Tuesday, April 10, 2012

Novel: Rara The Trouble Maker (4)


FIGHTING ON THE WAY

Angin sore memainkan anak-anak rambut Rara yang dibiarkan tergerai. Angkot yang dinaiki gadis berusia lima belas tahun ini berjalan perlahan karena membawa beban yang berat. Sore hari, angkot memang penuh. Bukan saja oleh anak-anak sekolah yang baru pulang, tapi juga oleh pekerja kantoran dan mahasiswa sebuah PTS yang terletak tak jauh dari sekolah Rara. Rara yang duduk di depan pintu menikmati saja suasana sore hari yang harus dijalaninya setiap hari. Seorang penumpang turun di sebuah gang yang dijejali oleh rumah-rumah kumuh. Pandangan mata Rara tertumbuk oleh sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia mengenal betul gadis yang sedang dimintai uang oleh preman jalanan itu. Ia segera turun dari angkot.



DUK! PAK! BUG!

“Ampun, Mbak!” Lelaki kucel itu meringkuk, menutupi tubuhnya dari serangan Rara.

Rara tersenyum puas. “Kalo elu minta duit sama temen gue lagi, awas lu!” ancamnya.

Preman itu mengangguk-angguk ketakutan. Rara membiarkan lelaki bertubuh ceking itu pergi. “Kebanyakan ngobat tuh orang!” gerutunya.

Tina menghampirinya dengan senyum sumringah. “Rara! Makasih ya! Untung ada elo!”

“Ah... kebetulan aja gue liat elu lagi dipalak sama tuh begundal.”

“Aduh... Rara. Gue emang sering banget dipalakin.”

“Wah, tempat lu emang rawan banget, ya?” Rara melihat ke sekelilingnya. Daerah kumuh yang signifikan sebagai sarang maksiat. Rumah-rumah kumuh berjejalan. Sebagian besar rumah-rumah tersebut belum jadi. Temboknya masih berbentuk semen yang kasar.

Lantainya pun masih tanah. Rumah-rumah itu berhimpitan satu sama lain. Lalat-lalat dari tempat pembuangan sampah yang seadanya menambah pemandangan di tempat itu tak enak dilihat. Layakkah tempat seperti itu menjadi tempat hidup? Sementara... tak jauh dari gang kumuh itu terdapat rumah-rumah besar yang berdiri angkuh. Kontras.

“Iya, emang. Lu hebat banget, Ra!”

Rara nyengir. “Yah, soalnya lawan gue cuma satu orang. Udah gitu badannya ceking lagi. Coba kalau lebih dari satu dan besar-besar!”

“Mampir ke rumah gue dulu, yuk!”

Rara melirik jam tangannya. “Udah sore banget, nih. Maaf, ya!”

Beberapa gadis dengan dandanan seronok melewati mereka. Bau parfumnya membuat Rara serasa ingin muntah.

“Itu para pelacur yang tinggal di belakang rumah gue.” Tina menjawab pertanyaan di kepala Rara.

Rara melotot. “Wah! Gila, lu! Nih, lingkungan nggak kondusif banget sih buat lu. Tapi di ujung sana, rumah-rumah mewah.”

“Iya. Orang-orang kaya di sana sombong-sombong. Padahal ada yang satu sekolah sama gue, lho. Kalo pas kebetulan ketemu, nggak nyapa. Sedih deh gue. Cuma kalo pas lebaran mereka suka bagi-bagi duit.”

“Hem... lebaran doang!”

Sebuah sedan hitam melewati mereka. Rara terkejut melihat pengendaranya.

“Eh! Itu dia kakak kelas yang sombong itu!” teriak Tina.

Rara mengikuti ke mana sedan itu berhenti. Sedan itu berhenti di depan sebuah rumah besar. Penghuninya keluar. Kakak kelas itu... Rara terkejut, lalu tersenyum. Aditya.
***

Wina tak percaya dengan kata-kata Rara barusan. “Jadi bener... elo udah tau di mana Aditya tinggal?” tanyanya. Rara mengangguk. “Ih! Sebel! Lu kan baru naksir dia kemarin, tapi udah dapet info!”

