Saturday, July 9, 2011

Novel: Cinta Buat Chira (2)

2

Kali ini Cira datang lebih pagi. Tumben. Soalnya dia nggak disibukkan lagi dengan urusan dandan dan nimbang berat badan dulu. Dia lagi malas lihat wajahnya yang tidak menunjukkan perubahan dan  syukurnya, timbangan badannya pun jebol gara-gara keseringan dibuat nimbang. Lumayan, dia jadi ngirit waktu.
“CIRA!” seru Derry, tiba-tiba. Cira menatap si ketua kelas itu. Phiuh! Ternyata kelas masih kosong.
“Tiap hari lu datang pagi, Ry?” tanyanya sambil memasukkan tas punggungnya ke dalam laci.
“Yah, begitulah. Namanya juga ketua kelas.”
“Cie….”
“Ada yang mau gue omongin ke elu.”
“Ngomong, ngomong aja.”
“Tapi ini rahasia, ya.” Bisik Derry. Wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Cira dan tatapan matanya yang tajam membuat jantung Cira berdetak lebih kencang. Cira berharap semoga wajahnya tak jadi merah.
“Apa, sih?” tanyanya dengan bibir bergetar. Duh, Cira ge-er, nih.
“Em….” Derry makin mendekatkan wajahnya ke wajah Cira. “Gue….”
“CIRA! Tumben lu dateng pagi!” teriak Putty, tiba-tiba. Derry segera menjauhkan wajahnya dari wajah Cira dan senyam-senyum. Cira juga nyengir.
“Wah, wah, wah. Ngapain nih kalian berduaan?” selidik Putty sambil menatap Derry dan Cira bergantian.
“Enggak, kok….” Cira bingung menjawabnya.
“Gue cuma mau nyontek PR bahasa Inggrisnya Cira!” jawab Derry, cepat disertai anggukan kepala Cira. Putty manggut-manggut.
“Oh….” Katanya sambil membuka tasnya.
“Mau ngapain kamu, Put?” tanya Cira.
“Mau meriksa jadwal. Jangan-jangan gue salah lagi. Perasaan sih hari ini nggak ada bahasa Inggris.” Katanya sambil membuka bukunya. Cira dan Derry bertatapan.
“Bener, kok. Ini hari Rabu, kan? Nggak ada bahasa Inggris, kan?” tanya Putty, culun. Cira dan Derry berbarengan mengangguk.
“Maksudnya buat besok. Besok kan ada pelajaran bahasa Inggris.” Jawab Derry yang lagi-lagi disertai anggukan kepala Cira.
“Oh….” Katanya sambil masih sibuk berpikir. “Tapi kayaknya bahasa Inggris nggak ada PR deh.” Gumamnya membuat Cira dan Derry lagi-lagi bertatapan.
“Udahlah, Put. Mendingan lu liat tuh jadwal piket hari ini. Lu piket tuh. Buruan kerjain!” suruh Derry sambil meninggalkan Putty dan Cira.
“Huh! Mentang-mentang ketua kelas!” sungut Putty, sebal. Cira tersenyum lega. Akhirnya ia bebas dari prasangka Putty.
“Eh, Ra. Ngapain ya Derry minjem PR elu. Bukannya dia tau lu nggak bisa bahasa Inggris? Lagi pula dia kan lebih pintar.” Tanya Putty tiba-tiba membuat Cira terbengong-bengong.
***
Apa yang mau dikatakan Derry tadi, ya? Kok sikapnya mencurigakan banget. Gue jadi nggak enak, nih. Apakah Derry…ah, enggak, ah. Gue nggak mau kege-eran. Kege-eran itu nggak enak. Nyakitin banget. Pasti nggak ada apa-apa. Tapi…kalian juga lihat kan tadi. Sikap Derry benar-benar hampir bikin jantung gue mau copot. Kalo dinilai dari kriteria cowok yang bakalan gue taksir, dia memang sedikit masuk sih. Yang pasti dia pinter, tinggi, atletis, but…gue nggak suka sama kulitnya yang rada item itu. Gue kan sukanya cowok yang kulitnya putih. Ah, Cira. Lu dapet Derry aja udah untung lu. Aduh…gue jadi nggak enak. Seandainya Derry benar-benar nembak gue…pasti nggak bakal gue tolak. Apalagi sekarang…dia ngeliatin gue! Dia berkali-kali menoleh ke arah gue. Gue yakin, tatapan mata dan senyumannya itu benar-benar buat gue. Sungguh!
