Friday, December 14, 2018

Kenangan Masa Kecil yang Tak Ingin Terulang



Kalau ditanya apakah saya mau mengulang kembali masa kecil? Saya akan jawab, NO. Masa kecil saya seperti neraka. Saya mengalami perundungan (bullying) dari berbagai arah. Bahkan saat masih SD, saya sudah bertanya mengapa Tuhan tak pernah baik kepada saya dan saya pernah berpikir untuk bunuh diri. 


Segitu parahnyakah atau hanya perasaan saya saja? Baiklah, ini cerita saya. Dari siapa saja saya mengalami perundungan? 

Pembantu Rumah Tangga 
Kedua orangtua saya bekerja sehingga saya dititipkan ke pembantu rumah tangga yang gonta-ganti orangnya. Ada satu pembantu yang galaknya bukan main. Saya sering dipukuli sampai pernah minggat bersama adik saya. Kami jalan kaki cukup jauh sambil membawa 2 buah baju. Saat itu saya masih berusia 7 tahun lho, dan adik saya 5 tahun.

Untungnya, saya bertemu dengan tante saya di jalan. Coba kalau tidak, pasti sudah hilang. Dipikir-pikir, itu pertanda Allah masih menyayangi saya ya. Akibat jalan jauh dari rumah, adik saya sampai jatuh dan giginya patah. Kena lagi deh saya dimarahi. Ibu saya sebenarnya tahu kalau pembantu rumah tangga kami itu galak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ibu saya membutuhkan pembantu untuk mengurus kami. 

Katanya, saya dipukuli karena nakal, suka naik-naik ke jendela. Tapi rasanya dulu itu di rumah sudah seperti neraka karena kehadiran pembantu tersebut. Makanya sampai sekarang saya masih trauma dan tidak mau menyerahkan anak-anak saya secara bulat-bulat kepada pembantu rumah tangga.

Saya tidak mau anak-anak saya disiksa oleh pembantu rumah tangga dan jiwa mereka tersiksa. Saya baru mendapatkan pembantu yang baik itu saat duduk di bangku SMP. Mungkin juga karena saya sudah besar ya, jadi pembantu juga nggak bisa galak. 

Guru Sekolah 
Barangkali waktu kecil saya tuh nakal banget ya, karena orang-orang di sekitar saya sering menyebut saya nakal dan menghujani dengan cubitan dan pukulan. Termasuk guru kelas 1 SD saya. Paha saya selalu biru karena dicubit..Meskipun ibu saya tahu bahwa saya dicubit, tapi hanya geram sendiri. Buktinya, guru kelas itu tidak pernah ditegur oleh ibu saya. 

Saat kelas 6 SD, saya juga mendapat guru wali kelas yang galak bukan main. Dia pernah menyetrap saya di depan kelas lalu memukuli hanya karena saya menggambar di buku tulis. Seolah-olah saya ini bukan anak perempuan. Saat beliau meninggal, saya malah mensyukurinya. Saking sakit hatinya saya kepadanya. 

Apa pun alasannya, untuk murid Sekolah Dasar tak seharusnya diperlakukan dengan kasar seperti dicubit sampai biru atau dipukuli saat disetrap. Justru setelah saya SMP dan SMA, saya tak lagi mendapatkan guru-guru yang galak seperti saat di SD. Alhamdulillah, anak-anak saya sekarang tak pernah dibully oleh guru-gurunya.

Teman Sekolah 
Masa Sekolah Dasar juga masa yang suram untuk hubungan pertemanan. Saya hanya punya 1 orang teman dekat dari kelas 3 SD sampai kelas 6 SD. Teman-teman lain sering membully dengan mengejek dan menertawai.

Yang paling parah saat saya disetrap di depan kelas itu. Teman-teman sekelas melempari saya dengan aneka benda yang ada di meja tulis mereka. Sungguh pengalaman yang sangat tak mengenakkan sehingga saya berpikir untuk bunuh diri.

Momen-momen mengerikan itu akhirnya berakhir ketika saya masuk SMP Negeri yang termasuk berprestasi karena NEM saya pas sekali (mepet dengan NEM terendah yang diterima di sana wkwkwk). Di SMP itulah, saya memiliki banyak teman dan kenangan yang manis.

Kenangan paling manis adalah saat saya duduk di bangku SMA. Saya memiliki hubungan persahabatan yang solid dengan beberapa teman perempuan, saya mendapatkan perhatian yang positif, dan guru-guru pun bersikap baik.

Kini, saya telah menikah dengan seorang lelaki yang baik dan anak-anak yang sangat mencintai mamanya..Saya memiliki orang-orang yang mencintai saya. Orang-orang yang menganggap saya cantik dan ada. Ekonomi yang relatif baik dan kehidupan yang nyaman.

Saya masih ingat waktu kecil dulu, saya harus menahan diri dari banyak hal. Saya tak bisa makan es krim dan ayam goreng KFC karena ekonomi orangtua pas-pasan. Kini tidak lagi. Alhamdulillah, anak-anak saya bisa memakannya setiap hari.

Jadi, apakah saya merindukan masa kecil saya? TIDAK. Saya ingin membuangnya jauh-jauh dari ingatan. Kecuali masa-masa bersama mama saya..Saya ingin mengingat banyak hal soal Mama, sayangnya ingatan saya pun samar-samar karena Mama sibuk bekerja. Yah, barangkali jika bisa diulang adalah masa saat saya SMA.

Saya akan lebih memperhatikan kesehatan Mama. Menyuruhnya agar rajin makan buah dan mencabut giginya yang bolong agar tidak terkena kanker lidah yang merenggut nyawanya. Menyuruhnya agar banyak istirahat dan tidak bekerja terlalu keras.

Namun, waktu tak bisa diulang. Maka tugas saya kini adalah menciptakan kenangan masa kecil yang indah untuk anak-anak saya agar kelak mereka bersuka cita mengingatnya di saat dewasa.

1 comment:

  1. Sedih bacanya. Saya jug alami momen menyakitkan kala kanak-kanak karena masalah fisik, pun ekonimo yang dibikin sulit karena ibu saya amburadul memanajemen keuangan keluarga sehingg anaka-anak dan suami kena imbasnya.
    Jujur, saya tak ingin mengulang momen masa kecil. Ingin agar anak saya pun bahagia dengan hidup kami sekarang ini.
    Yang jahat kelak akan beroleh balasan setimpal, kok, Mbak. Nanti juga harus transfer amalnya di yaumil hisab.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....