Wednesday, March 13, 2013

Fotoku Dulu dan Sekarang

Suatu hari ada pesan mampir di wall FB-ku, dari Bunda Yati Rachmat, teman di komunitas Emak-Emak Blogger. Bunda mengajakku untuk mengikuti Giveaway yang diadakannya, dengan tema: The Old and New Photos. Berhubung aku belum membaca ketentuannya, aku langsung mengiyakan. Setelah baca, waduuuuh! Bisa gak ya ikut GA ini? Aku harus memposting fotoku sewaktu kecil dan setelah bertemu dengan Bunda. Agak berat rasanya. Pertama, tidak banyak fotoku sewaktu masih kecil. Lho, kan Bunda cuma minta satu? Iya sih, tapi fotoku itu bentuknya masih foto cetak. Dulu kan foto digital masih jarang. Lho, kan bisa discan? Iya sih, tapi aku gak punya scannya (ngeles aja :D). Lho, kan bisa numpang scan di kantor suami? Iya sih, tapiii..... 


Hmm...  yang ini berhubungan dengan prinsipku (halah!). Aku baru pakai jilbab saat duduk di bangku kelas 3 SMA. Jadi, foto masa kecilku sampai kelas 2 SMA itu ya belum berjilbab. Prinsipku, jika sekarang telah menutup aurat, maka jangan dibuka lagi, meskipun sekadar foto masa lalu. Orang yang melihat akan bisa menerka-nerka, "Oh, jadi begini to dia kalau gak pakai jilbab." Memang sih, foto waktu masih bayi kan sudah ada perbedaannya. Tapi tetap saja aku tidak mau menayangkan fotoku yang masih belum menutup aurat. 

Maafkan aku ya, Bunda, aku tidak bisa menayangkan fotoku sebelum memakai jilbab. Jadi, kupilih saja fotoku sewaktu sudah duduk di bangku kuliah. Soalnya aku gak punya foto waktu SMA. Dulu berfoto itu masih mahal. Handphone belum punya (baru punya setelah kuliah). Kamera pun masih barang mahal. Sudah punya kamera, tapi harus beli roll filmnya yang harganya pun mahal. Kalau mau berfoto, aku dan teman-teman menggunakan jasa Photobox di mall-mall atau foto studio, itupun sebelum berjilbab. Jadi memang gak punya foto SMA yang sudah berjilbab. Untunglah pas kuliah, ada beberapa fotoku yang sudah discan (fotonya juga dalam bentuk cetak, dan baru kuscan setelah bekerja--pinjem mesin scan punya kantor). 

Nah, ini salah satu fotoku sewaktu kuliah. Masih cupu (culun punya), dengan kacamata gede. Kelihatannya cukup cerdas ya, xixixix (muji diri sendiri). Wajarlah kalau dulu gak ada yang naksir, tampilannya begini (hahahaha....). 


Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, aku mengadakan audisi antologi "Pengaruh Facebook pada Perempuan," bekerjasama dengan Pipiet Senja, penulis senior yang seumuran dengan Bunda Yati Rachmat. Sudah mau dua tahun, bukunya belum terbit juga ya? Sungguh tidak ada maksud menipu lho. Kenyataannya nasib naskah buku itu masih terkatung-katung di penerbit. Bunda Pipiet Senja malah sudah mengundurkan diri dari penerbit itu, karena sakit. Maafkan ya, teman-teman yang bergabung di antologi itu. Semoga saja ada kabar yang membahagiakan akan nasib naskah itu. 

Salah satu peserta dalam audisi itu adalah Bunda Yati Rachmat. Tulisan Bunda cukup bagus dan menginspirasi, berisi kisahnya yang baru mulai menulis di usia senja. Tapi karena banyak cerita yang mirip, terpaksa tereliminasi. Lalu, aku berinteraksi lagi dengan Bunda, setelah aktif nge-blog. Bunda mengikuti even giveawayku dalam rangka launching novel "Cinderella Syndrome." Kali itu, tulisan Bunda terpilih, karena idenya bagus. Agaknya Bunda Yati berpotensial menulis novel, tinggal ditekuni saja, karena idenya fantastis dan dramatis (bukan dalam rangka GA lho, aku memuji). Nah, inilah fotoku setelah mengenal Bunda Yati Rachmat. 


Itu foto sewaktu hamil anak ketiga, jadi maklum ya kalau kelihatan gendut (sampe sekarang juga masih gendut :D). Aku baru benar-benar mengenal Bunda Yati Rachmat ya saat hamil anak ketiga, pas Bunda ikut GA Cinderella Syndrome. Bunda Yati Rachmat itu mengingatkanku pada Bunda Pipiet Senja. Tipikalnya ceria dan enak dijadikan tempat curhat. Hebatnya lagi, tetap berkarya di usia lanjut. Aku menginginkan kelak (kalau sudah tua) masih berkarya, tidak hanya menghabiskan waktu dengan tidur dan menonton sinetron. Aku belum bertemu langsung dengan Bunda Yati, tapi sepertinya Bunda Yati itu supel, cepat bergaul, dan ramah. Wajar deh kalau awet muda. Biasa, ibu-ibu yang keliatan bahagia terus tuh insya Allah awet muda. 

