Thursday, November 15, 2012

Hati Bidadari Bagian 4


MENGAPA ADA TANGIS?




SMA 60, Jakarta.
Ratri mengeluarkan kantong plastik berwarna putih dari dalam laci mejanya saat  melihat Hilmy datang. Ia sudah menunggu Hilmy dari tadi untuk menyerahkan kantong plastik itu kepadanya.
“Hilmy!” panggilnya, kencang.
Hilmy menoleh. Seorang gadis yang kerap membuat wajahnya merah itu tersenyum manis. Kejutan sekali. Pagi-pagi gadis itu sudah datang menemuinya.
“Eh, Ratri. Ada apa?” tanyanya, grogi.
Ratri menyodorkan kantung plastik itu kepada Hilmy. “Ini dari Ibu, buat Kak Fairy. Ibu membelinya di Pasaraya minggu lalu. Sebenarnya mau Ibu kasihkan sendiri ke Kak Ry, tapi Kak Ry sudah nggak pernah ke  rumah. Kak Ry sekarang sibuk, ya?”
“Nggak juga, sih. Jadwalnya masih seperti biasa. Seminggu masuk pagi, seminggu masuk malam. Mungkin belum sempat saja. Nanti kusampaikan ke Kak Ry.”
“Tolong sampaikan, ya. Ibuku kesepian di rumah. Terima kasih!”
Debar di dada Hilmy tak juga berhenti meskipun Ratri telah berlalu. Ah! Gara-gara menjadi perantara antara Ratri dan kakaknya, ia jadi jatuh cinta pada Ratri.
***
Suryo memasuki halaman rumahnya dengan dada berdebar. Sebenarnya, ia masih belum siap menemui Sasti dan menyatakan keinginannya untuk melamar Fairy. Tapi hasratnya sudah tak tertahankan. Mau tidak mau, siap tidak siap, ia harus menemui Sasti dan mengatakan maksudnya itu. Ia sudah siap Sasti mengamuk dan mencakarnya seperti lazimnya para wanita yang marah. Lebih baik kehilangan Sasti daripada Fairy.
Suryo membuka pintu rumahnya. Seorang pelayan menyambutnya dan langsung menawarinya minum. Suryo minta dibuatkan jus jeruk dua gelas. Siapa tahu Sasti haus setelah mengamuk-amuk nanti. Dari pelayannya ia tahu, Sasti ada di taman belakang rumahnya. Ia segera melangkahkan kakinya ke sana.
Wanita itu sedang duduk membelakanginya saat ia sampai di taman belakang rumahnya. Wanita itu sedang melukis. Astaga! Melukis?! Sejak kapan Sasti punya hobi melukis? Aneh. Aneh sekali.
Sasti terkejut melihat suaminya tahu-tahu sudah ada di sampingnya. “Mas Suryo?! Kapan datang?!” tanyanya, tak percaya. Maklum, sudah hampir sebulan Suryo tak pulang. Ia sudah bosan menelepon lelaki itu ke rumah sakit atau kampus tempatnya bekerja. Pasti orang-orang yang menerima teleponnya mengatakan suaminya sedang ke luar. Ia juga bosan menelepon ke telepon genggam Suryo yang tidak pernah diaktifkan. Ia tak tahu kalau nomor ponsel Suryo sudah ganti.
“Baru saja. Sedang melukis apa?” 
“Biasa saja. Hanya pot bunga. Aku baru belajar melukis. Aku pikir aku harus mengisi waktuku dengan kegiatan yang berguna.”
“Bagus itu.”
“Apa kabarmu, Mas? Sudah lama tidak pulang.”
“Baik. Kau sendiri?”
“Baik juga. Alhamdulillah.” Tiba-tiba Sasti ingin menangis. Kenapa ia sekaku ini dengan suaminya sendiri? Seseorang yang pernah menyatu dengannya? Ia merasa perasaannya tak enak.
“Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan,” kata Suryo dengan pandangan menerawang.
Sasti terkesiap. Jangan-jangan… persangkaannya selama ini benar?
“Bicara saja, Mas. Bicaramu itu seperti kamu sedang bicara dengan orang lain saja. Aku kan istrimu.”
