Monday, December 5, 2011

Serial Emak Rempong: Awal dari Kerempongan Itu


Ketika sedang hamil anak pertama, tak pernah saya duga bahwa kelak (ketika si kecil lahir) saya akan mengalami kerempongan-kerempongan yang luar biasa. Kehadiran si kakak (saya dan suami sepakat menyebutnya “kakak” sejak dalam kandungan. Tak disangka ternyata bayiku kelak menjadi kakak dalam waktu singkat) mengubah hidup saya dari yang semula santai, menjadi super sibuk. Waktu 24 jam seakan teramat singkat. Sebagian besar hidup saya hanya berpusat padanya.

Alhamdulillah, Ismail lahir lebih cepat dari waktu yang diperkirakan oleh dokter dan bidan-bidan. Lebih cepat sebulan. Mungkin dulu perhitungan kehamilannya kurang akurat. Mungkin juga kelahirannya dipercepat oleh sang bidan, karena Ismail lahir melalui  bantuan perangsang mulas, tablet dan infuse mulas. Mungkin saja dulu bisa ditunggu sampai benar-benar mulas, toh perkiraan lahirnya masih lama. Apa pun, itu sudah menjadi kehendak Allah, dan yang terutama, Ismail lahir dengan selamat, sehat, dan tidak mengalami kelainan apa pun.

Saat ia lahir, saya sama dengan sebagian besar ibu yang begitu antusias menyambut kelahiran bayi pertamanya. Tak sabar ingin menggendong bayi, meskipun tubuh masih lelah dan sakit tidak karuan. Seluruh tubuh saya terasa sakit, sakit di bagian bawah karena jahitan di jalan lahir sebanyak lima jahitan, dan rasa sakit di payudara karena kelenjar payudara mulai bekerja untuk mengeluarkan ASI. Betapa berlipat-lipat rasa sakit yang dialami oleh seorang ibu, membuat saya teringat kembali almarhumah ibu saya yang tidak sempat melihat kelahiran cucunya, bahkan tidak sempat melihat pernikahan saya.

Ya, saya harus berjuang sendirian untuk merawat bayi saya, tanpa arahan dari ibunda tercinta. Memang, saya masih memiliki ibu mertua. Sejak kandungan berumur tujuh bulan, suami menyuruh saya tinggal di rumah ibu mertua agar mendapatkan arahan dan bantuan dalam merawat bayi kami kelak. Jika ibu saya belum meninggal, mungkin saya akan tinggal bersama  ibu kandung sendiri, sebagaimana anak-anak perempuan lainnya. Syukurlah, ibu mertua begitu perhatian dan nyaris seperti ibu kandung sendiri, meski tetap saja mungkin lebih enak bila bersama dengan ibu sendiri. Maklum saja, saya baru setahun mengenal ibu mertua. Berhubung proses menikah tanpa melalui pacaran, saya baru benar-benar mengenal ibu mertua, setelah menikah. Itupun tidak intensif, karena saya tinggal di Bogor, sedangkan ibu mertua di Garut. Sikap merasa asing, masih menghinggapi kami.

Selama tinggal di rumah mertua, saya cukup terbantu. Sebelum melahirkan, Ibu membantu belanja barang-barang keperluan bayi. Tentu saya membutuhkan arahan dari orang yang lebih berpengalaman, sebab saya tidak tahu keperluan apa saja yang mesti dibeli. Ibu juga banyak memberikan informasi mengenai kehamilan dan melahirkan, seperti makanan apa yang harus dikonsumsi, larangan untuk ibu hamil, dan sebagainya. Dan setelah melahirkan, bantuan ibu semakin tak terhitung. Beliau menyiapkan air mandi hangat untuk saya dan bayi, daun sirih untuk menghilangkan gatal-gatal di jalan lahir, membantu mengurus bayi apabila saya sedang ada keperluan, dan lain-lain.

Namun, saya tetap merasa sendiri saat malam tiba. Suami tetap tinggal di Bogor, karena harus bekerja. Di kamar depan (pavilion), saya hanya berdua dengan bayi saya, yang lima hari kemudian diberi nama Ismail. Cuaca Garut yang dingin, ditambah larangan menggunakan diapers, membuat saya tersiksa. Ismail terus menangis dan berkali-kali pipis, sehingga saya harus berkali-kali mengganti popok kainnya. Musim hujan pula, membuat cucian susah kering, sehingga persediaan popok harus ditambah. Ibu mertua masih berpikiran seperti orang-orang zaman dulu, di mana bayi tidak boleh memakai diapers karena nanti jalannya ngangkang.

Saya merasa stress. Tidur malam tak bisa nyenyak. Setiap setengah jam sekali, Ismail pipis, sehingga popok harus diganti. Sebaliknya, jika siang hari, Ismail justru lelap tidur, bahkan harus dibangunkan untuk diberikan ASI. Saya teringat suami, yang di benak saya sedang tidur nyenyak tanpa gangguan suara tangis bayi. Huh, enak sekali dia, batin saya menggerutu. Sementara saya harus menahan kantuk, menggendong dan mendiamkan Ismail yang menangis. Kalau tangisannya tak berhenti-henti sampai terdengar ke kamar mertua yang terpisah kolam ikan, ibu mertua baru datang dan membantu menggendong. Ya, saat itu saya berharap ibu mertua mau menemani saya tidur, tetapi bagaimana ya? Hubungan kami masih ada kesenjangan, jadi ibu mertua hanya sesekali menemani.

