Thursday, July 12, 2012

Wanita di Era Digital: Mari Bekerja dari Rumah


Pagi itu, beberapa tahun lalu, aku melihat seorang batita berusia dua tahun, memegangi kaki ibunya sambil menangis dan berteriak-teriak. Teriakannya amat menyayat hati, bahkan bagi orang lain yang mendengarnya. Hati ibunya tentu lebih pedih lagi. Tapi, apa mau dikata. Hatinya harus ditegakan, demi mengejar jadwal kereta api yang akan membawanya ke tempat kerja. Sang ibu menyuruh pembantunya untuk menarik paksa bocah itu, agar ia dapat leluasa melangkahkan kaki menuju tempat kerjanya.


Setiap hari selalu begitu, cerita sang pembantu kepadaku. Batita itu selalu menangis dan berteriak setiap kali ibunya akan berangkat ke tempat kerja. Ah, dilema seorang ibu pekerja. Bukan hanya sekali dua kali aku mendengar curahan hati para ibu pekerja. Betapa ingin mereka tetap berada di rumah bersama buah hatinya, terutama bila mendengar rengekan anak-anak yang tidak rela ditinggalkan ibunya bekerja.
   
Semua wanita, terutama bila sudah menjadi ibu, tentu lebih menginginkan bisa terus berada di rumah bersama buah hatinya. Akan tetapi, tuntutan ekonomi membuat mereka terpaksa mengambil pilihan untuk bekerja di luar rumah. Jam kerja yang padat, masuk jam delapan pagi dan pulang jam lima sore, membuat para ibu kehilangan banyak waktu dan kesempatan bersama anak-anak mereka. Banyak yang bersedih karena tidak bisa melihat sendiri tumbuh kembang anak-anaknya, akibat terkungkung pekerjaan. Lebih miris ketika kubaca berita di tabloid, tentang pembantu rumah tangga yang membunuh anak majikannya saat sang ibu sedang bekerja di kantor. Ketika sang ibu pulang ke rumah, ia hanya mendapati jasad anaknya terbujur kaku karena disiksa pembantunya. Tak ada binar mata ceria dan senyum mengembang dari wajah anaknya.

Bekerja di luar rumah, bagi seorang wanita, adalah pilihan, bukan kewajiban. Pilihan yang datang karena adanya tuntutan. Ketidakmampuan suami untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, adalah salah satu alasan. Alasan lainnya, bisa jadi karena merasa dirinya lebih berarti bagi orang banyak bila bekerja di luar rumah, memaksimalkan potensi diri, serta menunjukkan eksistensi diri.  Seorang wanita merasa ilmunya terbuang sia-sia, bila hanya berada di dalam rumah dan mengasuh anak-anak. Tekanan dari keluarga, terutama orang tua, yang sudah bersusah payah menyekolahkan anak perempuannya, juga menjadi alasan. Apa pun alasannya, aku yakin, jauh di dasar hati para ibu pekerja, mereka berharap bisa terus bersama anak-anaknya di rumah, terlebih bila anak-anaknya masih bayi dan balita.

ASI Eksklusif, yang diprogramkan oleh Kementerian Kesehatan, harus dicapai dengan susah payah oleh para ibu pekerja, karena kesempatan cuti melahirkan dari kantor hanya tiga bulan. Bahkan ada perusahaan yang hanya memberikan cuti melahirkan selama seminggu, terutama bagi para buruh wanita. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Sedangkan ASI Eksklusif minimal diberikan selama enam bulan. Beberapa  ibu pekerja, berusaha keras untuk tetap memberikan ASI Eksklusif, meskipun sudah masuk kantor. Mereka rajin memerah ASI, menyimpannya di kulkas, lalu diberikan dengan sendok atau botol kepada bayinya oleh para pengasuh bayi. Saat sedang di kantor pun, mereka luangkan waktu untuk memerah ASI, disimpan di kulkas milik kantor, lalu dibawa pulang untuk persediaan. Itu bukanlah perjuangan yang sepele. Memerah ASI membutuhkan ketelatenan dan kesabaran, di tengah rutinitas kantor yang tidak kalah melelahkan. Bandingkan dengan memberi ASI langsung dari putingnya.
 
