Monday, April 14, 2014

[Cerpen] Bulan Madu Kedua



Makan romantis di De Opera, The Bay Bal

Pasir putih pantai Nusa Dua Bali membelai lembut telapak kakiku. Nyiur pohon kelapa memberikanku naungan dari terik matahari. Aku masih belum sekuat manusia-manusia berkulit putih yang berjemur di tepi pantai itu. Aku masih khawatir kulitku menghitam, meski mereka justru menginginkan kulit Asia yang eksotis seperti kebanyakan penduduk Indonesia. Di pinggir pantai, bayangan sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berlarian dan bercanda memercikkan air ke tubuh pasangannya, memburamkan pandangan mataku. Kemesraan mereka sungguh membuatku iri.

Lidahku masih dapat merasai aroma khas bumbu Bali yang menemani sepotong Bebek Bengil, menu favorit kita di Restoran Bebek Bengil, salah satu restoran favorit di kawasan The Bay Bali ini. Kau yang memilihkan menu itu, padahal seumur-umur belum pernah aku makan daging bebek. Aneh? Ah, tidak. Aku pikir aku orang yang konsisten dengan pilihanku menerapkan pola makan Food Combining yang lebih ekstrim: tidak makan karbohidrat dan daging-dagingan. Tetapi kau, dengan paksaanmu yang menghipnotis, mampu membuatku mencicipi daging binatang yang hidup berkelompok dan selalu berisik saat berjalan beriringan.
Wajahmu begitu puas ketika lidahku mau menyecap daging bebek yang lembut itu. Aku bahkan melupakan program dietku yang sudah tiga tahun kulakukan demi memperoleh tubuh langsing. Kau berkata, “bagiku, kau tetap cantik walau pipimu menggelembung.” Aku tersenyum malu-malu, dan tak terasa sudah memasukkan dua piring nasi ke dalam perutku. Hanya seseorang yang kucintai dengan sangat, yang kuperbolehkan mengatur pola makanku, sesuatu yang kujaga selama ini.  

