Tuesday, October 30, 2012

Baby Traveller: Ketika Ibu Rumah Tangga Menulis

Judul: Baby Traveller: Kisah Seru Saat Traveling
Bersama Bayi dan Balita
Penerbit: Delasarfa Book
Penulis: Ida Mulyani, Dkk

Fenomena yang sangat menggembirakan saat ini datang dari ibu-ibu rumah tangga yang antusias menggeluti hobi menulis di sela pekerjaan mengurus rumah tangga dan anak-anak. Tulisan-tulisan mereka sebagian besar terkumpul dalam buku antologi, atau kumpulan karya sastra, dalam hal ini esai nonfiksi. Pasti ada pertanyaan, bagaimana bisa para ibu rumah tangga itu menyempatkan diri untuk menulis di antara bertumpuknya tugas kerumahtanggaan yang menyita waktu dan tenaga?

Thursday, October 25, 2012

Going to 30: Titik Balikku


Sibuk mengasuh anak yang usianyahanya terpaut setahun,
membuatku tak sempat menulis
Berhubung ada even give away bertajuk "Going to 30,” aku jadi mengingat kembali masa setahun lalu ketika usiaku menginjak 30 tahun. Kini usiaku memasuki 31 tahun. Ehhhmmm… apa ya yang istimewa saat memasuki usia 30 tahun? Aku tak terlalu memikirkannya, sebagaimana saat memasuki usia 17 tahun. Waktu mau 17 tahun, yang kupikirkan adalah “wah, berarti aku sudah boleh punya pacar, nih…” Hehehe…. Sedangkan saat memasuki usia 30 tahun, rasanya biasa-biasa saja. Takut tua? Tidak juga.

Saturday, October 20, 2012

Geliat Sastra Romantis


Kisah cinta tak pernah usang untuk dituliskan. Siapa yang tak pernah jatuh cinta? Semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Dari masa ke masa, selalu ada sastrawan yang mengabadikan kisah cinta ke dalam tulisan. Bahkan, beberapa di antaranya melegenda. Sebut saja; Layla-Majnun, Romeo-Juliet, San Pek-Eng Tay, Taj Mahal, Sitti Nurbaya, dan lain-lain. Karya-karya itu berhasil membius pembacanya melalui jalan cerita yang mengharukan.

Friday, October 19, 2012

Korean Wave: Serbuan Budaya Korea di Indonesia


Annyeong…  Saranghyeo… Hamnida… Opa…

Dan entah apa lagi Bahasa Korea yang kini dikuasai sepatah-sepatah oleh remaja kita.  Sejak dua tahun belakangan ini, budaya Korea begitu lekat dengan keseharian kita. Bukan hanya anak  baru gede yang menggemarinya, ibu-ibu rumah tangga pun banyak yang tergila-gila! Mulai dari film, drama, musik, makanan, pakaian, bahkan buku! Ya, coba saja berkunjung ke toko buku terdekat. Begitu mudahnya menemukan novel dan buku-buku “berbau” Korea. Ironisnya, banyak novel “Korea” yang ditulis oleh penulis Indonesia. Beberapa penulis bahkan menggunakan nama pena yang berbau “Korea.” Jadi sulit dibedakan, ini negara Indonesia atau Korea?
Lee Min Ho, salah satu aktor Korea yang membius para
wanita Indonesia. Gambar dari sini

[Profil Sastrawan Muda] RIAWANI ELYTA

Gambar dari sini
Riawani Elyta, lahir dan berdomisili di kota kecil Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Meski senang menulis, adrenalinnya baru terpacu untuk menyelesaikan sebuah naskah saat berpartisipasi dalam audisi menulis. 

Seandainya Tidak Ada Bahasa Indonesia

Gambar dari sini

Tindak pundi, Mbak?” tanya seorang wanita muda yang duduk di sampingku, ketika kami sedang sama-sama menaiki bus Solo-Semarang.

Aku bingung menjawabnya. Sejujurnya, aku tidak tahu Mbak itu bertanya apa. Benakku sibuk menerka-nerka, sampai akhirnya aku menjawab, “35 ribu….”