Ibu yang di rumah, lebih mudah memberikan ASI kepada bayinya dengan cara memberikannya secara langsung melalui putingnya. Berdasarkan pengamatanku terhadap beberapa ibu pekerja, ada sebagian yang terpaksa hanya memberikan ASI Eksklusif sampai cuti melahirkannya selesai, antara dua sampai tiga bulan. Masalah yang muncul dikarenakan tekanan pekerjaan yang membuat stress para ibu, sehingga ASI tidak dapat keluar. Terutama pada para ibu yang jam kerjanya amat padat. Pergi pagi, pulang malam. Kemacetan ibukota membuat para ibu tidak dapat secepat mungkin berada di rumah. Terutama untuk sektor-sektor pekerjaan tertentu yang punya tuntutan tinggi terhadap para karyawannya.

Ironisnya, para ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik, sangat kesulitan memberikan ASI Eksklusif. Padahal,  honor mereka pun tak seberapa, yang otomatis habis hanya untuk membeli susu formula. Pekerjaan sebagai buruh sangat berat dan ada pembagian shift pagi atau malam. Pulang ke rumah, tubuh sudah sangat lelah. Kondisi ini dapat menghambat pengeluaran ASI.  

Beberapa ibu pekerja lain, yang jam kerjanya lebih fleksibel, dapat memenuhi impiannya memberikan ASI Eksklusif, dengan ketekunan dan kerja keras. Terkadang ASI tidak keluar, mereka usahakan dengan mengkonsumsi banyak buah dan sayur yang dapat meningkatkan jumlah ASI. Sebuah perjuangan yang perlu mendapatkan apresiasi tinggi, sekaligus membuat kita berpikir, betapa beratnya beban seorang ibu demi memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya; tetap memenuhi hak anak terhadap ASI, juga hak anak terhadap hidup yang layak, sehingga para ibu ikut bekerja mencari nafkah di luar rumah.

Namun, anak-anak bukan hanya berhak terhadap ASI. Mereka juga berhak terhadap didikan, arahan, dan kasih sayang ibu. Bila ibu bekerja paruh waktu, masih mempunyai waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak. Ibu yang bekerja penuh waktu, harus pintar-pintar memanfaatkan waktu agar bisa mewujudkan hubungan yang berkualitas dengan anak-anak, dan itu bukan perkara mudah.

Ibu hamil, juga memiliki beban berat jika tetap bekerja di luar rumah. Suamiku pernah bercerita tentang rekan kerjanya yang sedang hamil trimester pertama. Rekan kerja wanitanya itu sering tidak masuk kantor karena tidak kuat menempuh perjalanan jauh dari rumah ke kantor, dan beberapa kali mendapatkan flek sebagai tanda kehamilannya nyaris keguguran. Ia harus istirahat di rumah dan disarankan untuk tidak bekerja dulu. Begitu juga ketika kehamilan sudah memasuki trimester tiga, di mana perut ibu sudah membesar. Susah payah berangkat ke kantor, terlebih bila harus naik kereta listrik dan angkutan umum lainnya, berdesakan dengan penumpang lain. Apalagi sekarang sensitifitas manusia sudah rendah. Tidak mau memberikan tempat duduk untuk ibu hamil, meski melihat si ibu sedang kepayahan.

Sementara, tidak sedikit juga wanita pekerja yang mendapatkan pelecehan seksual, baik di perjalanan menuju kantor maupun di tempat kerja. Seorang temanku, dulu pernah diremas—maaf—bokongnya saat sedang berada di kereta listrik, oleh laki-laki yang tidak dikenal. Kereta api kini memang telah memiliki gerbong khusus wanita, tapi hanya satu gerbong dan itu tidak memadai untuk menampung seluruh wanita. Bagaimana dengan angkutan lain? Beberapa kali kita mendengar berita tentang wanita yang diperkosa di dalam angkot…. Sungguh mengerikan.

Mencari pembantu rumah tangga dan pengasuh anak yang dapat membantu pekerjaan seorang ibu pun bukan  hal yang mudah. Mengambil pengasuh anak dari yayasan, harus menyiapkan nominal yang lumayan. Sedangkan pembantu rumah tangga dari kampung, sudah amat sedikit. Mereka lebih suka menjadi TKW di luar negeri, daripada bekerja di dalam negeri. Maka, tugas seorang ibu pekerja menjadi semakin berat. Melakukan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Siang bekerja di kantor, malam hari masih harus melanjutkan pekerjaan domestic.

