Sunday, February 28, 2016

Nasi Uduk Bismillah



“Ayah mau sarapan apa nih? Nasi uduk, mau?”
“Mau, tapi maunya Nasi Uduk Bismillah, ya….”
“Hah? Nasi Uduk Bismillah? Apaan tuh?”
“Itu, nasi uduk yang di jalan turunan itu….” 


Percakapan di hari minggu pagi menandai perkenalan saya dengan Nasi Uduk Bismillah. Sebagai warga pinggiran Depok, penjual nasi uduk di sekitar tempat tinggal kami cukup banyak. Setiap dua ratus meter, ada penjual nasi uduk. Kalau hari-hari kerja, saya beli nasi uduk di dekat rumah saja. Itu jika saya tidak sempat memasak sarapan. Sebenarnya suami kurang suka dengan nasi uduk yang dijual di dekat rumah karena terlalu banyak santan dan cita rasa khas nasi uduknya kurang terasa. Kadang-kadang kami tes lidah juga dengan membeli nasi uduk di tempa-tempat lain. Ternyata favorit suami saya adalah Nasi Uduk Bismillah itu. Berhubung tempat jualannya cukup jauh dari rumah saya, saya hanya membelinya di akhir pekan. Hari Sabtu atau Minggu. Harga nasi uduknya juga lebih murah daripada di tempat lain. Kalau di tempat lain harga per bungkusnya sudah Rp 5.000. Nasi Uduk Bismillah masih menetapkan harga Rp 3.000. Memang tidak ada bihun dan tempe keringnya, tapi nasi, kerupuk, dan bawang goreng sudah menyenangkan lidah suami saya. Rasa nasi uduknya khas nasi uduk Betawi.

“Yang paling penting sih karena penjualnya selalu mengucapkan ‘Bismillah’ setiap kali menuangkan nasi,” kata suami.

Saya terpaku. Suami saya ternyata perhatian juga ya, sampai memperhatikan hal sekecil itu. Eit, mengucapkan “Bismillah” bukan hal kecil bagi seorang muslim. Bismillah, yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Dengan menyebut nama Allah” mengandung maksud bahwa orang yang mengucapkannya itu percaya, yakin, dan berserah diri kepada Allah. Setiap perbuatan yang didahului dengan ucapan Bismillah, insya Allah mengandung keberkahan. Apalagi bila itu diucapkan oleh seorang pedagang makanan. 

Penasaran, saya pun menyambangi kediaman  tukang nasi uduk itu. Rumah tukang nasi uduk menempel pada rumah sederhana di sampingnya. Rumah tukang nasi uduk itu jauh lebih sederhana lagi, bahkan bisa dibilang gubug. Penjualnya adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya harus datang jam 6 pagi supaya bisa kebagian. Pernah saya datang lebih siang, eh semua dagangannya sudah tandas. Selain nasi uduk, ada kue-kue khas Betawi, seperti gemblong, gorengan, ketan, apem, dan sebagainya. Harganya masih murah, Rp 500/ buah. Baru belakangan ini naik jadi Rp 2000/ 3 buah. Lebih murah daripada di tempat lain yang sudah Rp 1.000/ buah. 

Saya memperhatikan tempat jualan ibu itu, yang hanya berupa satu kamar. Tempat tidur menyatu dengan tempatnya berdagang, plus kompor dan peralatan dapur. Ya, hanya satu petak itu. Barangkali hanya kamar mandinya yang terpisah, berada di luar kamar. Pakaian-pakaian pun dijemur di sisi ranjang. Ada televisi kecil sebagai hiburan. Saya menebak, ibu ini tinggal seorang diri. Subhanallah, di usianya yang sudah tua dan sendiri, beliau tidak mengemis, melainkan tetap mencari nafkah dengan berjualan nasi uduk dan kue-kue. 

Saya memesan tiga bungkus nasi uduk, dan saat itulah saya memperhatikan bibirnya selalu mengucapkan Bismillah. Saat hendak menyendok nasi, mengambil bakwan, menggoreng bakwan, menuangkan sambal, menghitung uang kembalian. Entah sudah berapa “Bismillah” yang keluar dari mulutnya. Bismillah… bismillah… bismillah…. 