Mbak itu mengerutkan kening, seperti bingung dengan jawabanku. Ia pun mengulangi pertanyaannya, dan dengan sangat terpaksa aku mengaku bahwa aku tak tahu apa yang ia tanyakan.

“Oooh… dari Jakarta, to….” Mbak itu tertawa.

Anda tahu apa yang ia tanyakan kepadaku? Ia bertanya dalam Bahasa Jawa halus, “Mau ke mana, Mbak?” Sedangkan aku menjawab ongkos bus yang kami naiki itu. Kupikir Mbak itu bertanya berapa ongkos busnya. Padahal, ia sedang ingin mengajakku berrcakap-cakap dengan menanyakan tujuan kepergianku. Berhubung ternyata aku tak mengerti Bahasa Jawa, kami pun tak jadi berbincang-bincang panjang lebar. Entah kenapa si Mbak tak lagi menanyakan sesuatu kepadaku.

Itu adalah pengalaman lucuku saat pertama kali menginjakkan kaki di Semarang, sepuluh tahun silam. Meskipun lahir di Solo, almarhumah Ibu juga berasal dari Solo, aku tak bisa berbahasa Jawa karena besar di Jakarta. Lulus SMA, aku mendaftar ke Universitas Diponegoro, Semarang. Otomatis, aku banyak berinteraksi dengan penduduk asli yang berbahasa Jawa dan rekan-rekan mahasiswa lainnya yang berasal dari daerah-daerah di Propinsi Jawa Tengah. Untunglah, kami dipersatukan oleh Bahasa Indonesia, sehingga kami tetap bisa bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia.

Ya, apa jadinya seandainya kita tak mengenal Bahasa Indonesia? Indonesia terdiri atas banyak suku dengan bermacam-macam bahasa. Ibu dan Ayahku saja menikah beda suku. Ibuku dari Suku Jawa, ayahku dari Suku Betawi.  Ibuku mencari kerja di Jakarta, lalu menikah dengan ayahku yang asli Jakarta. Jika tidak ada Bahasa Indonesia, mungkin mereka akan bicara dengan bahasa isyarat, karena tidak mengerti apa yang dibicarakan pasangannya. Kalaupun bicara, bisa terjadi banyak kesalahpahaman. Ya, seperti pengalamanku di atas.

Sayangnya, almarhumah ibuku dulu jarang berbicara dengan Bahasa Jawa. Kalau di rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Akibatnya, tidak ada anaknya yang bisa berbahasa Jawa. Sebagai orang Betawi, ayahku juga tidak banyak menggunakan kosa kata Betawi dalam perbincangannya. Beliau memakai Bahasa Indonesia sehari-hari. Jadi, banyak juga kosa kata Betawi yang tidak kukuasai.

Kini, aku juga menikah dengan lelaki beda suku. Suamiku berasal dari Suku Sunda. Kalau sedang pulang kampung, lebih sering aku hanya terbengong-bengong mendengarkan percakapan keluarga dari suamiku. Mereka berbincang-bincang dengan Bahasa Sunda, karena sudah terbiasa dengan Bahasa Sunda. Hanya sesekali saja bicara dengan Bahasa Indonesia, ya kalau sedang berbicara denganku.

Memang, pada kenyataannya, Bahasa Indonesia digunakan hanya dalam perbincangan antarsuku. Sedangkan bila sesama suku, lebih suka menggunakan bahasa daerahnya. Saat aku kuliah di Semarang, rekan-rekan mahasiswa yang berasal dari suku yang sama, misalnya Suku Sunda, akan berbicara dengan Bahasa Sunda. Rekan-rekan dari Suku Jawa pun demikian pula. Mereka lebih nyaman berbicara dengan bahasa daerahnya jika berhadapan dengan sesama suku. Aku sendiri, berhubung hanya bisa berbicara Bahasa Indonesia, jadi hanya menggunakan Bahasa Indonesia.

