Friday, June 9, 2017

Al Quran, Sumber Kebenaran Mutlak Seorang Muslim




"Jangan jadikan kitab suci sebagai sumber kebenaran mutlak."


Assalamualaikum. Sudah hari ke-14 Ramadan nih ya, kalau tidak salah. Soalnya saya tidak menghitung-hitung puasanya. Semakin mendekat ke lebaran, semakin sedih. Terasa sekali bulan Ramadan itu berlimpah berkah. Setiap doa yang terlontar, insya Allah dikabulkan. Itu saya rasakan sendiri. 


Kalimat di atas saya kutip dari seorang muslimah yang sedang banyak diperbincangkan. Tak perlu saya sebutkan namanya, karena khawatir ghibah. Yang penting sudah saya sebutkan bahwa kalimat di atas bukanlah kalimat saya. Berbincang soal kitab suci, maka bagi seorang muslim, kitab sucinya adalah Al Quran. 

Kebetulan sekali, saat ini bulan Ramadan, bulan diturunkannya Al Quran sebagai pedoman umat Islam.  "Bulan Ramadan yang di dalamnya -mulai- diturunkannya Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil." (QS. Al Baqarah: 185). 

Sebagai seorang muslim yang memilih Islam sebagai agamanya, maka sudah sewajibnya beriman kepada Al Quran karena Al Quran juga merupakan salah satu Rukun Iman. Meyakini kebenaran Al Quran sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, akan membuat seorang muslim tidak kehilangan arah dan mengalami kegalauan. Hati-hati ketika seorang muslim meragukan sebagian atau seluruh ayat di dalam Al Quran, bisa jadi dia sudah keluar dari keimanannya.

"Alif Lam Mim. Turunnya Al Qur'an itu tidak ada keraguan padanya, yaitu dari Tuhan seluruh alam. Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya." Tidak, Al Qur'an itu kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau: agar mereka mendapat petunjuk." (QS: As Sajadah 1-3).

Banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang sudah jelas hukumnya, tetapi bagi orang yang tidak beriman, maka kebenarannya masih dipertentangkan. Jika tidak beriman kepada Al Quran, sebut saja satu ayat di dalam Al Quran, akan diperdebatkan terus. Contohnya tentang Kaum Nabi Luth, yaitu Kaum Sodom, yang melakukan keburukan berupa hubungan sesama jenis. Jelas-jelas di dalam Al Quran diceritakan tentang kaum yang mendapat azab dari Allah ini. 

"Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?" (QS: Al A'raaf: 80).

"Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita. Malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas." (QS: Al A'raaf: 81).

Allah Swt menyebut kaum Nabi Luth atau kaum Sodom sebagai kaum yang melakukan fahisyah, perbuatan yang sangat hina. Perbuatan itu berupa Sodomi, yaitu melakukan hubungan seksual antara sesama laki-laki melalui dubur atau anus. Perbuatan yang belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya. Mereka disebut sebagai kaum yang melampaui batas. 

Ayat-ayat Allah di atas sudah jelas. Yang membuat tidak jelas adalah apakah kita mengimani Al Quran atau tidak? Kalau hanya setengah-setengah atau bahkan tidak beriman kepada Al Quran, maka kita akan terus mengeluarkan pendapat-pendapat yang meragukan kebenaran Al Quran. Seperti, menggunakan kata "toleransi" dan "hak asasi manusia" untuk membenarkan perbuatan tersebut. 

Jika kita bukan seorang muslim, silakan saja kalau mau membenarkan perbuatan tersebut. Tapi, jika kita seorang muslim yang beriman kepada Al Quran, maka sudah sepatutnya kita tidak membenarkannya atas nama apa pun. Tidak ada muslim yang liberal (bebas), sebab seorang muslim dibatasi kebebasannya oleh Al Quran. Toleransi dalam Islam yaitu tidak mengganggu aktivitas peribadatan umat lain. Bukan dengan ikut ke dalam peribadatannya atau membenarkan hal-hal yang bertentangan dengan ayat-ayat Allah di dalam Al Quran. Cukup dengan tidak mengganggu saja sebenarnya kita sudah bertoleransi.

Itu hanya salah satu contoh hukum di dalam Al Quran terhadap suatu hal yang saat ini diperdebatkan oleh orang-orang dengan alasan bahwa kitab suci bukanlah sumber kebenaran mutlak. Akan tetapi, bagi seorang muslim, Al Quran seharusnya menjadi sumber kebenaran mutlak.

