Monday, September 26, 2011

Novel: Cinta Buat Chira (15)

15

Cira menatap Putty yang terlihat tak bersemangat. Sejak cintanya ditolak, Putty sepertinya kehilangan gairah. Beberapa kali ia tak mengerjakan PR dan beberapa kali pula nilai ulangannya jelek. Meskipun itu Putty yang merasakan, tapi Cira ikut sedih juga. Kasihan Putty kalau hanya gara-gara Kak Adrian, predikat juara kelasnya jatuh. Kan, sayang. Lagian kalau Putty nggak ngerjain PR terus, Cira juga yang kena getahnya. Dia kan jadi nggak bisa nyontek. Ah, Putty. Masa’ cuma gara-gara Kak Adrian aja dia jadi gitu, sih?
“Put…” Cira memberanikan diri berbicara. Putty tak menjawab. Cira tahu. Hubungan mereka kan sempat pecah kemarin.
“Put, maafin gue kalau gue ada salah.” Katanya, cepat. Putty tak menjawab lagi. Cira garuk-garuk kepala. Kalau begini sih susah.
“Put…”
“Elu nggak salah, Ra.” Kata Putty. Cira menghela napas lega. Akhirnya Putty mau ngomong juga.
“Terus? Kenapa elu begini?”
“Ngapain sih elu nanya kalau udah tau?” Putty melengos. Cira manggut-manggut.
“Iya deh. Gue tau. Udah deh, Put. Lupain aja.”
“Tapi gue kan malu, Ra! Apalagi kalau gue ketemu dia!” Putty mulai meluap-luap lagi.
“Iya! Iya! Gue ngerti. Pasti sulit deh ngilangin rasa malunya. Tapi elu nggak boleh terpuruk gini. Elu nggak boleh nunjukin kalo elu kalah.” Cira menatap Putty.
“Maksud lu apa?” Putty balik menatap.
“Ya, elu harus bersikap nggak ada apa-apa. Kak Adrian itu cuma satu cowok dari seribu cowok yang bisa elu dapetin. Tunjukin kalo elu bisa tegar meskipun dia nolak elu.” Jelas Cira. Putty menghela napas.
“Iya, tapi…” dia mulai mewek lagi. Cira garuk-garuk kepala.
“Put, Kak Adrian itu…” baru saja ia mau menjelaskan tentang pacaran yang kemarin dijelaskan Naila, eh Putty udah menyahut,
“Iya, gue tahu! Gimana kalau elu temenin gue nanti malam ke plaza BSD? Gue mau ngilangin suntuk!”
“Plaza BSD, Put?” kening Cira berkerut.
“Iya. Nanti malem kan malem minggu. Habis gue suka sedih kalo inget nanti malem masih jomblo.” Putty merengut. Dengan sangat terpaksa akhirnya Cira mengangguk.
“Ya deh.”
“Oke deh! Ntar malem gue jemput, ya!” Putty tersenyum girang. Cira hanya mengangguk tak berdaya.
***
Cira memakai jilbabnya dengan malas. Sebenarnya malam ini ia memang malas ke luar rumah. Apalagi kalau keluarnya itu buat jalan-jalan ke mall. Mbak Naila pernah bilang kalau sebaiknya waktu yang ada itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Bukan membuang waktu untuk hal-hal yang tak berguna. Jalan-jalan ke mall tanpa ada keperluan kan namanya buang-buang waktu. Apalagi malam minggu begini. Banyak orang. Banyak cowok. Banyak khalwat. Banyak maksiat. Eh, udah tahu kan apa itu ‘khalwat’? Kalo belum tahu, tanya sama guru ngaji masing-masing ya? Pokoknya sebenarnya Cira malas banget nih ke luar rumah. Biar aja dia dibilang jomblo. Emang gue pikirin!
“Ra! Putty, tuh!” seru Rana dari ruang tamu. Cira buru-buru ke luar dari kamarnya. Ia terkejut melihat Putty yang tidak memakai jilbab.
