Saturday, July 13, 2013

Lima N untuk Resolusi Ramadan 1434 H


Beberapa minggu menjelang Ramadan tahun ini, saya sudah merasa tidak yakin akan bisa menjalani ibadah puasa sambil menyusui. Padahal, dulu juga saya sukses berpuasa sambil menyusui anak kedua. Lalu, mengapa sekarang malah tidak yakin? Yang namanya iman itu bisa naik dan turun. Kelihatannya sekarang ini saya sedang mengalami penurunan iman. Sebelum puasa Ramadan, saya sudah berpuasa qada Ramadan tahun lalu yang batal 12 hari karena bed rest hamil anak ketiga. Selama qada itu saya rasakan berat sekali berpuasa sambil menyusui dan mengurus dua kakaknya yang juga masih balita, ditambah mengurus rumah tangga. Saya tidak punya asisten rumah tangga, otomatis semua pekerjaan rumah tangga pun dilakukan sendiri. 


Puncaknya, saya mengalami magh akut di mana perut kembung, muntah, dan diare parah. Badan lemas sekali. Itu saja saya bayar puasanya setiap Senin dan Kamis, bagaimana bila nanti saya berpuasa setiap hari? Sebenarnya ibu menyusui ada keringanan untuk tidak berpuasa bila mengkhawatirkan kondisi anaknya. Bayi saya sudah MPASI dan kadang-kadang minum susu formula juga, lalu mengapa saya harus takut? Meskipun sudah MPASI dan ditambah sufor, minum ASI-nya masih kuat. Itu yang membuat saya jadi gampang lapar dan kekurangan cairan. Di tengah keraguan itu, Allah menjawabnya.

Malam sebelum Ramadan (saya mulai berpuasa hari rabu), tetangga saya meninggal dunia. Benar-benar tepat sehari sebelum Ramadan. Ah, nyaris sekali…. Dia tidak bisa mengikuti ibadah puasa tahun ini. Saya kembali diingatkan oleh kematian. Kematian memang pengingat terindah. Semalaman itulah saya berpikir, apakah besok Allah memberikan saya kesempatan untuk berpuasa? Apakah tahun depan saya juga bisa berpuasa? Lalu, mengapa saya begitu yakin akan bisa beribadah lebih baik di tahun yang akan datang? Mengapa bukan dimulai dari tahun ini? Besok? Menyusui seharusnya tidak menjadi halangan, bukan? Toh, saya pernah berhasil berpuasa sambil menyusui. Yang  penting ada niat dan makan-minum yang banyak, karena saya makan bukan untuk sendiri melainkan berdua. Saat hamil tua pun dulu berpuasa. 

Bismillah. Saya berniat melakukan ibadah yang terbaik di bulan Ramadan ini dengan semua halangannya. Allah sudah memberikan teguran yang manis, sehari sebelum Ramadan. Saya mantap berpuasa dan tidak akan mengambil keringanan bila tidak benar-benar memerlukannya. Sering kali kita merasa tidak yakin beribadah karena tidak adanya sugesti positif dari dalam diri dan lebih berpikir ke dampak buruknya. Resolusi saya di bulan Ramadan ini lebih ke Tazkiyatun Nafs (penyucian diri). Ada lima N yang mau saya capai. Di hari keempat bulan Ramadan ini, ternyata tidak mudah untuk menjalankannya. 

No Ghibah: Kalau saya perhatikan, wanita itu memang rentan ghibah. Bahkan di facebook pun, lebih banyak wanita yang suka ngomongin orang dibandingkan laki-laki. Jujur, saya sendiri juga masih sering terjerumus ke dalam ghibah. Masuknya itu haluuuus sekali. Tadinya ngomongin tema yang biasa saja, bukan ngomongin orang. Eh, kok lama-lama jadi ngomongin orang.  Kalau di internet, lebih mudah untuk gak ghibah. Ya gak usah sign up saja. Bahasa tulisan itu kan sebenarnya lebih mudah untuk dipikirkan dulu. Jadi, pada saat kita mengetik komentar, jangan langsung dienter. Bahkan komentarnya bisa diedit atau dihapus. Masalahnya, ghibah di dunia nyata ini yang gak bisa diedit dan dihapus. Kalau sudah terucap ya susah diralat. Setelah dua hari lolos dari perangkap ghibah, di hari ketiga saya masuk ke dalam perangkapnya. Astaghfirullah. Saya baru sadar setelah “ngomongin.” Ceritanya, kemarin saya menghadiri orientasi siswa baru di TK anak sulung saya. Pulangnya saya bareng dua tetangga yang juga menyekolahkan anaknya di sana. Sepanjang jalan, obrolannya biasa saja. Justru pas udah mau sampai rumah tuh, salah seorang dari kami berhenti dulu untuk belanja. Saya dan satu orang lagi, meneruskan perjalanan. Tahu-tahu ibu yang bersama saya itu, ngeghibahin ibu yang berhenti belanja. Dan.. semua berjalan begitu saja deh. Saya juga ikut ngomongin. Ya Allah, saya kan mau berhenti ghibah! Duuuuuh… bener-bener deeeeh…. 

