Sunday, July 10, 2011

Novel: Cinta Buat Chira (5)

5
Matahari pagi menimpa wajah Cira yang kemerah-merahan. Ini bukan berarti wajah Cira seperti Ibunda Siti Aisyah yang sering dipanggil Rasullah si Humairo (kemerah-merahan), lho. Tapi karena jerawat-jerawat Cira lagi matang-matangnya, jadi kena matahari sedikit saja wajahnya langsung merah. He he he. Langkah Cira terhenti ketika ia melihat Putty di depan sana. Duh…jadi nggak enak nih. Terus atau enggak? Kalau terus berarti ia akan berbarengan dengan Putty saat memasuki kelas, tapi kalau enggak ya enggak. Kalau barengan sama Putty, ia harus gimana? Tersenyum atau diam saja? Kalau tersenyum…ah, Cira gengsi! Tapi…. Karena kelamaan mikir, Putty telah masuk duluan ke dalam kelas. Cira merutuki dirinya sendiri. Ia ingin permusuhan ini segera berakhir!
Eit! Cira melotot. Siapa itu yang duduk di bangkunya? Robert! Mau apa dia?! Eh, Robert malah tersenyum dengannya.
“Cira, sorry, ya! Gue pinjem dulu bangkunya. Ada yang mau gue omongin sama Putty.” Katanya, bikin hati Cira panas. Paling mau pendekatan. Kalau ia tidak sedang marahan sama Putty, ia pasti sudah mengusir Robert. Tapi sekarang kan beda. Mau ngomong di depan Putty rasanya nggak enak. Akhirnya ia pun duduk di tempat Robert. Gantian, begitu!
“Eh, Cira. Kok kamu duduk di sini?” tanya Farhan yang baru datang, bingung. Cira menunjuk ke arah Robert. Farhan terkejut.
“Oh…” ia mengerti sekarang. Pasti Robert akan melancarkan misinya. “Kasihan Putty.” Gumamnya.
“Kasihan kenapa?” tanya Cira, bingung.
“Em…Putty itu sudah punya pacar?” tanya Farhan. Cira malah tambah bingung.
“Emang kenapa? Lu naksir dia?”
“Ye! Bukan. Robert yang naksir dia.”
“Oh….”
“Kok cuma oh?”
“Gue sih udah tau dari gelagatnya. Paling sekarang mau nembak, kan?”
“Iya kali. Kasihan Putty. Bagaimana kalau dia mati?”
“Ah elu. Jayus! Putty pasti selamat deh!” kata Cira, yakin.
“Jadi Putty sudah punya pacar?”
“Bukan. Putty tuh belum punya pacar. Emangnya gampang jadi pacarnya Putty? Cowok kayak Farhan sih nggak bakal dapetin Putty.”
“Oh…gitu. Bagus lah. Persyaratan menjadi pacar Putty pasti berat, ya?” Farhan manggut-manggut.
“Yup! Lagian Putty udah punya kecengan.” Sahut Cira. Farhan manggut-manggut lagi.
***
“Putty…lu udah punya pacar, belum?” tanya Robert, malu-malu. Sebenarnya ia sudah latihan berbicara semalam. Tapi begitu ketemu orangnya langsung, ilmunya langsung lenyap tak berbekas. Putty mengerutkan kening.
“Kenapa lu tanya-tanya?”
“Yah…mau tahu saja. Habis sepertinya lu belum punya pacar, ya?”
“Mau gue punya pacar atau enggak, apa urusan lu.” Putty mencibir. Robert jadi makin grogi.
“Masa’ gue nggak boleh tahu sih, Put?” tanyanya, setengah memaksa. Putty jadi sebal.
“Oke deh kalau elu mau tahu. Ntar gue itung dulu, ya.” Katanya sambil memainkan jarinya. Robert tak mengerti.
“Itung?”