“Hei! Cira!” seru Putty, tepat di telinga Cira.
“Apaan, sih?”
“Lu bengong aja. Mikirin cowok, ya? Jangan-jangan bener kata Milly, lu lagi jatuh cinta.” Tebak Putty.
“Enggak! Enak aja!”
“Ya nggak pa-pa. Apa salahnya jatuh cinta?”
“Ya…emang….”
“Siapa sih? Gue boleh tau, nggak?” Putty merajuk. Wajah Cira pucat.
“Putty! Gimana pedekate lu?!” tanya Milly, tiba-tiba, disertai anggukan kepala Fera dan June. Putty dan Cira bertatapan. Sebel. Mereka selalu ikut campur urusan orang!
“Apa-apaan sih lu? Nyambung aja!” omel Putty.
“Yah…boleh, dong. Gue pengen tau perkembangan lu ama Doni. Udah sejauh mana perjuangan lu?” tanya Milly.
“Gue nggak berjuang apa-apa. Gue nggak akan pernah berjuang. Ngapain gue nembak cowok duluan.”
“Berarti elu emang nggak jatuh cinta sama dia. Tuh, Cira, denger. Putty tuh udah ngebo’ongin elu.” Cibir Fera. Cira menatap Putty, Putty jadi nggak enak.
“Ah, udahlah. Bodo’!” serunya, sebal sambil kembali mengerjakan LKS Akuntansinya. Ketiga gadis itu pun menghentikan interogasinya. Cira menatap Putty, dalam, lalu menghela napas panjang.
“Elu…emang nggak jatuh cinta sama Kak Doni, kan?” tanyanya, pelan. Putty menghentikan kegiatan menulisnya, lalu menatap Cira.
“Gue jatuh cinta sama dia, kok.” Elaknya.
“Tapi kok lu nggak punya semangat itu?”
“Semangat apa?”
“Mencintai.” Suara Cira terdengar pelan. Putty tertawa sambil membekap mulutnya agar suara tawanya tak terdengar kencang.
“Gue pusing, ah! Gitu aja dipikirin! Udah, ah!” katanya sambil kembali mengerjakan LKS Akuntansinya. Cira menghela napas sekali lagi. Mungkin…memang dia satu-satunya cewek yang gampang jatuh cinta. Di hari pertama MOS, dia jatuh cinta pada Rasya, senior bermata elang itu. Terus, dia duduk semeja dengan Farhan selama seminggu dan dia jatuh cinta juga. Terus sekarang dia jatuh cinta sama Derry. Terus…. Duuuuh!
***
Bel pulang berbunyi tepat pukul satu siang. Semua siswa di kelas satu tiga ini segera membereskan buku-bukunya bersiap-siap untuk pulang.
“Beri salam!” seru Derry.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” seru semua siswa. Setelah guru yang mengajar menjawab salam dan ke luar kelas, para siswa pun bubaran.
“Gue pulang duluan ya, Put!” kata Cira.
“Lu nggak sholat Dzuhur dulu, Ra?” tanya Putty.
“Ntar di rumah juga sempet.” Jawab Cira, cuek sambil melenggang meninggalkan Putty.
“Put, mau sholat ya? Bareng, yuk!” ajak Juli. Putty mengangguk.
“Tumben lu sholat di sekolah?” tanya Putty pada gadis bertubuh mungil itu.
“Iya sih. Biasanya gue sholat di rumah aja. Tapi…telat mulu.” Jawab Juli.
“Telat?”
“Jalanan kan macet, biasa, anak-anak sekolah kan baru pada pulang semua. Sampe rumah setengah tiga. Nggak sreg rasanya sholat nanggung gitu. Bentar lagi Ashar. Pernah gue nggak dapet sholat Dzuhur.” Jelas Juli.
