertinya setelah aku menceritakan masa laluku, ikhwan-ikhwan itu mundur. Yah, siapa sih yang mau nerima anak seorang mantan pelacur yang nggak jelas siapa bapaknya?” Tasya tertunduk.
Paquita memeluk sahabatnya. “Sabar, ya, Tas. Suatu hari pasti ada ikhwan baik hati yang mau nerima kamu apa adanya.”
***

Di sepertiga malam, di tengah udara malam yang dingin, di antara derasnya hujan Februari, di saat ia sedang bersujud, telepon berbunyi. Sesaat Tasya terdiam. Siapa yang meneleponnya pada jam tiga pagi begini?

“Assalamualaikum. Sudah bangun, Tas?” tanya suara di seberang yang sangat Tasya kenal.
“Kamu, Ta? Ngapain malam-malam telepon?”
“Bayiku nangis tadi. Kamu udah salat Tahajud?”
“Ya, alhamdulillah udah. Baru salat Hajat, kamu nelepon.”
“Eh, apa yang mau kamu minta? Jodoh?”
“Ita! Kamu nggak dimarahin suamimu, nih! Malam-malam godain orang!”
“Suamiku udah tahu, kok. Begini, Ta. Ada seorang ikhwan yang mau sama kamu.”
Wajah Tasya merah seketika. “Apa-apaan sih kamu?!”
“Eh, aku serius. Aku sudah cerita ke ikhwan itu tentang kamu. Dia bisa mengerti, kok.”
“Ita!”
“Aku bener-bener serius. Kamu mau, nggak?”
“Ikhwannya kayak apa?”
“Dijamin!”
Jantung Tasya berdebar kencang. “Kamu udah cerita tentang masa laluku ke dia?”
“Udah. Insya Allah dia mau.”
“Dia pasti nggak mau kalau udah liat aku.”
“Bismillah. Jalanin aja dulu, ya. Aku sudah menceritakan masalahmu ke suamiku. Suamiku menyarankan untuk mempertemukan kamu dengan ikhwan itu. Sebelum kalian benar-benar bertemu, aku sudah menceritakan semua tentang kamu supaya ikhwan itu benar-benar yakin dengan keputusannya untuk taaruf denganmu.”
“Jazakillah ya, Ta. Kamu udah repot-repot.”
“Nggak repot, kok. Kapan nih kamu mau ketemu?”
“Boleh nggak aku minta CV-nya dulu?”
“Boleh. Besok juga bisa kuserahin. Sekarang kamu salat Istikharoh aja dulu, ya?” Paquita tersenyum.

Tasya mengangguk. Ia tak menyangka jawaban dari Allah begitu cepat datang. Semoga ini ikhwan terakhir yang taaruf dengannya karena setelah itu ia benar-benar menikah.
***

Tasya terbelalak saat membaca nama yang tertera di biodata ikhwan yang barusan diserahkan Paquita kepadanya; Muhammad Joan Susanto.
***

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...