“Iya. Em…di tempat les bahasa Inggris, di tempat les piano, di tempat les menari, di tempat les jahit, di tempat biasanya gue berenang….” Robert bengong melihat Putty yang sibuk menghitung.
“Dua belas!” seru Putty tiba-tiba.
“Dua belas?” Robert tak mengerti.
“Iya. Pacar gue ada dua belas.” Jawab Putty sambil tersenyum. Robert melongo.
“Masa’ sih? Lu bo’ong kali?”
“Serius.”
“Tapi gue kok nggak pernah ngeliat pacar lu?”
“Em…kalau di kelas ini memang belum ada. Lu mau jadi pacar gue di kelas ini? Tapi resikonya lu harus menghadapi cowok gue yang jago karate. Masalahnya dia kakak kelas gue, jadi dia sering mantau gue.” Urai Putty. Robert melotot mendengarnya.
“Enggak deh. Emang siapa yang mau jadi pacar elu? Gue kan cuma nanya. Udah dulu, ya.” Katanya sambil kabur. Putty tertawa melihatnya.
“Misinya sudah berhasil?” tanya Farhan sambil tersenyum. Robert menatap Cira yang sedang menahan tawa.
“Gue balik dulu ya, Han.” Kata Cira sambil cabut. Robert melengos.
“Gila tuh cewek! Pacarnya ada dua belas!” sungutnya. Farhan terkejut.
“Dua belas?” tanyanya, tak percaya. Robert mengangguk. Farhan geleng-geleng kepala.
Cira menatap Putty yang masih asyik menulis. Entah menulis apa. Ingin rasanya ia bicara, tapi…duh! Kenapa sih hatinya keras banget?
***
Setelah lama menunggu-nunggu, akhirnya bel istirahat bunyi juga. Cira menatap Putty yang sudah selesai menyelesaikan tugas bahasa Inggrisnya dan sekarang mau pergi entah ke mana. Sedangkan dia? Belum sama sekali. Terlalu seringnya bergantung sama Putty membuatnya tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali. Eh, nggak sama sekali, ding. Kalau cuma I Love You sih ngerti. Sekarang, gimana coba? Dia nggak bisa nyontek sama Putty berarti dia bakal kena marah Bu Niken. Hiks! Sedihnya…. Kenapa sih Farhan belum juga ngomong sama Putty…?
“Putty!” panggil Farhan. Putty menoleh.
“Ada apa?”
“Kamu mau ke mana?”
“Ke perpus. Kenapa sih? Jangan-jangan lu sama aja lagi sama Robert.” Sangka Putty. Farhan tersenyum.
“Enggak. Misi saya beda kok sama Robert. Bisa bicara sebentar, kan?”
“Bisa, tapi buruan, ya. Ntar keburu masuk lagi.” Kata Putty, tak sabar. Farhan mengangguk.
“Langsung saja deh. Kamu sedang marahan sama Cira, ya?” tanyanya. Putty terkejut.
“Wah, kok lu tahu?”
“Cira sendiri yang ngomong sama saya.”
“Gue sih nggak ngerti kenapa Cira marah sama gue. Karena gue nggak ngerti, jadi gue juga cuek sama dia. Nggak enak kan kalau gue tetep negur dia tapi dia nyuekin.” Jelas Putty sambil mengipas-ngipas. Farhan manggut-manggut.
“Sebenarnya Cira ingin berbaekan sama kamu, tapi dia malu.”
“Oh…gitu. Yah, silahkan aja. Toh, gue sih nggak marah sama dia.” Putty tersenyum. Untung Farhan nggak lihat, kan dia nunduk. Kalau lihat mungkin bisa kebat-kebit juga seperti Robert.
“Hem…bagaimana kalau kamu duluan yang menegurnya?”
“Apa?! Orang dia yang bikin masalah kok gue duluan yang baekan!”
