Monday, July 16, 2012

Giveaway Azzet: Asyiknya Ngeblog....


Awal ngeblog sebenarnya sudah lama, sejak masih kerja di sebuah penerbitan buku. Teman-teman sesama penulis yang ngomporin untuk ngeblog di Multiply. Saat itu, MP sedang berjaya. Semua orang di sekitarku ngomongin MP. Pulang kerja, aku dan teman-teman pergi ke warnet dan aku minta diajarin bikin MP. Maklum, gaptek, hehehe….. Isi blognya pun ngikutin teman-temanku. Mereka isi sesukanya saja, kadang curhat, kadang promo, dan sebagainya. Isi MP-ku dulu juga banyak curhat gak jelas, saking polosnya. Aku gak berpikir bahwa curhatanku itu bisa dibaca orang sedunia, wkwkwkwk…. Tapi, positifnya, laki-laki yang kelak menjadi suamiku, semakin mantap memilihku sebagai istri setelah membaca postingan-postingan di blogku. Hah?


Ya, aku kan menikah via biro jodoh taaruf. Aku dan calon suami hanya bertukar biodata dan foto ukuran 3x4. Bukan foto narsis. Justru foto yang biasa kupakai untuk melamar pekerjaan dan tercantum di ijazah sarjanaku, hehehe…. Suamiku juga begitu. Jadi, saking pas-pasannya foto itu, gak bisa yakin juga kalau calon kita cantik atau ganteng. Beda dengan foto-foto yang sekarang beredar di jejaring sosial. Mau segala gaya juga ada. Jadi kalau taaruf gagal cuma karena foto, hadeeeeeuuuh….
.
Nah, pada pertemuan pertama itu, aku dan lelaki itu sama-sama mantap untuk melanjutkan taaruf. Sebenarnya aku bingung, apa ya yang bikin lelaki itu memilihku? Biodata dan foto seuprit, baru ketemu sekali, jenjang pendidikan dan ekonomi pun jauh berbeda. Suamiku jauh di atasku, bahkan aku ini “bodoh” banget dibandingkan dirinya. Setelah menikah, baru deh terjawab, kalau dia mantap memilihku setelah mempelajariku dari informasi tentangku yang ada di google. Kata dia, search nama Leyla Imtichanah di google, langsung keluar semua info tentangku. Dari mana? Ya, dari MP…. Dia baca semua curhatku di MP, dan itu udah cukup menggambarkan diri dan keseharianku. Nah lho….

Merah padamlah mukaku. Kusearch sendiri namaku di google, ternyata benar. O-ow… semua curhatanku yang memalukan itu dibacanya…. Gara-gara itu pula, di awal menikah, suamiku MELARANG aku menulis lagi soal pribadi di MP. Kalaupun mau curhat di MP, disetting privacy, supaya gak ada yang bisa baca. Buatku, itu namanya pengekangan kebebasan berekspresi, wkwkwk…. Maklum, beda dunia dan latar belakang. Larangan suami membuatku sejenak melupakan MP. Gimana mau nulis kalau begitu diposting di MP, suamiku langsung protes. Dia selalu memantau postinganku. Jangan sampe ada curhat-curhat pribadi, apalagi kalau ngomongin dia. Nah, tulisan kayak gini nih di awal menikah adalah terlarang, hehehe

Lama-lama, suamiku gak mengontrolku lagi, karena istrinya jadi gak nulis-nulis. Aku pun diberi kebebasan lagi tuk nulis, setelah tiga tahun tenggelam. Meski kadang-kadang ada kritik juga, misalnya kalau aku nulis status yang “sesuatu” gitu di fb. Tapi, dukungan suamiku makin terasa di dunia tulis menulis ini. Misalnya, beliin modem dan pulsanya supaya istrinya tetap internetan, bantu perbaiki komputer kalau rusak, antar naskah ke tukang pos, antar ambil hadiah nulis, dan sebagainya. Sebab, suamiku menyadari istrinya jauh lebih baik dengan menulis. Baik secara mental, maupun wawasan. Hehe… kalau gak nulis beberapa hari, aku memang jadi seperti orang stress. Namanya juga udah nulis bertahun-tahun.

