Tuesday, August 16, 2016

Penghargaan, Buah Cinta dan Keikhlasan

Gadis berusia 12 tahun itu berdiri di muka kelas dengan wajah pucat dan merah padam. Serbuan gumpalan kertas dan caci maki seolah tak berhenti menghantam tubuh mungilnya yang sedang berdiri di atas satu kaki. Gara-gara ketahuan mencoret-coret bagian belakang buku tulisnya, ia dihukum berdiri satu kaki di depan kelas dan disoraki teman sekelasnya. Tak cukup sampai di sana. Setelah jam istirahat berbunyi, ia masih harus menerima amarah guru kelas berikut cubitan yang membirukan lengannya.


Kejadian itu belum bisa hilang dari benaknya meskipun puluhan tahun berlalu dan sang guru kelas telah meninggal dunia. Masalahnya sepele. Ia menulis bagian belakang buku tulisnya saat jam pelajaran dengan cerita-cerita roman, karena jenuh dengan pelajaran sang guru. Belakangan ia pun mengetahui bahwa ia suka menulis dan menggambar. Hampir semua buku pelajarannya penuh coretan di bagian belakang. Ia menghilangkan rasa jenuh belajar dengan menulis cerita-cerita khayalan dan menggambar kartun.

Walaupun mengalami hukuman di kelas 6 SD, kesukaannya menulis dan menggambar itu tak berhenti. Ketika duduk di bangku SMP, akhirnya ia menulis di buku tersendiri sehingga tidak mengotori buku pelajarannya. Tulisan itu semakin banyak terkumpul menjadi cerita-cerita pendek dan novela. Setelah duduk di bangku SMA, ia beranikan diri mengirim tulisan-tulisan khayalannya ke majalah-majalah dan baru dimuat saat duduk di kelas 3 SMA. Perjalanan yang panjang untuk menjadi seorang penulis dan novelis.

Ya. Dulu profesi penulis dan novelis masih dipandang sebelah mata. Kini profesi itu semakin dikenal. Ia terus menekuni hobi menulisnya meskipun perjalanan tak selalu mulus. Penghargaan pertamanya diperoleh ketika baru lulus kuliah. Novel pertamanya menjadi juara kedua sebuah lomba novel. Penghargaan yang memotivasinya untuk terus menulis.

Seberapa penting sebuah penghargaan baginya? Tentu saja, bagi seorang gadis yang pernah dihukum di depan kelas karena ketahuan menulisi buku pelajarannya, penghargaan itu sangat penting. Ternyata apa yang dilakukannya dulu itu bukan perbuatan bodoh, sebagaimana yang dituduhkan oleh mendiang gurunya. Sayang, sang guru belum sempat menyaksikan puluhan buku yang telah diterbitkan si anak "bodoh" itu karena sudah meninggal dunia.

Penghargaan adalah motivasi untuk melakukan lebih banyak lagi prestasi. Dalam Teori Kebutuhan Maslow oleh Abraham Maslow, pakar Psikologi, penghargaan adalah salah satu kebutuhan dalam puncak teratas yang harus dipenuhi setelah kebutuhan-kebutuhan dasar. Adanya penghargaan dapat memicu seseorang untuk melakukan lebih banyak lagi hal positif untuk kemajuan dirinya maupun orang lain.

Gadis itu, adalah aku. Telah merasakan betapa sebuah penghargaan telah mendorongnya untuk terus berprestasi. Walau sang guru telah tiada, aku tak ingin berhenti. Penghargaan adalah buah cinta dan keikhlasan dari melakoni pekerjaan yang dulu dicemooh banyak orang. Bertahun-tahun menjadi seorang penulis, aku telah merasakan pahit manisnya. Tak semua pekerjaanku dihargai, tetapi aku tetap bertahan menjalani profesi yang telah mendarah daging dalam tubuhku ini. Jika aku mendapatkan penghargaan, maka itulah buah cinta dan keikhlasan. Jika mengikuti Teori Maslow, maka aku telah berada di puncak piramida.


Kebutuhan dasar yang pertama, yaitu Fisiologis, berupa pemenuhan akan makanan, pakaian, dan hal-hal fisik lainnya sudah terpenuhi.
Kedua adalah kebutuhan akan rasa aman, yang kudapatkan dari suamiku. Dialah yang mengulurkan lengannya untuk kupeluk dan menyediakan dadanya sebagai tempat bersandar. Aku merasa aman berada di sisinya.
Ketiga, kebutuhan untuk melakukan interaksi sosial bersama keluarga dan sahabat-sahabat. Alhamdulillah, aku pun telah memiliki orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku.
Keempat, kebutuhan akan penghargaan. Inilah yang memotivasiku untuk terus berbuat kebaikan dan mengembangkan kemampuan. Penghargaan itu bisa berupa piala, materi, bahkan sekadar surat cinta dari para pembaca yang menyukai buku-bukuku dan mengambil manfaat darinya.
Kelima, kebutuhan akan aktualisasi diri. Salah satunya ketika aku tampil di sebuah stasiun televisi untuk mempresentasikan salah satu bukuku. Itu adalah salah satu momen yang membahagiakan bahwa akhirnya aku bisa menunjukkan aktivitasku bukanlah pekerjaan yang sia-sia.

Untuk mendorong seseorang agar terus berprestasi, tak hanya memberikan hukuman tapi juga penghargaan. Barangkali hukuman yang diberikan guruku dulu memicuku untuk membuktikan bahwa apa yang kulakukan bukanlah perbuatan bodoh, tetapi penghargaan yang kemudian kudapatkan itulah yang membuatku terus dan terus melakukan apa yang sudah menjadi minatku ini.

