Monday, February 25, 2013

Berawal dari Rumah: Mari Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Sejuknya memandang foto ini:
salah satu contoh kota hijau di Kiev-Ukraina
Gambar dari www.mbojo.wordpress.com

Kisah 1:

Awal bulan Oktober 2012, kami menunggu-nunggu datangnya hujan. Suamiku berencana menanam pohon jati yang sudah dibeli lahannya sejak akhir tahun 2011. Bibit-bibit pohon jati itu akan ditanam jika sudah masuk musim hujan, agar mendapatkan pasokan air yang cukup. Entah mengapa, hujan yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Di tempatku (Bogor), hujan masih mau singgah seminggu satu-dua kali, tapi di Garut (tempat di mana bibit Jati akan ditanam), hujan sama sekali tak turun, sampai-sampai tanah menjadi retak karena kekeringan.


Aneh, kalau mengingat belasan tahun lalu saat aku kecil, bila sudah memasuki bulan yang berakhiran “Ber” bisa dipastikan sudah masuk musim hujan. Tapi belakangan ini, sepertinya musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan. Rasanya tersiksa sekali menunggu musim hujan datang, karena pepohonan banyak yang layu diterjang udara panas dan kekeringan. Pasokan air menipis, tak jarang kami harus menggali sumur lebih dalam lagi, yang memakan biaya tak sedikit.


Harga sayur mayur mengalami kenaikan, karena banyak yang gagal panen akibat kemarau panjang. Belum lagi hasil panennya kurang bagus. Ibu rumah tangga sepertiku, tentu saja gigit jari.

Kisah 2:

Pagi itu, hujan turun terus menerus, membuatku malas keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan dapur. Akhirnya, setelah ditunggu berbulan-bulan, air hujan tercurah dari langit. Terpaksa aku langkahkan kaki menuju rumah tukang sayur, kalau kesiangan bisa-bisa tidak makan. Setiba di sana, kulihat keranjang ikan tak banyak terisi, hanya ada ikan lele dan bandeng. Harganya pun mengalami kenaikan. Dan ini jawab tukang sayur,

“Cuaca buruk. Gak ada pasokan ikan. Nelayannya gak melaut,” jawab Tukang Sayur.

Aku termenung. Kali itu di musim hujan, pasokan ikan yang berkurang. Beberapa jenis sayuran pun sulit diperoleh, karena katanya gagal panen akibat hujan yang terus-menerus.

Jujur saja, aku tidak tahu menahu soal perubahan iklim sampai mendapatkan informasi lomba blog Oxfam tentang “Masyarakat dan Perubahan Iklim.” Maka, aku coba cari tahu mengenai perubahan iklim dan dampak negatifnya. Menurut Wikipedia, perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu, mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Umumnya dikenal sebagai pemanasan global.

Nah, kalau pemanasan global atau Global Warming, aku sudah sering dengar. Pemanasan global yaitu mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit yang berbahaya, banjir besar-besaran, dan gelombang badai besar. Ditengarai sebagai akibat dari Emisi Gas Rumah Kaca. Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut muncul secara alami dari lingkungan, tetapi bisa juga diakibatkan oleh aktivitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah Uap Air, yang diakibatkan oleh penguapan air laut, danau dan sungai. Posisi kedua ditempati oleh Karbondioksida, yang muncul dari letusan vulkanik, pernapasan hewan dan manusia (sebagai pelepasan oksigen), dan pembakaran material organic (misalnya, tumbuhan). Karbondioksida dapat berkurang karena diserap oleh lautan dan tumbuhan dalam proses fotosintesis.

