Saturday, September 23, 2017

Cara Menjadi Ibu Cerdas, dari Mengatur Keuangan sampai Menghadapi Bullying



Setuju kan Mak kalau ibu harus cerdas? Tantangan di masa mendatang pastinya lebih berat mengingat zaman terus berubah. Seorang ibu memiliki tugas yang tak kalah beratnya dari ayah. Ibu harus pandai mengelola keuangan rumah tangga dan mengurus anak-anak.



Itu sebabnya kita tetap harus menimba ilmu melalui media apa saja, walaupun sudah lulus sekolah bertahun-tahun lalu. Ilmu itu bisa didapatkan melalui buku-buku, majalah, atau mengikuti kursus, talkshow, workshop, seperti yang talkshow saya ikuti pada hari Sabtu, 9 September 2017 lalu.

Talkshow bertajuk "Smart Mom, Protect Your Family SMiLe" dan tema "Yuk, Atur Uangmu!" ini diadakan oleh Sinarmas MSIG Life dan Kumpulan Emak Blogger (KEB), bertempat di JSC Hive Coworking Space. Menghadirkan dua pembicara andal, seorang pakar Edukasi Keuangan, Bapak Aakar Abyasa Fidzuno (CEO/ Founder of Jouska Financial) dan Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S. Psi (Pakar Psikologi Anak dan Remaja).


Bapak Suwandi Sitorus, Section Head of Training Insurance Sinarmas MSIG Life memberikan sambutan mengenai maksud dan tujuan diadakan talkshow ini. Pertama, memberikan edukasi keuangan kepada para ibu yang juga blogger sehingga informasinya bisa tersebar lebih luas kepada masyarakat banyak. Ibu-ibu yang juga blogger tentunya memiliki power maksimal. Tak hanya menyerap ilmu untuk dirinya sendiri, tapi juga ditulis di blog dan dibagikan kepada para pembacanya.


Menurut Riset OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Indeks Literasi Keuangan Indonesia hanya 30%. Tepatnya, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2016, Indeks Literasi Keuangan di Indonesia sebesar 29,66% dan Indeks Inklusi Keuangan sebesar 67,82%. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2013 yang hanya sebesar 21,84% dan 59,74%. 

Artinya, telah terjadi peningkatan pemahaman keuangan dan peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan di masyarakat yang merupakan kerja keras OJK dan Industri Jasa Keuangan. Akan tetapi, peningkatan ini masih kurang dari target 75% yang diharapkan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Diharapkan pada tahun 2019, target 75% ini dapat tercapai.

Peningkatan itu adalah hasil kerja keras OJK dan Industri Keuangan yang aktif memberikan edukasi keuangan. Sinarmas MSIG Life sebagai salah satu perusahaan di dalam industri keuangan turut membantu memberikan edukasi keuangan, salah satunya melalui kegiatan talkshow ini. Perusahaan ini telah beroperasi sejak 14 April 1985 dengan nama PT Purnamala Internasional Indonesia, kemudian berubah menjadi PT Asuransi Jiwa Eka Life  tahun 1989. Tahun 2007 namanya berubah lagi menjadi PT Asuransi Jiwa Sinarmas, dan tahun 2011 menjadi perusahaan asuransi jiwa patungan dengan nama PT Asurnasi Jiwa Sinasmas MSIG atau Sinarmas MSIG Life - SMiLe.

Sinarmas MSIG Life telah berkembang pesat dengan pertumbuhan total aset Rp 18,9 triliun dan total premi Rp 9,7 triliun pada tahun 2013.  Risk Based Capitalnya 976% karena memiliki kinerja yang cermat dan hati-hati. Majalah Investor tahun 2014 menobatkan Sinarmas MSIG Life ke peringkat kedua dari 20 Best Insurance Companies.

Kedua, talkshow ini juga mengangkat tentang bullying yang sangat ditakuti oleh ibu-ibu di seluruh dunia. Mengapa tidak? Bullying kini sudah sangat mengkhawatirkan, di tahun 2014 saja terdata di KPA (Komisi Perlindungan Anak) ada 67 kasus. Itu adalah kasus yang dilaporkan. Belum kasus yang tidak dilaporkan. Tugas ibu menjaga senyum keluarga sehingga ibu perlu memperhatikan dua isu penting ini: cara mengatur keuangan agar stabilitas ekonomi keluarga terjaga dan menghindari anak dari bullying tidak hanya sebagai korban tapi juga pelaku. 

