Friday, February 12, 2016

Ayam Saja Punya Tujuan Hidup, Bagaimana Denganmu?

Yam.. Apa sih tujuan hidupmu? Tiap hari kamu cuma nongkrong di depan jendela rumahku. Menungguku melempar segenggam beras atau secentong nasi. Syukur-syukur ada campuran lauk pauknya, termasuk ayam goreng. Lah, ternyata kamu karnivora dan kanibal to? Teman sendiri dimaem juga. Seharian tadi aku memikirkan, apa tujuan hidupmu? Hanya makan, minum, dan membuat ayam lain bertelur. Tapi, kemudian aku sadar. Barangkali justru hidupmu lebih mulia. Sebab, besok kau akan dipotong dan dijadikan kari ayam atau ayam goreng atau ayam semur, dan lain-lain. Sebenarnya aku tidak tega. Sudah beberapa bulan ini kita bersama. Kau selalu setia menungguku di depan jendela. Kalau kau sudah jadi lauk nanti, aku tak tahu apa bisa memakanmu? Hiks, sedih membayangkannya. Tapi, kalau kau tidak dimakan, hidupmu sia-sia. Sebab, tujuan hidupmu memang untuk memenuhi perut manusia.

Jika kau saja bisa begitu berguna, mengapa aku tidak? Manusia tidak dilahirkan untuk dimakan makhluk lain yang lebih super. Lalu, apa tujuan hidup manusia? Pikirkan saja sendiri. Asal jangan sampai kita mati tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk lain. Duh, malam-malam ngomongin ayam. Ya, ini cerita tentang ayam saya. Ayam jago titipan bapak mertua. Beberapa bulan lalu, saya meminta suami agar memelihara ayam. Saya gemas karena setiap hari didatangi ayam-ayam tetangga. Tetangga saya punya banyak ayam yang dibiarkan berkeliaran membuang kotoran di depan rumah saya. Kami pun terpaksa membuat pagar agar ayam-ayam itu tidak bisa masuk ke dalam rumah. Tetap saja ayam-ayam itu bisa terbang dan buang kotoran di mana-mana. Di atas sandal dan sepatu, di depan pintu, di atas motor, dan tempat-tempat lain.

Jika setiap hari kami bisa bersabar menghadapi ayam tetangga, mengapa kami tidak memelihara ayam sendiri? Bapak mertua punya banyak ayam, nyaris seperti peternakan saja. Sayangnya, ayam-ayam itu tidak dijual. Hanya untuk dimakan bersama keluarga. Sehabis lebaran, bapak mertua memberikan sepasang ayam: jantan dan betina kepada kami, untuk dipelihara. Ternyata memelihara ayam itu tidak mudah. Ayam betina sudah mati duluan karena sakit. Untungnya sebelum mati, kami sudah memotongnya sehingga masih bisa dimakan. Saat itu pun saya merasa tidak tega untuk memakannya. Walau baru sebulan memberinya makan, rasanya sudah seperti teman sendiri. Apalagi si ayam jago yang sampai hari ini masih hidup.

Waktu terus berlalu. Mau bagaimanapun, ayam jago itu memang tiba waktunya mengorbankan diri. Dagingnya harus dimakan. Kalau terlalu lama dipelihara, dia akan menua dan dagingnya pun alot. Tidak enak lagi dimakan. Suami sudah beberapa kali mengatakan ingin memotong si jago. Saya merasa tidak tega. Kalau sudah dipotong, tidak ada lagi sosok putih jantan yang menunggu di depan jendela. Kecuali malam, dia selalu menanti beras atau nasi yang saya lemparkan. Kalau saya belum memberinya makan, dia akan mengetuk-ngetuk jendela dengan paruhnya. Saya sampai bosan dan sering ngedumel, 

"Duh, Yaam.. kamu itu aku lepasin supaya bisa makan sendiri. Kenapa kamu minta makan terus di sini? Sudah, sana pergi! Cari makan sendiri!" gerutu saya. Tadinya saya pikir memelihara ayam itu gampang. Kasih saja makanan sisa. Kan enak, tidak mubajir lagi saat makanan tidak habis. Toh, ada ayam yang menghabiskan. Ternyata nafsu makan ayam ini besar juga ya. Seharian betah nongkrong di depan jendela supaya saya memberinya makan. Seolah tak cukup beras dan nasi yang saya lemparkan. Belum lagi kotorannya yang menjengkelkan. Setiap diberi makan, dia akan buang kotoran di tempat tersebut. Jadi, makan sambil buang kotoran. Huh, sebal! Saya harus membersihkan kotoran ayam setiap saat.

