Thursday, November 15, 2012

Hati Bidadari Bagian 3


SATU KEPUTUSAN




Suryo mengembuskan napas dalam-dalam. Wajah Fairy kembali bermain di pelupuk matanya. Keputusannya sudah bulat. Ia akan menikahi gadis itu. Sudah hampir setengah tahun ini ia berhubungan dengan gadis itu. Ia tak pernah mengira akan jatuh cinta pada gadis itu. Gadis itu sama seperti perawat-perawat muda di rumah sakit tempatnya bekerja. Gadis itu sama seperti mahasiswi-mahasiswi kedokteran tingkat empat yang ia ajar. Gadis itu—awalnya—hanya ia anggap seperti anaknya sendiri. Anak!
Ah! Tapi kenapa ia bisa jatuh cinta pada gadis itu? Ia lupa kalau nafsu menyerang siapa saja yang lengah. Bahkan seorang ayah kandung saja bisa menghamili anak kandungnya sendiri. Apalagi dia yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Fairy. Tapi ia belum menghamili Fairy. Fairy terlalu suci untuk ia jamah. Sejak awal, Fairy membentuk benteng pemisah antara dia dan dirinya. Fairy memang ramah dan akrab dengan siapa saja. Sikapnya itulah yang membuatnya jatuh cinta. Gadis itu menampung semua keluhan-keluhannya, pendengar setianya, dan akhirnya ia menginginkan gadis itu seluruhnya. Entah kenapa bisa begitu. Dorongan perasaan, mungkin. Mungkin. Ia bahkan lupa kalau ia sudah berkeluarga. Ada Sasti, istrinya yang masih cantik di usia keempat puluh dua. Ada juga sepasang anaknya yang tampan dan cantik. Ia lupa mereka saat  mencintai Fairy.
Perang batin sudah lama berkecamuk di hatinya. Ia harus segera mengakhiri perang itu. Ia sudah mencoba melamar Fairy. Ia yakin gadis itu mau menerima pinangannya kalau saja ia belum berkeluarga atau keluarganya mau menerima pernikahan itu. Ia cukup percaya diri dan yakin bahwa Fairy pun mencintainya. Ia dapat melihat itu di mata Fairy. Ia hanya tinggal mengatakan maksudnya ini kepada Sasti dan anak-anaknya. Mau tidak mau, Sasti harus menerimanya. Ia sudah tak tahan dengan penderitaan ini. Sekian tahun ia lewati dengan ketidakbahagiaan. Jujur, ia tak bahagia hidup bersama Sasti. Kebahagiaan itu hanya dirasakannya pada awal-awal pernikahan. Selanjutnya ia sadar, ternyata ia tidak mencintai Sasti. Ia ingin lepas dari Sasti, tapi apa alasannya? Sekarang, ia sudah punya alasannya. Ia ingin menikahi Fairy. Sasti harus menerimanya atau mereka cerai. Cerai!
Ha-ha-ha! Suryo tertawa. Dahulu, ia tak akan bisa demikian mudah menceraikan Sasti. Orang tuanya masih ada, begitu juga dengan orang tua Sasti. Mereka sangat menentang perceraian. Tidak dosa, tapi membuat Tuhan murka. Tapi sekarang, baik orang tuanya maupun orang tua Sasti sama-sama telah tiada. Sekarang Suryo tidak peduli dengan perkataan mereka lagi. Yang ia peduli adalah kata-kata bijak yang mengatakan bahwa kebahagiaan harus didapat dan dikejar bagaimanapun caranya. Dan kebahagiaannya adalah bersama Fairy. Fairy.
Suryo sudah memutuskan. Ia akan mengatakan kepada keluarganya bahwa ia akan menikah lagi. Terserah mereka mau menerimanya atau tidak.
***
Telepon di ruang tamu rumah Fairy, berdering terus. Fairy yang sedang membaca buku di kamarnya, enggan sekali mengangkat. Kalau telepon itu berhenti berdering, berarti Hilmy, adiknya, sudah mengangkatnya.
Sekarang, ganti pintu kamarnya yang berbunyi karena diketuk orang. Pasti Hilmy.
“Ada telepon untuk Kakak. Dari Pak Suryo,” kata Hilmy, di depan pintu.
Fairy menghela napas panjang. Suryo lagi, Suryo lagi. Ia enggan bicara dengan lelaki itu.
“Bilang kalau aku lagi pergi.”
“Katanya penting. Mungkin soal pekerjaan di rumah sakit.”
“Tidak ada yang penting.”
“Terima sajalah, Kak. Mungkin benar-benar penting. Kelihatannya Pak Suryo maksa sekali.”
Fairy berdecak. Adiknya tak bisa diajak bekerja sama. Akhirnya, ia melangkah ke ruang tamu dan menerima telepon untuknya.
“Saya sudah memutuskan, Ry. Saya serius melamarmu. Saya akan mengatakan kepada Sasti bahwa saya akan menikahimu,” kata Suryo, di telepon.