Suryo mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan apa yang ia ingin katakan.
“Aku… aku ingin menikah lagi.”
Hening. Tiba-tiba semuanya menjadi hening. Sasti merasa ada yang jatuh di pipinya. Air mata.
“Aku ingin menikah lagi, Sas. Aku minta persetujuanmu untuk menikah lagi.”
Kuas yang dipegang Sasti, jatuh. Semua rasa tak enak di hatinya terjawab sudah. Menikah. Menikah lagi.
“Permisi, Bu, Pak. Ini minumannya,” Pelayan rumah datang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk. Suryo mengambil salah satunya dan meminumnya sampai habis setengah, lalu meletakkan sisanya di meja di sebelah gelas yang satunya lagi yang masih penuh. Pelayan sudah kembali ke dapur.
“Bagaimana jawabanmu, Sas?” tanyanya.
Bibir Sasti bergetar. Tanpa berkata apa-apa, ditinggalkannya Suryo sendiri. 
Menikah! Menikah lagi!
Sasti menangis sekeras-kerasnya. Bantalnya basah oleh air mata. Pintu kamar sudah ia kunci agar Suryo tidak menyusulnya masuk ke dalam kamar. Ia benci suaminya! Benci sekali! Persangkaannya selama ini benar! Suaminya punya tambatan hati lain! Ya Tuhan! Apa yang kurang darinya?!
Sasti tak percaya. Suryo yang baik itu begitu mudahnya mengatakan ingin menikah lagi. Seakan-akan mereka tidak pernah mencintai satu sama lain. Sudah hilangkah cinta yang mereka jalin selama dua puluh dua tahun ini?!
Sasti menangis. Tak ada yang menghentikan tangisnya selain kelelahan.
“Bapak? Kapan pulang, Pak?” tanya Ratri ketika mendapati bapaknya sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Ia langsung mencium tangan bapaknya, takjim.
“Barusan.”
“Sudah bertemu Ibu?”
“Sudah.”
“Sekarang Ibu di mana?”
“Di kamar.”
“Di kamar?” Kening Ratri berkerut. Aneh sekali. “Bapak kok lama nggak pulang? Sebenarnya pekerjaan Bapak itu apa, sih? Kok ya nggak pulang-pulang?” Ratri melemparkan pertanyaan yang sudah lama ingin ditanyakan.
“Banyak, Tri. Banyak. Bapak nggak sempat pulang. Bapak kan harus praktek di rumah sakit terus mengajar di kampus. Jarak dari rumah sakit ke sini kan jauh. Bapak bisa terlambat.”
“Terus, Bapak tidur di mana?”
“Ya di rumah sakit. Bapak kan punya kamar di sana.”
“Tapi mbok ya jangan jarang pulang to, Pak. Kasihan Ibu.”
“Iya, Sayang. Sekarang Bapak pulang, kan?”
“Kok Ibu malah di kamar, ya? sebentar Ratri panggilkan ya, Pak!”
“Jangan, Rat!” Suryo mencegah, “Pamitkan saja. Bapak mau ke kampus. Masih ada kuliah.”
Ratri mendengus. “Ya… Bapak…! Bagaimana, sih? Ya sudah, deh!” Diciumnya kembali tangan sang Bapak sebelum beliau pergi meninggalkannya berdua saja dengan ibunya.
***
Fairy terkesiap saat Hilmy menyodorkan kantung plastik putih kepadanya.
“Dari Bu Sasti,” ucap Hilmy, singkat. Fairy tak bergerak. Ia tak percaya mendengarnya. Bu Sasti? “Kok diam aja, Kak? Bajunya bagus-bagus, lho! Bu Sasti baik banget, ya. Masih sering ngasih baju ke Kakak. Bu Sasti minta Kakak berkunjung ke rumahnya.”
Fairy masih bergeming. Tangannya gemetar saat akan membuka kantung plastik itu. Benar saja. Isinya baju-baju bagus yang hanya dibeli dari mal mahal. Aneh. Kalau Bu Sasti masih memberikannya hadiah-hadiah mahal seperti ini, berarti Suryo belum cerita tentang….
