Tuesday, April 22, 2014

Amankah Mengirim Naskah via Surel?

Ebooks

Teman Penulis: Udah pernah belum kirim naskah ke penerbit X?
Penulis: Belum, habis ribet sih. Harus pakai naskah printout.
Teman Penulis: Ikutan gak lomba nulis novel di penerbit Y?
Penulis: Kayaknya enggak deh, soalnya harus kirim tiga kopi naskah printoutnya. Boros kertas.


Iyap, dialog di atas adalah obrolan ringan antara saya dan seorang teman tentang mengirim naskah ke sebuah penerbit. Di antara kedua profesi tersebut, saya lebih dulu menekuni profesi sebagai penulis buku. Kira-kira sudah hampir sepuluh tahun malang melintang di dunia perbukuan. Saya merasakan betul suka duka mengirim naskah dari bentuk printout sampai softcopy. Yang paling menderita tentu saja kalau harus mengirim naskah dalam bentuk printout (hardcopy).

Dulu, saya rajin mengirim naskah hardcopy ke penerbit, sampai mengumpulkan banyak naskah yang ditolak dan ujung-ujungnya saya jual ke pengumpul kertas bekas. Rugi sekali mengirim naskah printout, apalagi kalau naskah buku. Bisa menghabiskan ratusan kertas dan tinta printer. Bayangkan jika sampai sekarang saya masih melakukan hal itu? Berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas para penulis? Kini, saya suka pilih-pilih penerbit. Kalau penerbit tersebut mengharuskan naskah hardcopy, saya akan cari penerbit lain yang membolehkan pengiriman naskah via surat elektronik.

Tahun lalu, saya masih ikut lomba novel yang mensyaratkan pengiriman naskah hardcopy. Saya tahu sih, itu berguna untuk memudahkan penjurian. Puyeng juga kan baca naskah lomba di laptop? Tapi tahun ini, saya tidak akan memaksakan ikut, karena selain modalnya besar, juga karena boros kertas. Coba ya, kalau satu naskah novel itu berjumlah 200 halaman. Lalu harus dikirim tiga kopiannya, berarti saya harus mengirim 600 halaman naskah! Berapa kertas yang terbuang kalau naskah itu tidak menang dan tidak punya peluang diterbitkan pula? Saya harus merevisinya lagi, kan? Artinya, naskah itu tidak ada gunanya lagi. Kertas sebanyak 600 halaman itu pun terbuang percuma.

Tak cukupkah bencana alam yang sudah sering terjadi di negara kita ini guna menyadarkan kepedulian kita terhadap lingkungan? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai wujud cinta lingkungan, salah satunya adalah menghemat pemakaian kertas. Profesi penulis, sudah tentu sulit terhindarkan dari kertas. Apalagi kalau tulisan itu sudah menjelma menjadi buku. Teknologi telah berkembang dengan pesat. Pengiriman naskah ke penerbit bisa melalui surat elektronik. Ada editor penerbit yang beralasan bahwa dia baru mau membaca naskah softcopy kalau sudah punya Tablet. Duh, berapa sih harga Tablet saat ini? Harga gadget sudah semakin ramah dengan kantong. Setidaknya lebih baik membeli Tablet daripada menebang jutaan pohon untuk dibuat kertas.

Lihatlah, buku-buku koleksi saya di lemari buku. Kertasnya sudah semakin menguning. Saya bahkan berpikir untuk menjual buku-buku itu daripada nanti tulisannya sudah tidak bisa dibaca karena kertasnya semakin tua. Bandingkan dengan ebook (buku elektronik). Kita bisa membacanya kapan saja. Syukurlah, salah satu novel saya bahkan sudah dipasarkan dalam bentuk ebook. Inisiatif dari penerbitnya (atau insting bisnis juga kali ya),  membuat mereka menjual buku-buku terbitannya dalam bentuk ebook (selain cetak). Penjualan buku dalam bentuk ebook ini sebenarnya lebih menguntungkan, diantaranya:

Hemat kertas, karena sama sekali tidak membutuhkan kertas untuk membaca ebook. Cukup sediakan Tablet atau Smartphone yang bisa memuat fitur ebook. Di masyarakat modern saat ini, saya rasa harga smartphone sudah terjangkau. Hemat kertas ini penting karena bisa menyelamatkan penebangan pohon yang tak terkendali.