Alasannya, lebih enak berbicara dengan bahasa daerah daripada Bahasa Indonesia. Lagipula, kalau berbicara dengan Bahasa Indonesia di hadapan orang yang sama sukunya, sering diejek “sombong,” tidak kenal dengan akarnya sendiri. Itu tak menjadi masalah, asalkan jangan berbicara dengan bahasa sukunya bila di dekatnya ada rekan dari lain suku.  Sang rekan yang tak mengerti, kemungkinan bisa tersinggung atau  merasa diperbincangkan diam-diam, berhubung ia tak mengerti apa yang sedang diperbincangkan.

Aku juga sering merasa tersinggung kalau ada rekan yang berbicara dengan bahasa daerahnya saat berada di dekatku. Memang dia sedang bicara dengan temannya yang satu suku, tapi aku jadi merasa diabaikan. Alangkah baiknya bila kita tetap menggunakan Bahasa Indonesia apabila ada rekan lain suku di dekat kita.

Bahasa Indonesia pertama kali dicetuskan menjadi bahasa persatuan, dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Namun, baru diresmikan pada 18 Agustus tahun 1945. Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu, pokoknya adalah Melayu Riau, yang di kemudian hari mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan masyarakat Indonesia.

Agak aneh sebenarnya, mengapa Bahasa Melayu Riau yang menjadi dasar pembentukan Bahasa Indonesia? Mengapa bukan Bahasa Jawa? Padahal, saat itu Presiden Soekarno berasal dari Suku Jawa, dan orang Jawa juga banyak menduduki posisi penting di pemerintahan. Bahkan, bahasa yang banyak digunakan sehari-hari adalah juga Bahasa Jawa. Alasannya: Pertama, kalau Bahasa Jawa yang digunakan, suku—suku lain akan merasa dijajah oleh orang Jawa. Kedua, Bahasa Jawa lebih sulit dipelajari dengan adanya tingkatan bahasa; halus, sedang, kasar. Ketiga, Bahasa Melayu Riau digunakan karena Suku Melayu yang pertama berasal dari Riau, dan Keempat, Bahasa Melayu Riau tidak banyak mendapatkan pengaruh dari bahasa lain, misalnya Bahasa Tionghoa.

Dan akhirnya, kini Bahasa Indonesia benar-benar membantu kita semua, yang berbeda suku, untuk saling berinteraksi. Bayangkan seandainya tidak ada Bahasa Indonesia, kita harus mempelajari bahasa rekan bicara kita dulu bila ingin berkomunikasi dengan benar. Atau, jangan-jangan kita harus bicara dengan bahasa isyarat?


Wednesday, October 17, 2012

Belajar Sastra dari Ping!


Ada perkembangan yang menggembirakan dari  dunia sastra saat ini. Banyak penulis muda bermunculan dan tentu saja banyak buku yang memenuhi rak-rak toko buku karya para penulis muda itu. Namun, tak mudah untuk menemukan buku yang benar-benar mendidik generasi muda kita. Bukan hanya isi dari buku-buku itu yang “kurang sesuai” dengan nilai-nilai yang kita anut, tetapi juga bahasa yang digunakan oleh para penulisnya yang tak sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Guru: Monster atau Motivator?

Dua orang guru TK di sekolah anak saya

Semua guru, baik guru SD, SMP, SMA, maupun kuliah, amat berjasa dalam hidup saya. Guru SD yang mengantarkan saya hingga bisa duduk di  bangku SMP. Guru SMP yang mengantarkan saya hingga bisa duduk di bangku SMA, dan guru SMA yang mengantarkan saya hingga bisa masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia ini tanpa tes. Dosen-dosen di kampus itu pula yang berjasa memberikan nilai cumlaude dan titel Sarjana Ekonomi kepada saya, meskipun sekarang ijazah itu nyaris tanpa arti karena saya tak bekerja di bidang yang sesuai dengan keilmuan.

Monday, October 15, 2012

Lawan Korupsi dari Yang Terkecil


“Ya Allah, berilah kesempatan untuk ayahku agar bisa naik haji….”

Doa itu selalu kuucapkan setiap usai menunaikan salat.  Sebuah doa sederhana untuk ayahku, yang sampai pensiun dari Kementerian Agama, belum juga menunaikan ibadah haji.  Sedangkan nyaris semua teman kantornya, sudah menunaikan ibadah haji, dengan biaya dari negara.

