Friday, October 25, 2013

12 Menit: Semua Orang Berhak Meraih Mimpi





Judul: 12 Menit
Penulis: Oka Aurora
Penerbit: Noura Books, Mei 2013
ISBN: 978-602-7816-33-6
Halaman: XIV+348
Harga: Rp 54.000



“Kisah yang mencerahkan dan inspiratif.” (Andy F. Noya)


Elaine, sang pemain biola, yakin bahwa musik adalah segalanya. Namun, ayahnya menentang, menganggapnya sia-sia. 

Tara, berusaha menguasai nada-nada snare drum meski memiliki keterbatasan pendengaran. Tetapi, luka masa lalunya terus menghantui.

Lahang, di tengah deritanya, berusaha memenuhi janji pada sang ayah. Namun, dilema membuatnya ragu melangkah.

Rene bermimpi membawa mereka, tim marching band yang dilatihnya, menjadi juara. Meskipun mereka hanya datang dari sebuah kota di pelosok negeri. Meskipun orang lain menganggap mustahil.

Setiap orang berhak meraih mimpi, termasuk keempat tokoh utama di dalam novel ini. Elaine, Tara, Lahang, dan Rene, tergabung di dalam Tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Mulanya marching band ini hanya untuk pegawai dan anak-anak para pegawai PT Pupuk Kaltim, tetapi sekarang menjadi milik masyarakat Bontang. Siapa saja boleh memasukinya asalkan memiliki bakat bermusik dan kemauan. Perjuangan apa  yang hendak diraih keempat tokoh itu di dalam sebuah tim marching band dari sebuah kota kecil?

Grand Prix Marching Band (GPMB), sebuah perhelatan tahunan akbar tempat marching band ternama dari seluruh Indonesia berlaga untuk memperebutkan gelar juara, menjadi penentu bagi Marching Band Bontang Pupuk Kaltim untuk membuktikan eksistensi mereka. Sanggupkah mereka memenangkan kejuaraan tersebut dengan menampilkan performa terbaik hanya dalam waktu 12 menit?

Novel 12 menit mengajarkan kita cara meraih mimpi sekalipun halangan merintangi. Perjuangan para tokoh utamanya untuk memberikan performa terbaik dalam GPMB, memberikan kita pelajaran. Bahwa ada beberapa hal yang harus kita miliki untuk meraih mimpi, yaitu:

Tekad yang Kuat
Rene yang seorang pelatih marching band lulusan sekolah musik di Amerika, bertekad untuk membuktikan bahwa anak-anak didiknya di Marching Band Bontang Pupuk Kaltim pasti bisa memenangkan kejuaraan GPMB meskipun mereka berasal dari kota kecil dan memiliki banyak keterbatasan. Dia begitu optimis dan yakin marching band yang dipimpinnya akan menjadi juara.

“Saya memang orang baru di marching band ini. Tapi, Anda tahu sendiri bahwa saya bukan orang baru di marching band. Dan, ini bukan pertama kalinya saya membawa sebuah tim menjadi juara. Saya butuh Anda percaya kepada saya. Kalau Anda saja nggak percaya, bagaimana orang lain. Saya akan membuat marching band ini menjadi juara umum di GPMB tahun ini.” (halaman 14)

Menuruti Panggilan Hati
Menuruti panggilan hati adalah sesuatu yang berat bagi Elaine. Sejak kecil dia tahu bahwa dia sangat mencintai dunia musik, tetapi ayahnya ingin dia menjadi ilmuwan. Ketika Elaine harus ikut ayahnya yang dipindahtugaskan ke Bontang, dia sempat khawatir tidak lagi bisa meneruskan kecintaannya kepada musik. Dia tak yakin Bontang dapat memberikan fasilitas bermusik yang sama seperti di Jakarta. Harapannya membuncah ketika dia mendengar tentang Marching Band Bontang Pupuk Kaltim,  tetapi dia harus berhadapan pada sikap keras ayahnya yang tak setuju atas keinginannya bergabung dengan marching band itu karena dianggap dapat mengganggu sekolahnya. Elaine tetap menuruti panggilan hatinya dengan tanpa mengecewakan ayahnya.

