Wednesday, November 14, 2012

Mari Menjadi Bangsa Mandiri


Apa yang Anda pikirkan saat melihat foto-foto di bawah ini:
Gambar dari jakartahiddentour
Gambar dari jakartahiddentour

Foto-foto di atas adalah sebagian potret kemiskinan di Jakarta, ibukota Negara Republik Indonesia. Jika Anda mau berjalan-jalan ke Jakarta dengan menggunakan Kereta Listrik dan transportasi umum, Anda akan dengan mudah melihat  pemandangan seperti di atas. Ironis, karena daerah yang menjadi pusat pemerintahan dan tentunya dekat dengan pengambil keputusan, masih didapati warga miskin yang tinggal di rumah tidak layak pakai, bahkan tidak punya rumah. Perumahan kumuh berdampingan dengan gedung-gedung pencakar langit, menjadi pemandangan yang biasa saja. Tak mengganggu citra sebuah ibukota negara yang semestinya menampakkan kemakmuran dan kesejahteraan, setidaknya di ibukotanya.


Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia sampai bulan Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang atau 11, 96 % dari total penduduk Indonesia. Dari semua daerah di Indonesia, predikat daerah termiskin di Indonesia dipegang oleh Papua. Menurut Sensus Nasional BPS 2010, ada 10 provinsi termiskin di Indonesia yaitu: Papua Barat, Papua, Maluku, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Bangka Belitung, Gorontalo, Sumatera Selatan.  Yang dimaksud dengan penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Sedangkan angka garis kemiskinan pada Maret 2010 adalah Rp 211. 725 per kapita per bulan.[1]

Anak-anak terlantar di Papua.
Gambar dari hizbuttahrir.org

Sungguh ironis bila Papua menduduki peringkat pertama daerah termiskin di Indonesia, sebab TAMBANG EMAS terbesar di dunia justru berada di Papua. Ya, tambang emas Grasberg, yang dimiliki oleh PT Freeport Mc Moran-Copper and Gold di Papua ini berada di urutan pertama tambang emas terbesar di dunia, dilihat dari luas area dan produksi per tahunnya. Tambang emas berlokasi di dekat pengunungan Jayawijaya ini, telah memproduksi sekitar 40.036 Kg emas, per akhir tahun 2011.[detik.com]Jika melihat harga emas yang terus naik, semestinya hasil bumi ini dapat memakmurkan minimal rakyat Papua, sebagai pemilik tanah Papua. Tetapi, kenyataannya, Papua justru menjadi daerah termiskin di Indonesia. Mengapa?

Tambang Emas PT Freeport Indonesia
Gambar dari sini

Sebagian saham PT Freeport Indonesia dipegang oleh Freeport Mc Moran Copper and Gold Inc, USA (United Stated of America) sebesar 81,28%. Sedangkan Pemerintah Indonesia hanya memegang saham sebesar 9,36%.[wikipedia.org] Ini artinya, 80% keuntungan PT Freeport Indonesia mengalir ke USA. Tak heran bila warga Papua memberontak dan membuat kerusuhan di sekitar Freeport, hingga ada yang terbunuh. Mereka hanya mencoba mempertahankan sumber daya alam miliknya dari penjajah asing.  

Selain memiliki tambang emas terbesar di dunia, Indonesia juga menyimpan banyak sumber daya alam. Tanah Indonesia sangat subur, sehingga sekalipun kita hanya melemparkan sebatang kayu, kayu itu bisa tumbuh menjadi tanaman yang bermanfaat. Ya, kayu itu adalah batang singkong. Umbinya dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, daunnya pun bisa dimakan.

Sektor pariwisata Indonesia adalah salah satu kekayaan negara ini yang juga patut dibanggakan. Indonesia memiliki banyak destinasi tempat wisata yang indah dan memberikan sensasi berwisata yang tak terlupakan. Sebutlah salah satunya, Teluk Kiluan, di Lampung, tempat ratusan ikan lumba-lumba bermigrasi. Di Teluk Kiluan, kita dapat melihat ratusan lumba-lumba meloncat-loncat, timbul tenggelam, saling menunjukkan diri di hadapan wisatawan.

Tarian Lumba-Lumba di Teluk Kiluan
Gambar dari sini

Sayangnya, hanya sedikit destinasi wisata di Indonesia yang dikelola dengan baik sehingga menarik minat para wisatawan domestik dan internasional, di antaranya Bali, yang amat terkenal di dunia. Sisanya dibiarkan terbengkalai dan tidak memberikan nilai kemanfaatan bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Semestinya bila sektor wisata dikelola dengan baik, keuntungannya dapat dinikmati oleh warga yang tinggal di sekitar tempat wisata, itu berarti meningkatkan pendapatan penduduk.


