Wednesday, December 14, 2011

Serial Emak Rempong: Bayiku Punya Adik!


Usai melahirkan Ismail, saya sempat terserang perasaan trauma dan tidak ingin melahirkan lagi. Ya, itu karena proses persalinannya yang dipaksa dengan induksi infuse. Rasa sakitnya berlipat-lipat lebih sakit daripada mulas biasa. Saya harus merasakannya selama tiga jam, tanpa berhenti! Ketika saya mengeluh, Bidan malah memarahi saya dan mengatakan bahwa ada ibu lain yang harus menahan selama 12 jam! Ah, yang benar saja! Mungkin saya sudah mati kalau menunggu selama itu.


Itulah kenapa, saya langsung mencaritahu soal kontrasepsi demi mencegah kehamilan lagi sebelum rasa trauma benar-benar hilang. Oh ya, trauma itu ditambah dengan jahitan yang banyak hingga terasa nyeri di jalan lahir, bahkan kemudian gatal-gatal dan sangat tidak enak, akibat pengaruh benang jahit. Pokoknya, saya belum mau hamil lagi, meskipun sejak baru menikah, suami sudah ancang-ancang punya anak sepuluh. Haduuuh.. yang benar saja! Kalau dia yang melahirkan sih tidak apa-apa.

Pilihan pun jatuh pada alat kontrasepsi berbentuk pil. Saya tidak mau disuntik, karena katanya akan mempengaruhi kesuburan. Ada yang sulit punya anak lagi, setelah melakukan suntik KB. Bahkan,bisa bertahun-tahun kemudian baru bisa hamil lagi. Rencananya, saya ingin punya anak yang idak begitu jauh jarak usianya, tapi juga tidak terlalu dekat.

Saya juga tidak mau mencoba alat kontrasepsi IUD, atau yang biasa dikenal dengan sebutan spiral. Mendengar cerita bahwa alat itu dipasang di rahim saja sudah membuat nyeri. Bekas jahitan belum pulih, sudah dipasangi IUD, bagaimana rasanya? Memang, ada saja yang menghibur dengan mengatakan bahwa pemasangan IUD tidak sakit, tapi tetap saja saya tidak mau. Satu-satunya alat kontrasepsi yang  gampang, tinggal glek, adalah pil KB.

Usai nifas, tiga hari kemudian, saya sudah mendapatkan haid. Itu berarti saya dapat hamil lagi. Saya buru-buru membeli pil KB yang cocok untuk ibu menyusui, yang katanya tidak mempengaruhi ASI. Saya meminumnya dengan rutin. Ternyata, seminggu setelah haid selesai, saya haid lagi. Bila ditotal, dalam sebulan, saya haid tiga kali, alias tiga minggu. Wah, ada apa ini?

Berdasarkan pengalaman orang-orang, agaknya saya tidak cocok dengan pil KB. Duuuh…. Sedangkan untuk alat kontrasepsi lain, saya belum berani. Selain itu, tidak ada dukungan dari suami untuk menggunakan alat kontrasepsi. Sejak awal, suami memang menginginkan banyak anak, jadi tidak perlu ber-KB. Nah, seminggu setelah haid terakhir itu, saya belum juga menentukan mau menggunakan alat kontrasepsi apa. Ternyata, dua bulan kemudian, saya hamil lagi!

Usia Ismail baru lima bulan. Saya merasakan tanda-tanda seperti orang hamil, tidak enak badan, tidak nafsu makan, dan kurang darah. Saya bahkan tidak kuat untuk sekadar menggendong Ismail yang rewel. Suami pun berinisiatif membelikan test pack, yang tentu saja membuat saya ketar-ketir. Ya Allah, saya belum siap jika harus hamil lagi. Saya belum siap melahirkan lagi. Dan sudah tentu, bagaimana nanti merawat anak-anak tanpa bantuan siapa pun? Suami berangkat pagi, pulang malam. Tidak ada saudara yang bisa dimintai bantuan. Tetangga dekat hanya satu, itu pun jarang di rumah.

Ketika akhirnya test pack itu memberikan jawaban positif, saya hanya terpaku. Tidak percaya. Ya, saya sungguh tidak percaya. Suami pun rupanya terkejut. Padahal, bukankah dia bertekad tidak akan membatasi anak? Kenapa setelah tahu saya hamil lagi, dia ikut bengong? Rupanya selama ini dia yakin  bahwa ASI Eksklusif yang saya berikan kepada Ismail, dapat mencegah kehamilan.

ASI memang dapat mencegah kehamilan, dengan catatan bila si ibu belum haid lagi sesudah selesai nifas. Sedangkan saya tergolong subur. Selesai nifas, langsung haid. Ya, namanya juga laki-laki. Susah dijelaskan. Sekarang begitu tahu saya hamil lagi, dia ikut bengong. Rupanya dia juga belum seratus persen siap. Bagaimanapun, kehadiran anak kedua itu harus kami terima. Masa kami gugurkan?

Saya merasa malu, sungguh. Orang-orang di sekitar kami seakan menyudutkan ibu-ibu yang punya anak banyak, kecil-kecil. Bapaknya dianggap tidak kuat menahan nafsur birahi, sehingga istrinya hamil lagi. Saya berusaha menyembunyikan kehamilan sampai berusia enam bulan. Ya, selama itu saya tidak mengatakan kepada orang-orang bahwa saya sedang hamil lagi. Hanya keluarga dekat kami saja yang tahu. Ketika masuk proses ngidam, saya mengungsi ke rumah orang tua saya. Tidak sanggup merawat Ismail ketika kondisi fisik sedang drop.