“Ye... kebetulan aja. Jodoh kali. Sekarang gue sering main ke rumah tetangganya.”

“Siapa?”

Rara menunjuk ke arah Tina yang baru datang. Tina tersenyum. “Hai, Ra! Tadi gue ketemu Kak Adit di gerbang, lho!” katanya sambil menaruh tas.

Rara langsung berdiri. “Eh, dia masih ada nggak, ya?!”

“Deu... yang pertama kali jatuh cinta...!” canda Wina. Wajah Rara memerah.

“Udah ngacir lagi, Ra. Dia kan naik sedan,” jawab Tina.

“Wah, Aditya itu anak orang kaya, ya?” tanya Wina.

“Iya. Asyik, kan? Cari cowok yang kayak gitu, dong.” Rara merasa bangga.

Wina mencibir. “Malah susah. Orang dia sombong gitu!”

“Eh, kalo Doddy gimana? Dia anak orang kaya juga, nggak?” tanya Rara.

Alis Wina naik sebelah. “Kayaknya sih enggak. Habis, bawaannya Honda butut!” jawabnya. Rara ngakak. “Tapi gue malah seneng tuh. Kalo kaya, gue justru takut nggak dapet!” Wina menambahkanh.

Rara cuek saja mendengarnya.

“Apa sih yang nggak bisa didapat oleh Rara? Liat aja nanti.”
***

Hari Ahad pagi. Rara memasuki ruang kelas satu satu yang digunakan sebagai tempat latihan PMR. Wina, Tina, dan Betty yang sudah datang lebih dulu, melambai-lambaikan tangan mereka.

“Ra! Duduk sini!” teriak Wina.

Rara menghampiri gerombolan si Berat yang duduk di pojok itu. “Hari ini teori, ya?”

“Iya. Minggu depan baru praktek,” jawab Tina.

Rara kecewa. Padahal lebih enak praktek. Beberapa saat kemudian, tiga orang senior PMR memasuki kelas. Materi minggu ini mengenai Sejarah PMR. Lumayan betein. Rara enggan memperhatikan. Ia malah memperhatikan ke seisi kelas. Ia melihat wajah Wina yang berubah merah. Ada ada ini? Oh... ternyata Doddy, si Pangeran pujaan, memasuki kelas.

“Baiklah adik-adik. Itulah tadi sejarah PMR. Selanjutnya, kita akan belajar menyanyikan mars PMR. Ini harus dihafpal lho. Kita suruh Kak Eva dan Kak Doddy untuk mengajarkannya,.” Kata Ranti. Wina jelas saja surprised! Wah... asyik, nih!

“Doddy, Win!” goda Rara. Wina tersipu malu. Deu....

“Adik-adik, kenalkan, ini Kak Doddy. Dia selain pengurus PMR juga gitaris Bband Butterfly. Kalau kemarin sewaktu acara perkenalan dia nggak datang, itu karena dia sibuk latihan untuk pementasan di Citraland. Tepuk tangan dong buat kakak kita yang keren dan beken ini!” seru Eva. Lalu tepuk tangan untuk Doddy menggema. Doddy memasang senyum mautnya yang membuat hati para gadis menggelepar. Rara malah muak melihatnya.

“Oke, adik-adik. Kita mulai menyanyi, ya. Kak Doddy yang akan memetik gitar,” kata Eva. Lalu, mars PMR diiringi suara gitar Doddy pun terdengar.

“Rara! Suer, deh! Baru kali ini gue jatuh cinta! Dia cowok terganteng yang gue jatuhin cinta!” seru Wina setelah latihan PMR selesai.

“Iya, gue udah denger itu berkali-kali. Bosen tau!” omel Rara. Segera setelah mencangklong tasnya, ia keluar kelas.

“Rara! Habis ini elu mau ke mana?” tanya Wina.

Rara tak menjawab. Ia terpaku melihat Aditya yang sedang ngobrol dengan Doddy di depan kelas.

