Wednesday, April 4, 2012

Dilema Emak Galau


“Ada yang nawarin kerjaan nih, gimana ya? Aku mau sih, tapi gimana anakku? Siapa yang ngurus nanti?”

Sebagai ibu rumah tangga penuh waktu, pernahkah Anda mengalami kegalauan serupa? Saya pernah dan sering. Bahkan, setahun lalu, saya masih mengikuti tes CPNS, saking ingin kembali lagi ke dunia perkantoran. Syukurlah, saya tidak lolos tes. Kalau lolos, mungkin sekarang tidak sempat lagi menulis dan menerbitkan buku. Saya menyadari keterbatasan saya yang tidak bisa melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Pasti harus ada yang dikorbankan bila saya “ngantor lagi,” dan itu adalah menulis.



Sebelumnya, saya juga pernah tiga kali ditawari pekerjaan di kantor, saat sudah menjadi ibu rumah tangga total. Dua kali penawaran, selalu datang saat saya sedang hamil lima bulan. So pasti, saya tolak dan mereka pun mengurungkan niat begitu tahu saya sedang hamil. Ibu hamil tua begitu sebentar lagi juga cuti, padahal baru mulai kerja. Penawaran ketiga, saya tidak tega meninggalkan kedua bayi saya. Saya tidak percaya orang lain bisa sabar mengasuh bayi-bayi saya. Kalau hanya satu bayi, mungkin masih ada yang mau dibayar untuk mengasuhnya. Dua bayi?? Membayar dua pengasuh, lebih baik saya tidak usah kerja, toh gaji yang saya dapat nantinya hanya habis untuk membayar pengasuh.

Lalu, setelah anak-anak cukup besar, terbersit niat untuk ngantor lagi. Sebenarnya, saya sudah cukup nyaman di rumah. Masalah ekonomi selama ini bisa diatasi meskipun saya tidak bekerja, tapi ada banyak hal yang membuat saya galau. Seperti cibiran keluarga mengenai status saya yang hanya ibu rumah tangga saja, dan kesempatan adanya penerimaan CPNS yang tahun-tahun sebelumnya selalu ketinggalan.

Nah, apakah Anda pernah mengalami kegalauan seperti saya? Kenapa sih kita bisa merasa galau begitu, padahal kita sudah merasa nyaman dengan pilihan sebagai ibu rumah tangga total? Bukankah senang bisa mendampingi anak-anak sepanjang hari?

1.Pengen kerja lagi karena ada masalah ekonomi. Sebenarnya masalah ekonomi ini pasti menimpa siapa saja, termasuk ibu bekerja. Manusia tidak akan pernah puas, selalu saja kurang. Taraf hidup saya dari baru menikah sampai sekarang, saya akui meningkat, tetapi selalu saja merasa kurang. Kuncinya ada pada rasa syukur dan rasa puas terhadap rejeki yang kita terima. Ibu rumah tangga di rumah bukan berarti tidak bisa menghasilkan uang. Alhamdulillah, sejauh ini suami saya terbantu dengan penghasilan nulis saya, meskipun tidak banyak. Dan biarpun hanya suami yang memiliki pekerjaan tetap, saya beserta anak-anak masih bisa makan dan beli pakaian sampai saat ini.

2.Pengen kerja lagi karena sayang dengan gelar sarjana yang sudah diperoleh. Nah, ini juga menghinggapi sebagian besar ibu yang punya pendidikan tinggi, tapi memilih menjadi ibu rumah tangga total. Pada awalnya, pilihan itu memang pilihan dari hati, tapi tetap saja ada kegalauan. Terutama bila keluarga dekat sering menyinggung-nyinggung, “sudah disekolahkan tinggi-tinggi, eh Cuma jadi ibu rumah tangga….” Itu bikin panas telinga, dan saya juga sering mendengarnya, bahkan sampai sekarang. Meskipun saya punya kegiatan menulis di rumah, dan buku-buku juga sudah banyak yang diterbitkan, rasanya keluarga saya belum puas kalau saya belum bekerja di kantor. Rasanya, pekerjaan menulis ini bukan pekerjaan, tapi hanya iseng-iseng. Yang namanya bekerja itu adalah bekerja di kantor. Kalau sudah begitu, tebalkan telinga saja, dan kembali kepada alasan mengapa memilih menjadi ibu rumah tangga total.

3.Pengen kerja lagi karena gengsi. Hmmm…. Rasanya senang ya melihat ibu bekerja yang selalu tampil cantik dan chic, belum lagi mendapatkan penghargaan tinggi dari masyarakat. Sedangkan ibu rumah tangga selalu dipandang sebelah mata, karena profesinya hampir sama dengan babu. Tapi untuk alasan yang satu itu, saya sudah tidak memikirkannya lagi. Mengapa? Karena saya banyak bergaul dengan sesama ibu rumah tangga, jadi tak kepikiran ingin kerja lagi hanya karena gengsi. Lain soalnya kalau saya banyak bergaul dengan ibu bekerja. Bukan berarti membatasi pergaulan, hanya ibu-ibu tetangga saya juga kebanyakan ibu rumah tangga total, jadi gak bikin mupeng.

4.Pengen kerja lagi karena bosan di rumah terus. Perasaan bosan itu datangnya dari hati. Kalau kita punya banyak aktivitas di rumah, yang bisa menjadi variasi selain pekerjaan rumah tangga, insya Allah rasa bosan itu akan hilang. Saya melihat banyak ibu-ibu kreatif yang mengusir kebosanan mereka dengan mengerjakan berbagai keterampilan seperti crochet, menulis, memasak, dan sebagainya. Banyak juga yang berjualan dari rumah, sehingga kadang-kadang kulakan ke toko, yang jadinya refreshing juga.

5.Pengen kerja lagi karena ada yang menawarkan. Nah, ini dia yang susaaaah dan makin bikin galaau…. Kalau gak ada yang nawarin kerja sih gak apa-apa, lah ini ada yang nawarin. Galau deh. So, balik lagi ke prioritas diri kita, serta tujuan awal saat kita memilih “hanya” menjadi ibu rumah tangga. Terlebih bila kita sudah merasa nyaman dengan pilihan hidup kita selama ini. Masalah ekonomi, ada, tapi masih bisa diatasi. Rasa bosan ada, tapi sudah ada kegiatan yang menyenangkan. Rasa gengsi? Uuh… enggak banget. Sayang dengan gelar sarjana? Ehmm… itu kan modal utama untuk mengajari anak-anak belajar.

Percayalah, ibu bekerja pun punya kegalauan. Galau karena tidak bisa sering-sering bersama dengan anak, apalagi saat anak sakit. Tidak bisa mendampingi karena ada pekerjaan yang sangat penting. Terlalu banyak pekerjaan, karena adanya dualisme pekerjaan; ya ngurus anak-anak, ya kerjaan kantor. Hanya saja, kita selalu merasa sulit mengambil keputusan mengenai pilihan hidup kita. Semua pilihan pasti ada enak dan gak enaknya. Bila selama ini sudah nyaman dengan pilihan hidup kita, tidak ada hal yang sangat-sangat darurat yang menyebabkan kita harus ngantor, lalu mengapa mesti galau?

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....