Mau kritik apa ya ke Bunda Yati? Huaaa... belum adaaa, wong belum bertemu langsung dan belum banyak berinteraksi. Terus menulis, Bunda. Tinggalkan jejak pada dunia. Aku ingat profil seorang penulis luar negeri yang baru mulai menulis di usia 60 tahun. Duh, namanya aku lupa,  cuma ingat depannya saja: Elizabeth. Dia menulis buku anak-anak. Semangatnya patut diacungi jempol, karena dia baru mulai menulis di usia 60 tahun. Jadi, proses menulisnya ya dimulai di usia segitu. Ternyata dia bisa menerbitkan buku-buku dan mengabadikan namanya di kover buku. Jadi, tak ada halangan untuk menulis, sekalipun usia telah lanjut. Yang penting kita nulis daripada gak nulis. Aku gak setuju dengan anggapan bahwa kita baru bisa disebut penulis kalau sudah menerbitkan buku. Nulis itu ya nulis apa saja, termasuk nulis di blog. Bahkan, menulis di blog itu lebih banyak dibaca orang lho, daripada buku. Cetakan buku, minimal 2000 eksemplar. Apalagi buku indie, gak banyak nyetaknya. Sedangkan menulis di blog bisa dibaca semua orang, di mana saja. Lebih go international, kan? 



14 comments:

  1. wuaaw beda banget banget banget fotonya, mbak. :) cantika setelah punya putra putri, :)

    ReplyDelete
  2. Ooo...my Leylahana....makasih untuk partisipastinya. Hiks, hiks, malu deh aku tereliminasi ya, tapi ini malah memacu semangat terus untuk belajar menulis. Kedua fotonya keren lho. Foto pertama maniiiis.........foto kedua......ceria banget. Postingannya?Alamaaa......okepu (oke punya). Bunda sekitar tahun 1978an memang pernah tahu nama Pipiet Senja, karena kami sama-sama ikut lomba mengarang novel FEMINA dengan Jurinya HB Yassin, tapi aku terpelanting, sedangkan bunda Pipiet Senja lanjuuut. Lha koq jadi crita ya?
    Leyla, dengan ini Postingan dinyatakan -- noted, hehehehe....

    ReplyDelete
  3. Pemikiran kita sama mbak Leylahana... saya juga merasa tidak bisa ikut GA bunda Yati dgn alasan yang sama.
    Kalau mbak Leyla memakai jilbab sejak kuliah, saya malah br mulai sejak anak pertama kelas 1 SD (skrg dia kls 2 SMA). Mana jilbabnya masih yang diplintir sana sini pulak... Tidak layak tampil deh pokoknya. Hehehe...Sukses ya dgn GAnya...

    ReplyDelete
  4. Aku sukaaaa dgn prinsip foto dulu dan sekarang ;)
    Smg sukses yaaaa GA nya.
    Pengen ikutan tapi g bisa hiks U_U.
    Mendoakan yg ikutan biar menang semuaaaaa hihihihihi...

    ReplyDelete
  5. wuiiih beda banget yaa fotonya, terus itu bukunya muga2 ada jalan kelar nya ya mbak :D

    ReplyDelete
  6. foto waktu kuliahnya cantik mbak....


    iya, mbak kami setia menanti menunggu kehadiran antologinya,,,
    :D

    ReplyDelete
  7. Fotonya yang dulu sama sekarang beda bangett..
    masa yang dulu ga ada yang naksir mba?? kan cantik^^, saya saja suka lihatnya. banyak yang naksir x, tp cuma sekedar secret admirer. hehehe
    btw.. salam kenal yah

    ReplyDelete
  8. wah, sekarang tambah gemuk mbak..
    tapi duo kecilnya itu ganteng-genteng :)

    ReplyDelete
  9. mba leley tulisannya bagus deh, py 3 anak cowok juga mba? wah samaan ya, salam kenal ya..ijin link sekalian ya.

    ReplyDelete
  10. gak jauh beda kok dulu dan sekarang...

    ReplyDelete
  11. iya sama, aku juga bingung milih foto jadul karena aku baru berjilbab setelah punya anak perempuan.. jadilah aku milih foto yang setelah punya anak deh buat foto jadulnya.. untungnya, aku sudah cukup tua sekarang jadi bisa tetep masang foto jaman sekarang.. hahahaha *alasan sotoy

    ReplyDelete
  12. Tidak jauh berbeda, dulu dan sekarang... :)
    Good luck ya...

    ReplyDelete
  13. Mbak Leyla Hana, sudah INBOX ke bunda nomor hapenya? Makasih ya partisipasi mbak Leyla di GA bunda.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....