“Kak! Kalau mau ke sana, bilang ya? Ntar Hilmy anterin!” kata Hilmy, lagi.
Jantung Fairy berdebar kencang. Tidak…! Tidak mungkin! Ia tak berani lagi datang ke sana!
“Kak!”
“Iya, iya!” sahut Fairy, ketus.
Hilmy heran. “Kenapa sih, Kak? Nggak suka dengan hadiah-hadiah Bu Sasti?”
“Suka. Kakak cuma merasa bersalah karena sudah lama nggak ke sana,” jawab Fairy sambil membawa kantung plastik itu masuk ke kamarnya.
***
“Kalau Bu Sasti masih memberikanmu hadiah, berarti dia belum tahu kalau kamu dan Suryo ada hubungan,” jawab Prita saat Fairy menanyakan kenapa Bu Sasti masih memberikannya hadiah.
“Aku pikir juga begitu. Aku bersyukur sekali karena Suryo belum menceritakan apa-apa kepadanya. Mau ditaruh di mana mukaku…?”
“Lalu, apa kau ingin berkunjung ke rumah Bu Sasti sesuai dengan permintaannya itu?”
“Menurutmu?”
“Sebaiknya kautanyakan saja dulu kepada Suryo. Sudah atau belum dia mengatakan keinginannya itu kepada istrinya.”
“Ya, kau benar. Sekaligus aku akan mengatakan bahwa aku tidak mau menikah dengannya. Kau lihat sendiri kebaikan Bu Sasti seperti apa. Setiap dia pergi ke mana pun, dia pasti mengingatku. Dia selalu membelikanku hadiah-hadiah yang mahal. Semua itu dilakukannya karena dia sudah menganggapku anaknya sendiri. Aku tidak tega menyakitinya.”
“Meskipun kau memang benar-benar mencintai suaminya?”
“Mungkin sekarang aku hanya sedang dikuasai hawa nafsu. Di otakku hanya ada Pak Suryo. Padahal masih banyak laki-laki yang lebih baik daripada dia.”
“Ya, benar. Apalagi kau masih muda,  Ry. Kau bisa mendapat laki-laki yang lebih baik yang lebih pantas menjadi suamimu.”
Fairy tersenyum samar.
***
Hari sudah malam. Ratri heran karena ibunya tidak juga ke luar kamar dari tadi siang. Diketuknya pintu kamar ibunya, namun tidak ada jawaban.
“Bu…? Ibu…? Ini Ratri, Bu. Ibu sudah makan?”
Tidak juga ada jawaban. Ratri memutar knop pintunya. Terkunci.
“Bu! Makan dulu, Bu! Ibu kenapa, sih? Kok nggak ke luar kamar dari tadi?” tanyanya dengan suara lebih keras. Di dalam, Sasti buru-buru menghapus air matanya. Dari tadi siang ia terus menangis. Tapi Ratri tak boleh melihat tangisannya itu, apalagi mengetahui apa yang sedang terjadi antara ibu dan bapaknya.
“Ibu malas makan, Nduk. Kamu saja duluan,” jawabnya, pelan.
“Kenapa, Bu? Ibu jangan begitu, dong. Nanti Ibu sakit. Ibu kena apa, sih?”
“Ibu hanya malas makan saja. Sudah. Tinggalkan Ibu sendiri!” suruh Sasti.
Ratri menghela napas. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan ibunya. Jangan-jangan… ini ada kaitannya dengan kedatangan Bapak tadi siang.
***
“Saya memang belum mengatakan kepada Sasti bahwa kamulah perempuan yang akan saya nikahi,” jawab Suryo saat Fairy mengajaknya bicara mengenai hal itu.
“Syukurlah. Sebaiknya rencana Bapak itu dibatalkan saja.”
“Kenapa? Saya hanya belum menemukan waktu yang tepat. Sasti langsung masuk ke dalam kamar sehingga saya tak sempat bicara panjang lebar dengannya.”
“Pak! Saya tidak mau menyakiti hati Bu Sasti!”
“Saya tahu kamu akan bicara begitu, Ry! Saya tidak peduli!”