“Put, elu kok….”
“Ah, biasa, kan? Kalau gue ke mall kan emang nggak pake jilbab. Kok elu pake jilbab sih, Ra? Kan nggak enak!” wajah Putty masam.
“Iyalah. Gue kan emang pake jilbab.” Cira tak kalah masam. Ia sebal banget melihat Putty begitu mudah menanggalkan jilbabnya.
“Ya udah deh. Terserah. Yang penting kita enjoy malem ini, okey? Yuk!” Putty menggandeng tangan Cira. Cira mengikuti tak berdaya.
***
Seperti biasa, malam ini maal BSD ramai sekali. Kebanyakan pengunjung adalah para ABG termasuk di dalamnya Putty dan Cira. Entah perasaan macam apa yang melingkupi Cira. Tiba-tiba saja ia merasa malu berada di sini. Tapi mau bagaimana lagi? Ia akan lebih berdosa lagi kalau membiarkan Putty sendirian. Putty kan cantik, apalagi dengan kaus dan jeans ketat yang membalut kulitnya itu. Kalau nggak dijaga, bisa hilang dia. He he he.
“Put, mau ke mana, nih?” tanya Cira dengan nada malas.
“Lho? Kok sekarang jadi elu yang nanya sih? Bukannya elu udah menguasai setiap sudut dari tempat ini? Jadi elu pasti tahu dong mana tempat yang bagus?” Putty tersenyum. Cira menghela napas. Jadi malu kalau mengingat masa lalunya yang suka ngeceng di mall ini. Cie…masa lalu? Kayak udah bertahun-tahun aja dia hidup.
“Ya deh. Kita ke toko buku, yuk!” gandengnya. Putty melongo.
“Toko buku? Yang bener aja, Ra? Eh, tuh kayaknya ada peragaan busana!” serunya menunjuk ke arah panggung yang berdiri di tengah mall.
“Oh, biasa. Pemilihan putra dan putri remaja.”
“Pemilihan putra-putri remaja?” Kening Putty berkerut.
“Iya. Biasanya kalau malam minggu tuh ada pemilihan kayak gitu. Macam-macam namanya. Ada model Valentine, model fotogenik, sampe model Hallowen!” jawab Cira setengah mencibir. Putty terperanjat.
“Wow! Baru tahu!” serunya.
“Mau daftar? Pendaftarannya sih udah jauh-jauh hari, Non! Sekarang tuh penjuriannya.” Jelas Cira.
“Ya…kok lu nggak ngasih tahu gue, sih?” Putty cemberut.
“Gue juga nggak tahu kapan pendaftarannya. Lu musti rajin-rajin ke mall kalau mau ikut. Lagian, emangnya lu mau ikut, Put?” Cira tiba-tiba sadar arah pembicaraan Putty. Putty menjawabnya dengan senyum penuh arti.
“Kita lihat penjuriannya aja, yuk!” gandengnya. Cira menepuk jidat. Duh! Kenapa ia malah memancing Putty?
“Eh, Put! Jangan deh!” serunya.
“Kenapa sih? Cuma liat ginian aja nggak boleh?” Putty ngeyel.Cira hanya bisa geleng-geleng kepala.
Okey, boys and girls! Sekarang saatnya kita mulai pemilihan putra-putri remaja 2004! Lu liat kan di sana tuh! Tuh! Ada cowok-cowok en cewek-cewek yang keren abis! Mereka semua adalah finalis putra-putri remaja 2004. Mereka bakalan nunjukin kebolehan mereka di panggung ini sebentar lagi! Makanya lu-lu pada jangan ke mana-mana, ya? Tetep deh nongkrong di depan sini! Okey?!” suara cempreng pembawa acara memekakkan telinga. Cira menutup telinganya. Ini gara-gara Putty sih yang milih tempat berdiri di depan pengeras suara. Dilihatnya Putty yang senyumnya tampak melebar itu. Ah, pasti Putty lagi ngayal jadi model beken deh. Khayalan yang sempat kandas itu.