Wednesday, October 10, 2012

Meneladani Pemimpin Antikorupsi: Umar bin Abdul Aziz



Gambar dari sini
Suatu malam, datang seorang utusan gubernur suatu daerah ke kediaman Umar bin Abdul Aziz yang kala itu menjabat sebagai Amirul Mukminin. Umar menanyakan soal keadaan penduduk  daerah tersebut, kepemimpinan gubernurnya, fakir miskin, harga-harga, dan segala yang berhubungan dengan daerah yang didiami sang utusan gubernur, yang lalu dijawab oleh utusan gubernur itu tanpa ada yang disembunyikan. Selanjutnya, ganti si utusan gubernur yang bertanya kepada Umar, bagaimana keadaan Umar dan keluarganya. Sebelum menjawab, Umar menyuruh pelayannya untuk mengganti lilin yang digunakan sebagai penerang ruangan, dengan lilin lain yang  lebih kecil. Si utusan gubernur kebingungan. Umar pun menjawab kebingungan itu. Bahwasanya, lilin kecil yang digunakannya itu adalah miliknya sendiri, sedangkan lilin besar yang baru saja dimatikan adalah milik negara. Pertanyaan yang diajukan oleh utusan gubernur itu tidak ada kaitannya dengan negara, maka Umar mematikan lilin negara dan menggantinya dengan lilin miliknya sendiri.
Kisah di atas hanya sebagian kecil dari sikap kepemimpinan antikorupsi yang dimiliki oleh Umar bin Abdul Aziz, salah seorang pemimpin Islam, yang dianggap sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5. Kesederhanaan dan sikap hati-hatinya, patut dijadikan teladan oleh kita. Jangankan mengkorupsi harta negara yang jumlahnya trilyunan, mengkorupsi sebatang lilin pun beliau tak mau. Bahkan, ketika diangkat sebagai Khalifah (pemimpin negara), Umar sempat menolak. Namun, rakyat tetap memilihnya sebagai pemimpin, sehingga beliau menjalankan amanahnya.
Umar bin Abdul Aziz, menolak kendaraan dinas dan memilih menggunakan kendaraannya sendiri. Sesaat setelah diangkat menjadi khalifah, para pengawal datang mengantarkan kendaraan khusus kekhalifahan. Umar berkata: “Bawalah kendaraan ini ke pasar, dan juallah. Hasilnya disimpan di Baitul Maal. Saya cukup menggunakan kendaraan sendiri.” Baitul Maal adalah lembaga zakat tempat menyimpan harta negara yang kemudian digunakan untuk keperluan rakyat.
Umar amat berhati-hati menggunakan uang negara, bahkan ia memilih untuk tidak menggunakannya sama sekali. Hidupnya sangat sederhana, meskipun telah menjadi pemimpin negara. Sebelum diangkat menjadi Khalifah, kekayaannya berjumlah 40 ribu dinar. Setelah wafat, kekayaannya justru berkurang sehingga hanya menjadi 400 dinar. Bandingkan dengan para pejabat kita yang justru bertambah banyak sekali kekayaannya setelah menjabat sebagai pemimpin atau wakil rakyat. Seakan tak cukup gaji yang diambil dari pajak rakyat, masih juga mengkorupsi uang rakyat.
Membaca dan melihat berita tentang korupsi di media massa dan televisi, membuat kita muak dan geram. Di tengah penderitaan bayi-bayi yang terkena busung lapar, anak-anak sekolah yang tak dapat sekolah karena sekolahnya rusak, anak-anak yang tak tertolong karena biaya rumah sakit yang mencekik, rakyat yang kelaparan, dan penderitaan-penderitaan lainnya, para wakil rakyat justru sibuk mengkorupsi uang rakyat. Secercah harapan muncul ketika Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen untuk memberantas korupsi dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, harapan mulai terkikis manakala proses pemberantasan korupsi itu tidak berjalan mulus. Ada saja hambatan yang dihadapi oleh KPK dalam melakukan tugasnya, ditambah hukuman yang dijatuhkan kepada para koruptor yang lebih ringan dibandingkan kerugian yang diakibatkan.

