Monday, May 23, 2016

#MejaMakanPunyaCerita: Ekspresi Cinta Ibu di Meja Makan



Seorang ibu memiliki seraut wajah penuh cinta, sebab pada wajahnyalah berkumpul seluruh cinta dari semua anaknya. Anak-anak mengecap makanan pertamanya dari seorang ibu. Dan, ibulah yang senantiasa berusaha menyajikan makanan terbaik di atas meja makan. Dengan senyumnya yang tulus, ia membiarkan anak-anaknya mengambil makan terlebih dahulu. Melihat anak-anaknya makan dengan lahap, perutnya sendiri sudah terasa penuh. Kesedihan adalah ketika ia melihat meja makannya kosong tak terisi sosok-sosok yang telah beranjak dewasa dan meninggalkannya. 


Saya pantas merasa iri pada seraut wajah penuh cinta itu. Tepat pukul 18.30, setelah semua orang di rumah itu selesai menunaikan salat Magrib, meja makan di ruang tengah sudah terisi beraneka macam masakan. Pindang Ikan Mas, Pepes Ayam, Sayur Toge dan Tahu, tidak lupa pula semangkuk Sayur Kacang Merah. Yang terakhir adalah masakan kesukaan suami saya. Inilah balasan dari perjalanan panjang 12 jam, Bogor-Garut. Jarak yang mestinya dapat ditempuh dalam waktu 5 jam itu, menjadi lebih lama dua kali lipat pada hari libur besar. 

Antri ambil makan
“Pasti macet deh kalau libur panjang begini. Kenapa sih kita harus susah payah ke Garut? Minggu depan saja pas libur akhir pekan biasa,” saya berusaha menggoyahkan keinginan suami yang ingin pulang ke Garut menengok kedua orangtuanya.

“Ibu menyuruh kita pulang. Sudah lama kita nggak pulang. Kita harus pulang. Kalau kamu nggak mau, aku pulang sendiri ya.” Suami menjawab dengan nada datar, sebagai isyarat bahwa apa yang sudah ditetapkannya tak bisa diganggu gugat. Sebagai istri yang baik, saya pun mendampinginya pulang ke rumah orangtuanya yang juga telah menjadi orangtua saya sejak ijab Kabul. Dalam hati, saya tahu, selain menaati perintah orangtuanya, suami juga merindukan sesuatu. Masakan ibunya. 

Ah, yang satu itu belum bisa  saya lampaui. Masakan ibu adalah yang terenak daripada semua masakan yang pernah dicicipi suami. Terutama Sayur Kacang Merah. Suami menyuruh saya agar belajar memasak masakan tersebut, tapi saya belum berhasil. Rasanya tentu saja tidak seenak masakan Ibu. Ibu yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Meskipun tubuhnya sudah mulai sering sakit karena asam urat dan darah tinggi, rambutnya pun telah memutih, serta kulitnya tak lagi kenyal, Ibu masih tangkas memasak makanan kesukaan anak-anaknya, lalu menghidangkannya di meja makan. 

“Makan dulu…” begitu ujarnya, memanggil semua anggota keluarga untuk makan bersama di meja makan. 

“Kalau tidak ada anak-anak, rumah sepi….” Bapak berbicara sambil menyendok sambal. Sambil makan, kami berbincang-bincang. Terkesan seperti tidak mengikuti  table manner, tetapi itulah yang terjadi. Bapak dan anak-anak lelakinya seringkali berbincang mengenai berita terkini dan sepakbola, sedangkan saya dan Ibu berbincang mengenai hal-hal random sehari-hari. Kehangatan yang hanya tercipta ketika anak-anak sedang “pulang.” 

Bapak dan Ibu selalu merindukan masa-masa bersama anak-anak. Berkumpul di meja makan, berbincang mengenai apa saja. Dilanjutkan duduk selonjor di sofa depan teve. Mengomentari tayangan televisi sambil mengobrol apa saja. Begitu hangat. Begitu dekat. Itulah mengapa, setiap dua atau tiga bulan sekali, kami harus pulang. Kalau tidak, salah satu dari Ibu dan Bapak, akan menelepon dan menanyakan kapan pulang. 