“Tuh, kan. Kalian berdua sama saja. Kalau begini kan susah. Orang yang memutus tali silaturahmi itu yang berdosa dan orang yang menyambungnya lebih dulu itu yang paling baik.” Urai Farhan. Putty tertawa kecil.
“Pantesan Cira nggak mau sama elu. Elu bener-bener hobi ceramah, ya?” katanya sambil geleng-geleng kepala.
“Yah, saya sih hanya berusaha berbuat apa yang saya bisa. Kalau kita melihat kemungkaran, ada tiga hal yang harus kita lakukan. Mengatasinya dengan tangan, lisan atau dengan doa. Sementara ini saya bisanya cuma dengan lisan.” Urai Farhan. Putty manggut-manggut.
“Oh…gitu. Yah…gimana yah?”
“Gimana apa?”
“Yah, oke deh. Ntar gue coba negur dia duluan.” Putty mengalah. Farhan tersenyum.
Alhamdulillaah. Terima kasih, Putty.” Kata Farhan sambil meninggalkan Putty. Tak lama bel masuk berbunyi. Putty terkejut.
“Yah…Farhan! Gue nggak jadi ke perpus, deh!!!”
***
Kira-kira Farhan berhasil nggak ya ngedeketin Putty? Gue harap dia berhasil. Tapi kok sampai sekarang Putty masih diem aja ya sama gue? Aduh…gue musti gimana? Apa gue duluan yang mulai? Tapi…duh! Gimana, ya?
Cira menatap Putty yang sedang serius mengerjakan tugas Matematika di papan tulis, sementara guru Matematikanya sendiri sudah balik lagi ke ruang guru. Putty masih seperti kemarin. Menganggap seakan-akan Cira tak ada. Bagaimana ini? Jangan-jangan Farhan belum ngomong lagi. Terus…Cira harus bagaimana?
“Put…” ucap Cira, pelan. Sebenarnya Putty denger, tapi dia pura-pura nggak denger.
“Putty….”
“Eh, Cira. Itu tulisannya apa, yah? Gue nggak jelas, nih.” Tanya Putty, tiba-tiba membuat Cira terkejut.
“Putty! Jadi elu udah maafin gue?” tanyanya, girang. Kening Putty berkerut.
“Maaf apa? Emang kita marahan?”
“Iya, kan? Sejak dua hari lalu kan kita marahan.”
“Iya kali. Gue sih ngikutin skenario aja. Gue pikir lu pengen gitu sekali-kali marahan sama gue. Soalnya kan kita nggak pernah marahan.” Canda Putty. Cira tersenyum malu.
“Ah, Putty….” Tak lama kedua sahabat itu berpelukan erat. Anak-anak sekelas yang melihatnya jadi bingung, kecuali Farhan tentunya.
“Jangan-jangan mereka….”
***
Farhan menatap sosok tinggi besar yang berdiri di depannya. Senyumnya langsung terkembang seperti biasa. Alasannya: senyum itu ibadah!
“Sok imut, lu! Jangan senyum-senyum. Lu!” maki Derry. Kening Farhan berkerut. Ada apa ini? Aneh. Tiba-tiba saja Derry marah-marah. Mereka kan tidak pernah bermasalah.
“Maaf, Der. Ada apa, ya?” tanya Farhan.
“Ada apa, ada apa. Nggak usah sok nggak tau, lu. Gue kan udah pernah bilang sama elu kalau gue naksir Putty. Kenapa elu ikut-ikutan deketin Putty?!” tanya Derry dengan nada marah. Farhan makin bingung.
“Ah, tidak.”
“Jangan bo’ong lu! Awas ya kalau elu deketin Putty lagi!” Derry mencengkram kerah baju Farhan.
Astaghfirullahaladziem…. Istighfar, Der. Istighfar.”
“Nggak usah sok alim luh!”
“Saya bukan sok alim. Tenang dulu, tenang….” Farhan memegang tangan Derry yang masih mencengkram kerah bajunya. Derry melepaskannya. Farhan agak takut juga melihat wajah Derry yang merah itu. Derry marah besar!
