Monday, April 2, 2012

Novel: Rara The Trouble Maker (2)

BUTTERFLY

Baru saja sampai di depan kelas satu dua, keramaian kelas satu tiga sudah terdengar. Sebenarnya hari ini Rara malas berangkat ke sekolah. Banyak PR. Tapi mau bagaimana lagi? Kata-kata Pak Darma selalu terngiang.



“Eh! Rara! Lu sekolah lagi!

Hebat! Kemarin elu diomongin apa sama Pak Darma?” Wina heboh.
Rara cuek. “Liat PR, dong!”
“Nih!” Wina menyerahkan buku PR-nya. PR Matematika dan PR Bahasa Inggris. Enaknya punya teman Wina yang selalu memberinya contekan PR. “Bu Linda udah ngasih peringatan lagi buat yang belum ulangan Ekonomi. Elu kan nggak ikut ulangan dua kali!”
“Ya… habis gimana? Orang itu waktunya gue bolos!”
“Mendingan lu sekarang ngadep, deh. Minta ulangan susulan.”
“Eh, tadi gue ketemu dia lho!” Suara cempreng Runi memecah obrolan Wina dan Rara.
“Ganteng banget, ya?” timpal Mia.
“Aduh…gue pengen jadi pacarnya.” Citra mulai berangan-angan.
“Hu…!”

Rara dan Wina saling bertatapan.

“Cowok mana lagi tuh yang mereka omongin?” tanya Rara.
Wina tersenyum. “Mungkin… anak kelas dua itu. Elu sih bolos mulu. Kemarin waktu olah raga, kami ngeliat anak kelas dua itu di depan kelas dua dua. Orangnya ganteng banget. Hidungnya mancung… pokoknya kayak Marcellino, deh.” Wina berkhayal sambil menyebut nama salah satu artis Indonesia yang bermain di Misteri Gunung Merapi.

Rara geleng-geleng kepala.

“Gue denger sih katanya dia dapet julukan Butterfly!” Suara Runi terdengar lagi.
“Karena dia vokalis Band Butterfly?” tanya Citra.
Bukan itu aja, tapi juga karena dia seperti kupu-kupu yang indah yang selalu dinanti para bunga,” jawab Runi, melankolis.

“Hu…!”
“Heh! Heh! Udah! Udah! Kalian ngomongin siapa sih?” Rara ikut nimbrung.
“Ah, elu ketinggalan berita, Ra. Namanya, Butterfly! Eh, Doddy, ding!” jawab Runi.
“Oh… Doddy….”
“Lu kenal, Ra?!” tanya semuanya, serempak.
“Iya, gue kenal. Dia temen SMP gue dulu!”
“Bener, Ra?!” Runi tak percaya.

Rara senyum-senyum. Wina mengerutkan kening. Memangnya benar Rara kenal Doddy?
Semua langsung berebut minta dicomblangi oleh Rara.
“Iya, iya. Entar, ya. Kalian daftar aja dulu. Jangan lupa, doanya diperkuat, ” kata Rara sambil meninggalkan gerombolan cewek-cewek itu.

“Rara!” Wina memanggil.
“Kenapa?” Rara menoleh.
“Beneran elu kenal Doddy?”
Rara ngakak. “Elu kan kenal gue, Win! Biarin aja mereka terus bermimpi!” jawabnya sambil pergi. Ia tak tahu kalau sahabatnya, Wina, masih kepikiran tentang Doddy.
Butterfly… pertemuan tak disengaja itu selalu membuatnya terbayang. Ia bagai kupu-kupu yang indah yang selalu dinanti para bunga. Andai Rara benar-benar kenal dengan Doddy….
***

Fitri menuju ke ruang guru sambil membawa segelas teh yang masih hangat pesanan Pak Ridwan. Beliau meminta tolong dibuatkan teh di dapur sekolah karena tukang suruh-suruh yang sebenarnya sedang tidak ada. Beliau memang selalu begitu. Kalau bertemu siswa, pasti minta tolong. Kadang minta dibelikan gado-gado di kantin sekolah atau mie ayam atau minta dibuatkan teh seperti sekarang. Mending kalau ditraktir juga.

Sementara itu, dari arah berlawanan Rara berjalan santai sambil menggulung lengan kemejanya yang sudah pendek itu. Biar kelihatan lebih macho. Mumpung hari ini nggak ada razia. Gayanya yang macho itulah yang membuatnya ditakuti bukan hanya oleh cewek-cewek, tapi juga cowok. Nggak heran kalau jagoan karate ini dipaksa berhenti jadi karateka karena lawannya selalu pingsan dengan sukses. Kalau mengingat masa jayanya, ia kadang suka senyum-senyum sendiri. Nggak tahu ya kenapa ia diciptakan menjadi cewek setengah cowok. Untung saja dia masih suka cowok dan nggak suka cewek. Coba kalau dunia terbalik 180 seratus delapan puluh derajat. Gawat, lah!

BRUK…!

“Jalan liat-liat, dong…!”
Fitri terkejut. Seharusnya dia yang marah. Ia sudah berusaha menghindari Rara, tapi gadis itu malah menabraknya. Ia langsung mengambil tisu dan menghapus noda teh yang mengenai seragam Rara.

“Nggak usah! Nggak usah!” Rara menepisnya.
“Maaf, ya. Nggak sengaja.”

Rara menatap Fitri, sinis. Diraihnya gelas yang masih tersisa sedikit teh dari tangan Fitri dan ditumpahkannya ke baju gadis itu. Fitri terkejut sambil istigfar. “Kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.” Rara pergi dengan cueknya.
Fitri geleng-geleng kepala. Ia tak menyangka ada orang yang sejahat itu. “Berikan dia hidayah ya Allah…,.” desisnya, pelan.