“Oh…berarti Cira….”
“Yah sama aja. Rumah gue kan searah ama dia. Apalagi Cira lebih jauh lagi.”
“Hem…payah tuh anak. Apa susahnya sih sholat dulu di sekolah?” Putty geleng-geleng kepala. Juli angkat bahu.
“Gue pikir elu noni, Put.” Katanya, tiba-tiba. Kening Putty berkerut.
“Noni?”
“Non Islam. Habis wajah lu Cina gitu.”
“Gue emang keturunan Cina, sedikit. Tapi suer, Kakek, nenek, nyokap, bokap gue Islam semua.” Jawab Putty membuat Juli manggut-manggut.
“Hebat, ya?”
“Nggak juga. Sebenarnya gue sebel juga sih banyak yang beranggapan gue non Islam. Gue musti pakai cara apa ya biar orang-orang tau kalau gue muslim?”
“Iya. Gue juga baru tahu lu muslim pas liat lu sholat dan ngaji. Tadinya gue heran, kok pas pelajaran Agama Islam, elu nggak ke luar kelas kayak teman-teman kita yang noni. Apalagi pas elu disuruh baca Al-Qur’an, gue tambah kaget karena bacaan lu bagus banget.”
“Ah, elu.”  Putty jadi nggak enak. Juli tersenyum.
“Pakai jilbab aja, Put. Dijamin orang-orang nggak ragu bilang elu muslim. Elu kan udah jago ngajinya. Kalo gue mah masih terbata-bata. Malu kalau pakai jilbab.”
“Pakai jilbab?” Putty bengong.
“Iya.”
“Emang harus bisa ngaji dulu kalau mau pakai jilbab?”
“Ya iyalah. Kan malu. Masa’ pakai jilbab nggak bisa ngaji. Pokoknya kalo elu mah udah pantes deh pake jilbab.” Kata Juli membuat Putty terpaku. Pakai jilbab? Sungguh ia tak pernah memikirkannya.
“Lagian, Put. Cowok-cowok Rohis kan maunya sama cewek yang pakai jilbab.” Kata Juli, mengejutkan. Kedua mata Putty langsusng berbinar.
“Cowok-cowok Rohis?”
“Iya. Lu kenal Kak Adrian, nggak?” Juli balik nanya. Kedua bola mata Putty makin berbinar. Adrian…siapa yang nggak kenal.
“Ya, tentu aja gue kenal. Dia kan terkenal banget pas MOS.”
“Iya lah. Jelas. Dia keren banget, kan? Kabarnya dia yang paling banyak dapat surat cinta.” Juli tersenyum.
“Kok jadi ngomongin dia, sih?” Putty heran. Juli tersenyum.
“Dia itu kan sekarang ketua Rohis.” Jawabnya membuat Putty terbelalak.
“Yang bener?!”
“Iya. Kan baru kemaren pemilihannya. Lu pasti tahu dong, banyak banget cewek-cewek yang udah berusaha ngedeketin dia.” Juli melirik Putty.
“Gue denger sih begitu. Gue denger juga, nggak ada satu pun dari cewek-cewek itu yang berhasil ngedapetin dia, padahal mereka cantik-cantik.”
“Yup! Bahkan sampai sekarang katanya dia nggak punya pacar.” Lanjut Juli. Putty terbeliak.
“Ah, masa’ sih?”
“Iya. Soalnya kan cowok Rohis kayak dia pasti sukanya sama cewek yang pakai jilbab.” Jelas Juli. Kening Putty berkerut.
“Oh…begitu, ya.”
“Iya lah. Liatin aja. Cewek-cewek Rohis kan kebanyakan pakai jilbab.” Juli tersenyum. Putty manggut-manggut. “Artinya kalo elu pake jilbab, elu punya kesempatan ngedeketin Adrian.” Jelas Juli. Putty terkejut mendengarnya.
“Emangnya lu pikir gue juga tertarik sama dia? Udah, ah. Sekarang kita sholat.” Katanya sebelum meninggalkan Juli yang terpana.