Fairy terbelalak. Ia berusaha menahan agar tidak mengeluarkan jeritan dari mulutnya. “Bapak serius?” tanyanya, berbisik. Ia tak ingin Hilmy tahu apa yang sedang dibicarakannya dengan Suryo. Tak ada yang tahu ia punya hubungan dengan Suryo kecuali Tuhan dan Prita, sahabatnya.
“Serius, Ry. Sangat serius. Tunggu saja kabar selanjutnya. Saya sudah benar-benar siap mengatakan semuanya kepada Sasti.”
“Jangan, Pak! Jangan! Pikirkan baik-baik dulu!”
“Tidak, Ry. Sudah tidak ada waktu lagi. Saya sangat membutuhkanmu. Saya tidak bisa hidup tanpamu.”
“Bagaimana kalau saya tidak mau?”
“Apa maksudmu, Ry?”
“Saya akan bicarakan hal ini sejelas-jelasnya besok, Pak. Kita bertemu besok dan Bapak akan tahu perasaan saya yang sebenarnya terhadap Bapak!”
“Tidak, Ry. Saya sudah tahu perasaan kamu terhadap saya. Saya akan bertemu denganmu setelah saya mendapatkan persetujuan dari Sasti untuk menikah denganmu.”
“Pak!” Fairy melotot. Kesabarannya sudah habis. “Saya benar-benar tidak suka dengan cara Bapak!”
“Kamu tidak suka karena takut menyakiti hati Sasti, kan? Saya akan bicara baik-baik dengan dia. Kamu tenang saja.”
“Tidak, Pak. Saya….”
“Sudahlah, Ry. Saya mencintaimu. Sekali lagi, saya mencintaimu. Selamat malam.”
***
“Dia bukan lelaki yang baik.”
Prita menatap sahabatnya. Kasihan benar Fairy. Dikejar-kejar oleh lelaki yang sudah berkeluarga.
“Rasanya aku memang harus mengatakan dengan tegas bahwa aku tidak mencintainya dan ingin dia menjauh dariku,” Fairy geram.
“Kau memang harus mengatakannya. Aku heran kenapa kau menundanya sedemikian lama.”
“Sudah kubilang. Aku kasihan padanya. Aku tidak mau dia terjerumus ke dalam dosa yang lebih dalam.”
“Laki-laki memang begitu. Egois.”
“Mungkin…,” Fairy tertunduk, “secepatnya kaukenalkan aku dengan salah satu teman priamu. Siapa tahu ada yang cocok denganku.”
Prita terbelalak. “Benar kau mau?”
Fairy mengembuskan napas dalam-dalam. “Entahlah. Kok aku jadi merasa terpaksa begini? Aku terpaksa harus cepat menikah karena dikejar-kejar dia. Padahal aku belum mau menikah. Aku masih ingin berkarier dulu. Aku masih ingin menyekolahkan Hilmy sampai selesai kuliah. Aku takut kalau aku menikah, aku tidak bisa membantu sekolah Hilmy lagi karena harus mengurus keluargaku sendiri.”
“Artinya, kau menginginkan suami yang mapan yang bisa menopang kehidupanmu dan Hilmy?”
Fairy tersenyum. “Mungkin begitu.”
“Yah, memang. Pria seperti Suryo itulah pria yang sudah memiliki segalanya. Tapi sayang, ia juga sudah punya istri.”
“Sayang sekali memang.”
“Jujur saja, kau mencintainya, kan?”
“Kalau dia belum berkeluarga, ya.”
Prita geleng-geleng kepala. “Fairy… Fairy…. Jadi perempuan memang sulit. Kalau sudah jatuh cinta, susah untuk berpaling. Masalahnya, kamu jatuh cinta dengan lelaki yang salah. Suryo bukan lelaki baik-baik. Dia ingin menguasaimu karena nafsu. Dia tidak peduli dengan perasaan istrinya. Dia bahkan mengancam akan ‘main’ dengan banyak wanita kalau kau tidak mau menerimanya.”
“Dia sudah melakukannya. Dia sudah sering melakukannya.”
“Dia sudah sering melakukannya?” Prita tak percaya. “Lalu bagaimana kau masih mencintainya?”
“Entahlah. Sudahlah, Prit. Doakan saja aku supaya tidak tergoda rayuannya lagi. Aku benar-benar harus bertemu dengannya dan mengatakan bahwa aku tidak mencintainya. Sekarang aku takut ke rumahnya, bertemu Bu Sasti dan Ratri. Mereka pasti sangat membenciku.”
“Bu Sasti belum tahu kalau kau ada hubungan dengan suaminya?”
“Mana berani aku bilang. Aku dan Bu Sasti sudah seperti ibu dan anak. Dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Ternyata, aku merusak kebahagiaan rumah tangganya. Aku yang dia pikir gadis muda tanpa dosa!”
Prita menggenggam tangan Fairy. “Jangan terus menerus menyalahkan dirimu, Ry. Bersabarlah dan berdoalah agar Pak Suryo menjauhimu.”
***

 Sebelumnya: Hati Bidadari Bagian 1

                       Hati Bidadari Bagian 2

 Berikutnya: Hati Bidadari Bagian 4

 

 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...