Yuk, Atur Uangmu agar Tidak Terjebak dalam Middle Income Trap
Punya uang 10 juta, mau beli tas seharga 30 juga. Punya uang 30 juta, mau beli tas seharga 50 juta. Punya uang 100 juta, mau beli tas seharga 1 M. Wow! Kebangetan nggak sih? Nyatanya "penyakit" itu banyak diidap oleh kita tanpa kita sadari. Apalagi di era media sosial ini di mana kita bisa pamer kapan pun dan di mana pun. Kita ingin terlihat wah dan mentereng. Kalau dulu, kita hanya bisa pamer ke tetangga dan keluarga dekat, sekarang seluruh dunia juga bisa tahu kita punya apa.

Akibat ingin pamer itulah kita jadi terjebak ke dalam Middle Income Trap, atau jebakan pendapatan kelas menengah. Terlihat kaya, padahal tidak. Mengapa?  Karena utang menumpuk untuk membeli kelas sosial. Dengan pendapatan hanya 10 juta,  bagaimana bisa membeli tas seharga 30 juta? Utang. Jika suatu hari kehilangan penghasilan tetap untuk  membayar cicilan utang, orang-orang yang terkena Middle Income Trap itu akan jatuh pada kemiskinan karena hartanya sudah digadaikan untuk membayar utang.

Orang yang benar-benar kaya adalah orang kaya yang tidak memiliki utang. Sedikit orang yang memang kaya. Setelah usia 50 tahun dan tidak punya pendapatan mapan, maka akan kesulitan membiayai kehidupan karena selama ini hidupnya ditopang oleh pekerjaan. Orang yang kaya akan tetap punya simpanan meskipun tidak bekerja lagi. Itulah mengapa kita harus pandai mengatur uang agar pendapatan tidak lebih kecil daripada kebutuhan hanya untuk menuruti gaya hidup.


Pengetahuan yang menarik ini disampaikan oleh Bapak Aakar Abyasa Fidzuno (CEO/ Founder of Jouska Financial) seorang pakar Edukasi Keuangan. Emak-emak yang mendengarkan terlihat sangat antusias karena mengelola keuangan memang salah satu kewajiban kita kan Mak sebagai manajer keuangan di rumah. Suami mempercayakan gajinya ke kita untuk dikelola dengan baik supaya bisa cukup untuk sebulan. Eit tapi awas terjebak Middle Income Trap, ketika suami pensiun atau tiba-tiba meninggal dunia, kita kebingungan karena tidak ada pendapatan penopang.

Bapak Aakar menjelaskan bagaimana caranya agar dapat keluar dari kondisi Middle Income Trap, yaitu dengan melakukan The Pit Stop. Berhenti dulu untuk melakukan 3 hal, yaitu: Goals, Current Financial Statement, dan Risk Profit. Periksa semua aset yang dimiliki, termasuk mengaudit rekening koran. Pastikan investasi yang Anda miliki adalah sesuatu yang berharga. Seperti rumah dan tanah, apakah surat-suratnya sudah lengkap dan benar. Sehingga bila pemilik rumahnya meninggal dunia, ahli warisnya ditinggalkan aset yang berharga, bukan sesuatu yang belum jelas kepemilikannya.

Istilah The Pit Stop ini dikenal dalam suatu kompetisi balapan F1, yaitu suatu periode berhenti balapan karena harus mengganti ban, mengisi bahan bakar, atau memperbaiki kendaraan yang rusak. Dalam keuangan, The Pit Stop digunakan untuk memeriksa kondisi keuangan dan merumuskan kembali tujuan merencanakan keuangan agar tidak terjebak dalam Middle Income Trap.