Akibat dari keseringan digendong,  Ismail jadi “bau tangan.” Sebuah istilah untuk menyebut kecenderungan bayi yang harus selalu digendong dan tidak mau ditaruh dan ditinggal sendirian. Maklum, namanya juga cucu pertama. Keluarga mertua begitu antusias ingin menggendong Ismail. Saya juga sangat sayang kepada Ismail, salah satu keajaiban dalam hidup saya. Dan sayangnya, saya tidak bisa menyusui sambil tidur, harus duduk dan menggendong dia. Otomatis, Ismail sering berada di gendongan, sehingga jadi “bau tangan.”

Selama tinggal di rumah mertua, hal itu tidak menjadi hambatan. Kalau saya sedang ke kamar mandi atau makan, ibu mertua akan mengambil tugas menggendong. Nanti baru terasa begitu saya sudah kembali ke Bogor, demi memenuhi tugas istri terhadap suaminya. Selama di Garut, suami datang menengok dua minggu sekali. Sebenarnya hanya untuk melampiaskan kangen. Tidak cukup membantu juga, karena suami tidak bisa menggendong bayi baru lahir. Pernah juga dipaksakan ketika saya sudah sangat kesal, Ismail tidak mau diam dari tangisnya. Tapi, rasanya itu hanya sekali-sekalinya, hehe…..

Nah, dua bulan kemudian, ketika Ismail telah berusia dua bulan, saya harus kembali ke Bogor, karena suami sudah tidak tahan lagi ditinggal istrinya. Banyak pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai, terutama urusan menyetrika pakaian. Mencuci pakaian sih bisa, tapi menyetrika pakaian itu lho…. Meskipun mertua meminta saya tetap tinggal sampai Ismail berusia setahun, rasanya tidak adil juga untuk suami. Sesulit apa pun (merawat bayi sendirian) harus saya jalani, karena saya sudah memilih menjadi istri dari suami saya dan ibu dari Ismail.

Dan kerempongan-kerempongan itu benar-benar membuat saya setreeeees….. Dengan sangat terpaksa, saya memakaikan diapers kepada Ismail. Ya, sewaktu di rumah mertua, saya masih bisa bertahan memakai popok kain, karena ada yang membantu mencuci popok. Kalau tidak pembantu harian, ya ibu mertua. Di rumah sendiri? Suami sesekali membantu mencuci popok, kalau hari libur. Hari biasa, ya harus saya yang mengerjakan. Belum terpikir mencari pembantu rumah tangga, karena merasa kerempongan-kerempongan itu masih bisa diatasi.

Selain itu, akibat bau tangan, Ismail tidak bisa ditinggal berlama-lama. Bahkan, untuk mengambil wudhu, suara tangisnya kencang terdengar begitu menyadari saya tidak ada di dekatnya. Sering sekali saya mengambil air wudhu sambil menggendongnya. Mandi? Harus cepat-cepat juga. Saya jadi terbiasa mandi pagi-pagi sewaktu suami belum berangkat ke kantor, jadi ada yang menunggui Ismail. Pokoknya, bayi saya nyaris tidak pernah jauh dari saya. Seperti bayi kanguru yang selalu berada di dalam kantong induknya.

Alhasil, rasa-rasanya hidup saya hanya berputar pada bayi semata. Bahkan, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga banyak terbengkalai. Pernah, suami saya membantu menyetrika pakaian. Sudah tentu cara melipatnya tidak rapi. Pernah juga, tengah hari saya merasa kelaparan karena belum sempat memasak, eh gasnya habis. Begitu ke warung, pasokan gas di warung juga sedang habis. Berjalanlah saya ke luar komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk beli mie ayam. Sudah tentu dengan menggendong Ismail. Sudah pakai payung, tapi masih panas.

Sebelum menikah dan punya anak, saya punya banyak waktu untuk menulis. Selain hobi, juga sudah menjadi profesi. Setelah menikah, saya masih bisa menulis. Bahkan saat hamil pun—kecuali saat ngidam berat—saya masih bisa menulis. Tapi, ketika Ismail lahir, saya sama sekali tak bisa menulis. Ismail selalu ada di gendongan saya, bagaimana mau mengetik? Saat itu, belum ada masalah. Berhubung anak pertama, jadi saya masih lebih memperhatikan Ismail daripada hobi menulis. Tidak mengapalah tak menulis dulu.

Bagaimanapun rempongnya, setiap kali memandang wajah Ismail yang sedang lelap (saat itu adalah saat paling damai dalam hidup saya ;P), saya selalu bersyukur karena ia telah hadir di dalam hidup saya. Sebuah keajaiban yang saya tunggu-tunggu sejak masih SMP. Yap, sejak dulu saya penasaran seperti apa wajah anak saya? Keturunan saya? Alhamdulillah, ia sehat dan tampan. Tidak semua pasangan suami istri seberuntung saya, bukan?
  

1 comment:

  1. Subhanallah.. dedeknya mirip bgt sama mbak Ela, terutama yg atas itu.. lucccu mbak, gemes :D

    -Santiartanti-

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....