“Sekarang, tau kan gimana rasanya jatuh cinta?” sindir Wina.

Rara nyengir. “Iya. Aduh... gue jadi malas pulang.”

Wina mencibir. Dasar!
***

Rara menendang kaleng kosong di depannya. Sambil jalan menuju sekolahnya, ia teringat Aditya. Rasanya... kangen... banget. Sudah dua hari ini nggak ketemu. Padahal ia selalu datang lebih pagi biar bisa ketemu Aditya yang masuk pagi, tapi tetap saja nggak ketemu. Rara menghentikan langkahnya. Ya, Tuhan! Begitu cepat Kaukabulkan doaku! Jeritnya dalam hati. Jelas saja, di pintu gerbang, ia melihat Aditya sedang ngobrol dengan temannya. Tiba-tiba saja kakinya sulit melangkah. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Keringat dingin bercucuran. Duh, kok jadi begini ya? Mana Rara si pemberani itu? Ternyata Rara takluk oleh seorang Aditya. Bodoh! Makinya pada diri sendiri. Ia baru bisa berjalan kembali setelah Aditya berlalu dengan sedan hitamnya.

“Nah! Itu dia!” seru cowok-cowok, ketika Rara memasuki kelas.

Rara bingung. Tidak biasanya dia disambut sedemikian rupa. Malah biasanya mereka langsung lari begitu melihatnya. “Ada apa, nih?”

“Ra, kita dapet surat tantangan dari SMK Biduri!” jawab Widi sambil menyerahkan sepucuk surat pada Rara.

Rara membacanya. “Hah! Ini kan khusus buat gue?”

“Iya. Tapi kita bakal bantuin elo, kok!” sahut Tobi.

Rara garuk-garuk kepala. Di surat itu tertulis bahwa mereka tak terima dengan pukulan Rara terhadap salah satu teman mereka.

“Katanya elo mukul salah satu temen mereka ya?” tanya Widi.

“Ya... gue emang sering mukul orang, tapi gue lupa tuh yang mana anak itu.”

“Udah, Ra. Lu jangan takut. Kita masih setia sama elu, kok!” dukung Feri.

“Siapa yang takut!”

“Iya, Ra! Kita hadapi mereka!” seru Tobi.

“Serbu…!” Seruan Widi menambah semangat. Rara sih senyum-senyum saja. Anak-anak putri yang lain malah bergidik ketakutan.

“Rara! Nggak ada sejarahnya sekolah kita tawuran!” tukas Runi, tiba-tiba.

“Eh, Runi! Lu jangan ikut campur!” omel Widi.

“Iya. Lu takut, kan?” tanya Feri.

“Bukan gitu. Masalahnya, elo bakal bawa nama sekolah kita kalau elu bawa teman-teman. Nama sekolah kita bakalan ancur!” tegas Runi.

Rara melotot. “Mereka kok yang mau ikut!” katanya, nggak mau kalah.

“Oke, deh! Kita nggak usah pake seragam biar nggak ketauan.” Tobi menengahi.

“Setuju…!” seru yang lain.

Rara melirik Runi. Yang dilirik geleng-geleng kepala. Heran, kok ada sih cewek kayak gitu?
***

Pukul empat sore di pertigaan Cisauk. Rara dan teman-teman terlihat menunggu rombongan SMK Biduri di dekat halte bus. Berkelahi bagi Rara bukan masalah. Sejak kecil ia berteman dengan cowok, dan sejak kecil pula ia selalu memenangkan perkelahian melawan cowok. Bahkan kalau lomba lari, ia selalu dipasangkan dengan cowok, dan menang. SMP ikut karate dan sudah memperoleh sabuk hitam. Mungkin hormon laki-lakinya lebih banyak daripada hormon perempuannya.

“Rara! Itu mereka!” seru Widi sambil memasang kuda-kuda. Dengan semangat menyala seperti warna bajunya yang juga merah menyala, Rara berdiri paling depan menghadapi pasukan SMK Biduri.