Nah, sekarang pesannya untuk para emak supaya bisa mendapatkan kehidupan yang mapan tanpa khawatir. Siapa pun emaknya, mau itu ibu rumah tangga atau ibu bekerja, ternyata sebagian besar masih berpendapat bahwa "uang suami adalah uang istri, uang  istri adalah uang istri." Ternyata menurut Bapak Aakar, pendapat ini justru akan memperbesar peluang selingkuh atau poligami yang dilakukan oleh suami. Sebab, suami akan memberikan uang hanya untuk memenuhi kewajiban, tapi belum tentu pendapatan yang disembunyikan itu akan diberikan juga. 

Seharusnya yang benar adalah uang suami dan istri adalah uang bersama yang dikelola bersama-sama dan memiliki rekening bersama. Semua pemasukan suami dan istri dimasukkan ke dalam rekening itu, sehingga jelas berapa pemasukan dan pengeluarannya. Uang yang ada di dalam rekening bersama itulah yang dikelola dan diatur dengan baik agar dapat memberikan kehidupan yang mapan, tidak sekadar berfoya-foya. Sebaiknya juga, anak-anak sejak kecil dibuatkan rekening tabungan masing-masing yang diisi secara rutin untuk berjaga-jaga bila kelak membutuhkannya.

Semua keluarga wajib memiliki asuransi kesehatan, karena biaya kesehatan itu sangat tinggi dan bisa menguras tabungan. Sedangkan untuk asuransi jiwa, penanggung nafkah utama sebaiknya memilikinya, yaitu ayah. Jika sewaktu-waktu ayah meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan yang bermanfaat untuk masa depannya. Bapak Aakar merekomendasikan Asuransi Sinarmas Medical Smile yang paling sesuai untuk orang-orang yang berada di posisi Middle Income Trap.

Perencanaan keuangan sebaiknya dimulai sejak usia masih muda dan produktif bekerja. Hindari Middle Income Trap, tak peduli sebesar apa pun penghasilan meningkat, jangan sampai lebih kecil daripada pengeluaran. Artinya, saat pendapatan meningkat, pengeluaran jangan meningkat. Apalagi pengeluaran untuk gaya hidup. Tetaplah hidup sederhana seperti saat penghasilan masih kecil.

Lalu, untuk apa peningkatan pendapatan itu? Sisihkan untuk hal-hal yang lebih penting seperti dana darurat, pendidikan anak, investasi, properti, dana pensiun, dan jangan lupa asuransi. Anak-anak pun sudah harus dikenalkan dengan pengelolaan uang meskipun masih kecil. Kalau punya uang, jangan semuanya dibelanjakan. Masukkan ke dalam rekening pribadinya, karena sekarang sudah banyak bank yang memiliki produk tabungan untuk anak.


Kenali dan Hindari Bullying pada Anak
Pembahasan yang  kedua ini pun tak kalah pentingnya untuk ibu yang ingin cerdas mengatur rumah tangga. Anak-anak adalah amanah Allah yang harus kita jaga dengan baik. Orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, tidak hanya kecukupan materi tetapi juga kematangan psikologis. Kekerasan yang didapatkan oleh anak saat masih kecil akan menganggu prestasinya di masa depan. Jadi, percuma saja kalau kita berhasil memenuhi kebutuhan materinya, tetapi psikisnya terganggu.

Di rumah, kita mungkin sudah menyediakan kondisi yang aman dan nyaman untuk anak-anak, tapi bagaimana dengan di sekolah? Fenomena bullying yang semakin mengkhawatirkan membuat kita harus mengantisipasi dan mencegah agar tidak menimpa anak-anak kita. Ibu Vera Itabiliana, seorang Pakar Psikologi Anak dan Remaja menjelaskan apa itu bullying dan bagaimana mencegah dan mengatasinya.


