Friday, February 13, 2015

Cara Menerbitkan Buku untuk Pemula

3 novel baruku


Berhubung ada giveaway dari blog Cokelat Gosong yang  temanya sangat “gue banget”, maka saya akan kembali menuliskan pengalaman menjadi penulis pemula. Sebenarnya saya sudah sering menuliskan pengalaman menjadi penulis, terutama di dalam blog ini. Saat ini sudah ada lebih dari 20 buku solo (novel dan nonfiksi) saya yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Seperti penulis lainnya, saya juga pernah menjadi penulis pemula. Penulis yang memulai langkah dari nol, baik itu dalam hal menulis maupun menerbitkan buku. Bahkan saya pernah berada di titik nol itu dua kali. Pertama, ketika belum menerbitkan buku sama sekali. Kedua, ketika sempat berhenti menulis selama tiga tahun (karena menikah dan mengurus bayi), lalu bangkit kembali.


Menjadi penulis pemula itu memang pahit tapi manis. Pahitnya, naskah ditolak terus oleh penerbit. Manisnya, semangat menulis menggebu-gebu, tanpa memikirkan apakah buku akan laris, menjadi terkenal, fenomenal, dan sebagainya. Menulis tanpa beban. Beda ya kalau sudah pernah menerbitkan buku dan mendapatkan komentar dari pembaca (apalagi komentar pedas), mau nulis se-kata dua kata saja sudah takut salah, hihihihi….. Lalu,  bagaimana akhirnya naskah saya bisa diterbitkan?

Mengikuti perlombaan menulis
Naskah saya ditolak terus, hanya cerpen saja yang bisa sesekali dimuat di majalah. Naskah pertama saya ditolak oleh penerbit yang mana editornya itu teman saya juga. Bayangkan! Harusnya sebagai teman, dia tidak menolak naskah saya, hahahaha…. Syukurlah, saya move on, lalu mengirimkan naskah tersebut ke sebuah lomba menulis novel yang diadakan penerbit yang lebih besar daripada penerbit tempat teman saya bekerja itu. Tak disangka, novel saya justru jadi pemenang kedua! Sejak itu saya yakin, naskah ditolak di satu penerbit, belum tentu ditolak juga di penerbit lain. Itulah langkah pertama saya menerbitkan buku. Gelar juara dua itu memuluskan langkah berikutnya, karena sudah ada penghargaan menulis yang saya terima.

Mengikuti selera penerbit
Seorang penulis harus rajin membaca, baik itu membaca buku maupun tren penerbitan. Caranya? Rajin ke toko buku atau melihat-lihat situs toko buku online. Cermati juga sosial media para penerbit, buku-buku apa yang mereka terbitkan. Akan lebih bagus kalau membeli bukunya juga. Sebagai informasi, persaingan buku fiksi sangat ketat karena banyaknya jumlah penulis fiksi tapi pembacanya tidak lebih banyak daripada buku nonfiksi. Naskah fiksi yang diprioritaskan untuk diterbitkan adalah novel, sedangkan kumcer (kumpulan cerita pendek) hanya untuk penulis yang sudah punya nama, fans, atau menjamin bisa menjual bukunya sejumlah eksemplar tertentu. Naskah yang berpeluang besar untuk diterbitkan sekalipun itu ditulis oleh penulis pemula adalah naskah nonfiksi populer dan agama.

Mengikuti perkembangan sosial media
Kini ada kecenderungan penerbit memprioritaskan penulis yang aktif di sosial media, misalnya dengan jumlah follower twitter, blog, instagram, dan sebagainya di atas 1.000, sehingga ada jaminan bukunya laris karena penulisnya rajin berpromosi di sosial media. Jadi, jangan malas-malas mengoptimalkan jejaring sosialmu, siapa tahu nanti ada penerbit yang melirik.

Self Publishing? Why Not?
Katanya, Cokelat Gosong mau menerbitkan bukunya melalui self publishing. Self publishing ini ada dua: menerbitkan buku sendiri (produksi dan jual sendiri) atau pakai jasa perusahaan self publishing (dibantu proses produksi dengan biaya terjangkau). Biasanya penulis yang modalnya terbatas, menggunakan jasa perusahaan self publishing dengan proses produksi POD (print on demand, dicetak bila ada pesanan). Kalau punya modal besar, lebih baik cetak sendiri, biaya kurang lebih Rp 11 juta-an, lalu kerjasama dengan distributor buku untuk memasarkan bukunya. Pengalaman saya menggunakan jasa self publishing dengan sistem POD, yah dapat capeknya saja hehehe…. Royalti belum nyicipin sedikit pun, konon jumlah royalti belum mencukupi untuk dikirim padahal saya berhasil jual ratusan eksemplar. Sudah begitu, saya hanya dapat 10% royalty, padahal biaya produksi dari saya. Mending cetak sendiri, saya dapat 100% royalti. Itulah kenapa, sekarang saya tidak pernah lagi memakai jasa self publishing. Saya berusaha menerbitkan buku di penerbit mayor, karena lebih jelas keuntungannya. Saya berusaha menembus penerbit besar karena mereka amanah dalam memberikan hak-hak penulis. 