Era digital sekarang ini memberikan solusi lebih mudah bagi para wanita yang ingin tetap bekerja tanpa meninggalkan rumahnya. Mendapatkan penghasilan memadai, bahkan lebih besar daripada saat bekerja di kantor. Juga tetap bisa mengembangkan potensi diri dan bermanfaat bagi orang banyak. Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah, sebagaimana yang dilakukan oleh teman-temanku berikut ini:

Sri Harinie, Pengusaha Kue “Adara Cake”
Rini, begitu ia biasa dipanggil, telah setahun menjalani usaha kue rumahan. Awalnya ia tak terpikir untuk membisniskan kue-kue buatannya. Ia hanya suka membuat kue di kala senggang sebagai ibu rumah tangga. Kue-kue itu terkadang dibagikan kepada tetangga dan rekan kerabat. Ternyata banyak yang menyukai kue buatannya dan langsung memesannya. Bahkan ada yang memesan untuk dijual kembali. Rini pun menyeriusi usaha membuat kuenya. Ia belajar membuat kue dari tabloid, resep di internet, dan melihat cara pembuatannya di You Tube. Setiap hari selalu ada saja kreasi baru yang diciptakannya. Rata-rata pelanggan memuji kue buatannya enak dan lezat. Kini, Rini bisa menambah pemasukan keluarga tanpa harus meninggalkan rumahnya. Kue-kuenya juga dipromosikan melalui  jejaring sosial facebook dan Blackberry.
Salah satu kue buatan Rini dengan label Adara Cake. Sumber  foto: Fb Rini Farrel Umminya Adara

Aisyah Fichapuccino, Pedagang On Line “Fichapuccino All Shop”
Bermula dari pengalamannya berbelanja via internet, Fika merasa diuntungkan dengan keberadaan toko-toko online itu. Ia bisa menghemat waktu dan tenaga bila berbelanja di toko online. Ia pun terpikir untuk membuka toko online. Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan kantorannya, Fika membuka toko online “Fichapuccino All Shop” di facebook. Awalnya ia menjual pakaian wanita. Barang jualannya pun bertambah terus. Apa saja yang unik dan terjangkau, akan dipajang di etalase tokonya yang cukup bermodalkan modem dan pulsa internet. Wanita yang juga suka memasak itu, juga menerima pesanan makanan seperti pempek Palembang, Nugget, dan kue-kue, dan sebagainya. Kini, omsetnya per hari mencapai 500 ribu sampai 2 juta rupiah. Per bulannya mencapai 12-18 Juta.
Pempek Palembang yang bisa dipesan di Fichapuccino All Shop. Sumber foto: Fb Aisyah Fichapuccino

Leyla Hana, Penulis Belasan Buku
Leyla Hana adalah nama penaku (penulis artikel ini). Bila Anda sering berjalan-jalan ke toko buku, insya Allah Anda bisa menemukan buku-bukuku dipajang di sana, di antaranya: Catatan Hati Ibu Bahagia, Taaruf, Rahasia Pengantin Baru, Gado-Gado Poligami, dan lain-lain. Aku menulis buku sejak masih gadis. Aku sempat bekerja di kantor selama tiga tahun, lalu memutuskan untuk mengundurkan diri setelah menikah. Aku memilih untuk menjadi penulis lepas dan bekerja dari rumah. Keberadaan internet sangat menunjang profesi menulisku. Selain bisa mendapatkan link-link penerbit yang kemudian menerbitkan buku-bukuku, aku juga mendapatkan banyak info mengenai lomba menulis. Hasil dari menulis cukup memuaskan, meski tidak tetap. Apabila buku diterbitkan, aku mendapatkan uang muka dan royalti yang cukup.
Dua buku karya Leyla Hana; Taaruf dan Gado-Gado Poligami, di Toko Buku Gramedia Medan