“Ini dia, Rara! Lara Croft kita!” Tobi menyebut salah satu pemain Tomb Raider.
Rara meringis. Padahal di hatinya ada rasa takut juga. Rombongan SMK Biduri mulai mendekat. Mereka terlihat sadis. Siapa yang tak kenal sekolah yang siswanya hobi tawuran itu? Wajah-wajah mereka garang, tidak mencerminkan kaum intelektual.

“Serbu…!” teriak Rara. Pertempuran pun dimulai. Menegangkan.
***

Senyum yang tidak manis itu terkembang. Jelas saja, di balik senyumnya, Rara juga menahan sakit. Tubuhnya penuh luka, untung nyawanya tak melayang dalam pertempuran singkat itu. Wina dan teman-temannya yang menjenguk di rumah sakit, hanya geleng-geleng kepala. Rara melarang mereka berkomentar karena telinganya sudah panas mendengar omelan orang tuanya barusan.

“Ah, Rara. Elo bikin nama sekolah kita jatuh aja!” kata Runi yang ikut menjenguk.

“Meskipun elo nggak pake baju sekolah, tetep aja orang mencari tau SMK Biduri lawan sekolah mana!” sambung Wina.

“Iya, iya. Ini pelajaran buat gue, gue nggak akan mengulanginya lagi.”

“Tapi lu jadi terkenal lho, Ra. Berita tentang seorang cewek yang memimpin tawuran jadi hot news di sekolah kita!” sahut Tina.

“Kabar baik buat lu. Lu bisa istirahat di rumah selama dua minggu,” kata Betty.

Rara terkejut. “Baek banget ya Pak Darma?” tanyanya nggak percaya.

“Lu diskors,” jawab Tina.

Rara melotot. Wajah Pak Darma melewati memorinya. “Aduh... kira-kira... ada yang lebih berbahaya dari skors nggak ya?” tanyanya. Semua saling bertatapan.

“Gue rasa, kalau lu memohon sama Pak Darma lu nggak bakal dikeluarin, Ra,” jawab Runi.

Wajah Rara semakin pucat. Ia lupa. Bahwa ia punya perjanjian dengan Pak Darma. Ia dilarang berbuat onar lagi. Tapi... akalnya yang pendek dan nafsunya yang menggebu-gebu membuatnya lupa. Payah!

Ekspresi wajah Rara dan teman-temannya berubah seketika melihat kedatangan dua gadis berjilbab ke dalam kamar rumah sakit ini. Rara tak percaya. Ia dijenguk oleh dua orang cewek yang tak dikenalnya sama sekali kecuali hanya sepintas saja?

“Assalamualaikum.” Fitri dan Norma memberi salam.

“Waalaikumsalam. Fitri... Norma.” Tina bergegas menyambut.

“Apa kabar, Rara? Sudah baikan?” Fitri menatap Rara.

Rara jadi canggung. “Iya,” jawabnya, singkat.

“Em... kami datang mewakili Rohis. Semoga kamu cepat sembuh, ya dan bisa menjadikan kejadian ini sebagai hikmah.”

“Makasih.”

Fitri meletakkan plastik berisi buah itu di mejanya. “Ini sedikit dari Rohis.”

“Kenapa sih kalian baik banget? Kita kan nggak kenal?” Rara tak mengerti.

“Karena kita bersaudara. Sesama muslim kan bersaudara. Em... begitu saja dari kami. Mungkin Rara masih ingin istirahat. Kejadian ini jangan sampai terulang lagi, ya? Bukan hanya kamu saja yang rugi, orang lain juga. Kami pamit dulu ya. Maaf kalau ada kesalahan. Assalamualaikum,” ucap Fitri sebelum meninggalkan kamar Rara.

Semua menatap kepergian Fitri dan Norma dengan masih terheran-heran.

“Wah! Pantes aja deh banyak cowok yang naksir dia.” Runi mulai bersuara.

“Iya. Baek banget dia.” Tina ikut-ikutan memuji.

