Thursday, July 31, 2014

Menepis Islamofobia dengan Berdakwah Ala Walisongo

Kisah 9 Wali di Trans TV
Sumber: Trans TV

Dakwah adalah kewajiban setiap muslim. Dalilnya kuat, Al Quran Surat An Nahl: 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”


Rasulullah Saw dapat menyebarkan Islam ke seantero dunia adalah dikarenakan dakwah yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Dakwah Rasulullah Saw tak selalu mulus. Bahkan sejak awal sudah dipenuhi onak dan duri. Kewajiban berdakwah tidak selesai sepeninggalan Rasulullah Saw. Justru pada masa sekarang ini kita harus giat berdakwah, karena banyak orang Islam yang hanya menggunakan agama Islam sebagai status agama di KTP, tetapi tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, orang Islam justru banyak ditakuti karena tindakan-tindakan terorisme yang mengatasnamakan agama, yang dilakukan oleh orang Islam garis keras.

Islam tak lagi menjadi agama rahmat bagi seluruh alam, tetapi penganutnya justru ditakuti oleh seluruh alam akibat tindakan terorisme yang dilakukan oleh segelintir orang Islam. Contohnya setelah kejadian Bom Bali, saat itu saya dan teman-teman muslimah yang mengenakan jilbab, sedang dalam perjalanan ke kampus. Beberapa anak kecil menyoraki kami, “teroris! Teroris!” Sungguh, kami tercekat karena dituduh teroris, padahal kami mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama. Dan tentu saja kami tidak melakukan  terorisme. Cacian yang kami terima diakibatkan oleh segelintir orang Islam yang melakukan tindakan terorisme di Bali dengan mengatasnamakan jihad.

Tak heran jika kini banyak orang yang takut terhadap Islam. Jika syariah Islam didengungkan, mereka sudah bergidik ketakutan dan bersegera melawan. Padahal, syariah Islam tidaklah semenakutkan yang dikira. Setiap aturan Allah Swt itu sesungguhnya untuk kebaikan manusia itu sendiri. Buktinya, pada zaman Rasulullah Saw memimpin jazirah Arab, harkat dan martabat manusia ditinggikan di bawah panji Islam. Kaum wanita yang semula tak ada harganya, diangkat martabatnya sehingga setara dengan kaum laki-laki. Orang-orang miskin mendapatkan sebagian harta orang kaya melalui zakat yang menjadi salah satu rukun Islam. Ditambah lagi dengan infak dan sedekah seikhlasnya. Kaum minoritas pun (yahudi, nasrani, dan penyembah berhala), mendapatkan kebebasan beragama selagi tidak saling mengganggu. Dari segi Ekonomi, Adam Smith (Bapak Ekonomi Dunia) menyatakan bahwa negara paling makmur adalah Arab di bawah pemerintahan Nabi Muhammad Saw.

Apakah benar Islam menganjurkan untuk melakukan jihad dengan membantai orang-orang yang tidak bersalah? Apakah benar dakwah Islam dilakukan dengan kekerasan? Apakah benar kita diperolehkan membunuh orang-orang yang kita anggap kafir hanya karena berbeda keyakinan dengan kita? Tentunya jika benar begitu, maka dakwah menggunakan kekerasan tidak sesuai dengan ayat di atas. Ayat di atas menyuruh kita untuk berdakwah dengan cara yang baik. Bahkan, jika ada yang membantah perkataan kita, maka kita wajib membantahnya lagi dengan cara yang baik. Kecuali jika kita sudah diperangi, maka wajib untuk membela diri. Itulah penyebab mengapa Rasulullah Saw berperang. Pada awalnya, beliau berdakwah dengan cara yang baik, hingga kemudian beliau diperangi oleh orang-orang kafir, sehingga wajib membela diri. Tidak mungkin kita berdiam diri kalau sudah diperangi.

Rasulullah Saw pernah memiliki tetangga seorang yahudi yang sering menjahilinya, salah satunya dengan melemparkan kotoran ke hadapan Rasulullah bila beliau sedang melewati rumahnya. Rasulullah Saw tidak membalas perbuatan tidak menyenangkan itu, tetapi justru mengunjungi si Yahudi ketika sakit dan mendoakan kesembuhannya. Yahudi pun akhirnya menyadari kesalahannya, kemudian masuk Islam. Begitulah dakwah penuh cinta yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Agama Islam di Indonesia ini, pada mulanya adalah agama yang asing. Nusantara dipenuhi oleh penyembah berhala. Hingga kemudian berdatanganlah para pendakwah yang giat menyebarkan agama Islam. Mereka berdakwah dengan cara yang baik, melalui jalan perdagangan, pernikahan, kebudayaan, dan pendidikan. Para penyebar dakwah Islam di tanah Jawa pada abad ke-14, dikenal dengan sebutan Wali Songo, atau sembilan wali. Mereka tersebar di tiga titik penting: Jawa Tengah (Demak, Kudus, Muria), Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban), dan Jawa Barat (Cirebon). Selain walisongo, tentu saja ada pendakwah lain yang berjasa atas penyebaran Islam di Indonesia, tetapi kesembilan wali itu lebih dikenal karena peninggalan-peninggalan dakwah mereka yang abadi hingga kini.

Contohnya, Sunan Kalijaga yang berdakwah melalui kesenian dan kebudayaan, menciptakan lagu Lir Ilir dan Gundul-Gundul Pacul yang masih diingat sampai sekarang. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, mengajarkan cara bercocok tanam kepada rakyat kebanyakan. Sendangkan Sunan Kudus lebih banyak berdakwah di kalangan penguasa dan petinggi kerajaan, sebagai penasihat agama para raja. Kisah walisongo sering diangkat ke dalam film, salah satunya yang kemarin tayang di Trans TV sebagai drama berseri “Sembilan Wali.” Beberapa kali saya menyaksikan tayangannya, salah satunya mengisahkan tentang Sunan Ampel yang pandai mengobati orang sakit.

Begitulah cara walisongo berdakwah, sehingga mereka dikenang dengan kebaikannya. Mereka menyebarkan ajaran Islam ahlusunnah wal jamaah ke seluruh tanah Jawa, sehingga kini agama Islam menjadi agama mayoritas. Indonesia sebagai mercusuar dunia, menjadi daerah lintasan kapal-kapal negara-negara lain, sehingga rentan terhadap infiltrasi kebudayaan. Lihatlah saat ini pemuda-pemuda banyak  meniru kebudayaan asing yang sebagiannya membawa pengaruh negatif. Narkoba, pergaulan bebas, kriminalitas, dan sebagainya.

Oleh karena itu, dakwah masih akan terus dibutuhkan sampai kapan pun. Dakwah yang dilakukannya dengan simpatik, tentu akan lebih diterima daripada dilakukan dengan kekerasan. Jangan sampai Islam diingat karena kekerasannya. Bukan hanya nonmuslim yang takut, yang muslim pun takut. Bahkan kini sesama muslim begitu mudahnya saling mengkafirkan, padahal Rasulullah melarang kita mengkafirkan orang lain. Mari berdakwah ala walisongo, yang berhasil menyebarkan Islam dengan damai dan dikenang sepanjang masa. Agar tidak ada lagi islamofobia yang menghinggapi masyarakat, karena sesungguhnya Islam ini indah dan penuh rahmat. 


Sumber Referensi:
www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan
www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
www.nu.or.id – Website resmi Nahdlatul Ulama
www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air
www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap

1 comment:

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...