“Jangan marah….”
“Jangan marah bagaimana?!” emosi Derry tinggi lagi.
“Tenang, tenang. Tenang dulu, dong.” Farhan jadi bingung menjelaskannya. “Pokoknya saya tidak akan mendekati Putty lagi.”
“Trus…kenapa tadi lu deketin Putty?”
“Saya hanya sedang menyelesaikan sebuah masalah.”
“Masalah apa?”
“Cira dan Putty kan sedang marahan, saya sedang berusaha membuat mereka baekan.” Jelas Farhan.
“Jadi elu mau ngambil hati Putty, ya?!” Derry mencengkram kerah baju Farhan lagi. Farhan bingung. Bagaimana ini? Dijelaskan baik-baik kok malah tambah marah.
“Ya, sudah, sudah. Saya tidak akan mendekati Putty lagi!” katanya, menegaskan.
“Heh, Derry! Ngapain luh?!” tanya Cira tiba-tiba. Ia mencoba melepaskan cengkraman tangan Derry. Derry melotot.
“Lu ikut campur aja!” makinya. Farhan memegangi lehernya yang kini sudah terbebas dari cengkraman tangan Derry.
Alhamdulillah…” gumamnya.
“Farhan! Lu kok diem aja, sih? Lu kan udah ban item!” omel Cira. Derry terkejut mendengarnya.
“Ap…apa?” Derry gagap. Farhan juga tak mengerti.
“Sa…ya?”
“Udah deh. Kalo lu nggak mau dihantam sama Farhan, mendingan lu pergi aja sekarang!” Cira melotot. Derry langsung buru-buru pergi. Cira tertawa.
“Payah!”
“Kenapa kamu bohong?” tanya Farhan.
“Bohong demi kebaikan kan boleh? Yuk, pulang!” ajak Cira. Farhan mengangguk. Ia tak tahu di seberang sana ada seseorang yang memperhatikannya.
“Farhan. Awas, ya!”
***
Alhamdulillah…akhirnya gue baekan juga ama Putty. Ternyata selama ini Putty nggak marah sama gue. Dia cuma segan aja negur gue duluan. Dipikirnya gue masih marah sama dia. Ah, gue nyesel deh marahan sama Putty. Rugi banget. Gue jadi nggak punya temen yang baekin gue mulu. Oh ya, selain hubungan gue yang udah baek lagi ama Putty, gue juga lagi seneng nih karena gue udah mulai deket sama Farhan! Cihui! Gue bilang juga apa. Mendingan Farhan aja. Cowok alim kayak dia dijamin nggak bakal nyakitin hati cewek. Emangnya Derry. Deketin gue cuma mau manfaatin gue. Gue masih sebel sama dia. Sempet-sempetnya lagi dia cemburu sama Farhan. Farhan sih nggak seperti cowok lain yang menilai cewek dari fisiknya. Dia sendiri yang bilang kalo menilai cewek itu dari hatinya. Gue rasa, gue bisa menjadi apa yang diinginkannya.
***
“Farhan. Mbak mau bicara sama kamu.” Naila menghampiri Farhan yang sedang membaca buku pelajarannya. Farhan tersenyum menatap ketua keputrian di Rohis SMU-nya itu. Akhwat cantik tapi tegas yang bikin banyak cowok bergelimpangan karena patah hati ini adalah kakak satu-satunya dan dengan bangga ia menyatakan bahwa ia adalah adik satu-satunya.
“Ada apa, Mbak?” tanyanya sambil meletakkan buku pelajarannya. Sst…jangan bilang-bilang, ya. Sebenarnya Farhan agak takut menghadapi kakaknya ini. Kok rasanya beda, ya? Naila seperti orang sedang marah. Ini terlihat dari tampangnya yang judes banget. Tapi doi masih kelihatan cantik, kok.
