Saturday, November 24, 2012

Di Balik Nama Muhammad Salim Luthfi

M. Salim Luthfi
saat berusia 2 minggu

20 September 2012
Dua jam setelah proses persalinan, aku sudah bisa membuka mata (setelah tertidur lelap karena kecapaian). Kupandangi bayi mungil di sampingku, yang terbungkus kain bedong dengan rambut lengket karena belum dimandikan. Suamiku memandangi kami bergantian, lalu menanyakan satu hal:


Namanya siapa, ya?”

Cleguk. Aku menahan tawa. Hanya anak pertama kami saja yang sudah dipersiapkan namanya sejak dalam kandungan. Sedangkan untuk anak kedua dan ketiga, suamiku tak punya ide hendak memberikan nama apa. Masih kuingat usai melahirkan anak kedua, suamiku berkata, “Namanya, Sidiq.”

Aku terkejut dan agak keberatan. Nama itu sudah banyak dipakai orang dan tidak terdengar “keren,” meskipun artinya bagus. “Dari mana dapat nama Sidiq?” tanyaku. Suamiku cengengesan, lalu menjawab, “Nama tukang pecel lele tempat aku makan tadi malam.”

Jiyaaaah… gubrak. Hahahaha…. Mau protes, tapi suamiku bersikeras memberikan nama anak kedua kami, Ahmad Sidiq Aghniya. Ahmad,  berasal dari nama Nabi Muhammad yang mulia, sekaligus nama belakang suamiku. Sidiq, berasal dari nama tukang pecel lele. Aghniya, adalah nama sumbangan dariku, supaya mirip dengan namabelakang putra sulungku, Ahmad Ismail Haniya. Aghniya sendiri berarti, dermawan.

Ayahku, alias kakek anakku, tak setuju dengan nama Sidiq. Sempat diganti Shiddiqy, biar agak keren. Aku juga nekat menuliskan nama itu di akte kelahirannya. Apa yang terjadi? Suamiku ngambek dan minta diganti lagi dengan Sidiq.

Okelah. Jadi, daripada nanti harus nambah ongkos buat bikin akte baru, kupasrahkan pemberian nama anak ketiga kami kepada suamiku. Lagipula di dalam Islam, ayah si bayi-lah yang berhak memberikan nama. Suamiku memang pernah meminta usul (meski aku tahu usulku tak akan dikabulkan), lalu aku mengusulkan memberi nama Muhammad Mursi Erdogan, gabungan dari nama pemimpin Mesir dan Turki. Suamiku menolak mentah-mentah karena nama itu terdengar aneh di telinga rakyat Indonesia (tsaaaah….).

Setelah berpikir lama (dari sejak mengandung hingga melahirkan), suamiku mantap memilih nama “Salim” untuk putra ketiga kami.

Muhammad Salim…..

Nah, titik-titik di atas masih harus di atas, karena kami ingin tiga kata, seperti nama dua anak kami yang lain. Untuk kali ini, kami menggunakan nama “Muhammad” di awalnya. Hanya untuk memberi kesan berbeda, meski tetap saja maknanya sama, sama-sama nama Nabi Muhammad SAW.

Seperti biasa, usulku dimentahkan dengan alasan yang adaaaa saja. Untuk nama belakangnya, aku mengusulkan nama “Mumtaza,” artinya sempurna. Biar terdengar mirip juga dengan nama kakak-kakaknya. Ahmad Ismail Haniya, Ahmad Sidiq Aghniya, Muhammad Salim Mumtaza. Suamiku keberatan karena nama Mumtaza terdengar seperti nama anak perempuan. Ya sudahlah… aku tak mau mengusulkan nama lagi.

M. Salim Luthfi bersama kado-kado
dari sahabat mamanya
Sebenarnya, aku juga keberatan dengan nama “Salim.” Seperti biasa, nama-nama pilihan suamiku terdengar… gimana yaa? “Gak keren”? Padahal, artinya bagus. Tapi, pengin juga nama anakku yang terdengar keren seperti nama bayi-bayi sekarang, misalnya Reyhan, Farhan, Keysa, dan lain sebagainya. Suamiku punya maksud sendiri saat memberikan nama bayi ketiga kami dengan nama Salim.

Salim, artinya selamat. Meskipun Shakespeare bilang, “apalah arti sebuah nama,” sebagai muslim, kami yakin bahwa “nama adalah doa.” Untuk itulah, kami memberikan nama yang baik kepada anak-anak kami, dengan harapan mereka bisa menjadi seperti namanya.