“Boleh ya, Pa,” bujuk Elaine. “Elaine janji nilai pelajaran Elaine tetap sembilan puluh.” (halaman 71)

Tak Menyerah oleh Keterbatasan
Semula, Tara adalah anak yang normal dan memiliki pendengaran sempurna. Dia sangat pandai bermain drum, dan itu mengapa dia bergabung dengan marching band. Kecelakaan fatal telah merampas pendengarannya dan memisahkannya dengan sang ayah. Ibunya terpaksa meninggalkannya untuk kuliah lagi di Inggris demi bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan membiayai sekolah Tara. Tara tak mau menyerah oleh keterbatasannya, dan tetap bergabung dengan marching band Bontang Pupuk Kaltim, apalagi Rene tahu bahwa dia sangat berbakat. Namun, dia tetap harus berlatih kuat tanpa dispesialkan.

“Tapi kamu kan diperlakukan SAMA PERSIS dengan yang lain,” ujar Rene, tajam. “kamu siap? Kamu akan dilatih dengan disiplin yang sama. Kalau kamu melakukan kesalahan, kamu akan dihukum sama berat. Semua peraturan diperlakukan sama. Nggak ada bedanya. Kamu siap?” (halaman 41)

Semangat yang Membara
Penampilan mereka di GPMB memang hanya 12 menit, tetapi latihan yang akan dilakukan berlangsung selama tiga bulan. Dan untuk itu, mereka harus mempersiapkan fisik dan mental secara optimal. Latihan sepulang sekolah yang berlangsung sampai malam, mendengarkan teriakan-teriakan Rene, tangan dan kaki yang pegal, tubuh yang basah oleh keringat, tetapi mereka tetap bersemangat meneriakkan satu kata: VINCERO. Saya akan menang.

“VINCEROO! VINCEROOO!” (halaman 85)

Berani Berkorban
Lahang tahu bahwa ayahnya sedang sekarat karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Dia yang hanya tinggal berdua saja dengan sang ayah, tak bisa meninggalkan ayahnya berlama-lama karena hanya dia yang mengurus keperluan ayahnya. Terlebih bila penyakit ayahnya kambuh. Rumahnya yang terpelosok membuatnya harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke sekolah, apalagi bila ditambah dengan latihan marching band. Tetapi, ayahnya mempercayainya, bahwa dia bisa meraih mimpinya. Demi ayahnya, dia berkorban berlatih marching band sambil tetap sekolah dengan menempuh perjalanan jauh.

“Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan,” sambung bapaknya lembut, “karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu, hanya keberanian.” (halaman 104)

Berserah Diri dengan Doa
Keempat tokoh utama di dalam novel ini memiliki keyakinan yang berbeda. Rene dan Tara yang muslim (Tara bahkan mengenakan kerudung), Lahang yang menganut aliran kepercayaan masyarakat Dayak, dan Elaine yang Nasrani, berdoa dengan caranya masing-masing. Yakin dan percaya, bahwa kerja keras akan menemukan hasil bila diiringi dengan doa.

Sebelum ada di tempat ini, mereka telah berdoa bersama tadi, di dalam ruangan sempit itu. Setidaknya ada tiga doa yang tadi mereka gemakan dalam hati masing-masing. Al Fatihah, Bapa Kami, dan Mantram Gayatri. Indah sekali, mereka gumamkan pinta yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Bhinneka Tunggal Ika dalam arti yang sebenar-benarnya. (halaman 328)

Novel ini sesuai sekali untuk kita yang ingin meraih mimpi, bahwa perjuangan meraih mimpi itu bukan hal yang ringan. Dibutuhkan tekad yang kuat, menuruti panggilan hati, tak menyerah oleh keterbatasan, semangat yang membara, berani berkorban, dan berserah diri dengan doa untuk dapat meraih mimpi.

