Thursday, October 25, 2012

Novelet: Hati Bidadari Bagian 1


DI ANTARA DUA SISI HATI




Fairy termenung di bangku taman yang biasa didatanginya setiap hari Sabtu atau Minggu saat ia sedang tidak ada praktek. Ada sesuatu yang menggelayuti pikirannya. Sesuatu yang membuatnya tidak tenang sejak dua minggu ini. Ia tak menyangka hubungannya dengan Suryo akan berakhir begini.
Dua minggu lalu, Suryo melamarnya. Melamarnya! Perempuan mana yang tidak mau dilamar oleh dambaan hatinya? Begitu juga dia. Tentu saja ia senang mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Suryo. Maukah kau menikah denganku? Kalimat yang indah, bukan? Kalimat yang selalu ditunggu-tunggu perempuan mana pun di dunia ini. Sisi hati Fairy menyukai kalimat itu dan ingin segera mengiyakannya, tapi sisi hatinya yang lain menolak. Ia tak boleh menerima lamaran Suryo.
Mereka tidak pantas menikah. Suryo lebih pantas menjadi bapaknya. Bahkan usia  bapaknya hanya terpaut dua tahun dengan Suryo. Terlebih lagi Suryo sudah punya keluarga. Suryo punya istri dan dua orang anak. Bahkan usia anak pertama Suryo tak jauh beda dengannya. Apa yang akan terjadi kalau mereka menikah? Istri dan anak-anak Suryo akan membencinya setengah mati. Orang-orang pun akan mencemooh pernikahan itu. Ia akan dianggap perebut suami orang! Perusak rumah tangga orang!
Ah! Ia menyesal sekali harus terjerat dalam masalah ini. Masalah yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Mana pernah ia menyangka bahwa Suryo yang ia anggap sebagai pengganti bapaknya ternyata mencintainya? Suryo pun pernah mengatakan bahwa ia juga tak menyangka akhirnya bisa jatuh cinta kepadanya. Hubungan mereka tak lebih dari hubungan bapak dan anak. Tetapi cinta memang gila. Cinta datang tanpa disangka-sangka. Semua berubah sejak Suryo pertama kali menyatakan cinta kepadanya. Fairy terkejut. Tentu saja terkejut.
“Bapak tidak main-main, kan?” tanyanya waktu itu. Suryo mengatakan kalimat mengejutkan itu di telepon.
“Tidak, Ry. Saya tidak main-main. Saya benar-benar merasakan perasaan itu terhadapmu.”
“Tapi, Pak… itu tidak mungkin!”
“Tidak mungkin bagaimana, Ry?”
“Bapak sudah berkeluarga! Bapak harus ingat itu! Bapak sudah punya istri dan dua orang anak. Saya tidak mau menyakiti keluarga Bapak.”
“Tapi, Ry, saya tidak bisa hidup tanpa kamu. Selama ini saya merasa tidak bahagia. Tapi sejak kamu datang, saya merasa mendapatkan kehidupan saya kembali.”
“Bagaimana mungkin Bapak tidak bahagia? Bapak sudah mendapatkan semua yang lelaki inginkan. Istri yang cantik, pekerjaan yang mapan, anak-anak yang berhasil. Apa lagi, Pak?!”
“Kebahagiaan, Ry. Kebahagiaan! Saya belum mendapatkan kebahagiaan itu. Saya memang berkecukupan. Bahkan lebih! Orang-orang pasti menganggap saya telah bahagia. Tapi sebenarnya saya tidak bahagia, Ry. Hidup saya hampa! Ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Kosong, Ry! Kosong! Saya tidak mau mengakhiri hidup saya dengan kekosongan. Saya baru menemukan kebahagiaan itu setelah bertemu kamu, Ry! Sungguh…!”
“Kebahagiaan apa yang Bapak maksudkan?”
“Entahlah, Ry. Saya juga tak mengerti. Perasaan… nyaman… senang…. Itu hanya saya dapatkan kalau berdua denganmu, Ry.”
“Cukup, Pak! Jangan mengatakan hal yang bukan-bukan kepada saya!”
“Saya serius, Ry! Saya serius! Kamulah kebahagiaan itu, Ry!”