Salim, bayi ketiga kami, telah melewati dua peristiwa yang membuat kami deg-degan. Saat kandunganku berusia dua bulan, aku terkena penyakit semacam campak. Panas tinggi, demam, dan timbul ruam-ruam merah di kulit. Kukira aku terkena rubella, yang bisa mengakibatkan cacat pada bayi (naudzubillahimindzalik). Alhamdulillah, tes laboratoriumnya negatif.

Lalu, di usia kandungan tujuh bulan, aku mengeluarkan darah dari rahim yang mengindikasikan bayi akan lahir prematur. Aku harus dirawat di rumah sakit untuk mempertahankan bayiku sampai cukup umur. Alhamdulillah, bayiku lahir tepat waktu, hanya selisih beberapa jam dari Hari Perkiraan Lahir. Bayiku juga lahir sehat dan sempurna, tidak kurang satu apa pun.

Salim, telah melewati dua kali percobaan menegangkan. Untuk itulah, suamiku  memberikan nama “Salim,” yang berarti “selamat.” Agar ia selalu selamat di dunia dan akhirat. Aamiin….

Akhirnyaaa…. Suamiku membubuhkan nama “Luthfi” di belakang nama Muhammad Salim. Nama itu adalah sumbangan dari bapak suamiku, alias  bapak mertuaku. Sebagai bakti anak kepada orang tua, suamiku memenuhi permintaan bapaknya (meskipun dulu permintaan ayahku tak dikabulkan). Luthfi berarti, lembut. Biarpun seorang laki-laki, anakku diharapkan memiliki sifat lembut dan penyayang seperti Nabi Muhammad. Aamiin….

Nama anak-anakku selalu menggunakan Bahasa Arab. Sebenarnya, bukan tak ingin menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Lain, tapi lebih terdengar enak menggunakan Bahasa Arab (bagi keluarga kami). Kalau pakai Bahasa Indonesia, nama Salim jadi Selamat, mirip dengan nama tetanggaku, Pak Slamet, hehehe…..

Untuk Bunda Armita Fibriyantiyang saat ini sedang menunggu kelahiran bayinya (dan rupanya cowok juga!), aku punya ide nama. Nama yang tak tersampaikan, karena suamiku tidak setuju, hiks! Bagaimana kalau namanya, Muhammad Mursi Erdogan? Nama super top, gabungan dari tiga pemimpin besar, Muhammad SAW, Mursi dari nama Presiden Mesir, dan Erdogan dari nama PM Turki. Ketiganya salih dan punya jiwa kepemimpinan. Siapa tahu nanti putra Bunda Armita juga menjadi pemimpin besar di zamannya. Aaamiin…. Soal apa arti Mursi dan Erdogan, jangan tanya kepadaku karena aku tak tahu, hehe…..

Semoga kelahiran bayi Bunda Armita diberikan kelancaran, keselamatan untuk bayi dan bundanya. Aamiin….

Tulisan ini disertakan dalam even Give Away, “Beautifull Name for Smart Baby By Armita Fibriyanti.”

5 comments:

  1. waah... terharu diikutin sama blogger senior *huks.. peluukkk...

    tulisannya bagus deh bund, runtut, urut, dan enakeun di bacanya juga. apalagi pas cerita bagian adek "sidiq" dan tukang pecel lele. hmm.. memang ide itu bisa muncul dari mana saja ya.

    btw, bunda leyla paling cantik sendiri ya dirumah? asyik donk..

    ohya, nama yang disarankan saya tampung dulu ya bund, nanti saya discuss lagi dengan suami :) semoga suamiku berkenan.

    Terimakasih sudah berpartisipasi ya Bund dan Salam :)

    ReplyDelete
  2. nama yang indah :D
    smoga kelak bisa tumbuh sesuai dg namanya.. :D
    salam

    ReplyDelete
  3. hehe.. ngikik baca pas tukang pecel. gutlak ya mbak.. saya juga ikut nih :)

    ReplyDelete
  4. tulisan yang keren mbak. Selamat atas kelahiran putranya ya. Semoga selalu diberikan yang terbaik oleh Yang Kuasa. Amin... :D

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, selamat ya mbaa... Muhammad Salim Luthfi, nama yang keren kedengarannya di telinga, apalagi artinya. :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....