Sunday, April 22, 2012

Motivasi Menulis: Apakah Menulis Hanya Untuk Uang?

Kemarin, saya baru mendapatkan kiriman bukti terbit antologi esai “Aku dan Buku,” yang audisinya sudah lama saya ikuti. Beberapa waktu sebelumnya, saya juga mendapatkan kiriman bukti terbit antologi “Ketika Buah Hati Sakit.” Dan sebelumnya, saya sudah membeli antologi “Balita Hebat,” yang juga ada tulisan saya di dalamnya. Ketiganya adalah antologi yang saya ikuti tahun 2011. Sebenarnya banyak audisi antologi yang saya ikuti, tapi tidak semuanya lolos.




FYI, saya tidak mendapatkan HONOR sepeser pun dari kontribusi tulisan saya itu. Hanya satu bukti terbit. Bahkan untuk antologi “Balita Hebat,” saya tidak mendapatkan bukti terbit. Tetapi, saya tak mempermasalahkan itu. Sekadar satu bukti terbit pun, bagi saya sudah cukup. Satu bukti terbit, tentu perlu biaya cetak, plus ongkos kirim ke rumah saya. Lumayanlah. Untuk “Balita Hebat,” sejak awal penulisannya memang saya niatkan untuk bersedekah, karena seluruh honor diberikan kepada korban bencana alam, yang saya lupa dulu untuk daerah mana, karena sudah lama.

Sudah lama saya tergabung dalam penulisan antologi, baik cerpen maupun esai. Bermula dari proyek-proyek antologi yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena, ketika saya masih aktif. Semua proyek antologi itu, TIDAK MENDAPATKAN HONOR. Hanya satu bukti terbit. Mengapa? Karena proyek-proyek antologi FLP itu dimaksudkan sebagai proyek kemanusiaan FLP. Semua honor penulis disumbangkan untuk berbagai hal; bencana alam, membantu penulis yang sedang kesulitan, membantu pendanaan perpustakaan Rumah Cahaya, dan lain-lain.

Biarpun tidak mendapatkan honor, saya bersyukur bila tulisan saya lolos dalam sebuah antologi, karena:

1.Saya bisa bersedekah dengan tulisan. Bagi saya, lebih ringan bersedekah dengan tulisan daripada dengan uang. Lho? Honor satu tulisan antara 150 ribu-300 ribu. Bisa juga lebih. Antologi itu kemudian dijual ke penerbit dan honornya disumbangkan. Secara tidak langsung, saya sudah menyumbang sebanyak honor di atas. Jika saya menyumbangkannya langsung dalam bentuk uang, belum tentu saya akan menyumbang sebanyak itu. Setan kan selalu bisa menggoda orang yang ingin berbuat baik. Bila saya memegang uang 300 ribu untuk disumbangkan, bisa jadi yang saya sumbangkan hanya 50 ribu karena godaan nafsu. Tetapi, kalau dalam bentuk tulisan, dengan senang hati saya akan memberikannya.

2.Saya bisa bergabung dalam satu buku dengan para penulis terkenal. Dulu, saya mengikuti antologi bersama Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Boim Lebon, bahkan Akmal N. Basral. Saya bisa “nebeng” beken bersama mereka. Para penggemar mereka yang membeli buku antologi itu, akan menemukan nama dan biodata saya di dalam buku itu. Saya pernah mendapatkan kiriman imel untuk Asma Nadia, yang sebenarnya ditujukan kepada saya, lalu diforward oleh Mba Asma ke imel saya.

3.Saya bisa membaca tulisan penulis lain dengan gratis. Satu bukti terbit itu, bukan hanya berisi tulisan saya. Tulisan saya hanya satu, lainnya ditulis oleh penulis lain. Tapi, saya bisa membacanya dengan gratis. Kalau tulisan saya tidak ada di dalam antologi itu, sama saja saya harus mengeluarkan uang untuk membeli bukunya, kan?

4.Saya bisa mengenal penulis lain, bahkan menjalin silaturahmi. Penulis antologi minimal 10 orang, maksimal tak terbatas. Tidak semuanya sudah saya kenal. Dengan membaca buku antologi itu, terlebih bila ada biodata semua penulis di dalamnya, saya jadi mengenal para penulisnya. Apalagi dengan adanya jejaring social fesbuk ini. Saya tinggal mencari fb-nya, lalu bisa saling berteman.



5.Bagi penulis pemula yang napas menulisnya masih pendek, antologi adalah ajang mengasah tulisan dan mempunyai buku dalam waktu singkat. Kalau menunggu punya buku solo, sementara belum sanggup menulis panjang, pasti akan lama sekali.

6.Saya bisa menambah daftar curriculum vitae saya, alias pengalaman dalam menulis, meskipun hanya antologi. Biasanya, kalau mengirim naskah ke penerbit, saya selalu menyertakan CV. Di dalam CV, ada daftar judul buku yang telah diterbitkan. Buku-buku antologi, meski hanya antologi, bisa menambah panjang daftar CV itu, dan sedikit banyak bisa mempengaruhi penilaian penerbit dalam menerima naskah kita.

7.Saya bisa berbagi hikmah, meski dengan secuil tulisan. Kebaikan apa pun yang kita sebarkan, meski tak mendapat bayaran sepeser pun, insya Allah akan tetap ada bayarannya dari Allah SWT.

Jadi, tidak selalu menulis itu untuk uang. Bahkan untuk menulis tulisan ini, saya tidak dibayar juga :D Hanya yang saya hindari dalam mengikuti audisi antologi adalah, apabila panitia memungut bayaran. Namun, sejak tahun 2012 ini, saya sudah tidak lagi mengikuti audisi antologi, kecuali yang diadakan oleh teman dekat—sehingga insya Allah lolos, hehehe…. Saya berikan kesempatan kepada para penulis lain untuk bersaing dalam audisi antologi. Untuk menghindari penipuan, jangan mengikuti audisi antologi yang berbayar. Saya justru beralih menjadi penyusun antologi, dan jadi mengetahui betapa ketatnya seleksi antologi, karena pesertanya bisa mencapai 300 orang. Menjadi penyusun antologi, sangat melelahkan, terlebih bila pesertanya masih sangat pemula dalam dunia menulis, belum tahu cara mengirim naskah, dan tulisan masih berantakan. Dan, yang paling mengesalkan kalau sudah diteror oleh peserta, apalagi dicaci maki. Hmmmm…..


9 comments:

  1. nice blog. follow blog saya ya mbak :-)

    ReplyDelete
  2. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    fikiran yang positif bisa menghasilkan keuntungan yang positif pula.,..
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete
  3. Kereeen mbaaa :)
    Tapi buat penulis pemula saat ini harus pandai-pandai memilih proyek antologi yang kredibel ^_^ jangan ngasaltologi hehehe... lihat dulu siapa PJ-nya. Jadi kalau pun diterbitkan indie, insya allah hasilnya bagus. Kan banyak yang PJ-nya sendiri belum punya banyak karya. Dikhawatirkan isi antologinya malah berantakan, apalagi kalau antologi berdasarkan penilaian JEMPOL di FB ^_^

    Thx sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba Achi... daku dulu ngikutnya antologi dari penulis terkenal, hehe

      Delete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....