“Tapi saya peduli! Bapak tahu, kemarin Ibu Sasti memberikan saya hadiah beberapa potong pakaian. Sebelumnya Ibu Sasti juga sering memberikan saya hadiah. Beliau terlalu baik untuk saya. Saya tidak mau menyakiti hatinya, Pak!”
“Saya bisa memberikanmu lebih banyak dari apa yang dia berikan kepadamu!”
“Bukan soal itu!” Fairy melotot. Rasanya tak sabar menghadapi laki-laki yang satu ini. “Bukan soal materinya. Ini soal perasaan. Bu Sasti menganggap saya seperti anaknya sendiri. Dia tidak tahu kalau anaknya itu ternyata merebut suaminya sendiri. Alangkah berdosanya saya, Pak….” Fairy tertunduk. Air matanya mau jatuh lagi.
“Saya pun sebelumnya menganggapmu anak saya sendiri, Ry. Tapi kenyataan berkata lain. Saya jatuh cinta kepadamu.”
“Jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Pak. Saya akan mengatakan yang sejujurnya kepada Bapak. Saya tidak mencintai Bapak. Saya tidak ingin menikah dengan Bapak!”
Suryo tertegun. Bohong! Apa yang didengarnya barusan itu pasti bohong!
“Tidak, Ry. Kamu hanya kasihan sama Sasti.”
“Terserah Bapak mau bilang apa. Saya tidak akan menikah dengan Bapak! Itu tidak mungkin!” Fairy berlalu meninggalkan Suryo sendiri.
Suryo tertunduk. “Tidak, Ry. Tidak mungkin.”
***
Ratri menatap wajah ibunya yang pucat. Setelah berusaha keras memaksa ibunya agar ke luar kamar, akhirnya ia berhasil. Sekarang ibunya mau duduk di meja makan untuk makan bersamanya. Yah, meskipun ibunya hanya makan sedikit. Sedikit sekali.
Ratri menggenggam tangan ibunya. “Ibu kenapa, sih? Kok Ibu jadi aneh begini?” tanyanya, lembut.
Sasti tak menjawab. Pandangannya nanar. Ia masih berharap apa yang dikatakan Suryo kemarin bukan kenyataan.
“Bu… tolong jangan bikin banyak pertanyaan di hati Ratri, dong. Kenapa Ibu begini? Apa ini karena Bapak?”
Sasti terkesiap. Ditariknya tangannya cepat-cepat dari genggaman tangan Ratri. “Tidak! Tidak kenapa-napa!”
“Ratri tahu Ibu marah karena Bapak jarang pulang. Ratri juga marah kok kemarin. Bapak itu benar-benar keterlaluan. Sibuk ya sibuk. Tapi nggak usah pake jarang pulang begitu, dong. Bapak bilang selama ini Bapak tidur di rumah sakit, Bu.”
Sasti diam tak menanggapi ucapan Ratri barusan. Ratri bingung lagi.
“Ibu…?”
“Sudahlah, Rat! Jangan bicara apa-apa dulu, ya. Ibu sedang malas bicara!” Sasti berlalu meninggalkan meja makan.
“Bu! Makanan Ibu belum habis!” seru Ratri, tapi Sasti sama sekali tak menghentikan langkahnya.
***

 Sebelumnya: 

2 comments:

  1. Hey therе! I know this is κіnԁa off topіc howeνer , I'd figured I'd
    ask. Wоuld you be intereѕted in trаding links оr maybе guest writing a blog artіcle or
    vice-vеrsа? My sіte covers a lot of the
    ѕamе topics аs уоurѕ and I
    bеlievе we coulԁ greatly benefit from
    each other. If you аre interested fееl free to
    shoot me an e-maіl. I look forωard tο hearing from yοu!
    Wonderful blοg bу the way!
    Feel free to visit my blog ... CNA

    ReplyDelete
  2. saya mau dong mba beli bukunyaa... sy bisa beli/pesan dmn?? terimakasih atas perhatiannya.. ;)
    -devi-
    deviharleyana@gmail.com

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...