“Hentikan, Pak! Sadar! Kita sangat jauh berbeda! Terlalu banyak penghalang untuk kita! Usia kita terpaut jauh dan Bapak juga sudah berkeluarga. Saya tidak mau merebut Bapak dari keluarga Bapak!”
“Tapi, Ry, apakah kamu tega membiarkan saya dalam kekosongan? Dalam kehampaan? Kamu tahu apa yang akan saya lakukan kalau sedang kosong? Saya akan gila, Ry! Gila! Saya akan luntang-lantung tak karuan, saya akan menghabiskan waktu di tempat yang tak seharusnya saya datangi, saya malah akan semakin menyakiti hati keluarga saya, Ry!”
“Tidak, Pak. Tidak. Terlalu banyak penghalang di antara kita. Tidak bisa…!”
Fairy menutup telepon. Ia tak mau mendengar suara Suryo lagi. Ia tak mau semakin terjerumus. Ia tak mau terjebak dalam rayuan manis itu. Ia berlari masuk ke dalam kamar. Ia memikirkan kembali perkataan Suryo tadi. Rasanya tidak mungkin lelaki itu jatuh cinta kepadanya. Tapi kenyataannya demikian. Baru saja Suryo menyatakan perasaannya kepadanya. Suryo mencintainya! Mencintainya! Sesuatu yang mustahil. Absurd. Begitulah menurut pandangan Fairy.
Sebenarnya kalau Suryo belum berkeluarga, tidak masalah bagi Fairy untuk menerimanya. Tidak ada yang kurang dari lelaki itu. Mapan, tampan, cerdas, dan berwibawa. Usia yang terpaut jauh juga bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah Suryo sudah berkeluarga. Berkeluarga! Itulah yang ia tidak mau. Ia perempuan. Ia bisa mengerti perasaan istri Suryo bila dimadu. Tidak ada seorang perempuan pun yang mau dimadu. Tidak ada! Demikian juga dengan istri Suryo.
Bu Sasti pasti tak akan pernah mengira kalau madu suaminya adalah orang yang selama ini dekat dengannya. Fairy. Fairy Adam. Seorang gadis yang lebih cocok menjadi menantunya. Tentu saja. Usia Fairy baru dua puluh tiga tahun. Seorang gadis yang masih lugu yang baru lulus dari sebuah Akademi Keperawatan. Pada suatu malam, gadis itu meneleponnya. Menanyakan apakah ia bisa berbicara dengan Suryo, suaminya. Gadis itu datang dari Lampung ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Gadis itu berpikir suaminya bisa mencarikannya pekerjaan. Gadis itu mengenal suaminya dari ayah temannya yang juga teman suaminya.
Bu Sasti tak pernah berpikir macam-macam terhadap gadis itu. Apalagi setelah ia melihat rupa gadis itu. Gadis berusia dua puluh tiga tahun. Muda dan lugu. Tidak mungkin akan terjadi hubungan khusus antara suaminya dengan gadis itu. Mereka seperti bapak dan anak, dan gadis itu sepertinya pandai menjaga diri. Itu terlihat dari jilbab yang dikenakannya. Namun, kenyataan berbicara lain. Diam-diam, gadis itu menjadi duri dalam keluarganya. Duri. Bagian tubuh yang tidak diinginkan.
Fairy pun tak menginginkan kenyataan ini. Bahkan sampai Suryo menyatakan cinta kepadanya, ia belum punya perasaan yang sama. Ia masih menganggap Suryo seperti bapaknya sendiri. Atau minimal, kakak. Hanya kakak. Getar itu baru timbul saat Suryo semakin intens mendekatinya dan membisikkan kalimat-kalimat itu. Kalimat-kalimat yang membuatnya terlena dan bisa menerima Suryo dalam hatinya.
“Saya benar-benar membutuhkanmu, Ry. Sangat membutuhkanmu. Kamu adalah nyawaku. Saya tidak bisa hidup tanpa kamu, Ry….”
“Tapi, Pak…. Saya tidak bisa menerima Bapak. Saya mohon maaf. Bapak lupakan saja saya. Atau sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi?”
“Jangan, Ry! Jangan! Jangan tinggalkan saya seperti itu. Saya tidak bisa kehilanganmu. Saya benar-benar membutuhkanmu.”
“Kalau Bapak tidak mau kehilangan saya, jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Pak. Saya tidak sanggup mendengarnya.”