Salah satu penghargaan yang pernah kudapatkan yaitu Voucher Belanja Sodexo. Lagi-lagi masih berkaitan dengan lomba menulis. Aku pernah mengikuti sebuah lomba menulis dan mendapatkan hadiah voucher belanja Sodexo. Aku senang sekali karena voucher itu bisa dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhanku di lebih dari 5.000 merchant Sodexo. Bagiku, mendapatkan voucher belanja Sodexo ini sangat tepat sekali, karena bisa kubelanjakan barang yang memang kubutuhkan. Sebuah piala memang akan menjadi kenangan manis, tapi bila disuruh memilih tentu lebih enak mendapatkan voucher belanja Sodexo yang bisa dibelanjakan kebutuhan harian.
Voucher Belanja Sodexo
Foto: www.sodexoevent.com

Begitupun jika aku kelak akan memberikan hadiah atau penghargaan kepada orang lain, aku bisa dengan mudah memesan voucher Belanja Sodexo di nomor (021) 7891600. Voucher dicetak dengan nominal Rp 25.000 sampai Rp 500.000. Apalagi ada jaminan ketersediaan, berapa pun jumlah voucher yang ingin dipesan. Dapat mencantumkan logo dan nama pemesan dan berjangka waktu hingga satu tahun.

Demikianlah, pentingnya sebuah penghargaan bagiku.








26 comments:

  1. Akhirnya gadis yang mencorat coret bukunya itu kini jadi penulis terkenal ya Mbak..

    ReplyDelete
  2. Berkat penghargaan2 tersebut, dikau bisa jadi penulis terkenal seperti sekarang ini ya mbk ela, kereeennn

    ReplyDelete
  3. wow disini banyak ilmu yang di petik......bisa berbagi ilmu juga semoga bermanfaat....kunjungi blog saya semoga bermanfaat....

    ReplyDelete
  4. Dan alhamdulillah, sekarang saya mengenal penulis terkenal ini :)

    ReplyDelete
  5. Kalau Guru Mbak masih hidup kira-kira beliau bakal bilang apa ya? Hmm

    ReplyDelete
  6. Keren mbak, bangga bisa kenal mbak Leyla prestasinya segudang, Penulis lagi awaw...sukses terus ya mbak.

    ReplyDelete
  7. aku pas SD juga pernah dihukum sama guruku. Dijenggit dari belakang gara-gara pas didikte suruh nyatet malah nggambar :D

    ReplyDelete
  8. kalau dapet sodexo seneng soalnay bisa dibelanjain deket rumah di mini market :)

    ReplyDelete
  9. Keep writing, Mba. Novel-novel saya pun terbit atas mimpi yang menahun :)

    ReplyDelete
  10. Mantap mbak leyla hana,berarti panjang bgt perjalanan mbak leyla bisa jd novelis handal seperti sekarang yaa

    ReplyDelete
  11. Mba Leyla mah penghargaan dari nulis buku udah tak terhitung. Pantesan makin semangat nulisnya.

    ReplyDelete
  12. Semangat terus ya mba, semoga aku juga bisa terus berkarya seperti mba

    ReplyDelete
  13. Semangat terus ya mba, semoga aku juga bisa terus berkarya seperti mba

    ReplyDelete
  14. Zaman sekarang uang tidak hanya berbentuk kartal terbitan BI. Bentuk Sudexo salah satunya. Keren ya bisa untuk sarana promosi juga.

    ReplyDelete
  15. Sodexo memang keren, saya pernah mendapatkan dan cukup mudah mencari merchant di sekitar tempat tinggal kami

    ReplyDelete
  16. Waaahh...keren ya mak
    Memang bakat menulis sejak muda yaa...pantesan tulisannya bagus bagus :)

    ReplyDelete
  17. aku juga tau dirimu karena baca novel yang menang itu.

    ReplyDelete
  18. dari SD udah suka menulis, keren Mba Leyla!

    ReplyDelete
  19. Aku dulu suka nulis cerita mba, ini sudah lama berhenti, sebenarnya sudah kepengin banget

    ReplyDelete
  20. Wah mak Leyla udah dari jaman SD ya mulai suka nulis. Keren Maaaak :D Voucher Sodexo emang pas banget ya mak dijadiin reward, bisa dipakai di puluhan merchant soalnyaaa. Aku juga mau ih kalo dapet vocher sodexo. Hihiii. Semoga menang ya Maaaaaak :D

    ReplyDelete
  21. Penghargaan dengan voucher itu sungguh asyik dan kekinian :)

    ReplyDelete
  22. Sampai sekarang, masih banyak guru & ortu yg seperti itu. Contohnya sahabat anakku. Di kelas selalu rankingnya yg terendah. Ayahnya dosen, ibunya sibuk ngurus TK yg didirikannya, tak ada yg memperhatikannya, bahkan sering telat masuk sekolah. Mrk + guru cuma memvonis anak tsb tdk bisa mengikuti pelajaran. Padahal menurut anakku, masalahnya tidak ada yg mengapresiasi bakatnya, yaitu menulis cerita futuristik. Cerita bagus2 & ada yg berseri. Semua teman sekelasnya suka. Dia jg senang membacakan cerita tsb ke teman2nya. Semoga kita tak terjebak dalam ekspektasi umum & melupakan bahwa tiap manusia itu unik. Cerita yg menginspirasi mak krn byk yg spt itu & blm menemukan jalannya.

    ReplyDelete
  23. Setiap anak punya keistimewaan tersendiri yaa mba. Semoga saya nggak menjadi orang yang "menyamakan" anak dengan anak lainnya. Aamiin.


    BTW, goodluck yaa mba buat lombanya! Semoga bisa dapet lagi voucher sodexonya :D

    ReplyDelete
  24. Jadi bayangin itu gadis gimana ya wajahnya dulu xixi

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....