Bebek Bengil

Setelah makan, kita melanjutkan perjalanan bulan madu, melintasi jalan setapak dari depan restoran menuju ke tepi pantai. Ya, dari depan restoran Bebek Bengil itu, kita dapat melihat ke arah pantai Nusa Dua, menikmati pemandangan pantai yang romantis. Memang tak salah saat kau mengusulkan untuk berbulan madu ke The Bay Bali. Kau telah memilih tempat yang  sesuai untuk mengabadikan momen pertama penyatuan cinta kita.
Kau mengajakku berjalan di tepi pantai, membiarkan deburan ombak yang tenang membelai jemari kaki kita. Kaupegang tangan kiriku, kautautkan jemari tangan kananmu ke jemari tangan kiriku. Getaran serupa setruman listrik segera menjalari tubuhku. Aku masih saja merasakan setruman itu, meskipun kita sudah menjadi suami istri sejak dua hari sebelumnya. Kita langsung berbulan madu ke The Bay Bali, meninggalkan sisa-sisa kerepotan acara resepsi. Aku masih tak menyangka, seorang lelaki yang kutemui dalam sebuah perjalanan, ditakdirkan menjadi suamiku.
Perkenalan kita singkat saja. Kau bersama temanmu, dan aku bersama temanku. Semestinya kedua teman kita yang berjodoh, setelah perkenalan mereka di jejaring sosial. Nyatanya malah kita yang saling melempar pandang dan menyimpan nama masing-masing di dalam hati. Tiba-tiba kau menghubungiku tiga hari kemudian, lalu semua berjalan begitu saja sampai kau melamarku setelah tiga bulan perkenalan kita. Bila aku mengingat kenangan itu, aku terpikir, barangkali kita butuh waktu lebih lama  lagi untuk penjajagan. Ya, barangkali….
Malam harinya, masih di The Bay Bali, kau mengajakku makan malam di De Opera, yang baru dibuka jam tiga sore. Sebuah klub pantai dan tempat makan malam eksklusif dengan tiga restoran, dua diantaranya adalah restoran Jepang. Aku memang menjauhi makan daging, tapi bukan seafood. Aku hanya menjauhi daging merah dan menggemari makanan laut. Ini seperti surga untukku. Kau membawaku masuk ke dalam De Opera yang didesain bak latar film fantasi, dominan warna putih dan cokelat. Di mejaku telah terhidang tempura, nama lain dari udang goreng tepung. Sedangkan kau memesan sushi. Sebuah kolam renang besar menjadi latar pemandangan, tetapi saat itu aku hanya bisa memandang wajahmu yang juga tak lepas memandang wajahku.  
Kini kusadari betapa kemesraan itu begitu kurindukan. Baru tiga tahun usia pernikahan, tetapi aku merasa sudah banyak perubahan yang terjadi kepadaku. Kau telah menghipnotisku dengan dominasimu. Aku tersadarkan, bahwa aku telah kehilangan banyak hal dari diriku. Aku menjadi seperti bukan aku. Semua itu karenamu.
“Apa kau sudah siap memiliki anak,” tanyaku, malam itu.
“Hhh… bisa gak kita gak ngomongin soal anak dulu? Aku lagi sibuk.” Matamu masih memandang layar laptop, seolah kau bakal kehilangan separuh dunia bila mengalihkan pandangan.
“Terus, kapan kamu mau ngomongin soal itu?”
“Aku kan udah bilang, lima tahun lagi deh. Sekarang ini kita nabung yang banyak dulu untuk masa depan anak-anak kita kelak.”
“Iya, kalau lima tahun lagi kita bisa punya anak. Kalau tidak? Usiaku tak bisa menunggu.”
Akhirnya, kau menatapku. Tatapanmu menakutkan. Kedua alis matamu tajam bak pedang yang siap menebas leherku. Rahang kukuhmu seolah ingin melumatku. Pupil matamu seakan ingin menenggelamkanku ke dalam pusarannya. Itu sudah yang kesekian kali aku melihat ekspresi galakmu. Selalu, setiap aku menyinggung soal anak.
“Kita pasti punya anak, tapi bukan sekarang. Aku masih sibuk dan belum mau diganggu oleh anak-anak,” katamu dengan nada suara yang tegas, meskipun pelan.
Kau egois! Aku berteriak marah. Iya, aku tahu, kita telah membuat kesepakatan untuk punya anak setelah lima tahun pernikahan. Tapi, rasanya aku tidak sanggup menunggu selama itu. Keluargaku, keluargamu, teman-teman, orang-orang di sekitar, mempertanyakan mengapa aku belum hamil juga. Bukan, bukan aku yang tak mau hamil, tapi KAU. Kau yang melarangku untuk hamil. Kau menyuruhku meminum  pil KB. Tak ada guna aku membantah semua tuduhan itu. Bahwa aku mungkin mandul. Selalu pihak perempuan yang disalahkan bila belum memiliki anak.