***
Cira menghapus peluh yang bercucuran di wajahnya. Panasnya matahari Jakarta membakar tubuhnya. Bener-bener, deh. Begini kali yang dirasakan ayam sewaktu dipanggang. Menderita! Mana macet lagi! Kedua matanya terbelalak saat seseorang menaiki angkot yang dinaikinya.
“Farhan?”
“Eh, Cira.” Kata Farhan sambil tersenyum. Duh…senyumnya itu, lho. Nggak nahan….
“Kok pindah angkot?” tanya Cira, heran. Soalnya ia tadi melihat Farhan menaiki angkot yang lain.
“Iya. Sopirnya mau pulang. Nggak bertanggung jawab ya.” Jawab Farhan sambil mengeluarkan hobinya yang membuat Cira jadi nggak enak. Menundukkan wajah, bow!
“Berarti lu bayar dua kali, dong?”
“Enggak. Uangnya dibalikin lagi.”
“Oh…syukur deh.” Kata Cira. Ia bingung mau bicara apa lagi. Yah, namanya juga sedang berhadapan dengan salah satu cowok yang ditaksirnya. Matanya melotot melihat Farhan mengeluarkan Al-Qur’an dari sakunya dan…membacanya! Oo…ow! Cira jadi sangat, sangat, malu.
“Eh, Farhan, kamu udah sholat Dzuhur?” tanya Cira setelah Farhan menyelesaikan ngajinya. Kening Farhan berkerut.
“Lho? Ya sudahlah. Ini kan macetnya nggak nanggung-nanggung. Bisa sampe di rumah jam tiga. Nggak kebagian sholat Dzuhur lah.” Jawabnya membuat  Cira semakin malu. Saking malunya, tanpa sadar ia menggigiti jari telunjuknya. Sholat Dzuhur? Meskipun masih ada waktu sholat Dzuhur sesampainya di rumah nanti, belum tentu ia menunaikannya. Dia kan capek, lapar, ngantuk! Ah, Cira!
“Memangnya…kamu belum sholat, ya, Ra?” tanya Farhan membuat Cira tak berkutik. Ia pun mengangguk malu-malu.
Masya’Allah…kalo ketinggalan bagaimana?” tanya Farhan sambil geleng-geleng kepala.
“Yah…terpaksa deh, nggak sholat.” Jawab Cira, pelan, tapi Farhan bisa mendengarnya. Kedua alis mata Farhan naik ke atas.
“Kamu kan sudah baligh, Ra.” Ucapnya.
“Emang kenapa?”
“Ya dosa kalau udah baligh ninggalin sholat.”
“Habis….” Cira tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba bersama Farhan menjadi tidak menyenangkan.
***
Putty menatap wajahnya di cermin. Ada yang beda di sana.  Jelas saja. Ia ngaca sambil memakai mukena! Ia ingin tahu, seperti apa wajahnya kalau sedang memakai mukena. Kalau terlihat lebih cantik, mungkin ia akan mempertimbangkan kata-kata Juli untuk memakai…jilbab! Tapi…Putty mencubit pipi chubby-nya.
“Kalau gue pakai jilbab, gue jadi keliatan gendut. Ntar nggak ada bedanya sama Cira lagi.” gerutunya.
“Ntar aja deh pakai jilbabnya. Kalo pipi gue udah nggak tembem.” Katanya sambil melepas mukena.
***
Gue mokal banget sama Farhan hari ini. Ketauan deh kalau gue jarang sholat Dzuhur. Bukan cuma shalat Dzuhur aja seeeh…. Gue juga udah lupa kapan terakhir gue shalat Shubuh. Habis, gue bangun kesiangan mulu. Tau-tau udah jam enam. Padahal gue kan harus buru-buru berangkat ke sekolah. Kadang-kadang gue juga kelupaan sholat Ashar kalo ketiduran. Ah, sebodo teuing, lah! Gue nggak pacaran sama Farhan ini. Kayaknya dia emang ketinggian buat gue. Terlalu alim! Nggak kuku….