Suara musik mengiringi langkah para finalis pemilihan putra-putri remaja ke panggung. Cira menatap para finalis itu. Penampilan mereka benar-benar sempurna. Yang cewek, cantik-cantik dan seksi-seksi. Yang cowok, ganteng-ganteng bikin jantungnya berdebar-debar. Makanya Cira buru-buru menundukkan pandangan. Kan kata Mbak Naila, pandangan itu yang bikin virus merah jambu muncul. Cira bolak-balik ngucap ‘subhanallah’ dan ‘astagfirullah’. Habis, di sisi lain mereka-para finalis-emang keren abis. Sempurna secara fisik, deh! Tapi, apalah artinya fisik kalau  nggak ada iman? Buktinya mereka pede-pedean jual tampang begitu. Apalagi yang cewek-cewek tuh. Pake baju seksi buka aurat nggak tau malu! Ah, udahlah. Cira nggak mau menghujat mulu. Bisa-bisa malah dia yang dosa. Pokoknya yang penting dia melaksanakan tugasnya malam ini. Menjaga Putty biar nggak ngelayap ke mana-mana! Putty? Eh, ngomong-ngomong Putty ke mana, ya?
“Oh jadi nama kamu Putty? Nama yang bagus sekali.” Pria itu memuji Putty yang wajahnya langsung merah.
“Yah, begitulah. Orangtua saya memang gape ngasih nama.” Kata Putty makin sombong. Kening Cira berkerut melihat pria yang sedang mengajak ngomong Putty. Sifat curigationnya muncul. Wah! Siapa ya tuh cowok? Bandar narkoba atau om-om yang lagi nyari mangsa? Cira buru-buru menghampiri Putty yang cuek beybeh dengan kehadirannya.
“Putty kelas berapa?” tanya pria itu lagi.
“Dua SMU, Om.” Putty tersenyum. Cira melotot. Om?! Aduh…Putty! Jangan main-main sama om-om, dong!
“Put, hati-hati!” bisiknya. Putty pura-pura tak mendengar.
“Adik salah satu finalis juga? Kok nggak naik panggung?” tanya pria itu lagi. Putty menggeleng.
“Enggak, saya cuma penonton, kok.”
“Model juga?”
“Enggak. Saya pelajar biasa.” Putty tertunduk.
“Wow! Saya beruntung sekali malam ini bisa  menemukan calon model berbakat seperti Putty!” seru pria itu mengejutkan. Putty melotot. Calon model berbakat?!!!
“Saya?” Putty menunjuk hidung. Pria itu mengangguk cepat.
“Ya! Kenalkan! Saya, Anton. Saya dari agensi model XXX. Saya pencari bakat dan saya baru saja menemukan bakat dari diri Putty.” katanya, memperkenalkan diri sambil memuji. Putty terbelalak. Pencari bakat?! Incredible! Ini yang selalu diimpikannya! Jalan-jalan di mall dan ketemu pencari bakat! Cira khawatir melihat gelagat Putty yang memang mengkhawatirkan itu.
“Put, udah yuk, Put….” Bisiknya sambil menggandeng lengan Putty. Putty menepisnya.
“Cira! Bapak ini pencari bakat dan dia bilang gue berbakat jadi model!!” serunya sambil memeluk Cira sampai gelagapan.
“Iya, Put, tapi, Put….” Cira sulit ngomong.
“Ya benar. Putty berbakat sekali. Kamu punya performance yang bagus. Kamu mau kan bergabung dengan agensi saya? Agensi saya sudah cukup terkenal dalam mengorbitkan gadis-gadis muda seperti kamu menjadi model terkenal. Bahkan bisa melebarkan sayap menjadi pemain iklan, sinetron dan film!” Agensi model itu mengompori. Putty terbelalak.
“Bener, Pak?!” tanyanya tak percaya. Pria di depannya mengangguk.
“Cira! Gue bakalan jadi model!!!” jerit Putty sambil kembali memeluk Cira.
