Monday, April 2, 2012

Novel: Rara The Trouble Maker (1)

RARA, THE TROUBLE MAKER





Siang yang panas. Jalan-jalan di sepanjang pertigaan Bogor, Serpong, dan Ciputat, ramai oleh mobil-mobil angkot yang berjajar serta anak-anak SMA kelas dua dan tiga yang baru saja keluar dari SMA 11. Rara meniup poni yang menutupi matanya. Phiuh! Sementara anak-anak kelas dua dan tiga pulang sekolah dan tidur siang, ia malah baru masuk. Belajar siang-siang bolong begini, sengsara! Itu sebabnya ia sering bolos. Selain karena malas, ia memang hobi bolos untuk menguatkan salah satu gelarnya selama ini: Si Ratu Bolos.

“Woi! Liat dong!” teriakan Donni yang menggelegar ditambah cekikik anak-anak perempuan menyambut kedatangan Rara di kelas setelah tiga hari absen.
“Ke belakang! Ke belakang!” seru Tobi.

Kening Rara berkerut. Tumben anak-anak cowok rukun. Mereka berkumpul di pojok kelas. Pasti ada apa-apa, nih!

“Rara! Tumben lu sekolah!” teriak Wina dari tempat duduk kesayangan mereka berdua.
“Kenapa sih mereka heboh gitu?” tanya Rara setelah sampai di tempat duduknya yang kedua dari belakang.

“Itu, si Tobi bawa kartu porno,”
“Hah? Kartu porno? Apaan, tuh?”
“Itu, tuh. Kartu Remi, tapi gambarnya cewek bugil.”
“Gile! Seru, nih!” Rara ngacir menyusul Tobi dan kawan-kawan. “Woi! Woi! Liat dong!” ia menerobos kumpulan cowok-cowok.
“Wah! Rara! Cewek nggak boleh liat!” seru Jimmy. Tapi siapa yang berdaya menghalangi Rara?

Tobi yang sedang serius melihat kartu-kartu terlarang itu tak sadar ketika kartunya direbut Rara dengan sekejap mata. “Rara!”

Rara melotot melihat kartu-kartu tersebut. “Wah! Gila, luh! Berani bener lu bawa barang beginian! Ini namanya pelecehan! Woi! Liat, nih! Tobi bawa kartu bugil!” teriaknya, tak sadar Bu Niken, Guru Akuntansi, telah datang. Itu berarti… masalah besar.
***
Ruang kepala sekolah yang cukup besar ini, hening. Rara menunggu beberapa patah kata keluar dari mulut Pak Darma, kepala sekolah SMA 11. ini. Sejak masuk ke ruangan ini, Pak Darma hanya menatapnya. Ada amarah di sana. Rara memainkan ujung sepatunya. Keki juga diperlakukan begini. Ia lebih memilih dibentak-bentak daripada didiamkan. Kalau dibentak kan dia bisa membalas. Helaan napas terdengar dari mulut Pak Darma. Sepertinya beliau akan berbicara.

“Rara… sampai kapan kamu mau begini?” tanyanya.
Rara diam.
“Ini sudah pertengahan cawu dua. Saya banyak mendapat laporan tentang kelakuan jelek kamu,” lanjut Pak Darma.
Rara garuk-garuk kepala.
“Dan sekarang… kamu membuat ribut di kelas.”
“Tapi Pak, bukan saya pelopornya!” Rara berteriak kencang, lupa kalau dia sedang berbicara dengan kepala sekolah.
“Jelas-jelas kamu yang berteriak-teriak di kelas! Apalagi kamu bawa barang haram itu! Kamu masih bau kencur, Rara!”
“Saya nggak makan kencur, Pak!”

Pak Darma tertunduk. Sebenarnya ia ingin tertawa. Anak yang satu ini memang paling susah dikasih tahu. “Kenapa kamu bawa barang haram itu, Rara? Kamu masih kecil. Umur kamu paling belum lima belas tahun,” tanyanya, pelan.

“Ah, Bapak. Nenek saya aja nikah umur tiga belas, Pak. Berarti saya sudah dewasa, kan? Lagian, bukan saya yang bawa kartu bugil itu, tapi Tobi, Pak!”
“Mana yang harus Bapak percayai? Tobi bilang kamu!”
Rara melotot. Giginya bergemerutuk. Awas ya, Tobi!

“Terserah Bapak, deh. Pokoknya bukan saya. Saya justru ingin melaporkan perbuatan Tobi itu, tapi Bu Niken keburu datang.”

“Sekali berbuat, selamanya kamu akan menjadi tertuduh. Camkan itu, Rara! Satu lagi, saya ingatkan, jika kamu kedapatan bolos satu hari saja, maka saya tidak akan menaikkan kamu. Saya akan menyuruh guru-guru untuk memperhatikan kamu, jadi laporan presensi sekretaris kelas tidak ada gunanya. Meskipun kamu meminta sekretaris kelas untuk menghitamkan absen kamu, itu tidak ada artinya, karena semua guru akan menjadi intel kamu.”