Nah, untuk bisa menembus penerbit mayor itu, penulis harus berusaha keras menulis naskah yang berkualitas dan menjual. Untuk penulis pemula, jika ingin menulis fiksi, tulislah novel lalu ikutkan ke lomba menulis novel. Peluang lebih besar bila menulis nonfiksi yang bermanfaat untuk pembaca (berupa buku panduan, terutama panduan bisnis dan industri kreatif). Penerbitan buku kini sudah masuk ke industri kreatif, jadi bolehlah menulis dengan tema “How to be a Writer.” Sepengetahuan saya, sudah banyak buku sejenis, karena itu bila ingin menerbitkan buku yang mirip, buat tema yang lebih spesifik dan menarik, misalnya:

“Bagaimana menerbitkan bukumu dan mendapatkan penghasilan puluhan juta dari menulis?”

Siapa contoh penulis yang bisa dijadikan inspirasi? Raditya Dika, misalnya, yang bukunya terjual sembilan ribu eksemplar di minggu pertama.

Jadi nggak sabar nunggu buku Cokelat Gosong terbit, nih hehehe….
                                                     
tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong

*762 kata


21 comments:

  1. Setuju banget. Raditya Dika itu emang keren banget. Baru seminggu udah laku segitu. Aku juga pengen Self Publishing, cuma belum nemu aja tema yang pas -_-
    Makasih Mak sharingnya ^_^

    ReplyDelete
  2. 20 buku solo, banyak banget mak... :)

    ReplyDelete
  3. Sy dulu jg berawal dr kenal dan ikutan lomba tp di grup self publishing.Keren buund...semangaat berkarya terus ya bund.

    ReplyDelete
  4. Sy dulu jg berawal dr kenal dan ikutan lomba tp di grup self publishing.Keren buund...semangaat berkarya terus ya bund.

    ReplyDelete
  5. Ingin banget nulis bukunon fiksi, tapi apa, ya?

    Sukses Mak GAnya :)

    ReplyDelete
  6. Terdaftar! Terima kasih Mak Leyla sudah berpartisipasi ^^

    Wuah... inspiratif ya Mak, berbekal dari pengalaman sendiri bikin para pembacanya percaya ini. Nice sharing ^0^

    ReplyDelete
  7. rajin ikut menulis lomba, kaya mbak leyla ya . keren mbak., semoga menang ya

    ReplyDelete
  8. Ela sering menang lomba nulis dan blog ey, keren pisan!

    ReplyDelete
  9. Penulis pemula datang siap melaksanakan tipsnyaa hehehe

    ReplyDelete
  10. Saya juga self publishing ya alhamdulillah udah 3 buku terbit.

    Sekarang mau adakan giveway apa mau ikutan?

    ReplyDelete
  11. Wah artikelnya luar biasa, kebetulan aku punya niat untuk menerbitkan novel. Tapi aku mau terbitkan sendiri aja, gak mau ambil pusing berhubungan dengan penerbit major.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Sebetulnya rejeki bisa datang dari mana saja ya mbak.. Tapi terkadang masih kalah dengan rasa malas...
    Saya juga pengen bisa menerbitkan buku, tapi kurang tau gaya bahasa seperti apa yg pas buat saya. Hehehhe

    ReplyDelete
  14. aku punya novel ni ,tapi g tau mau dikirim kemana

    ReplyDelete
  15. umurku baru 14 tolong bantuan nya

    ReplyDelete
  16. Keren sekali mba.. saya juga suka nulis di blog tapi masih cerpen .. haha kalo buku masih terlalu amatir banget.. paling nulis buat saya aja blum brani ke dunia penerbitan buku hehehe

    ReplyDelete
  17. Salam kenal buat semua pemerhati novel.
    Berkunjung dong ke enistarkids.blogspot.com.Saya tunggu.
    Proses nerbitin novel, enjoy juga...

    ReplyDelete
  18. aduh..ralat..kbstarkids.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  19. Terimakasih, infonya sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  20. Ada sarannya gak nih
    Saya mau nyoba buat novel
    Genre action (masih pemula banget)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....