Korupsi, Dimulai dari Kecil
Bagaimana awalnya seseorang bisa melakukan tindakan korupsi? Korupsi besar sesungguhnya dimulai dari korupsi kecil. Diawali oleh sebuah pemakluman, “ah, hanya mengambil sedikit kok…” Lama-lama, perbuatan itu menjadi biasa. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Umar bin Abdul Aziz, menghindari korupsi, meskipun sedikit. Misalnya seperti kisah di atas. Beliau tidak mau memakai lilin negara, padahal berapakah harga lilin? Tidak mahal. Apakah kita sudah meneladaninya? Mungkin kita lupa, korupsi kecil-kecilan yang kita lakukan dengan pemakluman, “ah, hanya sedikit….” Karyawan yang bekerja di kantor, sesekali menggunakan kertas kantor untuk keperluan pribadi, internet kantor untuk keperluan pribadi, bahkan listrik kantor untuk keperluan pribadi. Tanpa izin  pemilik kantor, sekecil apa pun, dapat disebut dengan korupsi. Dan yang sedikit itu, lama-lama menjadi bukit.
Kendaraan dinas, misalnya. Semestinya kendaraan dinas hanya digunakan untuk urusan dinas, tetapi sering sekali kendaraan berplat merah itu digunakan untuk kepentingan pribadi. Itu dari sisi koruptor. Jangan-jangan kita sendiri juga telah memberikan peluang terselenggaranya perbuatan korupsi para koruptor. Misalnya dalam urusan surat-menyurat yang berkaitan dengan birokrasi. Mau mengurus SIM, supaya cepat, kita pilih lewat “jalan belakang.” Harganya memang lebih mahal, tapi prosesnya lebih cepat.

Korupsi, Dimulai dari Keluarga
Siapakah orang tua Umar bin Abdul Aziz sehingga tercipta sosok pemimpin antikorupsi yang sederhana dan merakyat? Mari kita simak kisah berikut ini:
Suatu malam, Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw, yang kala itu menjabat sebagai Amirul Mukminin, sedang berjalan-jalan ke seluruh Kota Madinah untuk keadaan  rakyatnya dari dekat. Menjelang pagi, beliau merasa lelah dan beristirahat di sebuah rumah. Terdengar sebuah percakapan antara seorang ibu dengan anak gadisnya, dari rumah yang dekat dengan rumah tempatnya beristirahat. Rupanya itu adalah rumah seorang penjual susu. Sang ibu berniat mencampur susu jualannya dengan air, tetapi anak gadisnya melarang. Ibunya berdalih bahwa semua penjual susu  melakukannya dan lagipula Amirul Mukimin Umar bin Khattab tak mengetahuinya. Anak gadisnya menjawab, bahwa meskipun Umar tak melihat, tetapi Allah melihat.
Mendengar percakapan itu, Umar bin Khattab menangis. Ia lalu kembali ke rumahnya dan memanggil anaknya, Ashim bin Umar bin Khattab. Umar memerintahkan Ashim untuk mendatangi rumah si gadis dan menyelidiki keluarganya. Ashim menuruti perintah ayahnya. Setelah Ashim menyelidiki keluarga si gadis, Umar berkata; “Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya menjadi istrimu. Insya Allah ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan ia dapat memberi keturunan seorang pemimpin bangsa.”
Ashim menuruti perintah ayahnya. Dari pernikahan itu, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang kelak dipanggil dengan sebutan Ummi Ashim. Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, Gubernur Mesir.  Dari pernikahan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Sehingga jelas, bagaimana garis keturunan Umar bin Abdul Aziz. Kakek buyutnya adalah Umar bin Khattab, salah seorang Khulafaur Rasyidin, yang terkenal amanah dan tegas dalam kepemimpinannya. Neneknya adalah anak penjual susu yang jujur dan tidak mau mencampur susunya dengan air. Maka, alangkah wajarnya apabila Umar bin Abdul Aziz menjelma menjadi seorang pemimpin yang amanah, jujur, sederhana, dan antikorupsi.
Bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah kita menjauhkan keluarga kita dari tindakan korupsi sekecil apa pun? Sebab, harta yang berasal dari hasil korupsi, akan dimakan oleh anak keturunan kita, menjelma menjadi darah dan daging. Darah dan daging seperti apakah yang akan membentuk anak-anak yang diberi makan oleh harta hasil korupsi? Orang tua yang korupsi, pasti akan menghasilkan anak-anak berakhlak buruk karena diberi makan dari hasil korupsi.

Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
1.      Menjauhkan diri dari tindakan korupsi sekecil apa pun, karena dari yang kecil itu lama-lama menjadi besar.
2.      Menanamkan budaya antikorupsi sejak dari lini terkecil, alias keluarga. Orang tua harus menjauhkan diri dari perbuatan korupsi, tidak memberi makan anak-anaknya dari harta hasil korupsi, dan mengajarkan kejujuran kepada anak-anak sedari kecil.
3.      Tidak memberi kesempatan kepada koruptor untuk melakukan tindakan korupsi. Misalnya dalam pengurusan surat-surat yang membuka celah korupsi, gunakan jalan biasa, bukan jalan cepat dengan menambah biaya yang akan masuk ke kantong koruptor.
4.      Laporkan ke pihak berwenang, misalnya KPK atau LSM antikorupsi, apabila menemukan atau melihat adanya tindak pidana korupsi.
5.      Menjadikan pemimpin-pemimpin jujur sebagai suri teladan untuk dicontoh perilaku mereka dalam keseharian, contohnya Umar bin Abdul Aziz.

Semoga negara kita terbebas dari perilaku korupsi, baik oleh pejabat negara maupun masyarakatnya, menjadi negara yang diberkahi, makmur, dan sejahtera.
************* 

Sunday, October 7, 2012

Tiga Proses Melahirkan: Tiga Pengalaman Menjadi Pahlawan

Dahulu, saya sendirian. Kini, tiga orang anak selalu mengikuti saya ke mana pun. Ketiganya terlahir dari rahim saya, melalui proses yang luar biasa. Ya, luar biasa, bagi saya. Juga bagi semua ibu yang telah mengalami proses melahirkan. Apa pun prosesnya, semua proses melahirkan adalah istimewa. Proses pertaruhan nyawa seorang ibu demi sebuah kelahiran baru, nyawa baru. 

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran


Kalau membicarakan soal tawuran, saya jadi ingat kejadian belasan tahun lalu ketika masih duduk di bangku kelas satu SMA. Saya pernah ikut tawuran! Ups… gak, ding. Saya gak pernah  ikut tawuran kok, tapi saya pernah berada di medan  tawuran dua SMA yang letaknya berdekatan dengan SMA saya. SMA saya sendiri seingat saya, belum pernah terlibat tawuran. 

PLN... Oh... PLN


Kemarin, tanggal 3 Oktober 2012, aku sudah berniat untuk mengetik tulisan demi mengikuti kontes blog yang diselenggarakan oleh blogdetik dan PLN, berjudul, “Harapanku Untuk PLN.” Setelah menyelesaikan urusan anak-anak, memandikan, menyuapi makan, dan terutama menidurkan anakku yang masih bayi, jam 9.30 pagi, aku melirik komputerku yang sudah menunggu. Ah, tapi aku masih harus memasak nasi untuk makan siang nanti. Jadi, aku mencuci beras dulu. Masak nasi sekarang jauh lebih mudah sejak ditemukannya rice cooker. Seperti ibu-ibu perkotaan lainnya (meskipun aku tinggal di kampung :D), aku juga masak nasi dengan rice cooker. Sayangnya, saat beras sudah siap dimasukkan ke dalam rice cooker, eeeeeh… mati listrik!

Monday, October 1, 2012

Pemenang Giveaway Novel Cinderella Syndrome

Menyempatkan diri untuk posting pengumuman ini, mumpung dede bayi sedang tidur. Mohon maaf kepada semua peserta, jika pengumumannya agak lama, karena saya baru saja melahirkan putra ketiga.

Pertama-tama (kayak pidato ajah), terima kasih atas keikutsertaannya. Semua ceritanya bagus, sampai bingung milihnya. Kayaknya bisa dibuat novel sendiri tuh, hehehe.... Tapi... bagaimanapun, harus dipilih tiga pemenang, karena saya hanya punya tiga hadiah.