Sebagaimana kehamilan yang pertama, saya mengalami ngidam parah. Yang kedua itu masih mendingan, tapi masih tergolong parah. Ismail mulai disapih, atas anjuran bidan dan ibu mertua. Rasanya tidak enak menyapih bayi ketika produksi ASI masih banyak. Payudara bengkak dan badan sakit semua. Kasihan melihat Ismail tidak menyusu lagi. Melihat mulutnya yang mencari-cari putting susu, tetapi saya sodori botol susu. Saya tidak bisa merasakan lagi nikmatnya menyusui. Momen di mana hubungan saya dengan Ismail begitu dekat. Kalau Ismail menangis minta susu, saya malah meninggalkannya ke dapur untuk membuat susu.

Ya, di tengah proses ngidam yang parah (mual-muntah-anemia), saya masih harus melakukan semuanya sendiri; merawat bayi dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Hingga tibalah di mana saya tidak kuat bangun sama sekali, sedangkan Ismail menangis minta susu. Saya mengirim pesan ke suami untuk segera pulang. Esok harinya, saya diantar suami ke rumah orang tua saya. Saya terpaksa mengungsi sampai proses ngidam berakhir.

Alhamdulillah, dengan bantuan dari adik-adik, saya bisa melewati proses ngidam itu sambil tetap merawat Ismail. Setidaknya, kalau di rumah orang tua, saya tidak serempong di rumah sendiri. Saya tidak harus melakukan semua pekerjaan sendirian. Misalnya, memasak. Saya tidak perlu memasak, karena adik-adik saya sudah pintar memasak. Suami saya sudah terbiasa ditinggal, sejak hamil anak pertama. Paling-paling nanti mulai meneror kalau baju kerjanya sudah habis.

Ketika proses ngidam yang parah itu berakhir, saya kembali lagi ke rumah suami. Kembali menjalani rutinitas merempongkan itu. Perut saya pun sudah membuncit dan tak dapat disembunyikan lagi. Ibu-ibu yang bertemu saya, memasak muka ekspresi terkejut, “Lho, hamil lagi ya? Berapa bulan? Kok gak ketahuan?”

Saya hamil lagi, ketika Ismail baru berusia tiga bulan, tapi baru ketahuan hamil ketika Ismail berusia lima bulan. Lalu, mereka sibuk tanya-tanya, kenapa tidak KB? Pakai KB apa? Begitu tahu saya pakai pil KB, mereka ribut menyalahkan. Ya iya lah.. pil KB kan bikin subur. Harusnya disuntik…. Hffff…..

Kehadiran anak semestinya menjadi anugerah bagi para orang tua, meskipun kehadirannya di luar rencana. Memang, anak kedua kami di luar rencana, tapi sebisa mungkin kehadirannya kami sambut dengan baik. Saya berusaha menjaga kandungan di tengah kerempongan. Alhamdulillah, janinnya kuat, meski perut saya sering ditendang-tendang Ismail. Suami juga tetap memperhatikan kehamilan yang kedua ini. Masih setia mengantarkan saya untuk memeriksakan kandungan, dan menyuruh saya untuk rajin minum susu hamil serta makan makanan bergizi.

Kehamilan yang kedua itu bahkan lebih sehat daripada yang pertama. Nafsu makan saya meningkat hingga kegemukan. Saat hamil tua, saya sulit berjalan dan selangkangan lecet karena kedua paha menyatu. Sebelum melahirkan, bobot tubuh mencapai 70 kg. Padahal, di kehamilan yang pertama, hanya 59 kg. Karena itulah, saya tidak kuat lagi menggendong-gendong Ismail yang sudah lincah, terlebih sering menendang-nendang adiknya. Saya benar-benar kerempongan. Suami pun memutuskan untuk menitipkan Ismail ke rumah ibu mertua di Garut.

Sedih rasanya hati ini ketika berpisah dengan anak pertama. Saya sempat punya pembantu untuk membantu mengatasi kerempongan, tapi hanya bertahan sebulan. Tidak mau balik lagi, karena ingin mengasuh cucu. Lalu, kami kesulitan mencari pembantu baru. Selama berpisah, setiap hari saya memandangi foto Ismail sambil menangis. Saya ingin cepat-cepat melahirkan supaya bisa membawa pulang Ismail. Sebenarnya, saya bisa saja ikut Ismail ke Garut, tapi saya trauma bila nanti disuruh melahirkan di bidan yang sama.

Untuk sementara, saya bisa terbebas dari kerempongan mengurus Ismail. Ada baiknya juga Ismail diasuh oleh neneknya, karena berat badannya meningkat. Dua bulan kemudian, seminggu setelah melahirkan, Ismail dikembalikan kepada saya. Saya pandangi dua bayi yang tidur di sisi kanan dan kiri saya. Yang satu baru berusia setahun, satu lagi berusia seminggu. Subhanallah….! Saya sadar, hari-hari saya berikutnya akan dipenuhi oleh kerempongan-kerempongan yang lebih heboh lagi!


2 comments:

  1. hehehe...
    sekarang kb apa mbak ley?
    saya gak KB. KB alami ala kitab qurrotul 'uyun..
    manjur hihi

    ReplyDelete
  2. hehehe... sekarang sama denganmu, Mba Binta... masih manjur juga

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....