Rasulullah SAW bersabda, "Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan dan Sunnah Rasul-Nya." (Hadist Shahih Lighairihi, H.R Malik Al Hakim, al Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm). 

Pegangan umat muslim hanya dua, yaitu Al Quran dan Sunnah. Kebenaran itu relatif. Apa yang disebut benar  oleh seseorang, belum tentu benar oleh orang yang lain. Sebut saja, perbuatan mencuri. Bagi si pencuri, perbuatan itu benar dengan alasan supaya anak istrinya bisa makan. Bagi orang yang dicuri, perbuatan itu sudah tentu tidak benar. 

Karena itulah, kita memiliki sumber kebenaran masing-masing dan tidak bisa menyebut semuanya benar. Kalau semuanya benar, maka akan kacaulah dunia ini karena tidak ada kebenaran yang disepakati. Itulah mengapa, seorang muslim harus yakin bahwa Al Quran adalah sumber kebenaran mutlak sebagai pegangan hidupnya.

Agar semakin meyakini Al Quran, jadikan bulan Ramadan ini untuk berasyik masyuk dengan Al Quran. Selain karena bulan Ramadan adalah bulan kelahiran Al Quran, juga karena semua pahala dilipatgandakan. Membaca Al Quran, sebaiknya juga memahami artinya. Itu mengapa saya bahagia memiliki Al Quran yang lengkap dengan terjemahan. Setiap selesai membaca satu ayat, saya baca pula artinya. 

Kelak, di hari kiamat, Al Quran dan Puasa akan memberikan syafaat kepada kita. 'Abdullah bin 'Amr ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Puasa dan Al Quran akan datang pada hari kiamat untuk mensyafaati hamba. Puasa berkata, 'Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, oleh karena itu izinkanlah aku memberinya syafaat.' Al Quran berkata, 'Wahai Rabbku, aku telah mencegahnya tidur malam, oleh sebab itu berilah aku izin untuk memberinya syafaat.' Maka keduanya pun memberi syafaat." (HR. Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ath-Thabrani, dan al-Hakim). 

Menurut istilah, syafaat artinya penengah bagi orang lain yang tujuannya untuk memberikan manfaat dan menolak mudharat (konsultasisyariah.com). Dalam konteks ini, Al Quran dan puasa kelak akan memberikan syafaat kepada orang-orang yang dulu mengamalkannya, sehingga orang tersebut terlepas dari azab Allah. 

Secara mudahnya begini, di pengadilan Allah nanti, pastilah kita ini memiliki banyak dosa yang siap diberi hukuman. Manusia mana yang tidak lepas dari dosa? Tidak ada manusia yang suci, kecuali Nabi Muhammad Saw. Jadi, kita harus bersiap menerima hukuman-hukuman tersebut. Akan tetapi, kita masih punya kesempatan untuk terbebas dari hukuman dengan melihat amat-amal perbuatan baik kita selama di dunia. 

Ada juga orang dan hal-hal yang dapat meringankan hukuman kita, di antaranya Nabi Muhammad Saw, Al Quran, dan puasa. Jika sering bersalawat untuk Nabi Muhammad Saw, maka kelak Rasulullah akan menjadi penengah untuk kita dengan memberikan syafaatnya sehingga berkuranglah hukuman untuk kita. Begitu juga jika kita sering membaca Al Quran dan puasa, keduanya juga dapat meringankan hukuman kita. 

"Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambah kepada mereka karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri." (QS: Al Fathiir 29-30). 

Yuk, mari kita bersama-sama memperbanyak lagi membaca Al Quran dan terjemahannya sambil memohon kepada Allah agar diberi hidayah sehingga kita dapat mengimani Al Quran dengan yakin seyakin-yakinnya sebagai sumber kebenaran mutlak seorang muslim.

5 comments:

  1. makin kesini mesjidnya makin berkurang jemaahnya..

    ReplyDelete
  2. Miris lihat perkataan si eneng, Al Quran tidak perlu diragukan kebenarannya, kalo ada umat islam yg meragukan, aku jadi prihatin

    ReplyDelete
  3. Yes, dibaca, dipahami dengan benar,dan diamalkan

    ReplyDelete
  4. dulu lagi masih ada anak2 selalu baca berempat setelah solat magrib berjamaah , sekarang tinggal berdua dg suami

    ReplyDelete
  5. aaamin. Semoga semakin mendekat ke Lebaran semakin memperbanyak ibadah di bulan Ramadan ini. Makasih ya, sudah diingatkan,

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...