Daripada istrinya ngedumel terus, suami pun menyuruh potong saja ayam itu. Hiks, memang saya jengkel tapi kok ya kasihan kalau dipotong. Kalau tidak dipotong, lebih kasihan lagi. Hidupnya jadi tidak berguna. Bagaimanapun, ayam itu pasti mati. Kalau dia mati tanpa dikonsumsi manusia, sia-sia sajalah hidupnya selama ini, karena ayam diciptakan untuk makanan makhluk lain yang lebih superior dibandingkan si ayam. Itulah rantai makanan. Itulah tujuan penciptaan ayam. Lalu, bagaimana dengan manusia? Sebagai makhluk yang berada di posisi teratas rantai makanan, manusia bukanlah makanan makhluk lain, kecuali makhluk buas seperti harimau dan singa. Itupun kalau masih ada singa di sekitarnya. 

Manusia adalah makhluk paling sempurna di antara semua makhluk. Manusia diciptakan dengan tujuan tersendiri. Seorang teman mengeluhkan hidupnya yang tak bersemangat. Dia merasa tak ingin mengejar apa pun karena tak ada lagi yang ingin dikejar. Hidupnya sudah berkecukupan dan dia tak memiliki ambisi untuk menguasai sesuatu. Sungguh malang nasibnya. Di usia muda, sudah tak memiliki tujuan hidup itu rasanya seperti makan tanpa garam. Hambar. Buat apa hidup jika sudah tak punya tujuan? Maka, bersyukurlah orang-orang yang belum memiliki apa-apa, karena dia jadi punya alasan untuk memiliki apa-apa. Dia jadi terus bersemangat untuk berusaha menggapai keinginannya. Kalaupun sudah memiliki apa-apa, bukan berarti kita sudah kehilangan tujuan hidup.

Di dalam Al Quran disebutkan bahwa tujuan penciptaaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Ya, itulah tujuan hidup setiap muslim. Beribadah. Kemudian disebutkan pula bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain. Itu saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat kita memiliki semangat dan motivasi dalam menjalani hidup ini. Malu dong sama ayam yang tetap semangat mencari makan, walaupun nanti tubuhnya hanya akan berakhir di ujung pisau dapur. Tetap saja si ayam menjadi makhluk yang bermanfaat bagi makhluk lain. Duh, Yam... semoga nanti aku kuat memakanmu. Hiks....
\

9 comments:

  1. Tuh ayam jadi opor enak tuh *slurp*

    haghag gagal fokus :D

    ReplyDelete
  2. Eh, aku mah, kalo makan ayam piaraan, suka gak pada dimakan lho di rumah. Jadinya numpuk aja gitu. Jadinya, kalo miara ayam, kalo dipotong, pasti dikasihin ke tetangga. Di rumah mah beli jadinya. :D

    ReplyDelete
  3. orang-orang jaman dulu, termasuk bapak saya, sengaja miara ayam untuk jaga-jaga kalau nasinya ngga habis. tetangga saya pun gitu, kalau nggak punya ayam malah bingung, nasi yg ngga habis mau digimanain nantinya.. :D

    ReplyDelete
  4. jadi pengen opor ayam ma ketupat enak kayanya...

    ReplyDelete
  5. gak pernah bener2 miara ayam...

    jd klo ayamnya Bu e dipotong, tetep tega makan

    ReplyDelete
  6. Hihi kuatlah bumbunya dibikin mantep biar selera makan

    ReplyDelete
  7. Aku juga punya ayam, peliharaan ibu. Plus mentok. Duhh paling gak suka kalo kotorannya ada di mana-mana, baunya itu lho. Apalagi saat ini lagi hamil juga.

    ReplyDelete
  8. Hiiiih persis tetanggaku ini. Boro2 dapet telor atau ayamnya, dapat kotoran doang. Soalnya miara ayam tapi nggak punya halaman, ya sudahlah, main kemana-mana ayamnya. Dan aku baru tau dong, ternyata kuku & cucuk ayam itu tajem, plesteran pagerku di thothol2nya sampai boncel2

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....