Friday, November 9, 2012

Ketika Ibu Rumah Tangga Mengidap HIV/AIDS

Gambar dari sini

Setiap kali mendengar kata HIV/AIDS, kita langsung berpikir bahwa penyakit itu adalah penyakit “kotor” yang mengerikan, belum ada obatnya, dan diidap oleh orang-orang yang bergelimang maksiat, seperti pekerja seks komersial, homoseksual, dan pemakai narkoba jarum suntik. Namun, pernahkah terpikir bahwa ibu rumah tangga yang sehari-hari berada di rumah dan tidak berhubungan seks dengan lelaki lain selain suaminya, ternyata juga bisa mengidap HIV/AIDS? Disebut penyakit “kotor,” karena salah satu penularannya melalui hubungan seksual yang bebas alias bergonta-ganti pasangan. Akibat pengetahuan kita yang terbatas itu, kita pun secara sadar bersikap antipati terhadap pengidap HIV/AIDS. Kita memperlakukan mereka dengan buruk, berupa pengisolasian bahkan  pengusiran. Kita takut tertular, seakan-akan penyakit itu dapat dengan mudah ditularkan melalui udara sebagaimana penyakit flu.


HIV (Human Immudeficiency Virus), adalah virus yang dapat melemahkan kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS(Acquired Immune Deficiency Virus), adalah kumpulan dari gejala dan infeksi, atau sindrom yang disebabkan oleh rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat serangan virus HIV. AIDS merupakan bentuk terparah akibat infeksi HIV. Virus HIV ditularkan melalui kontak langsung antara aliran darah dengan cairan tubuh yang di dalamnya terkandung virus HIV, di antaranya darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Sampai saat ini, virus HIV dan penyakit AIDS belum dapat diobati, kecuali hanya diperlambat perkembangan virusnya saja, tetapi pengidapnya atau ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) tetap dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.

Itulah mengapa, sebagian besar masyarakat tidak mau berhubungan dengan ODHA, karena khawatir tertular dan tidak dapat diobati. Terlebih, penyakit yang ada obatnya ini dapat menyebabkan kematian, sebagaimana penyakit kanker. Laju perkembangan penyakit ini pada tubuh ODHA tidak sama, antara dua minggu sampai dua puluh tahun, tergantung kekuatan tubuh ODHA. Apabila ODHA dapat menjaga tubuhnya agar tidak mudah sakit, maka ia dapat hidup lebih lama meski telah mengidap HIV/AIDS.

Yang memprihatinkan, saat ini pola penularan penyakit HIV/AIDS telah mengalami pergeseran dari kelompok tertentu ke kelompok umum. Jika sebelumnya penularannya hanya berkisar antara pekerja seks komersial dan pengguna narkoba jarum suntik, kini masyarakat umum yang tidak berhubungan dengan kelompok tersebut pun dapat mudah terkena. Ini disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap HIV/AIDS dan rendahnya cakupan perawatan di Indonesia. UNAIDS (United Nation Programme in HIV and AIDS) memperkirakan ada 542.248 orang Indonesia yang sudah terinfeksi HIV sampai tahun 2012.
 
Pengobatan terhadap ODHA sangatlah penting, untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. Mereka harus meminum obat ARV (antiretroviral), selain dapat membuat mereka hidup selayaknya orang normal dan sehat, juga dapat menurunkan risiko penularan hingga 97 persen, meskipun tetap saja harus menggunakan pengaman saat berhubungan seksual.

90% penularan HIV/ AIDS disebabkan oleh hubungan seksual yang bebas/ berganti-ganti pasangan dan tidak terlindungi dengan pemakaian kondom. Menurut Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, tingginya penularan HIV/ AIDS di Indonesia diakibatkan oleh banyaknya pria dewasa yang memelihara kebiasaan belanja seks dan kurangnya penggunaan kondom. Dari 240 juta penduduk Indonesia, sebanyak 3,1 juta pria membeli seks. Bisa dibayangkan bagaimana bila pria itu terkena HIV/AIDS, kemudian menikah dengan wanita yang sehat. Wanita itu dapat tertular HIV/AIDS, dan kemudian menularkannya pula kepada anak yang dikandungnya.

Ironisnya, kini penularan HIV/AIDS kepada ibu rumah tangga menduduki posisi kedua setelah penularan pada kelompok karyawan. Di Ibukota Jakarta, menurut survey Surveilans Epidemiology HIV/ AIDS Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dari total perempuan yang positif terkena HIV, posisi terbanyak masih diduduki oleh ibu rumah tangga, sebesar 55%, baru kemudian pekerja seks komersial dan karyawati. Tentu kita bertanya, bagaimana bisa seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari berdiam di rumah dan hanya melakukan hubungan seks dengan suaminya seorang, terkena HIV/AIDS, bahkan menduduki posisi terbanyak kedua?