Daaan… setelah aktif menulis di FB dan nerbitin buku lagi, tahun lalu aku iseng-iseng bikin blog di Blogspot. Jadi malas nulis di MP, karena mesti ditulis di notepad. Gak bisa copypaste dari word dokumen. Awalnya aku bikin blog untuk promosi buku-bukuku, mendokumentasikan novel-novel dan cerpen yang sudah pernah diterbitkan, dan nulis tips-tips menjadi penulis. Novel-novelku banyak yang sudah dikembalikan hak terbitnya. Daripada naskahnya suatu ketika hangus karena flashdisc rusak atau harddisc bermasalah, lebih baik kusimpan di blog. Kalau ada yang baca, gak masalah. Agnes Davonar dan Miss Jinjing awalnya juga mempublikasikan naskah mereka di blog, dilirik penerbit, dan best seller.

Hingga sebulan yang lalu, aku mengetahui informasi lomba blog. Sebenarnya, dulu aku juga pernah ikut lomba blog di Kompasiana. Aku juga pernah buka akun di Kompasiana, tapi gak bertahan lama gara-gara tragedy tulisan poligami. Tapi, berhubung dulu belum paham benar dengan lomba blog, jadi tulisan seadanya dan gak menang. Setelah itu, aku sibuk dengan proyek buku pribadi dan antologi, gak pernah nyimak lagi dengan lomba blog. Gak berminat juga ikut lomba, terbayang saingannya yang banyak.

Berkat Mba Dwi Aprilytanti, Mba Mugniar, dan Windi Teguh, yang sering woro-woro tentang lomba blog, aku mulai tertarik. Sebenarnya lebih karena aku sedang “hang” menulis buku pribadi. Nulis novel, gak mood. Nulis buku nonfiksi, juga angot-angotan. Nulis di blog pun mulai jarang, karena gak tau mau nulis apa. Tapi, aku tetap ingin menulis. Rasanya “gak hidup” kalau gak nulis sehari aja. Awalnya, membaca tema lomba blog, aku bingung juga. Nulis apa, ya? Tapi, pas diajak jalan-jalan sama suami, sementara suamiku nyetir, aku melamun. Eh, tau-tau dapat ide mau nulis apa. Sayangnya, pas aku lihat lagi info lombanya, udah deadline tho….
Merchandise dari lomba blog susu halal

Sampai tiga orang di atas woro-woro lagi soal lomba blog, aku pelajari tema-tema lombanya. Ada juga yang infonya aku dapat di grup lain, seperti info lomba emak blogger itu yang kerjasama dengan Indosat. Tadinya iseng aja nanya persyaratannya ke teman yang menshare. Apalagi aku gaptek dengan blog, banyak gadget-gadget yang belum kukuasai. Jadi aku tanya, gimana cara pasang bannernya, apa harus pake nomor indosatnya, dan sebagainya.  Positifnya dengan ikut lomba blog itu, aku jadi nambah tahu cara pasang gadget di blog. Padahal sebelumnya blogku cuma isi tulisan saja. Bahkan awalnya gak ada foto-foto, karena gak tau cara masang foto, hehe…. Semua yang baru ngeblog, pasti bernasib serupa denganku :D

Ngeblog untuk dapat hadiahnya? Gak juga. Kalau temanya cocok denganku dan pas aku lagi dapat ide, aku pasti ikut apa pun hadiahnya. Tujuan awalnya memang supaya tetap menulis dan blogku pun hidup lagi. Lumayan kan blogku terisi lagi dengan tulisan-tulisan. Dengan ikut lomba blog, rupanya aku juga mendapatkan teman-teman baru, yang tidak ada di FB. Teman-teman blogger, gitu kali ya…. Salah besar jika kita merasa puas telah menerbitkan buku, lalu berpikir bahwa semua orang sudah mengenal kita. Buku dicetak hanya 2500 eksemplar. Belum tentu terjual habis. Jadi, berapa orang yang sudah membaca buku kita? 500 orang, lumayanlah. Tapi, kalau lihat statistik blogku yang sudah mencapai 30 ribu pembaca, aku bisa tersenyum lega. Setidaknya, blog itu sudah dibaca 30 ribu kali. Lebih banyak daripada pembaca bukuku.

