Friday, April 27, 2012

Motivasi Menulis: Menulis Berarti Mengabadikan Pengalaman


Hari itu, beberapa hari setelah bukti terbit buku “Catatan Hati Ibu Bahagia” sampai ke tangan saya, saya iseng membuka salah satunya yang masih terbungkus sampul plastic. Saya baca lagi dan tekuri isinya, hingga tak terasa satu jam berlalu. Saya larut di dalamnya, seakan-akan belum pernah menuliskan dan membaca isi buku itu sebelumnya. Padahal, tentu saja saya sudah membacanya berulang-ulang sebelum draft naskahnya dikirimkan ke penerbit. Bahkan, saat itu saya merasa bosan membaca naskah yang cukup tebal itu. Naskah aslinya setebal hampir dua ratus halaman spasi 1,5. Setelah menjadi buku pun tetap tebal, kurang lebih 400 halaman.



Di buku itu tertulis pengalaman-pengalaman saya saat baru memutuskan menjadi ibu rumah tangga, menjadi ibu bagi putra sulung saya, menjadi istri, berinteraksi dengan tetangga, bahkan berinteraksi dengan Tuhan. Pengalaman-pengalaman yang berbeda di tiap judulnya, terjalin satu demi satu usai melihat kejadian-kejadian di sekitar saya. Saya ambil hikmahnya, dan membaginya kepada para pembaca. Kini, setelah lima tahun berlalu dari proses penulisan buku itu, saya seperti dibukakan kembali oleh goresan tangan sendiri. Tulisan itu rupanya bisa mengingatkan saya kembali akan eksistensi sebagai ibu.




Demikian halnya dengan kedua buku saya yang lain; “Taaruf” dan “Rahasia Pengantin Baru.” Di dalamnya juga ada sekelumit pengalaman saya saat baru menjalani taaruf dengan calon suami, dan awal-awal menjadi pengantin baru. Banyak yang sudah terlupa dari pikiran saya, dan teringatkan kembali ketika membaca paragraf-paragraf di dalam buku-buku itu. Betapa berharganya pengalaman hidup kita, sebenarnya, dan amat sayang bila terlewat begitu saja tanpa diabadikan ke dalam tulisan. Setiap hari, kita menemukan hikmah dan pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik. Atau sebaliknya, kita justru mengalami kemunduran. Mengikat semua hikmah itu ke dalam tulisan akan mengabadikannya sampai kapan jua. Tulisan tidak akan pernah mati.
Ketika baru mengenal dunia tulis menulis di bangku SMP, setiap pengalaman hidup saya, ditulis ke dalam buku harian, atau diary. Hanya untuk konsumsi pribadi. Sayangnya, kini diary-diary itu entah berada di mana. Teknologi sekarang sudah canggih. Kita bisa memanfaatkan fasilitas blog dan jejaring social, yang bisa disetting untuk pribadi bila kita tidak ingin pengalaman kita dibaca oleh orang lain.


Jadi, mulailah menulis saat ini juga, dan abadikan pengalaman hidupmu hingga engkau menutup mata. Amat sayang bila semua berlalu begitu saja, tanpa dapat kita petik hikmahnya kembali. Seperti ketika saya sedang begitu sibuknya dengan anak-anak, sekelumit paragraph dalam buku saya, menyadarkan rasa keibuan saya; mengapa kita harus tidak berbahagia menjadi ibu? Surga berada di telapak kaki kita, dan posisi kita tiga kali lebih tinggi daripada seorang ayah.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....