Monday, January 7, 2013

Jangan Ambil Anakku


Bayiku, Muhammad Salim Luthfi, kini usianya sudah 3,5 bulan. Lihatlah tingkahnya semakin menggemaskan. Dia sudah mencoba miring-miring ke kiri, dan bahkan berhasil tengkurap. Semula aku merasa tak siap menerima kehadirannya, karena kedua kakaknya masih balita. Tetapi kini aku tak siap bila ditinggalkannya. Sebentar saja kutinggalkan, sudah rindu tak kepalang. Ingin terus kucium dan kepeluk dirinya. Membaui tubuhnya menimbulkan sensasi tak terlukiskan, meskipun dia belum dimandikan. Kadang aku kesal dengan tangisannya yang tak berhenti, terutama bila sedang capai atau masuk angin. Namun, kucoba bersabar dan syukuri kehadirannya. Naluriku sebagai ibu, cenderung mengasihinya dan selalu ingin melindunginya.


Aku dan  putra ketigaku

Kuhapus air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan, kala memandang foto temanku sedang mencium jenazah bayinya. Ya, bayinya yang baru berumur 5 bulan, sudah diambil kembali oleh pemilik-Nya. Seakan Dejavu, mengingatkanku pada kejadian hampir empat tahun silam, saat bayi sahabatku juga diambil oleh Allah di usia 5 bulan. Ah, mengapa aku harus dekat dengan tangis kedua bunda itu, yang notabene sahabatku?


Euis Cholisoh, demikian nama lengkap saudariku, sahabatku selama di kampus Ekonomi, Undip. Kami nyaris selalu bersama-sama, di kos maupun di kampus. Aku menikah lebih dulu, dia menyusul setahun kemudian. Saat dia baru hamil anak pertama, aku sudah hamil anak kedua. Aku mengikuti perkembangan kehamilannya, karena kami masih sering menelepon. Putra sulungnya lahir dengan mudah, namanya hampir mirip dengan nama anak sulungku, Hani. Anak sulungku, Ismail Haniyya.
Aku dan Euis, berfoto saat masih kuliah

Hani, demikian sulungnya dipanggil. Tampan dan menggemaskan. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba Hani sakit! Aku tak berpikir bahwa sakit Hani akan parah. Hanya dua minggu kemudian, suami Euis mengirim sms bahwa Hani meninggal dunia! Innalillahi wa inna lillahi rojiuuun…. Airmataku menderas. Kutelepon Euis, mencoba berbicara, tapi tak bisa. Suaminya memberi kabar bahwa Euis drop, bahkan hilang ingatan. Kami diminta untuk mengirim doa. Ah, ingin rasanya aku memeluk Euis, tapi tempat tinggalnya sangat jauh dengan tempat tinggalku. Dia tinggal di Surabaya, sedangkan aku di Bogor. Dari suaminyalah aku mengetahui kabar Euis. Euis butuh waktu dua bulan untuk memulihkan ingatannya. Dia pula yang meneleponku setelah kesadarannya pulih dan menceritakan kronologisnya.

Hani, rupanya telah menderita penyakit kelainan jantung bawaan sejak dalam kandungan. Penyebabnya tak bisa diprediksikan. Mungkin karena Euis pernah jatuh waktu hamil tiga bulan, mungkin juga karena kelainan genetik.

“Pantas, Hani gampang kedinginan dan tubuhnya membiru kalau mandi kelamaan. Aku gak tau… aku baru tau, tapi sudah terlambat….” Euis berucap dalam isaknya.

Suara putra keduaku terdengar menangis. Euis pun berkata, “aku jadi ingat Hani…. Kalau masih hidup, dia pasti….”

Dan, tiga tahun kemudian, kejadian yang sama terulang kepada sahabat mayaku, Mba Eni Martini. Putra ketiganya, Gibran, juga diambil kembali oleh Allah di usia 5 bulan. Tak sanggup kubayangkan bila kejadian itu menimpaku. Sungguh, mereka adalah bunda yang kuat dan tegar. Euis memang sempat hilang ingatan sepeninggal Hani, tapi dia segera pulih dan memiliki buah hati lagi. Putra keduanya menjadi pelipur lara. Mba Eni lebih cepat bangkit, meski kuamati status-status facebooknya masih kerap bernada sedih, terutama bila teringat Gibran. Ya Allah, sungguh, bagi seorang ibu, kehilangan buah hati adalah musibah yang sangat berat. Teringat saat berat mengandung dan melahirkannya. Teringat kejapan matanya. Teringat celotehannya.