Masih banyak pekerjaan lain yang bisa dikerjakan dari rumah, di antaranya: Editor lepas, penerjemah lepas, desainer atau illustrator lepas, peneliti, dan  lain sebagainya. Ke depannya, semoga saja pemerintah kita bisa lebih peka terhadap wanita, terutama yang sudah menjadi ibu. Diharapkan pemerintah dapat mendorong perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan wanita, agar memberikan waktu yang lebih fleksibel terhadap para pekerja wanita. Apabila bidang pekerjaan itu dapat dilakukan di rumah, maka ada baiknya agar para pekerja wanita dibolehkan untuk bekerja dari rumah, dengan tetap berstatus karyawan tetap. Tentu saja untuk kota besar seperti Jakarta, di mana kemacetan menjadi salah satu problem sosial yang paling pelik, “merumahkan” para wanita bisa menjadi solusi. Merumahkan, bukan berarti memecat, tetapi memberi kesempatan bagi para wanita untuk tetap bisa bekerja meskipun tidak berada di kantor.  Di era digital seperti ini, apa yang tidak mungkin? Rapat-rapat juga bisa dilakukan dengan teknologi tiga dimensi, seperti di film-film sains fiksi. Kecuali memang bila benar-benar harus ke kantor, untuk sesekali rasanya tidak mengapa. Dijamin, kemacetan di Jakarta akan terurai, karena tidak banyak lagi kaum wanita yang ikut berdesak-desakan di angkutan umum atau menyetir mobil pribadi.

Dengan kemudahan dalam bekerja dan berkarir itulah, sisi kehidupan wanita lainnya pun akan lebih meningkat. Life, wanita dapat lebih menjaga dirinya. Dari sisi kecantikan, pengaruh polusi debu dan udara dapat diminimalkan karena tidak sering keluar rumah. Love, ada peningkatan kualitas hubungan dengan suami dan anak-anak, di mana seorang ibu memiliki waktu yang lebih banyak bersama dengan anak-anak dan dalam keadaan segar ketika menyambut suaminya pulang dari kantor. Spiritual, sering kali hubungan kita dengan Tuhan menjadi berjarak karena kesibukan. Dengan senggangnya waktu, insya Allah kehidupan spiritual kita dapat lebih ditingkatkan.



20 comments:

  1. mbaaa......aku pengen bisa begitu berkarya dari rumah aja, jadi gak melewatkan sedetikpun waktu bersama anak-anakku. secara beda banget tumbuh kembang anak pertama yang dulu selalu kuawasi dengan anak kedua yang lahir setelah aku kerja:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kudoakan, mba Sara... Aku ikut memahami problematika ibu pekerja, apalagi masih punya anak kecil..

      Delete
    2. Insyaallah 6 bulan lg aku resign, mau ikutin jejak mba, bekerja dari rumah sambil mendampingi anak-anakku.

      Delete
  2. hebat euyyy..udah jadi aja mbak ela:D.

    ReplyDelete
  3. asyik ya bekerja dari rumah, sambil menjaga keluarga, dan beribadah jalan terus...sip deh... semoga sukses dengan kontesnya mak :)

    ReplyDelete
  4. kereeeen ... suatu saat..insyaAllah..aku jg akan seperti mbak Ela, Pika dan mbak Rini...berkarya dan 'menghasilkan' dari rumah ...

    btw ... goodluck ya kontesnya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiin.... makasih doanya, mba Icha...

      Delete
  5. Mbak... ngintip blognya lagi, yang kemarin kan ketularan menang juga. hehehhe nggak apa-apa ya.... :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo, mba Sari... justru senang diintip-intip ;p

      Delete
  6. wah catatan menarik , sempat saya menemukan diskusi dengan tema menarik seperti ini...
    sukses juga untuk kontesnya

    #Blogwalking sekalian mau ngasih info juga
    Event Blogger Hadiah Android Samsung & Voucher2 Belanja Matahari

    untuk info lebih lengkapnya bisa kunjungi
    Lounge Event Tempat Makan Favorit BPI
    semoga bermanfaat
    Salam Bahagia

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah mampir, pak
      saya jg sudah mampir ke blog bapak, tp belum punya ide mau nulis tempat makan apa hehe

      Delete
  7. Mulia jika seorang ibu bekerja ekstra keras demi si buah hati :)

    ReplyDelete
  8. Bagus nih artikelnya..
    aku suka sekali
    kalau ada waktu saya berkunjungi lagi




    #Salam Silaturahmi.

    ReplyDelete
  9. menarik. :-D
    menambah ilmu n informasi krn aku belum nikah hehe..
    salam kenal...

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...