“Kalau anak-anak mau pulang, Bapak akan langsung menyuruh Ibu masak makanan kesukaan kalian,” kata Ibu sambil tersenyum, ketika mengaduk Sayur Kacang Merah yang tengah mendidik. “Bapak akan bercerita apa saja, karena di hari biasa, Bapak tidak punya teman bicara,” katanya lagi.

Saya bisa membayangkan betapa sepinya meja makan itu ketika Ibu dan Bapak hanya berdua saja di rumah. Anak-anak sudah berkeluarga semua dan berada di rumahnya masing-masing. Tak heran, suami saya selalu ingin pulang ke rumah orangtuanya. Jika saja bukan karena jarak dan waktu, mungkin suami saya akan pulang seminggu sekali. Rindu masakan ibunya. Rindu berbincang di atas meja makan. Ya, meja makan adalah salah satu tempat untuk menanamkan kenangan manis di hati dan pikiran anak-anak. 

Di atas meja makan, berkumpul cinta seorang ibu. Ibu menghidangkan semua masakan kesukaan anak-anaknya. Bahkan, kalau semua anaknya sedang pulang, Ibu akan memasak makanan kesukaan mereka, walaupun berbeda-beda menunya. Ada yang suka Sayur Kacang Merah, ada yang suka Kari Ayam, ada juga yang suka Sate Domba. Apa pun, asal bisa mengekspresikan cinta seorang ibu, sebagaimana ketika ibu menyuapi anak-anaknya makan untuk pertama kalinya. Di atas meja makan pula, ibu dan ayah bisa menanamkan nilai-nilai positif ke dalam jiwa anak-anaknya melalui obrolan-obrolan ringan yang bermakna. Sehingga tak akan ada lagi kita dapati anak-anak yang “kering” jiwanya, dan mencari pelarian dari rasa sepinya ke hal-hal negatif.

Meja Makan Punya Cerita
Pesan itulah yang disampaikan dalam kampanye “Meja Makan Punya Cerita” oleh Tupperware Indonesia. Beruntung, saya mendapatkan undangan Talkshow “Pentingnya Makan Bersama di Rumah” bersama Psychologist Expert Ajeng Raviando, Psi, pada Jumat 20 Mei 2016 di Head Office Tupperware Indonesia, Tower A, Lantai 12 Jalan RA. Kartini Kav 8, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Tupperware Indonesia dan Viva Log dari www.viva.co.id. Ketika masuk ke tempat acara, saya langsung disambut dengan meja makan bernuansa putih hijau, cantik dan cerita. Peralatan makan “Petite Blossom” dari Tupperware yang berwarna hijau muda menghiasi meja makan dengan begitu indahnya. Saya membayangkan kami sekeluarga duduk melingkari meja makan menggunakan peralatan Petite Blossom, sambil berbincang santai dan menikmati hidangan makan malam yang sudah disiapkan oleh saya. Anak-anak bisa menceritakan pengalaman mereka hari itu, sehingga kehangatan antara anggota keluarga pun dapat terjalin. 

Begitu masuk ke ruangan acara, mata saya kembali dimanjakan oleh puluhan meja makan yang senada. Para blogger telah melingkari meja makan dan menikmati kudapan pembuka berupa teh atau kopi dan kue-kue manis. Mangkuk-mangkuk kecil berisi mie dan pangsit juga terhidang di meja, tetapi itu baru akan dilengkapi dengan kuahnya nanti di pertengahan acara. Koleksi terbaru dari Tupperware ini isinya komplit. Ada wadah untuk nasi, sup, saus, lauk tanpa kuah yang dilengkapi penutup dan sendoknya. Ada wadah besar yang diisi buah-buahan dan disediakan pula Turbo Chopper beserta bumbu-bumbu untuk membuat rujak. Wow! 