“Tadinya Mbak nggak percaya sama ucapan temen-temen Mbak.” Kata Naila. Kening Farhan berkerut.
“Ucapan apa, Mbak?”
“Mbak ingin kamu jujur sama Mbak dan nggak perlu disembunyikan. Kalau memang kamu sampai berbuat begitu, Mbak juga ingin tahu kenapa. Maafin Mbak kalau selama ini Mbak nyuekin kamu sampai kamu mencari perhatian di luar.” Urai Naila yang malah bikin Farhan semakin bingung.
“Maksud Mbak apa, sih?” tanyanya lagi. Naila menghela napas lagi.
“Kita memang masih muda, Farhan. Memang sulit buat kita menahan hawa nafsu, apalagi di jaman globalisasi kayak gini di mana arus kuat dari Barat menerjang kita. Maka dari itu, Rasulullah sangat bangga sekali terhadap pemuda yang tetap menjaga kehormatannya. Kamu pasti masih ingat itu, kan?” tanyanya. Meskipun masih belum nyambung dengan apa yang diuraikan kakaknya, Farhan tetap menganggukkan kepala.
“Nah, Farhan. Apa sih yang membuat kamu tidak bisa memegang komitmen kita selama ini?” tanya Naila. Kening Farhan masih berkerut.
“Komitmen yang mana?”
Astagfirullah!” Naila menepuk jidat. “Sejak kapan kamu pacaran, Farhan…?” tanyanya tak sabar. Farhan terkejut mendengarnya.
Astagfirullahaladziem…bagaimana Mbak bisa menuduh saya begitu?”
“Mbak nggak nuduh, Han. Temen-temen Mbak yang bilang katanya kamu sering pulang bareng temen perempuan. Mbak penasaran, makanya Mbak selidiki. Ternyata benar. Siapa gadis itu? Cuma temen biasa atau….” Naila menggantung kalimatnya. Gentian Farhan yang menepuk jidat.
“Jadi itu!”
“Nah!”
“Itu sih….” Farhan tak jadi melanjutkan ucapannya. Naila menatapnya tajam.
“Apa? Jangan bilang kamu….”
“Enggak, Mbak. Bener, deh. Insya Allah.”
“Insya Allah?”
“Insya Allah kan 99 persen bener.”
“Berarti masih ada satu persen yang nggak bener, dong?”
“Tenang, Mbak. Itu temen sekelas Farhan. Namanya Cira. Farhan cuma sedang membantunya, kok.”
“Membantu apa?”
“Dia tuh butuh temen bicara. Dia merasa punya banyak masalah. Kasihan kalau nggak dibantu.” Jelas Farhan. Naila tersenyum.
“Jadi kamu nggak pacaran?”
“Nggak. Insya Allah nggak akan pernah.”
Alhamdulillah. Tapi….” Naila menggantung kalimatnya.
“Apa saya salah Mbak membantu dia?”
“Ya enggak, tapi cara kamu yang salah. Kamu jalan berduaan begitu, orang yang nggak tahu pasti bakalan nyangka yang enggak-enggak. Kamu kan bisa ngasih nasihat tanpa perlu berduaan.” Jelas Naila. Farhan menghela napas.
“Farhan juga ngerti, Mbak.”
“Terus?”
“Iya deh. Akan Farhan usahakan.”
“Bagus. Adikku manis. Jangan bikin Mbak malu lagi, ya. Dan terutama jangan bikin Allah cemburu.” Kata Naila sebelum meninggalkan Farhan sendirian. Farhan menghela napas. Ya Allah…selama ini rupanya ia telah lalai. Untung mbaknya yang baik itu telah mengingatkan.