Dapat diedarkan sebanyak mungkin dalam waktu cepat. Buku cetak juga bisa diedarkan sebanyak mungkin, tetapi penerbit harus menyediakan modal yang sangat besar dan berisiko tinggi bila ingin mencetak buku dalam jumlah banyak. Ironisnya, tidak banyak penulis yang dapat menjual bukunya hingga jutaan eksemplar. Sebagian besar terkena kutukan “dua ribu eksemplar.” Penerbit biasanya hanya mencetak sebanyak dua ribu eksemplar untuk seorang penulis pemula, itupun tidak habis semuanya di pasaran. Kalau ebook, berapa pun permintaannya, penerbit dapat dengan cepat menyediakan tanpa risiko kehilangan modal yang besar.

Dapat menjangkau pembaca yang lebih luas. Untuk penulis lokal, buku cetaknya hanya bisa diedarkan di Indonesia. Kalau mau dikirim ke luar negeri, ongkos kirimnya pasti mahal. Sedangkan ebook bisa dibaca oleh pembaca yang berada di luar negeri tanpa ongkos kirim. Nah, ini berarti nama penulis akan lebih terdengar hingga ke luar negeri.

Tidak membutuhkan tempat yang banyak untuk menyimpannya, tak seperti buku cetak yang memerlukan lemari buku, tempat yang luas, atau kardus-kardus. Ribuan ebook bisa disimpan dalam satu gadget.

Tentu saja ada kekurangan dari ebook juga, yaitu bila baterai smartphone atau tabletnya habis dan sedang mati listrik, jadi tidak bisa baca deh. Sedangkan kalau sedang mati listrik, saya suka mengisi waktu dengan membaca buku versi cetak, hehehe…. Di balik kelebihan dan kekurangannya, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjaga lingkungan, salah satunya dengan menghemat pemakaian kertas. Sebagai penulis, saya menyiasatinya dengan hanya mengirimkan file naskah dalam bentuk softcopy atau digital. Beberapa penulis merisaukan terjadinya pencurian ide atau bahkan naskah secara keseluruhan apabila akun emailnya dihack orang lain. Nah, kalau itu terserah si penulis. Saya pribadi masih merasa aman menggunakan email untuk mengirim naskah. 

Kalau kita selalu ketakutan naskah dicuri karena mengirim lewat surel (email), sebenarnya itu ketakutan yang bisa juga terjadi kalau naskah dikirim dalam bentuk hardcopy. Kalau oknum penerbit ingi mencuri, mereka tetap akan mencuri sekalipun naskah dikirim dalam bentuk printout. Apa susahnya sih mengetik ulang? Kalau takut melulu, kapan mau kirim naskaaah? Hilangkan ketakutan itu. Nulis, kirim, doa, pasrah (tawakal). 

Sekalian mau promo, alhamdulillah dua buku saya sudah dibuat ebooknya. Mudah-mudahan yang lain juga begitu, karena belum semua penerbit memasarkan bukunya dalam versi ebook. Nah, ini link ebook untuk dua buku saya (sambil ngarep ada yang minat beli). Apalagi kalau buku versi cetaknya udah susah didapetin kan, mending beli ebooknya.


Versi cetak tersedia di Grazera

11 comments:

  1. aku belum pernah kirim naskah via email, belum pernah punya buku juga soalnya mbak :)

    ReplyDelete
  2. iya, bun. kayak skripsi aja ya, kalo salah ketik apalagi. harus ngeprint2 ulang, belum tentu diterima. memang bagusnya ebook pun bisa menjangkau yang jauh dari kota besar, tetep bisa baca buku terbitan terbaru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tuh ya, skripsi juga boros kertas hehehe...

      Delete
  3. Setuju! Walaupun aku blm pernah ngirim naskah juga sih,but I'm going to (janji sama bu kepsek) n kalo waktunya tiba aku pun akan pilih via email ;)

    ReplyDelete
  4. makasih infonya mak.. tapi saya kadang masih suka penasaran, kalau liat-liat ebook (di play store) harganya ga jauh beda dengan versi cetak, padahal kalo dipikir ongkos produksinya lebih sedikit ya.. adakah penjelasannya mak? *makasih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak tau saya penjelasannya kenapa mahal, mak. Tapi klo ebook saya yg ada di atas itu lebih murah daripada versi cetaknya.

      Delete
  5. Tapi Kalo baca enak yang cetak2 kadang2 Kalo cut tinggal lipet bukunya hehe. Ebook aku rebutan iPad ma anak. Setuju kirim naskah via email..hemat Kertas:)

    ReplyDelete
  6. wah,,10 tahun ya...bukan waktu yang sedikit itu,,pasti sudah melalui banyak perjuangan :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....