No Iri: Penyakit iri ini juga masuknya haluuus sekali. Saya lebih banyak iri terhadap keberhasilan teman-teman di dunia maya, karena sosial media itu memang sarana yang tepat untuk “pamer.” Gimana gak iri kalo setiap hari disuguhi oleh pameran-pameran keberhasilan? Lain halnya kalau di dunia nyata, syukurnya saya gak bergaul dengan orang-orang yang suka pamer. Lalu bagaimana mengatasinya? Yaitu dengan menumbuhkan perasaan ikut berbahagia terhadap pencapaian orang lain. Sesama muslim ibarat satu tubuh. Bila satu bagian tubuhnya sakit, tubuh yang lain akan merasakan sakit pula. Semestinya demikian juga dengan kebahagiaan. Bila ada yangsedang bahagia, yang lain juga ikut bahagia. Bukan malah iri atau bahasa lainnya, sirik. 

No Serakah: Kemarin saya menonton film Barbie bareng anak saya. Ada quote menarik yang muncul di film itu ketika Barbie hendak memasuki gua berisi Kristal dan perhiasan lain (mirip di film Aladdin), di depan pintu gua ada tulisan: “Ambil secukupnya dan jangan serakah.” Dan ketika teman Barbie mengambil lebih dari satu Kristal, gua pun mengalami goncangan, nyaris longsor. Saya pikir belakangan ini saya memang agak serakah. Ikut lomba pengennya menang terus, apalagi kalo lihat hadiahnya, meskipun hadiahnya itu sudah saya miliki. Kalau kalah, mutungnya luar biasa. Saya sudah dikuasai oleh nafsu harta yang berlebihan. Di bulan Ramadan inilah saya ingin meredamnya, dan semoga berlanjut terus sampai selesai Ramadan. Sebab, puasa memiliki makna menahan hawa nafsu. Demikian juga nafsu terhadap harta. Jika Allah belum mengabulkan permintaan kita terhadap suatu harta, itu berarti Dia tahu bahwa kita belum memerlukan itu. Kalau kita mengambil melebihi jatah rezeki kita, bisa jadi kita akan mengalami apa yang dialami Barbie dan kawan-kawan. ‘Allahu’alam.

Ngaji yang banyak: Urusan membaca Al Quran ini lumayan keteteran setelah punya anak ketiga. Si dede bayi ini mau ikut mengaji dengan berusaha merampas Al Quran mamanya. Saya juga punya target membaca terjemahan Al Quran yang belum pernah selesai sejak saya canangkan di waktu kuliah. Bacanya random saja, padahal saya pengennya berurutan dari Juz 1-30. Biasanya justru di bulan Ramadan ini semangatnya menggebu-gebu. 

Ngamal yang Banyak: Mumpung semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya di bulan Ramadan, maka saya berusaha berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Saya sih berharap kebaikan itu bertahan selamanya, dan semoga saja demikian. 

Semoga saja resolusi Ramadan 1434 H bisa tercapaiii, aamiin....

Disertakan dalam lomba Resolusi Ramadan 1434 H
                                                                                                       





20 comments:

  1. Wow :) keren mba. Semoga resolusinya tercapai semua. Med menjalankan ibadah puasa

    ReplyDelete
  2. biar no ghibah, aku kurangi ngetwit karena rawan ghibah, bun. btw, klo busui biasanya tergantung asupan makanan yang masuk ya? mungkin perlu suplemen seperti vitamin juga biar ga lemes. moga dimudahkan puasanya dan juga targetnya. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngetwit jg udah jarang La, karena hapenya jadul hehehe... aaamiin.. makasih ya La

      Delete
    2. saya tambahi, Mak Leyla Hana: no online lama2 :D
      Soalnya jadi gak fokus sama tujuan: share tulisan dan cari2 'sesuatu'. malah mlipir bacain status / tweet orang :D

      semoga menang, Mak, kece tulisannya

      Delete
    3. Ho oh, bener, Tha. Klo tenggelam dalam status orang, ntar jadi ghibah.

      Delete
  3. suka ama resolusinya :)

    http://chemistrahmah.com

    ReplyDelete
  4. N yang keenam, Ngedoain yang banyak, semoga mbak Leyla menang ihihikk.. barokallah mbak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin.. kwkwwk... itu namamu masih Najmatul Jannah, Gi? :D

      Delete
    2. memang belum kuubah mbak...jarang ngeblog juga hehehekkk

      Delete
  5. Semoga resolusinya tercapai dan bisa terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiin. makasih Mba Niken sudah mampir ;-)

      Delete
  6. mbak ela, kejadian hampir serupa sama aku yg tentang cerita busui.aku gagal hari pertama.alhamdulillah hari berikutnya berhasil.semoga kita dikuatkan fisik dan mental sama Allah untuk senantiasa terjaga imannya ya mbak.aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin mbaaa.. semoga kita tetap kuat yaaa. Perjuangan BUSUI :-)

      Delete
  7. 3 hari pertama aku puasa. hari ini terpaksa batal, karena baby nangis terus. padahal pengennya bisa puasa full. kapan lagi, kan? jadi belajar ikhlas saja.

    semoga resolusi ramadhan kita semua tercapai dan dimudahkan ya, mak.

    ReplyDelete
  8. Semoga semua resolusi tercapai ya mbak. Semoga menjadi lebih baik dari kemarin2 :)

    ReplyDelete
  9. Mak Sary, semampunya saja, Mak. Mak Sari kan debaynya belum 6 bulan.

    Mba Niar, aaamiiin....

    Mba Naqi, aamiin. makasih :-)

    ReplyDelete
  10. Aamiin, semoga sresolusinya tercapai semua ya mbak

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...