Aku juga sudah tidak sabar memomong bayi buah cinta kita. Naluri seorang perempuan yang sudah menikah. Setiap kali melihat perempuan lain menggendong bayi, hatiku terusik. Aku juga ingin punya bayi! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dan ketika aku menangis memikirkan itu, kusadari kau telah mengubah banyak hal dari diriku. Aku yang dulu pemberani dan tegas, berubah menjadi bak kerbau dicolok hidungnya. Sementara kau terus tenggelam oleh duniamu sendiri. Pekerjaanmu.
“Aku tidak ingin seperti Adi. Dia kemarin pinjam uang untuk nyicil rumah. Bayangin. Anaknya sudah tiga, dan dia baru mau beli rumah?!” kau bercerita dengan wajah berapi-api. “Aku ingin anak kita nanti sudah punya jaminan masa depan.”
“Tapi, kita kan sudah punya rumah,” sanggahku.
“Iya, tapi masih jelek begini. Aku masih mau merenovasinya menjadi.. bla.. bla.. bla…” Kau terus berbicara tentang menjadi orang tua yang mapan. Kau tak sedikit pun mendengarkan pendapatku. Hingga bara itu tak dapat lagi kutahan.
“Aku tak tahu ada masalah apa denganmu, tapi aku tak ingin menikah dengan lelaki yang tak mau mempunyai anak!” teriakku, suatu malam. Entah keberanian macam apa yang merasukiku hingga bisa bicara begitu keras di depanmu. Matamu membelalak. Barangkali kau terkejut karena aku bisa menyalak juga.
“Kalau kau tak mau menikah denganku, ya sudah, tidur sama laki-laki lain saja sana!” kau balas berteriak. Kata-katamu menusuk jantungku. Kau, lelaki terlembut yang pernah kutemui, mendadak menjadi serigala lapar. Aku yakin pernah memuji suaranya yang lembut dan sikapmu yang sangat welas asih. Nyatanya, waktu tiga tahun telah membongkar kedokmu.
“Baik. Kita cerai,” putusku.
Airmataku terjatuh lagi, hingga menyentuh bibir atasku. Rasanya asin seperti air laut di depanku. Jadwal sidang perceraian kita sudah ditentukan.  Benarkah aku siap untuk melepasmu? Kala kemarahan menguasaiku, rasanya aku siap sekali. Aku siap menyongsong kebebasanku. Tapi, mengapa kau kerap kali muncul di dalam mimpi-mimpiku setelah kita pisah rumah? Aku sudah kembali ke rumah orang tuaku, dan kau masih tetap di rumah yang kaubangun sendiri. Aku membayangkanmu. Kerinduan mencengkeramku dengan ganas setelah dua bulan tak menyentuhmu. Aku ingin menatap sepasang matamu yang sipit. Aku ingin membelai rambut lurusmu yang lebat dan dibelah dua. Aku ingin menyusuri alis matamu yang hitam dengan jari telunjukku. Dan aku ingin memeluk tubuh tegapmu sekuat mungkin. Aku merindukanmu.
“Apa tidak bisa dipikirkan lagi soal perceraian kalian? Kalian masih muda. Wajar kalau masih sering bertengkar,” Ibu menasihatiku.
“Dia terlalu mengaturku, tapi tak mau diatur,” sahutku.
“Laki-laki memang begitu, sudah sewajarnya kita menerima.”
“Mengapa selalu perempuan yang menerima?” aku menatap sepasang mata Ibu, tajam.  Ibu bergeming. Menyadari tak ada gunanya menasihati anak gadisnya yang keras kepala.
Apakah aku benar-benar sanggup kehilanganmu? Mengapa kau begitu mudah melepaskanku? Kupikir kau akan mengalah setelah kulayangkan permintaan cerai itu, ternyata kau justru mengabulkannya. Apakah diam-diam kau memiliki kekasih lain? Aku tak bisa melenyapkan prasangka itu bila mengingat begitu besar daya pikatmu terhadap gadis-gadis.
“Anak itu pernah kelaparan di tengah malam buta. Dia memang gak sempat makan malam. Lebih tepatnya lagi, dia gak kebagian makan malam. Saudaranya ada banyak, dan dia harus berbagi makanan dengan saudara-saudaranya itu. Anak itu juga harus berjuang keras untuk bisa sekolah. Syukurlah, Tuhan berpihak kepadanya. Dengan usahanya sendiri, dia bisa sekolah tinggi. Tapi, setelah itu dia bertekad, jika kelak dia menikah, dia akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. Ayah yang bisa memberikan kehidupan yang mapan untuk anak-anaknya.”