Rohana Manggala, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta menjawab, “Mayoritas penularan HIV Ibu Rumah Tangga berasal dari suaminya sendiri yang kerap melakukan transaksi seks tidak aman.”

Sungguh, ini tamparan keras buat kita. Seorang ibu yang tertular HIV, kelak akan menularkannya pula kepada anak yang dikandungnya. Penularan itu terjadi saat di dalam kandungan, proses persalinan normal, dan pemberian Air Susu Ibu (ASI). Apabila ibu hamil yang tertular virus HIV, tidak menyadari bahwa dirinya tertular dan tidak melakukan pencegahan agar tidak menulari bayinya, sudah dapat dipastikan bayinya pun akan tertular virus HIV. Pencegahan agar bayi tidak tertular virus HIV dilakukan dengan mengkonsumsi obat ARV selama hamil, melakukan persalinan dengan operasi Caesar, dan tidak menyusui bayinya dengan ASI.

Penularan kepada seorang ibu berdampak besar bagi kelangsungan generasi penerus. Bukan saja dapat melahirkan anak-anak yang terinveksi virus HIV, tetapi juga menghilangkan peluang bayi mendapatkan Air Susu Ibu. Bayi terpaksa meminum susu formula sejak lahir sebagai salah satu upaya pencegahan penularan HIV. Padahal, sebagaimana yang kita ketahui bahwa ASI sangat penting untuk bayi dan kandungannya jauh lebih baik daripada susu formula. Apa jadinya generasi penerus kita ke depannya, bila banyak ibu tertular virus HIV?

Oleh karena itu, perlu lebih digalakkan lagi sosialisasi pencegahan penularan HIV/ AIDS, terutama kepada para suami yang masih suka “belanja seks.” Diharapkan ada kesadaran dari mereka untuk memikirkan dampak ke depan dari kesenangan sesaat. Seorang suami yang tertular virus HIV, bukan saja berdampak kepada dirinya sendiri, melainkan juga kepada istri dan anak-anaknya kelak. Alat pengaman semacam kondom, disebutkan dapat mencegah penularan virus HIV, namun ada tiga kata yang lebih dapat mencegah penularan virus HIV: Setia Kepada Pasangan.

Ya, setia. Itu adalah kunci utama pencegahan penularan virus HIV dari suami kepada istri. Pernikahan semestinya tidak dinodai oleh pengkhianatan suami terhadap istri, yaitu berhubungan seks dengan wanita lain. Hubungan seks bebas, perselingkuhan, atau apa pun namanya, selain tidak dibenarkan oleh agama dan norma sosial, juga membawa konsekuensi besar, baik untuk keutuhan rumah tangga maupun penularan HIV/ AIDS. 

Sumber:






11 comments:

  1. semakin hebat saja ya aids sekarang

    semoga keluarga kita tidak ada yg terkena aids ya mbak leylahana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... semoga kita semua terhindar dari penyakit ini ya, Mas. Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Wah rajin sekali ngontesnya mbak Leylahana ini...
    Makin memperluas ilmu saja ya...
    Semoga sukses dgn event ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba Niken... lagi tertantang ikut lomba blog, sekaligus banyak dpt ilmu.
      Makasih komentarnya ya.
      Aamiin.. :)

      Delete
  3. Benar sekali, Mbak, kesetiaan itu memang segalanya dalam menjalin sebuah hubungan. Bila ternoda, ada akibat yang tidak ringan sebagai konsekuensinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas Azzet.
      Satu istri seharusnya sudah cukup, ya :)

      Delete
  4. saya terharu baca tulisan mbak Leyla. terima kasih untuk mengangkat isu perempuan dan HIV. sebagai perempuan yang hidup dengan HIV saya merasa perlu untuk berbicara lebih banyak kepada kawan dan teman tentang bagaimana pencegahan dan penularan HIV, supaya mereka pada akhirnya dapat melindungi diri dari infeksi HIV.

    Salam kenal Mba Leyla..

    ReplyDelete
  5. mba leyla ini baguuuuus kok......aku malah nulis gak pake referensi. wkwkwkwk...kacau deh akyu:)

    ReplyDelete
  6. Wah ngeri jg ya mba.ibu rt yg baik2 kalo suaminya macem2 malah berisiko tinggi :((

    ReplyDelete
  7. sodaraku tapi berhasil punya dua orang anak yang sehat, tidak tertular virus hiv aids loh..

    ReplyDelete
  8. Or, are we looking at a deliberate oversight here which allows certain individuals to profiteer greatly from wildly inaccurate testing kits and unnecessary pharmaceutical drugs..?
    http://www.easeofmobility.com/best-mobility-scooters-guide/

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...