“Kenapa, Ry? Kenapa? Apakah karena kamu merasakan hal yang sama?”
“Tidak, Pak, Saya….”
“Jangan bohong, Ry! Katakan saja yang  sebenarnya. Kamu juga merasakan hal yang sama, kan? Perasaan kita tidak bisa dibohongi, Ry!”
“Tidak, Pak! Saya tidak akan menyakiti Bu Sasti!”
“Saya tidak bahagia, Ry! Tidak bahagia! Kenapa kamu tidak mengerti juga?”
“Bohong! Bapak hanya sedang buta! Bapak dibutakan oleh nafsu!”
“Benar, Ry! Saya tidak bahagia. Sudah lama saya merasakan ketidakbahagiaan ini. Saya dan Sasti menikah karena dijodohkan. Sebenarnya saya tidak mencintainya. Saya berusaha menerimanya tapi tidak bisa. Sudah dua puluh tahun saya tidak bahagia, Ry. Sejak saya menikah dengannya. Saya tidak mau mati dalam ketidakbahagiaan, Ry. Tolonglah saya….”
Fairy terjebak. Ia benar-benar terjebak dalam rayuan Suryo. Sisi hatinya menolak, tapi sisi hatinya yang lain semakin giat membujuk untuk menerima Suryo. Terlalu sering terjadi peperangan antara dua sisi itu. Mereka berperang memperebutkan hatinya. Fairy bingung. Ia ingin menerima Suryo, tapi tidak ingin menyakiti Sasti. Ia tak ingin melihat wanita itu menangis karenanya. Wanita itu sudah seperti ibunya sendiri. Terlalu banyak kedekatan di antara mereka. Bersama Sasti dan anak-anaknya, ia seperti mendapatkan keluarganya kembali di negeri rantau.  Namun, ternyata kedekatan itu menjadi bumerang untuknya. Siapa sangka Suryo jatuh cinta kepadanya?
“Menikahlah dengan saya, Ry. Menikahlah dengan saya….”
“Apa, Pak?”
“Saya sudah memikirkannya, Ry. Saya juga sudah berdoa kepada Allah. Dan sepertinya Allah memberikan jawaban dengan menghadirkanmu dalam mimpi-mimpi saya. Keputusan saya sudah bulat, Ry. Menikahlah dengan saya.”
“Bapak serius? Sadar, Pak! Itu tidak mungkin!”
“Kenapa tidak mungkin, Ry? Kenyataan yang terjadi sekarang adalah saya mencintaimu!”
“Tapi saya….”
“Kamu juga kan, Ry? Kamu juga mencintaiku kan, Ry?”
Fairy menangis. Ia sudah tak sanggup menghadapi Suryo lagi.
“Kamu kenapa, Ry? Kamu menangis?”
“Tolong, Pak…. Tolong jangan katakan itu lagi kepada saya. Saya tidak mau mendengarnya. Lupakanlah saya, Pak. Saya tidak mau menyakiti hati keluarga Bapak.”
“Jangan, Ry! Jangan berkata begitu! Saya tidak bisa melupakanmu. Tidak akan bisa. Mengertilah, Ry. Maukah kau menikah denganku?”
“Bapak akan menceraikan Bu Sasti?”
“Menurutmu bagaimana, Ry?”
“Saya tidak ingin membuat Bu Sasti sedih?”
“Kalau begitu…saya akan menjadikanmu istri kedua.”
Fairy tertunduk. Istri kedua.
“Tidak, Pak. Sudahlah. Lupakan saja semua ini.”
“Ry, bukankah lebih baik aku memiliki istri yang sah ketimbang bermain-main dengan wanita jalang? Dan kau juga pasti setuju dengan poligami, kan? Kau lebih mengerti tentang poligami. Kau tidak akan menentang aturan Allah itu, kan?”
“Memang, Pak. Tapi… tapi bukan saya yang akan menjadi istri kedua Bapak. Saya tidak sanggup menyakiti perasaan istri Bapak. Lebih baik Bapak lupakan saya. Bertobatlah, Pak. Bapak mencintai saya hanya karena nafsu!”
“Lalu kamu tega menjerumuskan saya ke dalam nafsu yang lebih hebat lagi? Kalau kamu menolak saya, saya akan pergi ke diskotik, Ry! Saya akan membawa satu atau dua perempuan nakal dari sana. Saya kan menggauli mereka. Kamu suka melihat saya begitu?”