Sebuah suara mengusik gendang telingaku. Aku takut untuk menoleh. Aku tahu betul suara itu. Suara yang pelan tapi tegas, suaramu. Suara yang sudah lama kurindukan. Sudah berapa lama kita tidak saling bicara dari hati ke hati? Aku tahu dari mana kau berasal. Kau pernah menceritakannya kepadaku, ketika kita berbincang sambil berpelukan. Kau punya tujuh saudara. Orang tuamu pedagang pakaian di Tanah Abang yang bangkrut karena tokonya kebakaran. Masa kecilmu penuh penderitaan, tapi justru penderitaan itulah yang menempamu hingga sesukses sekarang. Aku selalu bangga denganmu. Aku selalu suka mendengar ceritamu.
“Apa kau mau makan di Bebek Bengil bersamaku?” kau menoleh kepadaku, sementara jantungku memompa darah lebih cepat. Sudah lama aku tidak makan daging, karena kembali ke pola makan Food Combiningku yang ekstrim. Hm, sebenarnya masih boleh makan daging di jam makan siang.
Bibirku masih kelu untuk menjawab. Tanda tanya besar masih merajai kepalaku. Menjelang sidang cerai, kau justru mengirimkanku tiket ke Bali dan menginap di Hotel Grand Hyaat Nusa Dua yang masih berada di dalam kompleks The Bay Bali. Inikah maksudmu? Kau ingin aku mengingat kembali kenangan kebahagiaan bulan madu kita?
“Apakah itu alasan mengapa kau tak mau punya anak sekarang?” tanyaku, setelah lidahku terbebas dari kebekuan.
Kau tak menjawab, tapi aku tahu itu berarti iya. Kau kembali mengarahkan pandanganmu ke laut. Aku melirik ke arahmu, ragu-ragu. Hingga kusadari bahwa tubuhmu masih menjadi magnet buatku.
“Kau akan menjadi ayah yang baik. Kau ayah yang bertanggungjawab. Ayahmu juga ayah yang bertanggungjawab. Memang, kau pernah kelaparan dan harus berjuang untuk bisa menjadi seperti sekarang. Bukankah itu berarti ayahmu berhasil mendidikmu, karena dia membuatmu berjuang?” pertanyaanku seperti melayang terbawa angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi. Kau masih belum menolehku. Jika kau mengajakku kembali ke The Bay Bali, bolehkah aku mengira bahwa kau masih menginginkanku?
Tiba-tiba, kau menggenggam tanganku. Genggamanmu serupa aliran listrik yang mengejutkanku. Sudah lama kita tidak bersentuhan. Wajar kan bila rasanya seperti baru pertama bersentuhan?
“Kita akan punya anak setelah pulang dari sini,” katamu dengan senyum jahil.
Aku belum sempat meredakan emosi bahagiaku saat kau menggendongku dan membawaku ke dalam arus pantai Nusa Dua yang tenang. Ini adalah rasa bahagia yang tak dapat kuucapkan dengan kata-kata. Menyatu denganmu dalam pelukan ombak pantai Nusa Dua di The Bay Bali

















16 comments:

  1. aaaakkkhhhh,...makkkk, jadi pengen honey moon. Tulisanmu membawaku berimajinasi. Indah nian mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senangnya dikomentarin Mak Irma. Sama Mak, aku juga pengen bulan madu lagi euy.. :')

      Delete
  2. romantis :D
    baca ceritanya jadi ngebayangin tokoh2nya mak..
    alurnya kereeen (y)

    ReplyDelete
  3. Waaah kudu begini ya cerpennya? Nyerah dah. nggak bisa sampe seromantis ini. sampe bulu kudukku merinding :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaah.. Mba Lina udah bikin juga kan cerpennya? :D

      Delete
  4. Aisss... so sweet bingit ini mbak :)

    ReplyDelete
  5. mbaaak..bagus cerpennya, juga memenuhi kriteria lomba banget. Calon menang nih. Gutlak ya mbak ;)

    ReplyDelete
  6. cerita yang menarik dan bagus mbak salam kenal mbak

    ReplyDelete
  7. Waaaa...terhanyut...jadi beneran pengen hanimun lagi ke Bali...
    Semoga menang ya mak :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....