Tuesday, December 27, 2011

Resensi Buku: RAHASIA PENGANTIN BARU (2)



Penulis: Leyla Hana
Penerbit: Quanta (Imprint P.T Elex Media Komputindo)
Tebal: 200 hal
Terbit:November 2011
Harga:Rp 39.800

Secara naluriah, keinginan untuk berpasang-pasangan melaui jalan pernikahan dimiliki oleh semua manusia. Kecenderungan untuk berkasih sayang dengan lawan jenis dan memiliki keturunan adalah fitrah manusia. Jadi amatlah wajar jika seorang manusia memiliki keingnan untuk menikah.



Lalu bagaimana rasanya menikah itu? Jawaban yang terbayang adalah begitu indahnya masa pengantin baru. Pada saat itu semua terasa serba romantis. Lalu setelah melewati masa pengantin baru apakah keindahan itu akan terus berlangsung?

Kenyataannya pasangan pengantin baru akan menemui beberapa keputusan yang terkadang bisa menyulut perbedaan pandangan di antara suami dan istri. Seperti bagaimana ketika harus mengatasi konflik rumah tangga, rasa cemburu terhadap pasangan, perbedaan suku, pengaturan keuangan keluarga, komunikasi dengan mertua, sampai penentuan keturuanan.

Ibaratnya sebuah pernikahan adalah sketsa pemandangan hutan yang indah mempesona. Kita bisa melihat hijau pepohonan, warna-warni bunga, ranum buah-buahan, air terjun mempesona dan keindahan alam lainnya. Tetapi, tatkala kita memasukinya bersiap-siaplah menghadapi binatang buas dan hewan melata yang siap menerkam, tumbuhan beracun atau tersesaat didalamnya.

Begitulah sekilas isi buku ini. Di bagian awal pembaca akan diajak untuk melihat fenomena keindahan setelah menikah, asiknya menjadi pengantin baru dan tentu saja bahagia karena mendapatkan pasangan hidup. Paparan selanjutnya pembaca akan mendapatkan realita kehidupan pengantin baru yang pasti berhadapan dengan berbagai permasalahan di dalamnya. Membaca buku ini, pembaca seperti diberikan kunci untuk membongkar ruang-ruang rahasia kehidupan pengantin baru. Karena pembaca akan di ajak masuk ke dalam kehidupan rumah tangga yang memiliki banyak kisah dan bagaimana cara terbaik dalam menyikapinya.

Sejujurnya buku ini sangat direkomendasikan bagi yang belum menikah. Membaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan yang bergelayutan dalam benak kita (yang belum menikah) satu persatu berjatuhan karena jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu secara lengkap bisa ditemukan dalam buku ini. Sehingga keragu-raguan dalam hati tidak lagi semakin menggelembung tetapi semakin mengempis sekaligus memupuk keyakinan bahwa menikah itu menyenangkan apabila kita bisa menyikapi setiap permasalahan dalam rumah tangga secara bijak dengan berkaca pada kisah-kisah yang terdapat dalam buku ini.

Setiap kisah dalam buku ini menggunakan kombinasi kisah nyata berhikmah dari penulisnya dan kisah pengantin baru lainnya sehingga dengan membaca buku ini pembaca tidak saja mendapatkan kunci untuk bisa membongkar pintu kehidupan pengantin baru tetapi pembaca juga mendapatkan pemandu setia dalam menjelajahi ruang kehidupan rumah tangga penganti baru yaitu penulis buku ini. Tentu saja, pembaca akan betah berlama-lama membaca buku ini karena akan terasa sekali bahwa penulis ada disampingnya. Penulis menceritakan dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti dan sesekali mengajak pembaca tersenyum karena malu saat diajak mengintip malam pertama, sebal karena dihadapakan pada permasalahan cemburu, sedih saat mendengar cerita perselingkuhan, pusing ketika dihadapkan pada keuangan keluarga sampai diajak berfikir bagaimana menentukan apakah tinggal bersama mertua atau tinggal di rumah sendiri yang tentu saja perlu memerlukan biaya besar?

Beberapa kisah tersebut selain disuguhkan berdasarkan kisah nyata penulis maupun kisah dari berbagai sumber lain, pada bagian akhir diberikan tips dan trik bagaimana cara menyelesaikan permasalahan rumah tangga yang sering terjadi. Pembaca akan diajak untuk menentukan sendiri pilihan alternatif penyelesaiannya sehingga tidak memaksakan untuk tunduk pada tips dan trik yang diberikan penulis. Oleh karenanya, buku ini selain direkomendasikan bagi yang belum menikah, buku ini sangat cocok untuk calon pasangan yang berniat untuk menikah, baru saja menikah bahkan pasangan yang sudah menikah bertahun-tahunpun direkomendasikan membaca buku ini.

Namun, saya menemukan dua hal yang membuat saya kurang nyaman saat membaca buku ini seperti kerancuan pada kalimat di halaman 66, “Memangnya seperti sih rasanya tinggal di rumah orang tua?” dan pada halaman 122 dengan adanya kata ‘tidak becus’. Saya merasa kurang nyaman dengan pemilihan kata ini, atau mungkin kata ini digunakan sebagai penegas? Hanya itu saja yang membuat saya kurang nyaman selebihnya saya sangat menikmati buku ini.

Sejatinya ketika kita memutuskan menikah, kita harus bisa dan siap menerima kenyataan bahwa tidak ada kesempurnaan pada pasangan kita. Maka bersiaplah untuk menjadi pelengkap kekurangan pasangan dengan saling pengertian, komunikasi dan saling terbuka atas apa yang dirasakan selama menjalani hidup berdua dan kita juga harus siap apabila kita Allah SWT menjemput terlebih dahulu pasangan kita. “Ketika kita menikha bukan hanya menikahi raga pasangan kita, tetapi juga umurnya. Maka bersiaplah untuk kehilangan, karena kita tidak pernah tahu takdir umur pasangan kita (hal 174).”

Bagi saya buku ini seperti sebuah kunci yang akan membongkar ruang-ruang rahasia pengantin baru. Rahasia nikmatnya menikah dan permasalahan yang ada di dalamnya. Penasaran dengan hasil apa yang anda dapatkan setelah berhasil memasukinya? Bongkar jawabannya dengan membaca buku ini!
Diposkan oleh arr rian
http://arrrian.blogspot.com/2011/12/membongkar-rahasia-pengantin-baru.html

1 comment:

  1. Pertamax, akhirnya saya tulisan saya bisa mejeng di blog penulis hebat ^_^
    Makasih mbak

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....