“Rara…!” teriakan Wina menyambut kedatangan Rara di kelas. Rara senyum-senyum. “Buruan! Kita harus ikut daftar! Eh, kenapa baju lu coklat gini?” Ia heran melihat baju Rara terkena noda.
“Disiram cewek itu sama teh. Gimana nggak kesel? Untung nggak gue tonjok dia!” Rara komplain.
“Lu sadis banget sih, Ra? Sekali-kali yang lembut gitu, ngapa? Elu kan cewek. Makanya, biar lu jadi cewek beneran, kita ikutan PMR, yuk!”
“Apaan, tuh?”
“Palang Merah Remaja.”
“Tapi kenapa harus masuk organisasi itu?”
“Karena elu nanti diajarin kasih sayang. Anak-anak PMR kan kerjaannya nolongin orang yang sakit.” Wina menjelaskan. Rara melirik gadis itu penuh selidik. Wina tertunduk. Rara memang tidak bisa dibohongi. Ia tahu kalau Wina tuh paling susah diajakin ikut organisasi kalau bukan karena ada apa-apa. “Sebenarnya… karena ada Doddy di sana.” Wina tersipu malu.

“Hah?! Jadi cowok itu juga ikut PMR?!”
“Yah… kan PMR juga butuh yang nandu-nandu. Nah, ntar kalo lu masuk, lu yang gantiin Doddy….”

“Ogah, ah. Gue nggak mau ikutan. Lu tau kan kalau gue paling males ikut oraganisasi. Jangankan ikut organisasi, sekolah aja gue terpaksa!”
“Ayolah, Ra…. Lu nggak bakalan rugi deh.”
“Gue apa elu?”
“Yah, pokoknya sekarang lu ikut aja deh. Terserah ntar ke sananya lu mau sering bolos atau enggak.”
Rara terpaksa mengikuti ajakan gadis itu. “Wina… ternyata elu serius ya naksir Doddy?”

“Lu belum liat orangnya, sih. Ntar kalo udah liat, dilarang naksir!”
Rara mencibir. Naksir?
Fitri terkejut ketika langkahnya terjegal oleh sosok tinggi manis itu. Doddy! Aduh…kenapa harus bertemu?
“Kamu nggak pa-pa kan, Fit?” Doddy cemas melihat jilbab Fitri yang basah.
“Kok Kakak belum pulang?”
“Ada latihan band tadi. Bener kamu nggak pa-pa?”
“Enggak, kok. Cuma ketumpahan teh. Udah dulu ya. Kayaknya Pak Guru udah masuk.”
Fitri bergegas meninggalkan Doddy. Ia tak mau ada orang yang melihatnya berbicara dengan pangeran pujaan para gadis di SMA ini.

Doddy kecewa. Padahal ia ingin bisa menampakkan kasih sayangnya pada adik semata wayangnya itu di mana pun berada. Di rumah, juga di sekolah. Tapi kata Fitri…. Pokoknya aku nggak mau ada orang yang tahu bahwa kita berdua kakak beradik. Aku nggak mau cewek-cewek ngedeketin aku cuma karena ingin deket sama Kak Doddy. Jadi, kita harus pura-pura nggak kenal di sekolah.

Phiuh… kecuali teman-teman dekatnya di grup band dan teman-teman dekat Fitri di Rohis, tak ada yang tahu bahwa mereka kakak beradik.
***

“Jadi Rara ikut PMR juga? Berita baru, nih!” Tina langsung koar-koar mendengar Rara mendaftar jadi anggota PMR. Betty ikut tertawa.
Rara melengos. Benar kan dia diejek?

“Yang boneng, Ra?” Citra, si gembul, ikut-ikutan.
“Sebenarnya gue pinginnya ikut karateka, tapi ditolak,” kata Rara membuat semuanya bergidik. Udah ganas gitu ikut karateka….
“Eh, di PMR kan ada Doddy!” seru Tina.
Semua terkejut.

“Iya, ya? Kalo gitu gue juga mau ikutan ah!” Citra antusias.
“Sebenarnya gue juga mau ikutan PMR, tapi ntar kesannya gue ngejar-ngejar dia banget. Jadi, gue serahin ke Rara aja,” kata Mia.
“Sebenarnya motivasi gue masuk PMR ya karena Doddy ngajakin gue,” kata Rara. Wina yang sudah tahu kebohongan Rara, mencibir.
“Jadi elu ketemu dia, Ra? Salam gue udah disampein belum?” tanya Runi. Yang lain ikutan heboh.

“Udah, udah. Tapi gue nggak tau dia inget apa enggak. Soalnya yang ngirim salam kan banyak.” Rara tersenyum.
“Ra… elu mau berapa?” Citra mengedipkan mata.
“Citra! Elu naksir Doddy juga ya?” tanya Wina, emosi.
“Kenapa? Elu takut saingan ama gue?” tantang Citra.
“Bukan gitu. Abisnya elu ngikutin gue mulu. Dulu waktu gue naksir Tio, elu juga. Sekarang, elu juga naksir Doddy!”
“Ye… suka-suka gue, dong. Lagian lu punya hak apa sama mereka?”
Citra dan Wina mulai bertengkar. Selalu begitu. Rara geleng-geleng kepala. “Udah! Udah!”

“Tau, nih. Gendut-gendut juga berebutan Doddy. Doddy tuh nggak bakalan naksir sama kalian. Kan masih ada kita yang langsing-langsing ini,” kata Runi. Selanjutnya ia dikejar-kejar oleh Citra dan Wina. Seenaknya saja ngomong!
Rara garuk-garuk kepala. “Gue jadi penasaran sama yang namanya Doddy itu. Kayak apa sih dia? Kok banyak yang naksir?” tanyanya pada diri sendiri.
***

1 comment:

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....