Bullying itu sendiri pengertiannya adalah suatu tekanan, kekerasan, dan intimidasi yang dilakukan oleh orang yang berkuasa (senior) kepada yuniornya secara terus menerus. Jadi, kalau kekerasan hanya dilakukan sekali, belum termasuk bullying. Kenali tanda-tanda anak terkena bullying, sebagai berikut:

  1. Ada luka atau barang yang rusak dan hilang tanpa alasan yang jelas.
  2. Pola makan dan tidur berubah drastis. 
  3. Enggan ke sekolah, nilai turun, dan kehilangan semangat belajar. 
  4. Punya sedikit teman atau tidak ada sama sekali.
  5. Mudah emosional, agresif, tertekan, dan murung. 
  6. Menghindari tempat tertentu atau takut sendirian.
  7. Merasa dirinya tidak cukup baik.
  8. Minta uang lebih untuk alasan yang tidak jelas.
  9. Menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berdaya.
  10. Bicara tentang bunuh diri.
  11. Enggan bicara tentang sekolah atau teman.

Jika menemukan tanda-tanda seperti itu pada anak kita, jangan abai dan tak acuh. Lakukan proteksi terhadap bullying dan semuanya berasal dari RUMAH. Jadikanlah rumah sebagai tempat paling aman untuk anak kita. Terapkan manajemen emosi, empati, pola asuh positif, bangun pertemanan, sikap asertif, dan penyelesaian konflik.

Sebagai orangtua, tak hanya sulit menerima anak kita terkena bullying, kita juga pasti sulit menerima kalau ternyata anak kita adalah PELAKU bullying. Setiap orang tua pasti merasa anaknya adalah anak yang  paling baik, paling pintar, dan paling positif lainnya. Kita sulit menerima laporan bahwa ternyata anak kita suka membully anak lainnya. Bagaimana jika ternyata anak kita adalah pelaku bullying?

Setidaknya beberapa hal ini dapat kita lakukan:
  1. Tetap  berusaha obyektif dan tidak memihak, meskipun itu anak kita sendiri. Pada kasus perkelahian anak-anak, seringnya orangtua membela anak sendiri tak peduli bahwa anaknya yang salah.
  2. Fokus pada fakta dari berbagai pihak.
  3. Anggap itu sebagai masalah serius, bukan sekadar masalah anak-anak dan menanggapinya dengan kalimat, "Ah,  namanya juga anak-anak." 
  4. Minta anak minta maaf kepada korban. 
  5. Lihat apakah anak juga menjadi korban di rumah? Pada dasarnya, anak-anak itu hanya mencontoh perilaku orang lain.  Bisa jadi ia meniru perilaku bullying itu dari orang lain di sekitarnya.
  6. Lakukan Tindakan Korektif. Setiap perbaikan sekecil apa pun harus dilakukan. Jangan karena untuk melindungi anak, kita memaklumi perbuatannya dan membiarkannya. 
Sebagai orang tua, kita harus membantu anak untuk berubah agar tidak lagi membully temannya.  Beberapa saran dari Ibu Vera, sebagai berikut:
  1. Terapkan Disiplin Positif di rumah.
  2. Perbanyak waktu bersama dan berkualitas antara orangtua dan anak. Sesibuk apa pun orangtua, luangkan waktu untuk anak. 
  3. Awasi pergaulan anak.
  4. Kenali dan kembangkan kelebihan anak.
  5. Hargai kemajuan kecil.
  6. Kurangi acara atau video games yang mengandung kekerasan 
  7. Beri contoh bagaimana mengendalikan emosi.

Tak terasa waktu talkshow pun usai. Sangat banyak ilmu yang saya dapatkan di acara ini. Benar-benar bekal yang mumpuni untuk melanjutkan tugas mulia sebagai seorang Emak. Nah, buat emak-emak yang ingin mendapatkan banyak ilmu lagi, silakan cari tahu di:

www.sinarmasmsiglife.co.id
Facebook Sinarmas MSIG Life
Twitter @sinarmasMSIG 
Instagram @sinarmasmsiglife






6 comments:

  1. Bullying memang meresahkan ya. Ga punya duit juga meresahkan, hahaha

    ReplyDelete
  2. Jadi ibu itu berat ya tugasnya, dari mulai atur keuangan sampai atasi bully. Tapi itulah letak istimewanya. Nice share mba

    ReplyDelete
  3. Nah, ini dia yang harus kita jaga di jaman milleneal jangan sampai anak kita korban bullying. Kita harus bisa menjadi sahabat anak kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Mak Tika, harus perkuat komunikasi dgn anak ya

      Delete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....