Saturday, October 21, 2017

Ibu Rumah Tangga dan Impian Terpendam



Seorang teman di Facebook membagikan status terbaru Oki Setiana Dewi. Itu lho artis film "Ketika Cinta Bertasbih" yang langsung melejit setelah filmnya laris. Artis yang juga memiliki talenta sebagai disainer, khususnya baju-baju pengantin. Saat ini, Oki Setiana Dewi sedang berada di Jerman untuk mengikuti kuliah singkat. 

Terus, masalahnya apa? Oki sedang hamil 7 bulan dan meninggalkan 2 balita di rumahnya. Ibu-ibu lain yang juga punya balita tapi tak sebebas itu cuma bisa bilang, "giliran gue kapan ya?" Yup, wanita sama seperti pria. Memiliki impian yang luas untuk menjangkau dunia. Saya melihat itu pada diri saya sendiri, pada diri wanita-wanita lain yang saya temui, dan pada teman yang membagikan status Facebook OSD itu. 

Sebagian besar ibu rumah tangga yang mendedikasikan waktunya untuk membesarkan anak-anak, ketika anak-anak sudah agak besar, mereka mulai mengekspresikan kebebasan dirinya dengan sering keluar rumah mengikuti kegiatan ini-itu. Biasanya setelah usia 35 tahun ke atas. Tapi, Oki mah lain. Walaupun sedang hamil tua dan masih punya dua anak balita, langkah kakinya tak terjegal untuk meniti karir. Sesuatu yang sebenarnya menjadi impian terpendam banyak ibu rumah tangga. Yang walaupun sudah menjadikan IRT sebagai pilihan, tetap iri melihat ada wanita lain merasakan kebebasan itu. 


Termasuk saya. Tugas menjaga anak masih full time karena si kecil masih TK. Dulu pernah ada teman yang bilang, "sabar, nanti waktunya tiba kalau anak-anak sudah sekolah semua. Ibunya pasti kesepian dan punya banyak waktu untuk melakukan aktivitas sendiri." Iya, itu kalau nggak hamil lagi, batin saya. Nyatanya, OSD bisa membuktikan bahwa dalam keadaan hamil dan punya anak kecil pun bisa tetap eksis. 

Kalau saya bilang, semua itu karena ada support system di dalam keluarganya dan tidak semua wanita mendapatkannya. Pertama, suami. Suami memberikan izin dan dukungan agar istri bisa tetap berkarir tanpa dibebani anak-anak. Kedua, orang-orang lain yang membantu menangani urusan rumah tangga seperti asisten, orangtua, mertua, adik atau kakak, dan lain-lain. Ketiga, jeli mengambil peluang dan kesempatan. 

Pada awalnya, menjadi ibu rumah tangga yang total di rumah itu adalah pilihan saya. Dalam tahun-tahun pertama, saya masih merasakan kegalauan. Benarkah saya akan membiarkan diri saya di rumah terus mengurus anak? Saya kemudian nekat mengikuti tes CPNS ketika dua anak masih usia 2 tahun dan 3 tahun. Adik saya membantu menjaga anak-anak itu saat saya pergi ke Jakarta untuk ikut tes. 

Saya tidak punya pembantu rumah tangga. Suami juga belum mendukung 100%. Bagaimana kalau saya lolos tes? Entahlah. Saat itu yang ada di pikiran saya hanya ingin membahagiakan orang tua yang selalu menyesali keputusan saya menjadi IRT. Orangtua ingin saya bekerja kantoran lagi. Nyatanya, saya tidak lolos tes. Saya anggap itu adalah God Sign bahwa bekerja di kantor bukanlah takdir saya. 

Sedangkan lowongan pekerjaan lain memberikan persyaratan single, usia di bawah 25, dan first graduate. Ah ya tentu saya tidak lolos. Sebenarnya ada banyak lowongan kerja sebagai editor, tapi suami terlihat berat hati. Intinya mah, saya tidak usah bekerja. Bekerja kantoran memang bukan goal saya, karena saya tidak suka rutinitas monoton ke tempat yang sama, duduk di tempat yang sama, dan tidak bisa tidur siang. 