Rara tertegun. Tiba-tiba ada perasaan malu yang menyusup di hatinya. Ia teringat saat memaki Fitri dulu. Sekarang Fitri malah sebaik ini padanya.
***

Rara kesal. Dua minggu di rumah ternyata membuatnya be-te. Padahal dulu ia rajin bolos. Tapi meskipun bolos, ia tetap berada di luar rumah entah itu ke malmain bola, billiard,l atau ke tempat lain. Sekarang? Setelah kejadian kemarin, orang tuanya menjadi over protecktive. Rara tidak boleh ke mana-mana. Aduh... gimana coba rasanya untuk orang seaktif Rara? Jelas saja suntuk. Di rumah, ia disuruh introspeksi diri, merenungi kesalahannya sambil buka-buka buku pelajaran untuk mengejar ketertinggalannya. Duh! Tidak mungkin itu semua dilakukannya! Akhirnya ia cuma menonton TV seharian. Malamnya, ia telepon semua teman-temannya untuk menanyakan kabar apa yang terjadi di sekolah. Tapi semua temannya malah menertawakannya. Ugh! Be-te. Beginilah rasanya bolos dua minggu.
***

Dua minggu telah berakhir. Rara gembira sekali menikmati kebebasannya. Baru kali ini ia senang kembali ke sekolah. Di kelas, anak-anak langsung menyambutnya. Ternyata selama dua minggu ini, ia diskors tidak sendirian. Semua anak yang membantunya tawuran juga diskors. Praktis, di kelas hanya tersisa enam orang putra yang digelarinya “penakut” dan semua anak putri kecuali Rara. Sehabis menemui teman-temannya sebentar, Rara langsung ke ruang Pak Darma dengan jantung berdebar. Rara tahu, ia pasti dinasihati macam-macam. Berkat bujukan orang tuanya, Pak Darma masih mau memberinya kesempatan. Tapi tentunya, Rara tetap harus menyediakan telinganya untuk menampung semua kemarahan Pak Darma. Dan ternyata benar. Pak Darma menasiehatinya. Lumayan panjang. Kali ini Rara rela mendengarkan, meskipun mulutnya gatal ingin membantah.

“Ra! Gimana, Ra? Udah selesai disidangnya?” tanya Wina dengan senyum tersungging, saat Rara kembali ke kelas.

Rara cemberut. “Kok kayaknya elu malah bahagia sih ngeliat penderitaan gue?”

“Bukan gitu. Gue pengen tau aja. Lu tadi diomongin apa sama Pak Darma?”

“Banyak. Intinya, gue diancam nggak naik kelas kalau masih melakukan tindakan kejahatan.”

“Wah, serem banget ancamannya!”

“Tenang-tenang. Gue nggak pa-pa kok!”

“Hebat bener. Diancam nggak naik kelas masih tenang-tenang!” tukas Runi yang ikut mengerubungi Rara.

Rara garuk-garuk kepala. Habis, mau gimana lagi? Mau panik? Emang udah nasib!
“Heran! Padahal apa yang gue lakukan itu masih mending. Gue nggak nge-drug, nggak nge-sex.…”

“Masih mending? Nge-drug dan nge-sex cuma ngerugiin elu, tapi kalau tawuran, itu merugikan kita juga!” omel Runi. Rara jadi ingin melahap anak ini.

“Ternyata hidup gue nggak bebas!” keluhnya.

“Bebas itu boleh, tapi tetep ada aturannya. Elu hidup di dunia ini kan bukan buat diri lu aja!”

“Iya, nona sok pintar!”

“Rara! Elu kan udah dua kali nggak ikut latihan PMR!” seru Tina, tiba-tiba.

“Ya, ampun! Kayak gitu aja dipikirin!”

“Tapi Aditya sering dateng lho, liat latihan kita...!” canda Wina.

Rara melotot. Itu kan masih jadi rahasia!

“Oh... jadi Rara naksir Aditya?” tanya Runi.

Rara cemberut. Nih anak telinganya tajam banget sih! “Emangnya lu kenal?”

Runi tertawa. “Kenal banget!”

“Eh, ceritain gue dong tentang dia....”