Gas-gas rumah kaca lainnya adalah Metana, yang dilepaskan selama produksi dan transportasi batubara, gas alam, dan minyak bumi, juga pembusukan dari limbah organik, dan hasil pembuangan hewan ternak tertentu, terutama sapi. Nitrogen Oksida, dari hasil pembakaran fosil dan lahan pertanian. Serta gas rumah kaca lainnya: Hidrofluorokarbon yang terbentuk selama manufaktur berbagai produk dan Klorofluorokarbon (CFC), sebagai media pendingin yang dapat menahan panas, tapi juga menipiskan lapisan ozon. CFC ada pada perabotan rumah tangga yang mempunyai fungsi mendinginkan, seperti lemari es (kulkas) dan AC.  

Permasalahannya, aktivitas manusia di masa kini banyak menghasilkan emisi gas rumah kaca, terutama Karbondioksida, yang berakibat pada pemanasan global, diantaranya pembakaran  bahan bakar fosil (batubara, gas bumi, dan minyak bumi), peningkatan konsumsi hewan ternak, pemakaian alat pendingin, kegiatan industri besar-besaran, dan sebagainya.

Di sisi lain, keberadaan tumbuhan untuk membantu penyerapan Karbondioksida dalam proses fotosintesis telah berkurang, juga diakibatkan oleh tangan manusia. Hutan-hutan ditebangi, tanpa upaya penanaman kembali.

Maka benarlah sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran Surat Ar Ruum: 41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ironisnya, negara yang berada di pesisir pantai, negara kepulauan, dan  negara yang masih berkembang, adalah negara-negara yang akan terkena dampak paling besar dari adanya pemanasan global ini. Bayangkan saja kalau sudah terjadi perubahan iklim ekstrim, di mana cuaca sudah tak dapat diprediksi. Para nelayan tak tahu kapan bisa melaut dengan aman, para petani tak dapat menghasilkan panen berlimpah, dan kemiskinan besar-besaran akan terjadi terutama pada negara-negara yang Pendapatan Perkapitanya rendah.

Beberapa tahun belakangan, kita sudah dapat melihat akibat dari perubahan iklim yang ekstrim. Di Indonesia saja, pada musim hujan, sering terjadi banjir besar di beberapa wilayah, bahkan di Ibukota DKI Jakarta. Bulan Oktober 2012 lalu, Badai Sandy menerjang New York dan Kepulauan Karibia, tepatnya Haiti, yang menelan ratusan korban  jiwa. Kalau pernah menonton film “2012” yang mengisahkan tentang hari kiamat, kemungkinan besar adegan-adegan di dalam film itu akan terjadi di dunia nyata, apabila kita tak segera mengantisipasi perubahan iklim.

Mari kita beradaptasi dengan perubahan iklim, dimulai dari lingkungan terdekat.
  1. Beralih ke bahan bakar ramah lingkungan, meskipun ini masih agak sulit. Apalagi dengan makin maraknya produksi motor dan mobil, yang berakibat meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil. Ke depannya, semoga pembuatan motor dan mobil bertenaga matahari atau angin bisa lebih digalakkan. Untuk sementara, bila jarak dekat, kita bisa berjalan kaki (sekaligus berolahraga) atau mengayuh sepeda kaki. Untuk jarak jauh, lebih baik kita gunakan transportasi umum dan meminimalisir kendaraan pribadi, meskipun masih banyak perbaikan yang harus dilakukan pada moda transportasi umum di Indonesia. 
  2.  Membatasi konsumsi hewan ternak, selain tidak bagus juga untuk kesehatan bila dikonsumsi berlebihan, adanya peternakan massal menyumbangkan emisi gas rumah kaca yang cukup besar. Ada bagusnya juga ya kalau sekarang harga daging sapi mengalami kenaikan, sehingga konsumsinya bisa ditekan. Keluargaku tidak sering mengonsumsi daging sapi, lebih banyak makan ikan, karena harga daging sapi masih relatif mahal untuk keuangan keluarga kami.
  3. Memilih alat-alat pendingin yang Non CFC.  Pakailah kulkas dan AC yang Non CFC, saat ini sudah banyak tersedia di toko-toko yang menjual barang elektronik.
  4. Hemat listrik, untuk menghemat penggunaan batubara sebagai bahan bakar listrik. Kampanye hemat listrik sudah marak di televisi, hanya saja sebagian dari kita masih kurang peduli. Matikan lampu, televisi, yang tidak dipakai, dan gunakan barang elektronik yang hemat listrik.
  5. Menanam pohon, minimal di depan rumah kita. Semakin banyak pohon yang ditanam, akan meminimalkan emisi gas rumah kaca dari Karbondioksida.
  6. Minimalkan penggunaan kertas. Semakin banyak menggunakan kertas, semakin banyak terjadinya penebangan hutan, karena kertas dibuat dari bubur kertas, hasil pengolahan kayu. Industri perbukuan adalah salah satu penyumbang terbesar dari pemanasan global, bila tak meminimalisir penggunaan kertas. Dari sejak penulis memasukkan naskah, beberapa penerbit masih menghendaki naskah dalam bentuk hard copy, padahal naskah bisa dikirim lelaui soft copy menggunakan surat elektronik, yang bisa menekan penggunaan kertas. Buku-buku juga bisa diedarkan melalui e-book seiring dengan makin meluasnya penggunaan ponsel pintar. Lalu, bagaimana dengan tenaga baterai untuk ponsel? Semoga ke depannya juga ada baterai ponsel tenaga matahari.