Impian terpendam saya... Sama seperti teman yang membagikan status Oki itu. Membuat aneka baju gamis, traveling ke seluruh dunia, menulis buku dan blog, dan tentu saja masih tetap bisa menemani anak mainan boneka. Sebagian sudah terlaksana, seperti menulis buku dan blog. Menjadi disainer pakaian dan jalan-jalan ke seluruh dunia saja yang belum. Dipikir-pikir sih ya memang butuh keberanian untuk memulai. Keberanian itulah yang dimiliki oleh Oki. 

Dan tentu saja, ada tangan Allah yang bekerja. Tangan yang menentukan semua takdir dan nasib manusia sekalipun kita sudah berusaha. Seperti saya yang sempat ingin ikut tes CPNS tapi tidak lolos. Atau teman saya yang pernah berjuang mengikuti ujian S2 di sebuah perguruan tinggi negeri tapi gagal. Akhirnya kembali ke misi awal yang disetujui suami: ibu rumah tangga full time

Karena sesungguhnya, selama suami bertanggung jawab atas nafkah istri, apa pun yang dilakukan istri haruslah disertai ridho suami. Tunggu saja, waktunya akan tiba, insya Allah. Saat suami sudah ridho atau bahkan bersedia membersamai istri meraih impiannya. Seperti janji suami seorang teman, 

"Tunggu ya Bu, nanti kalau anak-anak sudah besar. Bapak akan temani Ibu ke mana aja Ibu mau. Kalau sekarang, fokus dulu sama anak-anak." 

Suami pasti punya alasan mengapa sekarang masih membatasi kita. Bisa jadi karena tidak mau kita terlalu sibuk sampai kelelahan dan melalaikan tugas rumah tangga. Bisa jadi untuk melindungi kita karena khawatir kita kenapa-kenapa di jalan kalau tidak ditemani suami. Bisa jadi karena tidak mau tanggung jawabnya mencari nafkah diambil alih oleh kita karena bukan tidak mungkin penghasilan istri jadi lebih tinggi daripada suami. 

Insya Allah, saatnya akan tiba untuk kita. 


19 comments:

  1. iya, insya allah akan tiba saatnya ya mba
    cemunguuuut

    ReplyDelete
  2. Kapan ya? Kapan ya? Dan kapan ya sampai sekarang masih selalu jadi pertanyaan terbesar saya. Tapi ya dijalani dan dinikmati dulu saja keadaan yang seperti sekarang. Insya Allah... Nanti pasti ada waktunya dan itu yang terbaik buat saya maupun keluarga

    ReplyDelete
  3. Bener sekali bun. Saya salah satu dari sekian wanita yang memiliki mimpi besar itu. Setiap berbicara soal impian. Rasanya hati saya ikut berdebar2 pnuh semangat. Saya masih mempunyai mimpi untuk melanjutkan kuliah lagi, menjadi dosen, mnjadi seorang pembicara di seminar2, dan ingin mendirikan SLB. Dulu sebelum menikah, saya aktif ke sana kemari. Dan tidak pernah sekalipun untuk bercita2 menjadi IRT seperti sekarang ini. Tpi kini menjadi IRT adalah pilihan saya dan suami sangat berterima kasih sekali atas pilihan saya itu. Kenapa ingin menjadi IRT? Karena saya ingin Totalitas melakukan peran saya sebagai pendidik dan madrasah utama utk anak2 saya kelak. Tapi, bukan berarti mimpi saya pudar atau tenggelam. Tpi untuk sementara ini ditunda dulu demi memprioritaskan anak. Tetapi, kita pun sebaiknya tak bisa terus2an hanya full jd ibu rumah tangga dan diam di rumah. Cepat atau lambat kita harus terjun dan memiliki peran di masyarakat karena kita pun punya tanggung jawab di sana. Bukankah sebaik2 manusia adalah manusia yg bermanfaat untuk banyak orang. Semuanya perlu seimbang. Jadi, segala sesuatunya ada waktunya. Hihihi itu klo saya, ya bun dan saya suka salut serta mendoakan para ibu yg terpaksa hrus bkerja mninggalkan anak yg msh kcil demi membntu perekonomian kluarga. Smga Allah menguatkan mereka

