Saturday, December 10, 2011

Resensi Buku: JEAN SOFIA


Judul Buku : JEAN SOFIA
Penulis : Leyla Hana
Penerbit : Penerbit Laksana (Diva Press), Yogyakarta
Tahun terbit : September 2011
Cetakan : I
Jumlah halaman : 414 halaman
Ukuran buku : 19 cm x 12 cm
ISBN : 978-602-978-714-6
Harga : Rp. 46.000,- (tanpa diskon)

Jean Sofia : Apakah beda keyakinan mampu membelah cinta?
Sekalipun aku sudah siap menikah, sanggupkah aku menepis bayangan Jean dan mengalihkan cintaku kepada suamiku? Bagaimana jika tidak bisa? Tentu aku akan jadi sangat berdosa kepada suamiku karena telah menduakannya di dalam hati. Aku menikah dengan lelaki lain, tapi pikiranku masih terpaku kepada Jean.

***

Jean Adrianus Joshua, pemuda blasteran Perancis-Tionghoa, berkulit putih, tinggi, hidung mancung, rambut gelap, cerdas, kaya, dan baik hati. Siapa wanita yang tidak tertarik padanya? 

Sofia Zulaikha, gadis manis berdarah Jawa-Sunda, kulit sawo matang, dan sangat taat pada agamanya.

Meski awalnya mengelak, namun takdir telah mempertemukan Sofia dengan Jean dalam ruang kuliah yang sama, di semester pertama, di sebuah Universitas di Semarang. Tanpa kata-kata, hanya melalui tatapan mata, butir-butir cinta itu telah menggetarkan dada mereka. Semakin lama dipendam, yang dirasa hanyalah perasaan menderita. Meskipun tanpa melalui tegur sapa, dari bahasa mata mereka, semua tahu, ada binar cinta disana. Namun sayang, seperti minyak dan air, cinta diantara mereka tak mungkin disatukan.

Satu-satunya dinding penghalang itu adalah : perbedaan keyakinan (aqidah) diantara mereka. Sofia seorang muslimah sedangkan Jean seorang Katolik.

Allah yang menguasai hati manusia, Dia juga yang kuasa untuk membolak-balikkannya. Sofia sangat sadar akan perbedaannya dengan Jean, namun seringkali ia masih merindukan pemuda itu, meski hanya untuk bertemu di ruang kuliah, bahkan kadang ia juga masih mengangankan dapat membina cinta dengannya. Namun, fakta yang ada di hadapannya harus kembali menyadarkannya, bahwa mereka berbeda. Sungguh, sebenarnya Sofia malu kepada dunia jika dirinya yang (merasa) taat pada agamanya ternyata jatuh cinta pada pemuda yang berbeda aqidah dengannya, meski pemuda menarik hatinya. 

Begitupun dengan Jean, meski tak bisa membohongi hatinya, namun kenyataan yang ada di depan matanya juga menuntunnya pada sebuah fakta bahwa Sofia tak mungkin untuk diraihnya. Jurang perbedaan diantara mereka terlalu lebar. Meskipun demikian, ketertarikannya kepada Sofia tak pernah berkurang sedikitpun, bahkan ia semakin mengagumi Sofia, dan mengagumi keyakinannya yang begitu kuat pada Tuhannya.

Dalam kebimbangannya, Sofia mendapat pecerahan dari teman-teman mentoringnya di kampus. Hanya satu saran yang ia terima atas perasaan cintanya : Sofia harus melupakan Jean. Sulit sekali bagi Sofia menerima kenyataan itu. Karena itulah Sofia kemudian lebih memilih untuk ikut aktif dalam aktivitas keagamaan di kampusnya. Makin hari Sofia makin dekat dengan agamanya, dan makin hari ia pun semakin yakin untuk bisa menjauhi dan melupakan Jean. Sofia sangat yakin, ketika ia meninggalkan sesuatu yang tidak diridhai-Nya, maka Dia akan memberinya ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang telah ia tinggalkan itu.

Jean dan Sofia, keduanya tak pernah saling mengungkapkan perasaannya, hingga mereka lulus kuliah dan kembali ke tempat asal mereka. 