Sumber daya alam yang melimpah itu, juga disertai dengan sumber daya manusia yang banyak. Jumlah penduduk Indonesia mencapai 245 juta jiwa pada tahun 2012. Dari jumlah itu, jumlah angkatan kerja 120,41 juta orang, jumlah penduduk yang bekerja 112, 80 juta orang, dan jumlah pegangguran 7, 61  juta orang. Dengan jumlah penduduk yang bekerja mencapai 112, 80 juta orang, ditambah sumber daya alam yang melimpah, semestinya Indonesia bisa menjadi negara maju, lebih maju dari Singapura, negara yang luar daerahnya tidak lebih besar daripada Bandung, ibukota Provinsi Jawa Barat.

Ironisnya, pendapatan per kapita Singapura justru jauh lebih besar daripada Indonesia. Negara yang hanya memiliki luas 699 kilometer persegi dan jumlah penduduk 4,75 juta jiwa ini, memiliki Pendapatan Domestik Bruto Per Kapita $ 52.840 atau 450 juta per tahun.[vivanews]  Bandingkan dengan Indonesia yang jauh lebih luas, lebih banyak sumber daya alamnya mulai dari sektor pertambangan, pertanian, hingga pariwisata, dan lebih banyak jumlah penduduknya. Pendapatan per kapita Indonesia hanya 30, 8 juta per tahun. [Inaplas.org]

Singapura, salah satu negara maju di Asia Tenggara
Gambar dari myopera.com

Kesuksesan Singapura dicapai melalui:

  1. Tekad dan Kerja Keras Rakyatnya
  2. Pendidikan yang berorientasi pada minat dan bakat siswa, sehingga mengembangkan potensi anak
  3. Semangat Nasionalisme
  4. Peran Pemerintah dalam Mengembangkan Sektor Jasa dan Keuangan
  5. Kurikulum yang berorientasi pada semangat wirausaha, inovasi, kreasi, dan kemampuan berkompetisi

Mari kita bandingkan poin-poin di atas dengan kondisi di Indonesia:

Tekad dan Kerja Keras Rakyatnya
Rakyat Singapura bekerja dari pagi hingga tengah malam. Mereka memiliki semangat kerja yang tinggi. Peran Perdana Menteri Singapura yang pertama, Lee Kuan Yew, yang terus memupuk semangat kerja keras rakyatnya, juga sangat besar. Mobilitas rakyat Singapura sangat tinggi. Segala potensi mereka maksimalkan mengingat mereka tidak memiliki sumber daya alam yang maksimal. Bandingkan dengan di Indonesia. Masih banyak terdapat pengangguran di Indonesia, dengan jumlah 7, 61 juta orang. Terlebih di jalan-jalan mudah kita temui pengemis dan pengamen yang mencari uang dengan jalan meminta-minta. Tak ada semangat bekerja yang lebih mulia, bahkan mungkin menjadi pengemis sudah diartikan sebagai salah satu pekerjaan.

Pendidikan yang Berorientasi pada Minat dan Bakat Siswa, sehingga mengembangkan potensi anak
Anak-anak Singapura masuk SD pada umur 7 tahun dan belajar selama enam tahun. Hanya ada 4 pelajaran yang diajarkan di SD, yaitu Bahasa Inggris, Matematika, Sains, dan Bahasa Ibu. Bandingkan dengan pelajaran SD di Indonesia yang begitu banyak dan padat. Otak anak Indonesia dijejali dengan berbagai macam pelajaran, sampai-sampai tak ada yang diingatnya.

Setelah lulus SD, anak-anak Singapura melanjutkan ke  Sekolah Menengah selama empat tahun. Ada banyak pelajaran yang ditawarkan. Anak-anak memilih pelajaran mana yang ingin mereka pelajari. Tidak dipaksa untuk mempelajari semuanya. Tidak semua anak masuk ke Sekolah Menengah. Ada yang memilih melanjutkan ke Pendidikan Vokasi, pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian tertentu. Kemudian mereka melanjutkan ke Junior College dan Universitas [8]. 

Jelasnya, sejak lulus SD, anak-anak Singapura dibebaskan memilih mau melanjutkan ke mana, sesuai dengan minat dan bakatnya. Tidak dipaksakan untuk mengambil jurusan tertentu. Tidak seperti di Indonesia. Para orang tua lebih bangga jika anaknya dapat masuk jurusan IPA atau Sains, padahal tidak semua anak memiliki minat, bakat, dan potensi di bidang Sains. Jika ditanya apa cita-citanya, banyak anak Indonesia menjawab “ingin jadi dokter.” Otomatis, orang tua mengarahkan ke jurusan Sains. Anak-anak yang dipaksa mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya, kelak akan bekerja dengan tidak semangat, tidak termotivasi, dan hanya untuk bertahan hidup.