    ReplyDelete
  4. Curhatan aku bgt nih kemaren, emak2 galau ikutan cpns. Ha bener sih di satu sisi kasihan orang tua yang mungkin punya harapan ke kita, tapi justru ini bisa jadi pelecut semangat bahwa tidak bekerja pun kita bisa membahagiakan dan membanggakan ortu dengan tetep produktif dan bermanfaat buat masyarakat.

    ReplyDelete
  5. Semoga kita bisa tetap produktif,sehat dan hepi aamiin

    ReplyDelete
  6. Saya termasuk yang kurang sreg dengan keputusan oki buat sekolah dan hamil lagi di saat anak-anaknya masih kecil. Kalau menurut saya dia malah egois dengan keputusannya itu. Tapi ya di sisi lain bisa jadi inspirasi juga sih buat ibu-ibu yang lain agar tetap mengejar mimpinya.

    ReplyDelete
  7. Mbaaaakkkkk,
    Setuju, pasti entar ada waktunya

    ReplyDelete
  8. hiks...semoga ya..indah pada waktunya...anak2 mengerti..suami mendukung..

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. "Tunggu ya Bu, nanti kalau anak-anak sudah besar. Bapak akan temani Ibu ke mana aja Ibu mau. Kalau sekarang, fokus dulu sama anak-anak."
    ini manis sekali.. :)

    ReplyDelete
  11. Semoga ada waktu2nya ya mba. Aku pun demikian, keluar cuma ngajar, sisanya d rumah dan kadang iri dg orang lain yg bisa have fun tanpa beban meski udah ber-RT. Lebih galau lagi kalau lihat yg pd bawa anak bs bebas pergi2, aku iri mereka bs bawa anak2 lengkap. Hiks, aku sering ngalah dg keadaan krn adakalanya sulit bawa anak dg kondisi khusus.

    ReplyDelete
  12. cerita saja sama suami kalau istri juga punya impian. kalau saya suka ngobrol bareng, mau ngapain ya kira-kira nanti-nanti. kalau sudah berbagi dan saling mengerti kan nyaman baik istri dan suami

    ReplyDelete
  13. Semoga di usia berapapun kita tetap produktif dan bahagia. Suami dan anak-anak selalu mendukung aktivitas kita.

    ReplyDelete
  14. Saya disupport penuh sama suami untuk meneruskan pendidikan Mbak Leyla, tapi suratannya saya gagal tes dan ternyata buah hati saya butuh pendampingan secara intensive. Begitulah Allah mengatur ya Mbak, banyak hikmahnya��

    ReplyDelete
  15. Na itu mba, support sistem nya yang nggak ndukung saat ini..
    Aku test cpns juga nggak lolos..nyaris..andai dua lagi jawaban bener, mungkin SK udah ditangan.

    Kadang iri, tmn2 seangkatan yang sudah terbang sedemikian tinggi.
    Lalu lihat kebawah..rupanya lebih bnyk yang nasibnya lebih buruk. Orang Jawa bilang, sawang-sinawang...
    Akhirnya, ya udah jalani, nikmati, syukuri

    ReplyDelete
  16. Aku jg masih nunggu giliran pas anak-anak besar eeh suruh hamil lagi

    ReplyDelete
  17. Inspiratif banget....memang kendala ibu rumah tangga ketika anak2 masih kecil...tapi saya suka iri melihat ibu lain yang bisa meninggalkan anaknya untuk beraktifitas lain.....sayapun ingin seperti mereka hehehe

    ReplyDelete
  18. Saya malah baru tahu kalau Oki sudah hamil lagi. Hehe.
    Btw saya masih kepikiran untuk berkarir lagi di luar rumah. Sudah diridhoi suami, tapi hanya beberapa bidang pekerjaan tertentu.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....