***
Gue rasa hidup memang berjalan seperti roda. Kadang kita sedih, kadang kita bahagia. Di mana ada sedih pasti ada bahagia. Seperti gue ini. Setelah gue sedih, sekarang gue bahagia. Gue masih punya temen yang bikin gue bahagia. Siapa lagi kalau bukan Putty? Dan gue masih punya cowok yang juga bikin gue bahagia. Siapa lagi kalau bukan Farhan? Gue akan menjadi apa yang dia inginkan. He he he.
“Hai, Farhan!” sapa Cira ketika bertemu Farhan pagi ini.
“Kalau bertemu orang itu ucapkan Assalamu’alaikum. Itu lebih berkah.” Kata Farhan tanpa melihat Cira sama sekali. Cira sih sudah biasa menghadapi sikap Farhan seperti itu. Cira tersenyum. Karena Robert belum datang, ia pun duduk di tempatnya.
“Ada yang mau kamu bicarakan, Ra?” tanya Farhan, langsung.
“Enggak sih. Nggak penting-penting amat.” Cira senyum-senyum. Farhan langsung bangkit dari tempatnya.
“Maaf, ya, Ra. Saya ada urusan.” Katanya sambil meninggalkan Cira yang termangu. Nggak biasanya Farhan begitu. Aneh!
“Eh, kalian merhatiin, nggak? Farhan dan Cira kok sekarang deket banget, ya? Gue sering liat mereka pulang bareng.” Bisik Milly yang sedari tadi memperhatikan Farhan dan Cira.
“Iya. Gue juga sering, tapi nggak mungkin ah kalau mereka jadian.” Kata June.
“Jadian?!” semua bertatapan.
“Nggak mungkin!!!” seru semuanya, bareng.
“Nggak mungkin Farhan naksir Cira. Kayak nggak ada cewek lain aja.” Kata Fera.
“Iya. Kan masih ada kita-kita ini yang lumayan.” Milly mengerdipkan mata.
“Ye! Selera orang itu beda-beda. Biasanya cowok ganteng itu emang sukanya sama cewek yang biasa-biasa aja.” June membela Cira.
“Tapi Cira kan…luar biasa!” Milly tertawa mengejek. Semua ikut tertawa.
“Kalau Putty yang ditaksir Farhan sih gue percaya.” Fera manggut-manggut. Semua mendukung.
“Iya, sih. Sebenarya gue juga nggak percaya kalo Farhan mau sama Cira.” June mengangguk.
“Sst! Orangnya datang!” seru Milly menunjuk Cira yang menghampirinya. 
***
“Hei, tunggu!” panggil seseorang. Putty menoleh dan terkejut. Doni! Doni menghampirinya. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang nggak kalah angkuhnya.
“Lu Putty, kan?” tanyanya. Putty tersenyum. Ada apa kakak kelasnya ini tiba-tiba memanggilnya? Mereka kan nggak saling kenal.
“Ternyata lu cantik juga. Tapi maaf, ya. Kecantikan lu itu nggak mampu beli gue. Seandainya gue belum punya cewek, mungkin permintaan lu gue pertimbangkan.” Kata Doni bikin kening Putty tambah berkerut.
“Maksudnya apa?”
“Denger, ya. Kalo naksir orang itu liat-liat dulu dong. Tuh cowok udah punya pacar atau belum. Dasar cewek penggoda!” sungut gadis di sebelah Putty sambil melempar selembar kertas ke wajah Putty. Putty kaget bukan main.
“Apa-apaan ini?!”
“Baca tuh sendiri. Dan inget, ya. Jangan mentang-mentang lu cantik terus bisa ngerebut pacar orang sembarangan!” sungut gadis itu lagi sambil menggandeng lengan Doni dan meninggalkan Putty dalam sejuta tanya. Putty membaca kertas itu.
Dear Kak Doni.
Saya jatuh cinta sama Kakak sejak pandangan pertama. Saya yakin Kakak mau merespon cinta saya ini.
Putty, 1.3.
Putty bengong. Surat norak begini, masa’ kan dia yang membuatnya. Dia tahu sekarang. Pasti mereka.