Blogger Gathering Tupperware
Filosofi rujak itu sendiri menurut saya adalah kebersamaan. Di dalam seporsi rujak, ada beraneka macam buah. Buah-buahan itu mewakili masing-masing anggota keluarga. Rasa rujak itu juga bermacam-macam. Rasa manis yang berasal dari gula merah, rasa pedas yang berasal dari cabai, rasa asin yang berasal dari garam, dan rasa asam yang berasal dari asam. Saya punya kenangan tersendiri mengenai rujak, sebab keluarga saya dulu juga sering berkumpul di waktu-waktu santai sambil makan rujak. Ayah saya amat pandai meracik bumbu rujak yang pedas dan membuat perut saya melilit, tetapi tetap saja saya tidak kapok memakannya. Ya, betapa meja makan menyimpan ceritanya masing-masing. Hanya meja makan yang sepi saja yang tak punya cerita. Dan sungguh, di masa modern seperti sekarang ini, banyak keluarga yang sulit meluangkan waktu untuk makan bersama di meja makan. Selain karena kesibukan, media sosial juga membuat anggota keluarga lebih senang berinteraksi dengan orang-orang yang jauh daripada orang di sebelahnya. 

Buah-buahan untuk Rujak

Turbo Chopper: Alat pembuat bumbu rujak
Acara dibuka dengan pengumuman peserta beruntung yang datang pertama kali. Kemudian dilanjutkan dengan permainan kata berantai. Tupperware Indonesia membagikan banyak hadiah untuk para peserta, koleksi Tupperware yang cantik dan elegan. Sambutan pertama dibawakan oleh Bapak Edwin Jonathans, Product Manager Tupperware Indonesia yang menjelaskan mengenai tujuan dari kampanye Meja Makan Punya Cerita. Bahwasanya Tupperware ingin menciptakan kembali tradisi bersantap di rumah. Semoga banyak keluarga Indonesia yang terinspirasi mengingat betapa pentingnya kita mengembalikan tradisi ini, karena akan menumbuhkan sikap dan karakter yang positif ke dalam jiwa anak-anak. 

Selanjutnya, Ibu Rina Sudiana, Product Manager Marketing Dept. Tupperware Indonesia memperkenalkan koleksi terbaru Tupperware yang sudah saya lihat dari pertama masuk ke dalam ruangan acara, sampai duduk di meja makan. Coba saja lihat sekarang ini kita lebih senang makan di restoran karena makanannya ditaruh di dalam wadah yang menarik dan bisa difoto lalu diunggah ke media sosial seperti instagram. Padahal, kita juga bisa melakukannya di rumah asalkan wadah tempat makanan rumahan pun tidak kalah dengan wadah yang ada di restoran. Petite Blossom, namanya. Dapat mendukung suasana menyenangkan saat berkumpul di meja makan. Terdiri atas: Soup Server (wadah sup), Saucy Dish (wadah saus), Serving Platter (piring saji), Sendok Sayur, Sendok Saji, Mangkuk. Mangkuknya cocok untuk tempat makan anak-anak, tidak pecah dan tumpah. Dijual sepaket dengan harga Rp 515.000. Jangan khawatir, semua produk Tupperware ini bergaransi.

Petite Blossom Tupperware
Dan yang terpenting tentu saja pemaparan dari Ajeng Raviando, Psi mengenai pentingnya menumbuhkan kembali tradisi makan bersama di meja makan. Hilangnya kebiasaan ini membuat hubungan antara anggota keluarga memiliki jarak yang lebar. Sesibuk apa pun orangtua, usahakan agar ada waktu untuk makan bersama anak-anak. Kalaupun tidak bisa setiap hari, ya beberapa hari sekali. “Jika tradisi bersantap di rumah ini hilang, maka  orangtua dan pasangan tidak punya kesempatan menanamkan nilai-nilai yang akan diangkat dalam sebuah keluarga. Sehingga yang terjadi seperti sekarang ini, munculnya generasi yang acuh,” kata Ajeng Raviando. 