Rara melotot. A… …pa ?!!
“Terserah kamu mau mengikuti kata-kata saya atau tidak. Dua tahun lagi kamu keluar dari sekolah ini, itu jika kamu lulus. Tapi jika banyak kejadian buruk yang kamu lakukan, mungkin kamu tidak lulus-lulus bahkan tidak akan mendapat ijazah. Mau apa kamu tanpa itu? Mau kuliah? Mau bekerja? Jadi tukang parkir? Heh! Ya sudah. Kamu boleh pergi.” Pak Darma mengakhiri pertemuan mereka hari ini.

Rara berdiri. “Makasih, Pak. Tapi bukan saya yang bawa kartu itu…!” teriaknya sebelum pergi.
Pak Darma geleng-geleng kepala.
***

BUG! PAK! DUG!
Seisi kelas hanya diam menyaksikan Rara memukuli Tobi.
“Ampun, Ra! Ampun!” Tobi meringis kesakitan.
“Ternyata lu lebih milih nggak bangun sebulan daripada skor seminggu dari Pak Darma, ya?!”
Tobi tak mampu menjawab karena tangan Rara terus bergerak. Wina, sahabat dekat Rara, hanya garuk-garuk kepala. Kenapa juga dia punya teman seperti Rara ?!
“Pokoknya lu musti jelasin ke Pak Darma kalo elu biang keroknya atau lu bener-bener nggak bisa bangun sebulan!” Rara mengakhiri intimidasinya. Ditinggalkannya Tobi dalam keadaan meringkuk di pojok kelas. Rara tersenyum senang.
***

Fitri menghela napas lega. Akhirnya selesai juga ulangan Sejarahnya. Semalam ia belajar sampai larut. Biasa, Sistem Kebut Semalam. Padahal belum jadi mahasiswa. Habis, bagaimana lagi? Sebagai aktivis Rohis (cie…), kesibukannya banyak sekali. Ia harus pintar-pintar membagi waktu antara belajar dan organisasi.

“Fit! Aakh Taufik udah nanyain proposalnya tuh!” seru Norma, tiba-tiba.
Fitri tersenyum. “Yah, gampang, deh.”
“Aku pusing kalo ketemu dia. Pasti yang ditanyain itu… melulu. Mending kalo kamu yang ditanyain.”
“Salahnya kenapa kamu yang selalu ketemu dia? Ya, deh. Nanti aku kerjain. Habis, kamu tau kan kondisiku?” Fitri meminta pengertian.
Norma mengerti. Kesehatan Fitri memang tidak begitu baik. Fitri punya penyakit hepatitis A yang bisa kambuh sewaktu-waktu.
“Ya udah, gini aja deh. Kamu yang dikte, aku yang ketik. Kapan mau ke rumahku?”
“Bener nih? Berarti bisa gratis dong? Kan pake komputermu?” Fitri surprised.
Norma mengangguk. Fitri memeluknya. “Jazakillah, Ukhti !”
***

Akhirnya proposal “Pesona Ramadan” yang berisi banyak kegiatan untuk menyambut Ramadan kali ini, bisa diselesaikan. Fitri dan Norma tersenyum bahagia. Tinggal bagaimana menembuskannya ke Pak Darma. Dua gadis berjilbab itu berharap Pak Darma bisa lebih demokratis. Maklum, sebelumnya tak pernah ada kegiatan seperti ini pada tahun-tahun lalu. Ramadan sepi. Kepala Sekolah yang dulu seperti juga Orde Bbaru, melarang kegiatan-kegiatan keagamaan berkembang.

TING NONG!
Bel berbunyi. Fitri tersentak. “Wah… kakakku udah jemput, nih! Aku pulang ya!” ia mencangklong tasnya.

Norma mengangguk. Ia menemani Fitri ke luar. Di luar, kakak tercinta Fitri, Doddy, telah menunggu dengan senyum manisnya. Senyum Doddy memang manis, semanis orangnya. Jadi, pantas kan kalau cewek-cewek di SMA 11 klepek-klepek melihatnya?
“Udah jadi proposalnya?” tanya Doddy sambil menghidupkan motornya.
“Alhamdulillah. Yuk, cabut!” Fitri membonceng di belakang Doddy. “Aku pulang dulu ya, Ma! Makasih banyak, lho! Assalamualaikum!” pamitnya pada Norma.
“Mau ada kegiatan apa sih?” tanya Doddy, dalam perjalanan.
“Yah… biasa. Bazaar… kajian….”
“Pantesan pesertanya minim. Monoton. Sekali-kali bikin hiburan dong!”
“Apa? Band?” Fitri melotot.
Doddy nyengir. Nyinggung, nih!
***

1 comment:

  1. mbak, aku mau beli novel ini dimana? kalo boleh, sms saya di 082158575900 dong. saya di balikpapan. thanks

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....