Membaca Novel 12 Menit
Pada awal membaca novel ini, mungkin kita akan sedikit kebingungan dengan istilah-istilah dalam marching band yang digunakan, tetapi jangan khawatir karena disediakan penjelasannya di halaman belakang. Justru istilah-istilah itu memberikan kita pengetahuan baru dalam dunia marching band. Oka Aurora berhasil menuliskan novel ini dengan baik, mudah dimengerti, menyentuh, dan menimbulkan semangat berapi-api untuk meraih mimpi. Novel yang bagus untuk generasi muda agar terus beraktivitas positif dan berjuang meraih mimpi. Tak berlebihan jika Andy F. Noya menyebut novel ini sebagai kisah yang mencerahkan dan inspiratif. Jika ada 5 bintang, maka saya berikan 4,5 untuk novel yang nyaris sempurna ini. Saya jadi tidak sabar menunggu filmnya. Pasti akan memberikan inspirasi positif bagi generasi muda. 


14 comments:

  1. 12 menit untuk perjuangan 3 bulan. Saya jadi teringat anak sulung yang begitu gigih berlatih untuk turnamen badmintonnya. Bahkan ramadhan pun masih berlatih. Dia memang gagal memenangkan turnamen itu, tapi saya tetap bertepuk tangan untuknya.

    Sepertinya bags dibaca oleh semua kalangan agar tak patah semangat dalam bercita2

    ReplyDelete
  2. siapa pun berhak meraih mimpi ya mbak

    ReplyDelete
  3. jadi pengin baca novelnya...sukses ngontesnya mak

    ReplyDelete
  4. saya pikir membaca novelnya selama 12 menit mbak, ternyata judul novelnya toh, hehe

    lhawong novelnya tebel gitu

    ReplyDelete
  5. Ah... Mak Leyla ini bikin ngiri aja kalo udah bikin resensi. Selalu bagus. Huaaaaa... *garuk2 aspal* :D
    Semoga menang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikutan garuk aspal, mbak. Mbak Leyla emang jago bikin resensi. Jadi pengen baca.

      Delete
  6. kisah inspiratif dan sangat menggugah. saya yg diberi kesempurnaan saja kadang takut menggapai mimpi.

    keren. sukses buat kontesnya mbak. :)

    ReplyDelete
  7. Setiap mimpi harus diraih dengan kesungguhan hati, walaupun mimpi itu tidak bisa terwujud yg terpenting adalah usaha untuk mencapainya.
    Cerita yang inspiratif.

    ReplyDelete
  8. Jadi pingin kasih novel ini...*pemberi semangat * Mimpi itu di tulis, di raih dan jikalau tidak mendapatkannya, kita sudah berusaha..itu adalah kemenangannya... keren Mak

    ReplyDelete
  9. raih mimpi dan sukses selalu

    http://milioner2010.blogspot.com/

    ReplyDelete
  10. Jadi pingin kasih novel ini...*pemberi semangat * Mimpi itu di tulis, di raih dan jikalau tidak mendapatkannya, kita sudah berusaha..itu adalah kemenangannya... keren Mak

    ReplyDelete
  11. Mak Leyla ini bikin ngiri aja kalo udah bikin resensi. Selalu bagus. Huaaaaa... *garuk2 aspal* :D
    Semoga menang :)h... Mak Leyla ini bikin ngiri aja kalo udah bikin resensi. Selalu bagus. Huaaaaa... *garuk2 aspal* :D
    Semoga menang :)

    Reply

    Reply

    ReplyDelete
  12. siapa pun berhak meraih mimpi ya mbak https://contohsedekah.blogspot.com/

    ReplyDelete
  13. Info menarik dan boleh sekali dicoba, Makasih buat infonya dan sukses selalu.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....