Wednesday, September 12, 2012

Seandainya Binatang-Binatang Itu Dapat Berbicara Bahasa Manusia


Kamu sudah pernah menonton film kartun Happy Feet? Film yang cukup terkenal itu mengisahkan tentang Mumble, seekor penguin yang bisa menari, tapi tidak bisa menyanyi. Alhasil, ia menjadi pecundang. Meskipun tariannya bagus, rasanya percuma kalau tidak didukung dengan suara yang oke. Demi menghapus kesedihannya, Mumble pun memilih meningggalkan rumahnya dengan tujuan mulia; mencari ikan yang akhir-akhir ini sulit didapatkan.


Petualangan Mumble dalam Happy Feet, berakhir di sebuah kebun binatang di Amerika. Akibat mengikuti kapal penarik ikan yang menyebabkan ikan-ikan menghilang, Mumble  terdampar di Amerika dan masuk ke kebun binatang. Di sana, ia mendapati dirinya hidup di dunia kepalsuan. Kandangnya memang terlihat seperti hamparan salju sebagaimana yang terdapat di rumahnya di Kutub, tetapi itu palsu. Semua hanya hiasan di kaca, dan bahkan Mumble sadar dirinya menjadi pusat perhatian makhluk lain. Makhluk yang memandangnya dari balik kaca. Manusia.

Pada adegan itu, saya teringat hewan-hewan yang terkurung di kebun binatang. Khususnya kebun binatang ragunan, satu-satunya kebun binatang yang dekat dengan tempat tinggal saya dan cukup sering saya  kunjungi, terutama setelah punya anak. Apakah perasaan binatang-binatang itu juga sama seperti perasaan Mumble yang terkurung di padang saljunya yang palsu? Merasa sedih dan tertipu? Terkurung di ruangan sempit, di kebun binatang, dan menjadi obyek perhatian. Tidak bisa pergi lebih jauh lagi, selain kandang yang mereka tempati. Terlebih binatang-binatang macam monyet dan burung, yang terkurung di kandang sempit. Betapa tersiksanya.

Terkurung di kandang sempit, adalah salah satu penderitaan binatang. Yang lebih menderita lagi, manakala mereka tidak diberi makan dengan layak, padahal mereka tidak diberi kebebasan untuk mencari makan sendiri. Sebagaimana yang terjadi di kebun binatang Surabaya. Betapa memprihatinkan. Menurut berita yang dilansir oleh situs VOA Indonesia, tertanggal  11 September 2012, 130 satwa di KebunBinatang Surabaya (KBS) mati  9 bulan terakhir, akibat serangan penyakit dan kurangnya sarana yang memadai, termasuk di dalamnya adalah perawat yang berkualitas.

Padahal, KBS sudah berdiri selama 96 tahun. Menurut Hadi Prasetyo, selain manajemen pengelolaan yang kurang baik, kebun binatang itu juga mengalami kelebihan satwa. Masalahnya, masyarakat Indonesia yang mampu memiliki binatang langka, dilarang untuk memeliharanya, dengan alasan perlindungan dan keselamatan binatang itu. Tetapi, negara pun tidak dapat menjamin kesejahteraan para binatang. Seandainya para binatang yang sedang sakit akibat kurang perawatan itu mampu bicara bahasa manusia, mereka mungkin akan protes sebagaimana Mumble di film Happy Feet. Lebih baik dilepas ke alam bebas, sehingga dapat mencari makan sendiri daripada terkurung di kandang sempit dan tidak dapat berbuat apa-apa selain menunggu mati.

Jadi, bagaimana tanggungjawab pengelola kebun bintang Surabaya dan tentu saja pemerintah kota Surabaya? Coba pikirkan nasib para binatang itu. Meskipun bukan manusia, mereka juga punya hak untuk hidup layak dan diperlakukan dengan baik.

Sebenarnya, kebun binatang adalah salah satu wisata edukasi yang sangat bermanfaat, terutama untuk anak-anak. Anak-anak bisa belajar mengenai beraneka ragam satwa dengan mengunjungi kebun binatang. Bila mengambil contoh kebun binatang ragunan, tiket masuknya pun amat terjangkau. Beberapa kali mengunjungi kebun binatang ragunan, terutama di hari libur, pengunjungnya sangat membludak. Mustahil biaya pakan dan  perawatan para binatang itu tidak dapat tertutupi oleh biaya tiket masuk.

Bagaimana dengan Kebun Binatang Surabaya? Tony Sumampau, Ketua Harian Tim Pengelola Sementara Kebun Binatang Surabaya, masih di berita VOA Indonesia, menambahkan bahwa dibutuhkan pengelolaan yang serius dengan dana yang cukup besar, agar Kebun Binatang Surabaya menjadi lebih baik dan sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kehutanan. Dibutuhkan dana sekitar 100 miliar untuk menangani permasalah KBS.

Permasalahannya, apakah kelak dana itu akan digunakan semaksimal mungkin untuk perawatan binatang-binatang atau justru dikorupsi oleh orang-orang tak bertanggungjawab? Jika saja KBS dikelola dengan baik, menjadi tempat wisata edukasi yang menarik, saya yakin akan banyak warga Surabaya yang mengunjunginya, seperti Kebun Binatang Ragunan. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....