Ajeng Raviando dan Rina Sudiana
Ya, betul sekali. Bahkan di antara pasangan suami istri pun kehilangan komunikasi yang hangat dan mesra dikarenakan kesibukan dan akhirnya berpisah. Ternyata solusinya mudah. Cukup luangkan waktu untuk makan bersama di meja makan.


22 comments:

  1. seru banget yah Mbak acaranya, seneng bisa ketemuan :-)

    ReplyDelete
  2. Lengkap uiii tulisannya...mari biasakan bertemu di meja makan keluarga ^_^

    ReplyDelete
  3. Kalau kata kakakku, biar masakan sederhana kalau tempatnya bagus, maka selera makan jadi naik. Bagus ya tempatnya, cantiik

    ReplyDelete
  4. Makan bersama memang jadi momen yang paling menyenangkan ya mba. D keluargaku, hari pertama puasa biasanya kita akan sahur sama-sama. Mamah akan masak makanan kesuakaan anak-anaknya. Aku paling senang dengan momen makan bersama ini mba, bagiku makan bersama adalah ativitas yang ngga boleh dilewatkan.

    ReplyDelete
  5. Jadi membayangkan suatu saat anak-anak jauh, tinggal aku berdua suami aja, meja makan jadi sepi. Mungkin itu yg dirasakan kebanyakan orang tua ya. Kalo aku mudik ke rumah ortu saat anak-anak libur sekolah, mereka seneng banget. Rumah jadi rame lagi, nggak sepi, kata mereka. Makan bersama di meja makan jadi momen2 yg indah utk dikenang :)

    ReplyDelete
  6. Rujak kami dicamil sama meja sebelah ... soalnya meja kami kayaknya lebih tertarik dengan baso malang :)

    ReplyDelete
  7. Makan bareng bikin hepi ya, bun. Jadi kangen pas di rantau. Hehe. Ibuku juga rajin masakin klo anaknya pulkam. ��

    ReplyDelete
  8. Aku lospokus, naksir berat sama meja kursinya heheeee

    ReplyDelete
  9. Setuju, makan bersama keluarga adalah hal yang paling menyenangkan dan membahagiakan Karena bisa memperkuat hubungan antar anggota keluarga juga.

    ReplyDelete
  10. Makan bersama itu pengikat rindu dan cinta ibu

    ReplyDelete
  11. Makan bersama itu pengikat rindu dan cinta ibu

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Meja makan itu pengikat rindu dan cinta pada ibu

    ReplyDelete
  14. Inspiratif mak, dari meja makan akan menciptakan hubungan yang makin harmonis dalam keluarga...TFS

    ReplyDelete
  15. Ada rujaaak? dududuuuh pagi pagi disuguhin rujak, jadi kepingin bikin nich. Memang kalau sudah ngumpul di meja makan, selalu ada cerita menarik dari anggota keluarga dan moment inilah yang slalu dikangenin

    ReplyDelete
  16. rujak ya, keren nih. paling enak dimakan sama-sama tuh : )

    ReplyDelete
  17. jadi kangen masa lalu waktu kumpul2 keluarga kumpul di meja makan habis itu cerita2

    ReplyDelete
  18. saya suka hijauuunya, jadi pengen, di meja makan kadang kami bercerita meski saat itu sedang tidak makan mbak

    ReplyDelete
  19. banyak cerita dari meja makan, bikin kangen karena jadi nostalgia bersama keluarga ya mbak.. acaranya seru :-)

    ReplyDelete
  20. Waah acara yg asyiik nih beruntung banget bs ikut :)

    ReplyDelete
  21. jadi pengen mudik juga nih abis baca tulisan ini, mau masakan ibu. sayur kacang merah khas sunda, saya juga suka klo ibu yang masak, say abelum bisa masaknya hehehe

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...