“Tidak, Pak! Tidak! Jangan! Itu dosa!”
“Saya tahu itu dosa, Ry. Tapi cuma itu yang bisa saya lakukan. Lebih baik saya pergi ke tempat lain daripada pulang ke rumah. Saya tidak bahagia berada di rumah, Ry! Sangat tidak bahagia!”
“Ah, sudahlah, Pak! Saya tidak mau bicara dengan Bapak lagi! Lupakanlah saya!”
Fairy menutup telepon. Seperti biasa, ia lari masuk ke dalam kamar dan menangis sebisanya. Heran. Kenapa ini terjadi kepadanya? Kenapa harus Suryo, pria yang sudah berkeluarga, yang datang melamarnya? Kenapa bukan pria lain yang masih lajang? Kenapa…?!
***
Suryo mengejarnya. Suryo masih mengejarnya. Suryo masih menginginkan dirinya. Lelaki itu masih kerap meneleponnya, menanyakan kabarnya, dan memintanya menemani berbicara. Fairy tak bisa menghindar. Ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Suryo. Ia tak bisa menjauh dari Suryo. Suryo selalu berusaha dengan segala cara untuk menyita waktunya.
“Bicaralah dengan saya, Ry. Saya butuh teman bicara. Kalau kamu tidak mau bicara dengan saya, saya akan pergi ke diskotik.”
“Kenapa Bapak selalu mengancam saya begitu?”
“Karena saya tahu kamu tidak akan membiarkan saya merusak diri saya sendiri.”
“Bapak tidak pantas bicara begitu. Bapak seorang yang cerdas dan berwibawa. Bapak tidak pantas mengucapkan rayuan-rayuan gombal itu.”
“Bahkan Raja pun bertekuk lutut di bawah cinta, Ry. Apalagi saya yang hanya orang biasa.”
“Cinta itu tak akan meraja kalau Bapak tak membiarkannya.”
“Mana bisa, Ry? Cinta itu sudah mendarah daging dalam raga saya. Saya sangat mencintaimu, Ry.”
“Cukup, Pak! Kalau Bapak hanya ingin membicarakan yang itu-itu saja, saya tidak mau bicara dengan Bapak.”
“Baiklah, Ry. Baiklah.”
Fairy memejamkan mata. Ia menyesal dengan apa yang menimpanya saat ini. Ia malu sekali. Kalau orang tuanya tahu apa yang sedang menimpanya, mereka pasti akan mengutuknya. Mereka pasti tidak akan memaafkannya.
“Harta yang hilang dapat diperoleh lagi, Ry. Tapi kehormatan yang hilang, sulit untuk mengembalikannya.” Begitu kata ibunya dulu. Ibu selalu mewanti-wanti untuk menjaga diri baik-baik. Kehormatan itu hanya satu. Jangan sampai hilang. Sekali hilang, tak akan kembali. Dan sekarang, ia tengah mempertaruhkan kehormatannya karena menjalin hubungan dengan pria beristri. Ia telah membuat malu orang tuanya. Mereka pasti menangis melihatnya menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Duri. Bagian tubuh yang tidak diinginkan.
“Ry….”
Seseorang menyapanya. Fairy membuka mata. Ternyata Prita, sahabat yang ia temukan di Jakarta ini. Prita duduk di sebelahnya. “Maaf, terlambat. Sudah lama menunggu, Ry?” 
“Lumayan. Tapi tidak apa. Ada hambatan di jalan?”
“Tidak. Cuma tadi keponakanku kepingin ikut. Jadi, aku harus membujuknya dulu agar tidak ikut. Ada apa, Ry? Sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan?”
“Banyak, Ta. Banyak sekali.” Fairy berhenti sejenak. “Dia melamarku, Ta,” katanya, kemudian. Prita membelalakkan mata sehingga matanya yang sipit itu menjadi lebar.
“Melamar? Dia siapa?”
“Dia. Dokter itu.”
“Dia?! Jadi kamu masih berhubungan dengannya?”
Fairy mengangguk. “Aku sudah berusaha menjauhinya, tapi dia terus mendekatiku. Dia tak mau melepaskanku. Dia meneleponku, siang dan malam. Dia selalu berusaha menemuiku.”