 Sering kali kita menyalahkan Tuhan apabila sudah terjadi bencana besar yang menelan korban jiwa, entah itu banjir, kekeringan, badai, tanah longsor, dan sebagainya. Padahal, manusia adalah penyumbang terbesar dari penyebab bencana-bencana itu. Jika kita peduli terhadap keberlangsungan hidup anak cucu kita, mari mula dari sekarang untuk menekan emisi  gas rumah kaca yang berakibat pada perubahan iklim. 

Kita juga bisa ikut berkampanye bersama Oxfam, yaitu sebuah Konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara, sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Kota masa depan seperti inikah yang Anda impikan?
Tak ada pohon dan suram.
Gambar dari sini: www.thenewscifi.com


Sumber penulisan:

7 comments:

  1. Saya kemana-mana kalau jarak dekat sudah mulai naik sepeda, hemat dan tidak bikin polusi. Tapi kalau nyepeda di Garut ya...mmm...sepertinya lebih capek ya. Tapi usaha untuk membuat bumi tetap lestari kan memang capek lho ya?

    ReplyDelete
  2. Mulailah hal-hal kecil yang baik mulai dari diri kita, dan anak-anak kita pun akan mengikuti hal-hal kecil yang baik itu :)

    ReplyDelete
  3. sama kayak disini mba .. pas hujan-hujannya kemaren itu variasi ikan yang dibawa pedagang jadi dikit, dan harga sayur .. oh la la .. selangit!

    sukses yaaa :))

    ReplyDelete
  4. Mulai dari yang kecil. Seandainya semua orang sepakat tentu akan menjadi gerakan besar. Semoga menang ya mbak :)

    ReplyDelete
  5. jadi pilih gag ada pasokan ikan atau sayur neh bu :D

    ReplyDelete
  6. Bismillahirrahmanirrahim..

    "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
    (QS. Al-Rum : 41).

    Ayat Al Quran diatas jelas menyatakan sebagian dari kerusakan dimuka bumi adalah akibat ulah manusia sendiri. Hal tersebut jelas terbukti benar. kita dapat melihat contoh real yang ada disekitar kita.

    Mungkin ini yg dimaksudkan oleh Ibu/Tante Leyla Hana.. (hehehe ^_^)

    dn sedikit masukan.. Semua tergantung kepada Manusianya sendiri.. jika dasar Iman dn Islamnya kokoh..insya Allah.. takkan ada kerusakan dimuka bumi ini..

    Okeh..Keep smile.. ^_^ and semangat dlm menulis.

    ReplyDelete
  7. dekat dengan keseharian kita ya mbak.sukses mbak ela

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...