Monday, April 2, 2012

Resensi Buku: Weton

Akhirnya kesampaian juga membaca salah satu karya Dianing Widya Yudhistira, seorang penulis yang saya kenal di facebook, yang ternyata ibu dari adik teman saya. Sebaris kalimat di kovernya membuat saya semakin tertarik; Nominee Khatulistiwa Literary Award. Wah, hebat betul ya, ibu yang satu ini.



Novel WETON: Bukan Salah Hari, mengambil setting di Batang, Jawa Tengah. Kalau tidak salah, itu adalah juga kampung kelahiran Mba Widya, demikian saya memanggilnya. Weton adalah hari kelahiran seseorang berdasarkan pasarannya, misalnya legi, kemis, kliwon, dll. Kalau tidak salah, saya lahir Minggu Kliwon, hehe….

Ada sebuah kepercayaan bagi orang Jawa, khususnya Kejawen, untuk menghitung hari baik seseorang berdasarkan wetonnya. Berhubung di keluarga saya tidak ada tradisi seperti itu, jadi saya baru mengetahuinya setelah membaca novel Weton. Tokoh si Mak, ibunda Mukti, sangat percaya dengan Weton, termasuk untuk menentukan jodoh putra-putrinya. Siapa pun yang mau menikahi anaknya, harus dihitung dulu wetonnya, apakah artinya bagus dan cocok dengan anaknya. Kalau artinya buruk, pernikahan harus dibatalkan.

Kepercayaan si Mak itu sungguh menyulitkan, tetapi anehnya hampir selalu terbukti. Misalnya, saat kakak Mukti, Sri, nekat menikah dengan Jarwo, yang wetonnya tidak bagus, yang dapat mengakibatkan datangnya bencana dalam pernikahan keduanya, dugaan Mak tidak melesat. Kehidupan ekonomi Sri dan Jarwo kurang bagus. Usaha dagangnya gagal terus, anak sakit-sakitan, dan sebagainya.

Mukti tidak mau terpengaruh dengan kepercayaan si Mak. Dia justru mendukung kakak lelakinya yang nyaris gila gara-gara dilarang menikah dengan gadis pilihannya karena weton yang tidak cocok. Si Mak tidak mau datang ke pernikahan anaknya, juga gara-gara weton. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Pernikahan kakak lelakinya aman-aman saja, tidak terkena bencana sebagaimana yang diduga oleh si Mak.
Namun, belakangan, Mukti dihadapkan pada kenyataan bahwa dugaan-dugaan Mak ternyata benar. Tetangganya yang nekat menikah, meskipun wetonnya berarti Gotong Mayit, alias orang tua atau bahkan si mempelai itu sendiri yang akan meninggal dunia, terbukti. Satu per satu keluarga tetangganya meninggal dunia, dan semua orang mengira bahwa itu akibat weton yang tidak cocok.

Begitu juga dengan kakak lelaki Mukti, yang mengalami musibah. Anak yang dilahirkan kakak iparnya, mendapatkan penyakit berat sesaat setelah dilahirkan, dan akhirnya meninggal dunia. Mukti kembali teringat akan weton mereka yang tidak cocok. Apakah memang dugaan Mak tentang Weton itu nyata? Mukti pun menjadi bimbang dan ragu, atas pinangan Wibowo, yang setelah dihitung-hitung wetonnya, ternyata jatuh pada Gotong Mayit. Artinya, kalau mereka menikah, orang tua atau bahkan mereka sendiri, akan meninggal dunia.

Novel ini sangat menarik untuk dibaca, novel yang dapat membuat saya bertahan untuk membacanya sampai selesai. Konfliknya semakin ke belakang semakin tajam, bahkan ending dibuat menggantung. Informatif, memberikan pengetahuan lebih terhadap tradisi orang Jawa, khususnya soal weton. Bukan termasuk novel islami, tetapi nilai-nilai islaminya kental. Seperti ketidakpercayaan Mukti akan weton.

Namun, yang di luar dugaan, saya kira novel ini akan berat dibaca, menggunakan bahasa berbunga-bunga yang membuat kening berkerut. Ternyata tidak. Mbak Widya menulisnya dengan ringan dan bahasa sederhana, sehingga bagi ibu yang sedang hamil muda seperti saya dan susah mikir berat-berat, novel ini tidak membuat pusing kepala.

Setelah berkali-kali harus membaca novel terjemahan dan novel dengan bahasa berbunga-bunga, sehingga kebanyakan tidak selesai dibaca, saya justru termotivasi ingin menulis novel lagi usai membaca novel Weton. Sebuah karya sastra yang hebat, ternyata tidak harus menggunakan bahasa berbunga-bunga dan menyulitkan ditangkap orang awam.



Judul: WETON: BUKAN SALAH HARI
Penulis: Dianing Widya Yudhistira
Penerbit: Grasindo

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....