“Deu... yang lagi jatuh cinta...!” goda semuanya.

Rara jadi malu. Wajahnya bersemu merah. “Ya... kalian kayak nggak pernah tau rasanya jatuh cinta aja.”

“Tapi kok bisa naksir Aditya sih?” Runi heran.

“Emang kenapa? Nggak boleh?”

“Dia tuh anaknya senga banget. Sombong.” Runi berkata ketus.

“Gue tau! Udah keliatan dari mukanya, kok! Justru gue suka menaklukkan orang yang kayak gitu!”

“Oke, deh. Demi temen, gue mau ngasih lu informasi tentang dia ke elu!”

Kedua bola mata Rara membesar. “Wah! Serius, nih?! Makasih banget!”

Yang lain mengerutkan kening. Melihat si Tomboi Rara jatuh cinta kok rasanya aneh banget, ya?

Dari Runi, Rara tahu kalau Aditya suka dengan cewek yang punya senyum menawan, sederhana, kalem, lembut, dan tidak matre. Runi bisa tahu selera Aditya dari melihat mantan pacar Aditya yang ciri-cirinya memang seperti itu.

“Tadinya cewek itu masuk ke sekolah ini untuk ngikutin Aditya, tapi ternyata tuh cewek malah ketemu cinta yang lain dan akhirnya meninggalkannya Aditya,” papar Runi.
Rara dan yang lain saling bertatapan.

“Tragis banget, ya?” Tina geleng-geleng kepala.

“Kasihan, Aditya,” bisik Wina.

“Cinta seperti apa ya yang bisa membalikkan hati tuh cewek? Padahal Aditya susah dicari tandingannya?” Rara tak mengerti.

“Ye! Itu kan menurut elo…!” sahut yang lain, kompak.

Rara tersenyum. “Bagaimanapun, gue harus berterima kasih sama tuh cewek. Berkat dia, gue bisa ngedeketin Aditya. Berarti…tuh cewek satu sekolah sama kita?”

Runi mengangguk. “Tenang aja. Di antara mereka udah nggak ada apa-apa lagi, kok.”
“Kalo gitu, gue siap berubah demi Aditya,” kata Rara, mantap.

“Elu serius, Ra? Apa nggak lebih baik kalau lu jadi diri lu sendiri?” tanya Wina.

“Eh, Wina! Meskipun Rara berubah demi Aditya, tapi kan perubahannya nanti juga demi kebaikan. Bayangkan, Rara jadi lebih lembut, nggak kasar lagi, baik hati,kalem....!” sahut Runi.

Wina diam.

“Iya! Kan elu juga jadi aman, Win! Udahlah! Pokoknya gue akan coba!” sahut Rara.
***

Musala ramai oleh para siswa yang akan dan sedang salat Ashar. Usai salat, Fitri membuka mushaf Al-Qurannya. Masih ada waktu istirahat yang tersisa.

“Fit, bisa ganggu sebentar?” tanya Norma.

“Apa?”

“Em... proposal kita ditolak.”

“Proposal yang mana?”

“Rencana memasukkan nasyid sebagai salah satu hiburan dalam acara ulang tahun sekolah nanti. Padahal aku udah capek-capek bikin.” Norma menatap tajam mata Fitri.
Fitri menghela napas. Bulan Oktober nanti sekolah akan merayakan hari ulang tahunnya. Rohis hanya mengajukan nasyid sebagai salah satu hiburan karena perhatian lebih dipusatkan untuk Ramadan.

“Alasannya apa?”

“Kita terlambat ngajuin proposal. Acara hiburannya udah penuh. Acara musik sudah diisi oleh Bband Butterfly. Tau sendiri, kan. Orang-orang pasti lebih milih mereka.”
Fitri tertegun. Band Butterfly. Band-nya Doddy, kakaknya.

“Terus?”

“Kamu pasti ngerti kenapa aku nanyain ini ke kamu.”

Fitri menerawang. Ah, kenapa jalannya harus selalu berseberangan dengan kakak tercintanya itu?
***







No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....