Monday, January 7, 2013

Menulis Buruk Lebih Baik daripada Tidak Menulis Sama Sekali


Kalimat di atas diucapkan oleh AS Laksana. Mungkin sebagian dari Anda telah mengenalnya. Beliau termasuk ke dalam jajaran sastrawan Indonesia. Seorang penulis pasti pernah mengalami writers block, atau kemandegan menulis. Penyebabnya bermacam-macam. Akibatnya kita jadi tidak bisa menulis. Salah satu penyebab writers block adalah standar yang ingin dicapai. Saking kita ingin mendapatkan penghargaan dalam menulis, kita menetapkan standar tinggi untuk tulisan kita. Segala teori menulis dijadikan acuan. Bagi saya pribadi, standar yang ingin saya capai adalah menggunakan diksi-diksi yang “tinggi” dan dapat melukiskan setting novel di tempat-tempat tak terjangkau atau daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi. Itu membuat proses menulis menjadi lebih lambat, karena saya memang jarang bepergian ke tempat jauh,  bahkan tidak punya passport. Lho, kan ada google? Googling saja! Iya, memang bisa pakai google, tapi tetap saja sensasinya berbeda dibandingkan datang ke tempatnya langsung. Dan sudah tentu jadinya lebih lambat untuk menceritakannya.


Penulis lain juga mempunyai standar sendiri. Mungkin ada yang ingin tulisannya puitis, mengandung quotes-quotes yang membekas di benak pembaca, dan lain sebagainya. Sehingga untuk memikirkan satu quotes saja  butuh waktu berhari-hari. Tanpa kita sadari, standar yang kita tetapkan itu membuat kita takut menulis. Kita takut tulisan kita jelek, tidak laku, mendapatkan kritik yang menjatuhkan, dan lain sebagainya. Ada juga yang belum menulis sudah memikirkan penerbit mana yang mau menerima tulisannya. Bagaimana kalau tidak ada penerbit yang mau? Bisa-bisa laptopnya mati duluan karena Pemadaman Listrik, sebelum sempat mengetik sepatah kata pun. Tidak sedikit penulis yang akhirnya gantung pena, karena terjebak ke dalam writers block. Sementara itu, waktu terus merambat, usia semakin menua, dan kita dihadapkan oleh deadline dari Yang Kuasa. Mau sampai kapan kita terjebak ke dalam writers block?

Menurut AS Laksana yang seorang sastrawan, lebih baik kita menulis dengan buruk (tidak sesuai dengan teori menulis atau tidak sesuai dengan standar yang kita tetapkan) daripada tidak menulis sama sekali. Tulislah apa saja yang ada di pikiran kita. Tidak dimuat media? Kan ada blog. Kita bisa memposting tulisan di blog tanpa melalui seleksi siapa-siapa. Toh, seleksi yang dilakukan editor atau penerbit juga tak bisa lepas dari penilaian subyektif mereka. Tulis saja dengan bahasa sehari-hari, tidak perlu menggunakan diksi yang susah-susah. Tulis saja, pokoknya tulis saja. Sebab, penulis yang gagal bukanlah penulis yang karyanya jeblok di pasaran, tetapi penulis yang TIDAK PERNAH MENULIS atau BERHENTI MENULIS.

Nah, uraian saya di atas menjawab pergulatan batin saya juga, yang akhir-akhir ini lebih banyak menulis untuk lomba blog daripada menulis buku atau novel, xixixixi…. Sebenarnya, setiap selesai menulis untuk lomba blog dan menutup komputer yang sudah hang, saya selalu memberikan janji. “Besok, kalau bisa buka komputer lagi, aku harus nulis novel minimal dua halaman…” Sayangnya, janji itu tak pernah ditepati.  Ya, mau bagaimana? Tiba-tiba passion saya berubah, dari menulis novel ke menulis di blog. Saya menemukan gairah yang tinggi saat menulis di blog dan merasakan penurunan gairah dalam menulis novel. Mungkin saya memang harus rehat dulu menulis novel.

Itu pula yang membuat saya bersyukur, bahwa saya ditakdirkan menjadi penulis tanpa genre. Begitu bosan dengan genre yang satu, bisa pindah ke genre yang lain. Pilih mana, tidak menulis sama sekali atau menulis apa saja? Paling tidak, dengan menulis apa saja dapat mempertahankan konsistensi saya dalam menulis. Daripada saya sembunyi di gua dan menonaktifkan komputer sampai mood-nya datang lagi. Mati suri, lebih baik saya manfaatkan peluang menulis apa pun yang saya bisa. Dan pada akhirnya, saya melanggar janji lagi untuk menulis novel dengan menulis catatan kecil ini J

4 comments:

  1. hehehhehe nulis dua lembar aja udah bagus untuk aku mbak... suka bingung harus mencari kata-kata yang indah. tapi nggak apa-apa deh nulis seadanya juga yang penting nulis ya Mbak

    ReplyDelete
  2. hehe, kyknya aku banget, Mbak... jadinya malah gak nulis2 :(

    Tapi dengan sering diupdatenya blog Mbak Leyla, aku jadi termotivasi utk sering2 nulis biarpun tulisanku belum bagus.

    Salam kenal, Mbak :)

    ReplyDelete
  3. setuju mbak.. yg penting nulis ya :)

    ReplyDelete
  4. ya..tetap menulis walaupun ada yang menghina..

    btw sering menang giveaway ya, saya liat di tuiter :D

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....