***
“Gue nggak terima! Kalian udah bikin gue malu! Kalian udah nginjek-nginjek kehormatan gue! Gue nggak mau jadi temen kalian lagi!” teriak Putty membuat semua siswa di kelas 1.3 kebingungan. Jangan-jangan Putty kesurupan lagi.
“Put, Put, kenapa sih? Kok kamu marah-marah begitu? Ada apa?” Cira berusaha meredamkan amarah Putty.
“Diem luh! Pokoknya gue nggak terima! Kalian harus bertanggung jawab!” Putty melotot ke arah Milly, Fera dan June.
Sorry, Put. Kita kan cuma pengen bantuin elu.” Kata Fera.
 “Kalian…sialan, kalian!” Putty baru saja akan melayangkan tamparannya ke wajah Fera dan teman-temannya sebelum tangan Farhan mencegahnya.
“Istighfar, Put. Istighfar. Kamu bisa cerita pelan-pelan, kan?” kata Farhan, menenangkan. Putty melepaskan tangannya.
“Gue nggak perlu cara-cara rendahan buat dapetin cowok. Nggak perlu gue cari, cowok juga datang sendiri!” makinya sambil berlari ke luar kelas. Cira menatap Milly, June dan Fera yang tertunduk, selanjutnya ia berlari menyusul Putty.
“Saya tidak tahu apa yang telah kalian lakukan. Tapi sebaiknya sebelum kalian melakukan sesuatu, kalian pikirkan dulu dengan akal yang sehat.” Kata Farhan sebelum meninggalkan kerumunan anak-anak yang mengerubungi Milly, June dan Fera. Ketiganya tertunduk malu…sekali.
“Put, udah, Put…” Cira membelai rambut Putty.
“Gue nggak rela, Ra. Nggak rela. Emangnya gue cewek murahan. Gue sebel! Seenaknya aja mereka begitu. Dasar!”
“Put, tenang. Mereka pikir mungkin dengan begitu mereka bisa ngebahagiaan lu.”
“Gue nggak perlu bahagia-bahagia itu. Sorry aja, ya. Selama ini cowok yang ngejar-ngejar gue, bukan gue. Jadi gengsi aja ya kalau gue ngejar-ngejar cowok. Mana gue direndahin banget lagi!” seru Putty berapi-api. Cira jadi tak bisa bicara apa-apa. Sekarang Putty memang hanya memerlukan tong sampah untuk menampung amarahnya.
***
“Kalian bisa jelasin apa yang terjadi sama Putty?” tanya Derry menyelidik. Milly melotot.
“Udah sana! Nggak usah tanya-tanya!” omelnya.
“Ayo dong jelasin sama gue! Siapa, kek?!” Derry memaksa. Hampir saja terjadi baku hantam kalau June tak melerai. June juga yang akhirnya menjelaskan semuanya.
“Jadi…selama ini Putty naksir Doni?” tanya Derry, tak bisa menerima kenyataan.
“Iya.” June mengangguk. Derry menghela napas. Entah bagaimana perasaannya saat ini.
“Sekarang udah nggak ada penghalang gue.” Gumamnya.
“Tapi gue rasa, melihat sikap Putty tadi, kecil harapan lu, Der.” June angkat bahu.
“Maksud kalian apa?”
“Udah banyak cowok yang ditolak sama Putty dan itu dalam keadaan tenang. Nah, dalam keadaan marah gini, mungkin lu bisa babak belur.” Jawab June.
“Kita tuh semua bingung sama Putty. Kita nggak tahu dia tuh sebenarnya gimana. Kadang baek, tapi ternyata bisa berapi-api gitu. Dia tuh nggak disangka-sangka.” Jelas June. Derry manggut-manggut.
“Jadi lebih baik, lu cari cewek lain aja.” Kata Milly. Derry menghela napas.
-------------------------------------

Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaaa
















No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....