Mba Eni Martini, ketegarannya membuatku berkaca

Hanya sebuah janji dari Allah yang menguatkan mereka, bahwa buah hati yang diambil saat masih bayi dan anak-anak, kelak akan menjadi tabungan di akhirat. Penyelamat orang tuanya dari siksa api neraka. Aaamiin…. Ya, kedekatannya dengan Allah SWT yang membuat kedua sahabatku dapat bangkit dari keterpurukan sepeninggal buah hati mereka. Mereka yakin bahwa Allah lebih sayang kepada buah hati mereka. Tiadalah berputus asa semua insan yang dekat dengan Allah SWT. Setiap ujian dan musibah telah diukur menurut kadar kesanggupan kita.

Maka, sebelum kita merasa problem kita amat berat, berkacalah dahulu dari kisah-kisah orang lain, barangkali mereka memiliki problem yang lebih berat dari kita, dan kemudian membuat kita tersungkur, mengucap syukur  karena ujian yang kita terima tidak lebih berat daripada orang lain. Kalaupun iya, yakinlah bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan, dan setiap ujian adalah peningkatan derajat ketakwaan kita bila kita dapat memaknainya dengan benar.


11 comments:

  1. SAya pernah dalam kondisi nyaris. Ah, rasanya seperti nyaris mbak Leyla, karena suami saya sempat mimpi Athifah "pergi", ada juga satu orang mimpi hal yang sama. Ia diare sampai dirawat di RS (kisahnya itu yang saya tulis di antologi Ketika Buah Hati Sakit).

    Duh, campur aduk rasanya. Alhamdulillah Allah masih menakdirkan dia ada di antara kami. Sekarang dia makin kritis dan ceriwis (waktu sakit itu 2 tahun lalu, di usia 4 tahun)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, mba Mugniar masih diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menjaga Athifah. Anak sakit saja sudah panik ya..

      Delete
  2. Masya Alloh...menggetarkan hati, Bunda..
    rasa kehilangan itu memang berat,
    hanya keikhlasan yang bisa mengobatinya..

    ReplyDelete
  3. Aku udah baca..dari pertama mba ela posting...tapi memang komennya kupending karena hari yg sama jg baca postingan yg bikin nyesekk..nangisss

    ReplyDelete
  4. Nggak tahu mo bilang apa Mbak, rasanya kata "sabar" gitu nggak cukup ya, krn tak semudah yg diucapkan.

    dulu, aja pas Urfa baru lahir, dan baru dibawa pulang, semalam di rumah eeeh dia muntah darah buanyaaaaak...sampai tubuhnya penuh. gemetaran...langsung boyong bw ke UGD, dan hrs membiarkan dia opname selama seminggu di RS. di ruang kusus bayi kan gak boleh ditunggui hanya boleh ngintip dari jendela luar sambil nangis.
    Alhamdulillah, semua tesnya negatif.

    ReplyDelete
  5. Eh...btw..mba ela cantik banget waktu kuliah hihihi...

    ReplyDelete
  6. saya baru mau komen mba Ela cakep di foto itu.. :)
    baca ini saya teringat sahabat saya yang kehilangan buah hatinya krn lahir sblm wktnya. Bahkan dia belum sempat menggendongnya.. :|

    *nyesek..

    ReplyDelete
  7. komen ...
    aku juga ikutan event-nya mbk +Aida kok (ngandeng di belakang mbk Windi yang lagi maen kereta-keretaan ama Bunda Leyla... ituuud , yaaaa...)

    betewe, belum dapet kesempatan menjalani tugas mulia itu pun aku udah merasa kehilangan, Bund...

    ReplyDelete
  8. Makasih untuk semua komentarnya. Duh, gak bisa komen satu-satu karena internetnya dudul.
    Utk komen OOT semacam penulisnya cakep, alhamdulillah memang demikian adanya :)

    ReplyDelete
  9. Salam kenal mba, saya pun baru saja ditinggal anakku, sama seperti Hani anakku pun sakit jantung, dia hanya bertahan 2 minggu dari kelahiran dan wafat 18 sept kemarin, berat sangat..terutama aku belum sempat menggendongnya..tapi mungkin ini yang terbaik, jagoanku azkha sudah di surga sekarang

    ReplyDelete
  10. Saya jg kehilangan putri pertama saya dan msh satu2nya, Keenan Kirana Ar Razi. Ktk berumur 18 bulan. dia tiba2 sakit pas Uda kerusakan ah sakit sdh gak ketolong lagi. 06-11-2016, 23.50 WIB RSAL Surabaya . Kadang saya. Menggila. Gak menerima kenyataan ini lalu q sibukkan dg aktifitas dan pekerjaan yg melelahkan. Smg anak anak kita sll diberikan tempat yg terbaik disisiNya. Amin

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...