Masya Allah! Saya malu sekali. Saya mungkin sering lupa mengucapkan Bismillah. Bahkan saat mau makan pun, saya kadang lupa membaca doa sebelum makan. Tetapi, ibu itu sangat konsisten mengucapkan “bismillah.” Ah, pantas saja nasi uduknya enak meskipun hanya dengan bawang goreng, kerupuk, dan sambal. Bakwannya juga enak, padahal isi sayurannya sedikit. Begitu juga dengan kue-kuenya. Semua dibuat dengan mengucapkan kata Bismillah, dari mulai pengadukan tepung, penggorengan, dan dimasukkan ke dalam plastik. Mungkin itulah keberkahan yang diterima oleh penjual nasi uduk karena selalu menyertakan Allah dalam setiap pekerjaannya. 

Beberapa kali suami pernah menegur saya ketika saya kesulitan melakukan sesuatu. Suami tanya, “Tadi sudah baca Bismillah belum?” Saya pun tersadar kalau saya belum membaca Bismillah. Misalnya, saat saya kesulitan memasang regulator dan penghemat gas, saya pasti panggil suami atau menunggu suami pulang. Saya pernah tidak memasak seharian karena tidak bisa memasang regulator gas itu. Suami sudah memberikan arahan melalui telepon dan sms, tapi saya masih takut. Takut nanti  gasnya bocor lalu meledak, seperti yang ada di berita-berita. 

Setelah suami pulang, ternyata cara pasangnya mudah saja. Kalau gasnya belum mengalir, selangnya digoyang-goyang. Asalkan tidak ada masalah pada karet di kepala gasnya itu, berarti bisa dipasang. Dan yang paling penting, suami bilang, “Tadi Mamah udah baca Bismillah belum pas mau masang regulatornya?” Saya cengigisan, “Belum….” 

Ah, satu kata itu… mengapa sering terlupa? Terima kasih, Ibu Nasi Uduk Bismillah, sudah mengajari saya untuk senantiasa membasahi bibir dengan Bismillah.


12 comments:

  1. Masya Allah... Ibu itu nggak cuma membasahi lisannya dengan zikir di saat sibuk, tapi jg sudah berdakwah. Barakallah...Thanks Mbak Ley, postingannya manfaat banget!

    ReplyDelete
  2. enak banget nih, kesukaanku tp sayang banyak nasduk yang pakai penyedap. aku seneng bikin sendiri hehehe

    ReplyDelete
  3. Masyaallah ..mungkin itulah yg bikin dagangan ibu ini laris ya mbak :)

    ReplyDelete
  4. Ini nih yang keren, perjalanan di dunia, tak lupa tujuan ya, makanya dia sibuk berdzikir. Di daerah saya, ada juga tukang ayam keliling, yang tak lupa ucap basmallah, sebelum potong-potong ayam. beliau sudah menunaikan ibadah haji.
    Orang-orang hebat ya

    ReplyDelete
  5. Waaah semoga berkah Allah berimpah buat penjual nasi uduknya.
    *terharu*

    ReplyDelete
  6. Pertama baca, nama nasi uduknya unik banget. Semoga yang makan dan yang jual penuh berkah karena banyak didoakan sama yang jual. Btw, harganya juga murah banget loh untuk ukuran di Depok.

    ReplyDelete
  7. jd inget papa... selalu ngajarin aku utk ucapin Bismillah saat melakukan apapun... anakku yg prtama aja diajarin papa juga kalo tiap makan, di satiap suapan slalu ucapin bismillah... smntara aku hanya ngucapinnya pas permulaan -__-..

    jd pgn nyobain nasi uduk ini mba..sayang jauh bgt...

    ReplyDelete
  8. iitu yang bikin enak ya mbak..bismillah nya

    ReplyDelete
  9. terimakasih mbak Ley, semoga saya juga meneladani ibu nasi uduk... :'(

    ReplyDelete
  10. penjualnya berkah nih, selalu baca bismillah dulu :)

    ReplyDelete
  11. pantes pada suka...berkah dari bismillah penjual... rejekinya lancar..

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....