Hem…gue rasa…baiknya gue ama Derry aja kali ya. Soalnya dia tuh nggak terlalu alim. Gue juga jarang liat dia sholat. Cocoklah sama gue. But, sebenarnya gue lebih suka sama yang rajin sholat. Tapi gue sendiri aja nggak sholat, ntar gue diceramahin mulu lagi. Kayak si Farhan tadi. Emang enak?! Baiknya gue jalanin aja hubungan gue ama si Derry, oke?! Mungkin besok dia akan menyatakan cintanya sama gue. Kan tadi pagi tertunda.
***
Pagi ini Cira berangkat ke sekolah lebih awal lagi. Satu-satunya yang memotivasinya adalah…ketemu Derry. Siapa tahu Derry telah menunggunya untuk mengatakan sesuatu. Siapa tahu itu adalah…ah, Cira jadi malu membayangkannya.
Cira menghela napas panjang sebelum memasuki kelas. Kelas masih kosong. Ia memang kepagian. Ia berharap Derry telah menunggunya. Dilangkahkan kakinya satu-persatu. Ternyata benar! Derry telah menunggunya!
“Hai, Cira! Gue tungguin lu dari tadi!” seru Derry, senang. Cira nyengir. Tuh, kan, bener. Ia tak sadar wajahnya kini bersemu merah.
“Ada apa?” tanyanya, manja. Kening Derry berkerut.
“Gue mau omongin soal yang kemaren.”
“Oh….”
“Em…begini. Gue…naksir….” Derry menggantung kalimatnya. Ditatapnya Cira yang jantungnya sedang berdetak kencang ini.
“Elu….” Cira menunggu kalimat Derry selanjutnya.
“Ah, enggak, ah!” Derry tak jadi melanjutkan kalimatnya. Cira melengos.
“Apa sih?”
“Lu bisa jaga rahasia, nggak?” tanya Derry membuat kening Cira berkerut.
“Memangnya apa yang  harus dirahasiain?”
“Ini memang rahasia.”
“Tapi kenapa?” Cira tak mengerti.
“Soalnya….”
Assalamu’alaikuum…!” seru Putty, tiba-tiba. Wajah Derry dan Cira langsung pucat. Lagi-lagi Putty yang memergoki mereka.
“Kalian…berdua lagi….” Putty berprasangka.
“Ya. Gue pengen pinjem PR bahasa Inggris!” jawab Derry, sedikit marah. Kening Putty berkerut.
“Bukannya kemaren udah?”
“Kan nggak jadi karena elu masuk.”
“Oh…sorry deh. Ya udah. Silahkan…silahkan…dilanjutkan transaksinya. Maaf, mengganggu.” Putty segera meninggalkan kedua manusia itu. Derry dan Cira menghela napas lega. Sesaat kemudian mereka bertatapan. Cira tertunduk malu.
“Em…janji ya lu bisa pegang rahasia?” tanya Derry. Kening Cira berkerut lagi.
“Emang kenapa?”
“Gue nggak mau ketahuan orang dulu, soalnya gue belum boleh pacaran sedangkan kakak gue juga sekolah di sini. Kalau dia ngadu sama orangtua gue kan gawat.” Jelas Derry membuat Cira terpana. Tuh, kan bener! Derry naksir dia! Mereka akan jadian!!!
“Jadi…elu…naksir….”
“Elu udah tahu?” tanya Derry, bingung. Cira mengangguk manja. Derry garuk-garuk kepala.
“Gue kan belum ngomong ke siapa-siapa.”
“Nggak usah ngomong juga udah ketauan kok dari sikap lu.”
“Jadi elu sering merhatiin gue?!” tanya Derry, antusias. Cira mengangguk cepat. Tanpa sadar, Derry menggenggam tangan Cira…
“Cira!!! Berarti lu bisa dong….” Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Milly datang dan menatap mereka, bingung.
“Kalian sedang apa?” tanyanya. Derry dan Cira bertatapan
***
“Derry dan Cira ada affair!!!” jerit Milly, senang. Semua siswi di kelas satu tiga yang mendengar jeritannya ikut tertawa menggoda. Cira malu. Ia menutupi wajahnya dengan buku terus.