“Aku kan sudah bilang. Abaikan saja dia.”
“Aku tak tega, Ta. Sepertinya dia sangat sedih kalau kutinggalkan. Dia mengancam akan ke diskotik dan bersenang-senang dengan para pelacur kalau aku meninggalkannya.”
“Masya Allah! Dia mengancam begitu, Ry?”
Fairy mengangguk. Prita menghela napas. Sebenarnya kalau ia jadi Fairy, ia akan abaikan saja ancaman itu. Biar saja lelaki itu merusak dirinya sendiri. Bukan urusannya. Tapi hati Fairy berbeda dengan hatinya. Hati Fairy sangat lembut. Gampang tersentuh.
“Kalau dia mengancam begitu, berarti benar dia bukan lelaki baik-baik. Sayang kamunya, Ry. Kamu masih muda, belum tersentuh oleh tangan-tangan lelaki. Sayang sekali.” Prita berdecak.
“Aku tidak memikirkan hal itu, Ta. Kalau saja dia belum punya istri, aku pasti menerimanya.”
“Oh, ya?! Aku jadi ingin tahu seperti apa rupanya.”
“Bukan rupanya, Ta. Dia memang biasa saja. Seperti lelaki yang sudah berumur lainnya. Tapi dia baik. Baik sekali.”
“Baik apanya, Ry?”
“Dia bilang, dia akan memberikan segala yang aku minta.”
“Ah! Materi! Lagi-lagi materi! Perempuan memang hanya bisa dibujuk dengan materi! Jangan terbuai oleh materi, Ry! Hidupmu masih panjang! Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik selain dia. Berpikirlah dengan jernih, Ry! Putuskanlah hubunganmu dengannya! Jangan pernah menemui atau ditemuinya lagi! Kau harus benar-benar menjauh darinya. Hanya itu kuncinya!”
“Aku tidak bisa, Ta. Tidak bisa!” Fairy menangis.
“Kau selalu bilang tidak bisa! Sebenarnya kau bisa, tapi kau sudah terjerumus oleh cinta. Aku yakin, kau pasti sudah jatuh cinta kepadanya. Kau harus tegas, Ry! Harus! Katakan padanya kalau kau  tidak mau menikah dengannya!”
“Aku sudah mengatakannya, Ta! Tapi dia bersikeras melamarku! Aku tak tahu harus mengatakannya dengan cara apa.”
“Sudahlah, Ry. Aku bisa mengerti apa yang kaurasakan. Atau kau mau aku yang mengatakan hal itu kepadanya?”
“Jangan, Ta. Tidak usah. Biar kuselesaikan sendiri.”
“Atau mungkin, kucarikan saja lelaki lajang untukmu, Ry. Kalau dia tahu kau sudah menikah, dia pasti akan menjauh darimu.”
“Ah, Prita. Memangnya kaupikir kau bisa mencarikan jodoh untukku? Kau sendiri belum menikah.”
“Jangan kauragukan kemampuanku, Ry! Aku punya banyak kenalan lelaki. Mereka baik-baik dan belum beristri. Hidupmu akan lebih tenang kalau menikah dengan salah satu dari mereka.” Prita berpromosi. Fairy hanya tersenyum saja mendengarnya. Ia tak begitu semangat menanggapinya. Entah kenapa.  Mungkin Prita benar. Ia sudah jatuh cinta pada Suryo. Suryo.
“Terima kasih karena kau sudah mendengarkan curahan hatiku, Ta. Juga karena kau mau berbaik hati mencarikan jodoh untukku. Coba saja. Siapa tahu kami berjodoh. Mungkin memang dengan menikahlah aku bisa menghindar dari kejaran Suryo.”
“Ya, Ry. Jangan pikirkan soal Suryo lagi. Lupakan dia. Ingat, dia sudah punya istri dan anak.” 
*** 


Bersambung ke: Hati Bidadari Bagian 2

2 comments:

  1. lanjutannya dooong...
    apapun namanya, bapak-anak, kakak-adik klo judulnya lawan jenis bukan mahram yah berbahaya lahh, jangan dekat2 api kalau tidak mau terbakar.
    Bisa aja Pak suryo bilang gak bahagia, masak udah 23 tahun gak bahagia ;)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...