“Put! Sadar, Put! Sadar!!” Cira menepuk-nepuk pipi Cira.
“Sadar gimana sih?! Emangnya gue lagi pingsan?!” Putty melotot.
“Oke, kalau kamu benar-benar mau bergabung dengan agensi saya, besok dateng ke kantor saya. Ini alamatnya.” Pria itu memberikan Putty selembar kartu nama. Putty menerimanya dengan sangat sangat senang.
“Makasih, Pak! Makasih, makasih. Saya nggak akan melewatkan kesempatan ini!” serunya, cepat. Pria itu mengangguk sebelum meninggalkan Putty yang masih bersorak-sorak kegirangan.
“Cira! Unbelievable!” seru Putty dengan mata berbinar. Cira menghela napas.
“Put, elu serius?” tanyanya, pelan.
“Iyalah! Lu tau kan? Ini mimpi gue! Jadi model, bo! Model!!! Terus, abis itu gue jadi artis!” Putty girang.
“Tapi, Put…elu kan…pake jilbab.” Kata Cira, menyadarkan. Putty hening sejenak.
“Oh iya, yah? Gue lupa.” Katanya, pelan. Cira tersenyum. Ia berharap kalimat Putty barusan mengindikasikan ia tak tertarik dengan tawaran jadi model itu.
“Nah, kalau elu jadi model, temen-temen bakalan tau kalau elu tuh pake jilbabnya asal-asalan.” Katanya lagi. Putty mengangguk.
“Iya.”
“Jadi?”
“Gue kan emang asal-asalan pake jilbab. Sekarang aja gue nggak pake jilbab. Apa sebaiknya gue nggak usah pake jilbab aja, ya? Gue lepas jilbab aja ya, Ra? Gue kan juga masih setengah-setengah. Dari pada setengah-setengah, mendingan nggak usah aja. Iya kan, Ra?” tanya Putty membuat Cira terperangah.
“Apa, Put? Apa yang elu omongin tadi? Elu serius?” tanyanya, gamang. Putty tertawa.
“Ya iyalah! Gue pake jilbabnya nanti-nanti aja. Sekarang kan masih kelas dua SMU. Apalagi ada tawaran jadi model. Sayang kalo dilewatin, Ra! Lu juga pasti bangga dong punya teman orang beken kayak gue? Jadi, gue lepas jilbab aja dulu, ya?” ceracaunya yang menurut Cira seperti orang nggak sadar. Putty? Benarkah yang lu bilang tadi?
***
Shock. Gue bener-bener shock dengan kejadian malam ini. Gue ingin waktu diputar kembali dan gue pasti akan menolak ajakan Putty ke mall malam ini. Kalo gue nggak mau ke mall kan pasti Putty juga nggak bakalan ke mall. Dia kan nggak berani sendirian. Ah! Gue bener-bener nyesel. Astagfirullah! Kenapa gue malah menyesali semua yang udah terjadi yah? Terus sekarang gimana, dong? Masa’ Putty malah mundur? Masa’ dia yang udah bagus-bagus pake  jilbab malah lepas? Ntar kalau udah lepas jilbab, terus jadi model, jadi artis, terus…duh, Putty. Gue nggak mau bayangin jadi apa elu nanti. Udah gitu semua salah gue juga. Salah gue yang mau nemenin elu ke mall malam ini. Putty!!!
Cira menenggelamkan kepalanya dalam bantal. Menangis. Ya, hanya itulah yang bisa dilakukannya. Dia benar-benar nggak ingin Putty lepas jilbab dan jadi model. Dia nggak ingin Putty mengumbar auratnya. Dia nggak ingin Putty…. Cira menghapus airmatanya. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya untuk menyadarkan Putty? Apa? Cira bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu sholat. Tentu sholatnya nggak di kamar mandi lah! Dia harus berdoa. Semoga Allah mengembalikan hidayah Putty yang hilang malam ini.
***
Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaa...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....