“Eh, Milly! Elu ember banget, sih!” omel Derry.
“Tapi kan bener. Ternyata elu naksir Cira, Der. Ternyata elu….” Milly tertawa lebar. Fera dan June yang selalu berada di sampingnya ikut tertawa lebar.
“Hei! Kalian kan cewek! Masa’ cewek ketawa ngakak gitu!” cibir Derry.
“Emang kenapa? Emangnya cewek nggak boleh ketawa?” balas Milly.
“Tau, luh! Reseh aja!” Fera menambahkan.
“Lu nggak bisa ketawa juga kali!” seru June.
“Ya boleh. Tapi harus tahu etika.” Derry membela diri.
“Biarin! Suka-suka kita dong!” Milly, Fera dan June memonyongkan bibirnya. Sementara itu, Putty hanya bisa menatap Cira.
“Jadi benar kalian ada kasus….” Ucapnya, pelan. Cira tak mau mengangkat wajahnya.
“Maafin gue karena nggak pernah bilang-bilang.”
“Yah…mungkin gue emang belum jadi sahabat lu….”
“Ah, Putty….” Cira segera menarik tangan Putty dan menggenggamnya.
“Kalian udah jadian?” tanya Putty, tiba-tiba. Cira tak bisa menjawab. Udah belum, sih? Selanjutnya, ia menggeleng. Putty melongo dibuatnya.
Gue nggak tau deh. Perasaan gue malah jadi nggak enak. Kenapa semua orang seakan meragukan cinta Derry ama gue? Emangnya gue nggak pantas dicintai? Gue sebel. Gue kan juga ingin dicintai. Kenapa sih semua orang memojokkan gue? Mendingan urus deh diri mereka sendiri.  Sebel!
“Cira…istirahat nanti, gue pengen ngomong sama elu.” Kata Derry tiba-tiba. Cira melongo. Benarkah?!
Cira menatap sosok tinggi besar di sana. Derry. Apa yang mau diomongin dia, ya? Cira jadi deg-deggan, nih. Apakah sekarang juga Derry akan mengucapkan cinta padanya? Cira jadi GR. Pasti wajahnya saat ini sedang bersemu merah. Oh, Tuhan Mahabaik. Ia mau mendengar doa Cira. Terima kasih, Tuhan. Akhirnya Cira punya pacar juga. Yes!
“Cira. Akhirnya elu dateng juga. Lama amat sih?” tanya Derry dengan wajah  yang sukar dideskripsikan. Derry itu marah atau senang, sih?
“Ada apa, Der?” tanya Cira dengan wajah malu-malu.
“Belum apa-apa kok udah ketahuan. Gue jadi nggak enak, nih.” Kata Derry sambil menghela napas. Cira terkejut mendengarnya. Jadi masalah itu yang mau dibicarakan.
“Ini semua gara-gara tiga Ratu Gosip itu.” Ucapnya.
“Iya. Mereka, tuh. Padahal kan….”
“Memangnya kenapa sih kalau ketahuan?” tanya Cira, memotong ucapan Derry.
“Ya gue malu lah. Orang belum jelas.”
“Belum jelas bagaimana? Terus terang aja. Biar semua orang tahu.”
“Ya nggak bisa, Cira. Udah deh, sekarang yang penting elu mau kan?” tanya Derry yang bikin jantung Cira berdetak tak terkendali. Cira mengangguk cepat.
“Iya lah!” Duh, tak ada satu pun kanvas yang bisa melukiskan perasaannya saat ini.
“Kalo gitu langsung aja kita jalankan misi ini. Kapan lu siap?” tanya Derry, antusias. Cira tak mampu menatap wajah kukuh itu.
“Kapan pun gue siap.” Ujarnya malu-malu.
Thanks Cira! Ini kebahagiaan buat gue!” seru Derry sambil menepuk-nepuk bahu Cira, erat. Cira serasa di awan! Bener, lho!
***
Klik di sini untuk baca kelanjutannya yaaa








No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....