Semangat Nasionalisme
PM Lee Kuan Yew juga menanamkan semangat nasionalisme pada diri rakyat Singapura, agar mereka bangga terhadap produk dan hasil karya bangsa sendiri. Bandingkan dengan Indonesia yang lebih bangga dengan produk buatan luar negeri. Tak ayal, pendapatan rakyat Indonesia lebih banyak mengalir ke luar negeri, contohnya, membeli tas-tas, baju, dan sepatu bermerk berharga ratusan juta dari produsen luar negeri, membeli makanan luar negeri, dan lain sebagainya. Kita tidak sadar, setiap rupiah yang kita keluarkan untuk  membeli barang produksi luar negeri, akan mengalir ke kantong negara produsen dan merugikan negara kita. Padahal, banyak barang hasil  buatan dalam negeri yang tidak kalah bagus. 

Peran Pemerintah dalam Mengembangkan Sektor Jasa dan Keuangan
Berhubung Singapura tak memiliki sumber daya alam yang melimpah, maka pemerintahnya mengoptimalkan usaha jasa dan keuangan sebagai sumber pendapatan devisa. Salah satunya adalah usaha jasa kesehatan. Rumah sakit di Singapura terkenal kualitasnya, bahkan banyak orang kaya Indonesia yang berobat ke Singapura. Wisata kesehatan di Singapura ini dimanfaatkan benar oleh Pemerintah Singapura. Mereka terus meningkatkan kualitas rumah sakit agar jumlah wisatawan kesehatan pun meningkat. Negara Indonesia kehilangan devisa mencapai Rp 20 triliyun per tahun,[giewahyudi.com] yang mengalir ke Singapura dari usaha jasa kesehatan itu.  Singapura juga mengembangkan wisata belanja dan perjudian, untuk menarik devisa dari warga negara asing. 

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagaimana kita lihat sendiri. Belum ada upaya maksimal dari pemerintah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang melimpah di Indonesia.  Bahkan, masih banyak obyek wisata yang terbengkalai. Sumber daya alamnya pun diambil alih oleh pihak asing, seperti tambang emas di Papua. Beberapa kali, warisan bangsa Indonesia diakui oleh negara lain, diantaranya batik, tempe, reog, dan lain-lain, akibat kurang cepatnya pemerintah mengurus hak paten. Seandainya potensi yang ada Indonesia dimaksimalkan sedemikian rupa, niscaya Indonesia menjadi negara yang jauh lebih maju daripada Singapura. 

Kurikulum yang Berorientasi pada Semangat Wirausaha, Inovasi, Kreasi, dan Kemampuan Berkompetisi
Di Indonesia, kesalahan cara berpikir ini masih mengakar, yaitu:

Bekerja itu adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil
Setiap kali dibuka penerimaan CPNS, berbondong-bondong angkatan kerja yang mengikuti seleksi. Bahkan tak masalah bila harus “membayar” agar bisa menjadi PNS. Banyak rakyat Indonesia yang bangga bila berhasil menjadi PNS, sebab menjadi PNS adalah pekerjaan yang menjanjikan dan menjamin masa tua, dengan tanggungan pensiun. Ada orang tua yang sangat memaksa anaknya agar bisa menjadi PNS. Memang tak masalah jika kita ingin menjadi PNS, tetapi pekerjaan bukan hanya sebagai PNS. Tak perlu frustasi bila tak menjadi PNS. Apalagi, bila menilik namanya, Pegawai Negeri Sipil adalah pelayan rakyat, pekerjaan yang gajinya berasal dari pajak rakyat. Dari puluhan ribu yang mendaftar, hanya ratusan yang lolos seleksi. Lalu, bagaimana nasib yang tidak lolos? Apakah masih terus berharap menjadi PNS?

Berbondong-bondong merebut kursi PNS
Gambar dari danitheking.blogspot.com

Bekerja itu adalah menjadi Karyawan Kantor
Jika gagal menjadi PNS, orang tua berharap anaknya bekerja di kantor menjadi karyawan swasta. Tak mengapa gaji kecil, asalkan menjadi pegawai tetap dan mendapat gaji bulanan. Padahal, lapangan pekerjaan di Indonesia tak sebanding dengan jumlah angkatan kerjanya. Itulah mengapa tercipta pengangguran, yang tak mengisi waktunya dengan kegiatan produktif dan lebih suka mencari pekerjaan di kantor-kantor.