Beberapa tahun telah berlalu, setelah yakin dengan pencariannya, dan setelah mempertimbangkan dengan sangat matang akan pilihan hidupnya, akhirnya Jean memantapkan hatinya menjadi seorang mualaf. Setelah lulus kuliah ia bekerja di perusahaan ayahnya, namun hingga delapan tahun lamanya, Jean menyembunyikan keimanannya dari keluarganya. Dan sepanjang waktu itu, ternyata Jean masih merindukan bayang-bayang Sofia. 

Sementara itu, di tempat lain, Sofia telah menikah dengan Hafidz, seorang lelaki shalih yang membuat hidupnya tentram dan bahagia. 

Gelombang kehidupan memang tak pernah berhenti untuk menguji keimanan seroang hamba yang telah menyatakan bahwa ia beriman. Perasaan yang berat dan menghimpit dada itu akan menjadi bukti, sebesar apa cinta seorang hamba kepada Tuhannya dan kepada hukum-hukum-Nya. Dan untuk membuktikan sebesar apa cinta seorang hamba, pengorbananlah yang akan menjadi buktinya. 

Dan sebagai bukti atas cinta dan pembelaan kepada keyakinannya, Jean harus berani mengakui keimanannya di depan keluarganya yang sangat menentang keimanannya, hingga akhirnya ia pun harus rela kehilangan pekerjaan dan kedudukannya dalam di Joshua’s Corporation. Terbiasa hidup mewah dan berkecukupan, demi sebuah keyakinan, Jean harus rela menjadi orang biasa yang tak punya apa-apa. 

Setelah tujuh tahun menikah dan tak juga diberi amanah seorang keturunan pun, demi memenuhi harapan suami dan mertuanya yang ingin segera mendapatkan cucu, dan demi menjalankan sunnah Rasulnya, Sofia pun tak bisa mengelak dari pahitnya masna. Meski berat dirasakan, ia berusaha menjalaninya dengan tegar. Meski pada akhirnya ia sendiri yang mengajukan perceraian kepada suaminya, karena ia merasa suaminya tak lagi bisa bersikap adil kepadanya.

Allah yang telah mengatur segalanya. Pertemuan dan perpisahan itu adalah garis takdir-Nya. Dalam kegetiran hidup yang begitu menghimpit dada, dalam acara resepsi pernikahan Nisa, adik Sofia, Jean bertemu kembali dengan cinta pertamanya, wanita yang telah menjerat hatinya hingga belasan tahun lamanya. Pertemuan yang tak terduga. Dan kali ini, akankah Jean kembali melepaskan Sofia?

Bagi Jean dan Sofia, apakah pertemuan itu adalah akhir dari segalanya? 

Ujian demi ujian akan datang silih berganti, dan sesungguhnya bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan, maka beruntunglah orang-orang yang berpegang teguh pada keyakinannya. Tiada kerugian sedikit pun atas orang-orang yang bersabar, karena meski berat, namun buah dari kesabaran itu lebih manis daripada madu…

***

Sebuah kisah yang mengharu biru ditorehkan dengan begitu manis oleh Leyla Imtichanah (nama asli penulis), dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, cerita mengalir hingga tanpa terasa membawa pembaca kepada jalinan cerita yang dikemas dengan begitu apik, sangat natural, dan dipenuhi dengan mutiara hikmah. 

Membaca novel ini, sama sekali tidak rugi. Kisah yang diangkat, meski itu terkesan ringan yaitu kisah percintaan dua anak manusia, sesuatu yang kerap terjadi dalam kehidupan nyata, namun jika benar-benar dimaknai, inti pesan dalam kisah tersebut adalah sesuatu yang sangat dalam. Aqidah yang menjadi landasan keyakinan itu adalah sesuatu yang harus dipertahankan sampai nafas terakhir dan perbedaan aqidah akan menjadi sebuah perkara yang besar jika sudah melibatkan cinta. Dan itulah ujian Allah kepada hamba-Nya…

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. Al Mujaadilah : 22) 

Sungguh tidak ada yang sia-sia dalam pandangan-Nya. Setiap usaha manusia pasti akan akan memperoleh balasan seperti apa yang telah diusahakannya, asalkan ia tetap yakin bahwa segala sesuatu itu datang dari Allah dan semua akan kembali kepada-Nya. 
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 39)

Selamat membaca! Karena setelah perjalanan berliku yang melelahkan, akan ada sesuatu yang indah pada akhirnya… 

Yogyakarta, 3 Oktober 2011
Fitri Nurhati

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....