Lomba blog itu juga jadi ajang promosi blog kita, dan bisa jadi buku-buku kita pun ikut laris. Saat mendaftar lomba, ada saja peserta lain yang gak kita kenal, yang mampir ke blog kita. Percaya gak percaya, justru tulisan untuk lomba itulah yang paling banyak dibaca. Pertama, mereka ingin tahu informasi lombanya, yang bisa diklik di bannernya. Kedua, mereka ingin tahu gimana isi tulisan kita, buat ancang-ancang mereka menulis atas jadi bahan perbandingan tulisan mereka. Nah, soal hadiah lomba, itu semata bonus. Kepuasan karena bisa terus nulis dan mendapat teman baru, itu yang tak bisa dinilai dengan apa pun.

Selain itu, lomba blog juga melatih kita untuk menulis lebih cerdas. Misalnya saja seperti lomba blog susu halal. Aku harus googling banyak info untuk mendukung penulisan itu, seperti nulis skripsi. Aku juga mempelajari tulisan para pemenang blog. Misalnya, di lomba blog telkomsel di mana aku gak terpilih sebagai pemenangnya. Kulihat tulisan si pemenang, oh, begitu toh… memang bagus, makanya menang.

Beberapa penulis ada yang mengkhususkan dirinya untuk menulis apa. Misalnya, ada penulis cerpen yang hanya mau nulis cerpen seumur hidupnya. Penulis sastra, yang merasa bahwa tulisan sastra itu di atas segala tulisan, jadi kalau sekalinya nulis sastra, gak mau deh nulis yang ngepop-ngepop. Bisa menjatuhkan image. Penulis nonfiksi, terus berkutat di nonfiksi, karena merasa menulis fiksi itu berat dan hanya pekerjaan mengkhayal. Penulis Koran, yang hanya mau karyanya dimuat di Koran dan majalah. Penulis yang baru merasa bangga kalau tulisannya dibukukan. Lebih parahnya lagi adalah penulis yang hanya gembar-gembor bahwa dirinya penulis, tapi gak pernah nulis, hehehe…. Nah, kalau aku termasuk penulis yang senang mencoba segala jenis tulisan. Bagiku yang penting ide-ide yang ada di kepalaku tersampaikan, apa pun bentuknya. Sekalipun itu hanya di blog. Justru sekarang aku merasa menulis di blog lebih bermanfaat daripada di buku, karena jumlah pembacanya lebih banyak. Maklum,  gratisan. Bisa juga blognya jadi berbayar, kalau dipasangi iklan atau gimana gitu, tapi sekarang aku belum tertarik.

Bonus dari lomba blog, Alhamdulillah, sekeranjang susu cair buat anak-anakku dan satu paket HP Nokia, pulsa, dan modem. Masih ngebet dengan IPAD atau Mac Book, sih, tapi yaaaa… tergantung jurinya, hahaha… satu lagi, penilaian lomba blog itu murni karena isi tulisannya, kalau menurutku, karena aku gak kenal jurinya. Kecuali kalau sistem SEO di mana pemenang harus menduduki rangking satu di google.

Jadi, yang belum nge-blog dan ikut lomba blog, cobain deh. Aku gak takut kok kalau jadi banyak saingan ;p

3 comments:

  1. GA sebenarnya di WP, tp lbh mudahnya, sy komen pake akun sy yg di Blogspot sj ya, Mbak.

    Wah, lama di MP ya, Mbak, dan... ikut senang bukunya sudah banyak. Ohya, sy sdh membaca dg cermat artikel di atas dan langsung saya DAFTAR. Sungguh, makasih banyak ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. Sama-sama, makasih, Mas Akhmad.
    Wah, salah ya? Hehehe... maklum, masih baru di dunia blogger...

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...