Membuat Usaha Sendiri? Pekerjaan Apa Itu?  
Ketika seorang anak yang telah memasuki usia produktif, berinisiatif ingin membuka usaha sendiri daripada menjadi karyawan, apa tanggapan Anda, para orang tua? Sebanyak yang saya tahu, orang tua tak merasa bangga jika anaknya yang lulusan Sarjana hanya menjadi pedagang. Pekerjaan pedagang dianggap hanya sebagai pekerjaan orang yang tak berpendidikan. Misalnya, seorang lulusan sarjana yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan, lalu berinisiatif berwirausaha dengan berjualan buku atau berdagang makanan, orang tua tak akan menganggap hal itu sebagai pekerjaan, melainkan hanya sampingan sebagai pengisi waktu luang saat menunggu tersedianya lapangan pekerjaan.

Di Singapura, kurikulum pelajarannya memasukkan pelajaran wirausaha. Siswa dibimbing untuk berpikir kreatif, mengembangkan keterampilannya, dan berusaha menciptakan inovasi dalam meramu sumber daya yang ada. Siswa dibimbing untuk menjadi calon entrepreneur, calon wirausahawan. Seorang wirausaha adalah mereka yang  melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup (Prawirokusumo).[carapedia.com] Ketika lulus, mereka tak terpikir untuk mencari pekerjaan melainkan menciptakan lapangan kerja.


Peran BUMN Terhadap Keberhasilan Wirausaha Mandiri 
Pada tahun 2011, jumlah wirausaha di Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduknya. Sedangkan di Singapura mencapai 7% dan di Amerika 11%. Sehingga wajar bila pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat lambat. Sekalipun memiliki sumber daya alam dan manusia yang melimpah, Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Berbeda dengan Singapura yang sudah dikategorikan sebagai negara maju. Untuk itu, diperlukan peran serta pemerintah dalam meningkatkan jumlah wirausaha, memberikan pemahaman kepada generasi muda agar tidak lagi hanya mencari pekerjaan melainkan juga menciptakan lapangan kerja. Melakukan inovasi dengan mengembangkan ide-ide kreatif untuk dijadikan sebagai usaha mandiri. 

Selain pemerintah, diharapkan BUMN dan perusahaan swasta lain juga ikut berkontribusi membangun Indonesia dengan mengadakan program-program yang dapat mendorong wirausaha mandiri.

Ibu Rumah Tangga dan Pekerja Kreatif, Target Selanjutnya?
Kini, banyak wanita usia produktif yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah memiliki anak, agar dapat mengasuh anaknya sendiri secara total. Beberapa di antaranya memiliki keinginan berwirausaha, baik untuk membantu perekonomian rumah tangga maupun mengisi waktu luang. Usaha-usaha rumahan yang dilakukan para ibu rumah tangga, diharapkan juga mendapatkan suntikan modal dan semangat dari Perbankan. Lambatnya kemajuan usaha salah satunya disebabkan kurangnya modal dan pengetahuan mengenai kewirausahaan. Usaha-usaha rumahan itu meliputi; katering dan kue, kerajinan tangan, industri rumahan, dan lain sebagainya. 

Selain ibu rumah tangga, ada juga pekerja kreatif rumahan yang membutuhkan suntikan dana dan semangat dari Pemerintah, BUMN, dan perusahaan-perusahaan swasta lain. Misalnya, ilustrator, penulis buku, filmmaker, dll. 



5 comments:

  1. kalo saya sih setuju setuju saja dengan uraian di atas mbak

    tapi masalah di indonesia tidak serumit singapura, indonesia penduduknya berapa kali lipat singapura, indonesia luas wilayah berapa kali lipat singapura

    mengatur sedikit orang dan sedikit wilayah itu lebih mudah mbak dari pada mengatur banyak orang dan wilayahnya luas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener juga..
      ya paling gak ada usaha untuk memajukan Indonesia, salah satunya dgn program WMM itu.
      Makasih dah mampir, Mas Imam :)

      Delete
    2. Luas suatu negara jangan terlalu dijadikan negara kita susah maju. Lihat saja ga sedikit ko negara yang geografisnya luas tapi bisa maju.

      Peradaban suatu negara banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.

      Delete
    3. Betul juga yaa
      Amerika lebih luas daripada Indonesia, to?

      Delete
  2. yang jelas harus optimis ya mbak.mo luas mo sempit, optimis.karena optimis adalah sodaraan ama khuznudzan.sukses ya mbak ela.(alhamdulillah baby keen lg bobo'.salam cium buat dek salim.:*)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...