Saturday, March 30, 2013

A Mom Behind Me


“Buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi? Paling juga nanti baliknya ke dapur,” begitu kata ayahku, sesaat setelah kutunjukkan surat pemberitahuan bahwa aku lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri di Semarang tanpa tes.


“Gak apa-apa. Kalau Ayah gak mau biayain, Mamah yang akan biayain kamu. Kamu harus jadi Sarjana, supaya di keluarga kita ada yang jadi sarjana,” mamahku menguatkan tekadku.

Ya, meskipun ayahku sempat meragukan kepergianku untuk menuntut ilmu ke Semarang, kulangkahkan kakiku ke sana. Kesempatan untuk masuk PTN tanpa tes itu tidak boleh disia-siakan. Kapan lagi aku bisa mendapatkannya? Aku berhasil mendapatkan tiket masuk itu  karena selalu rangking satu di kelas tiga SMA.

Saat itu, di keluarga besarku memang belum ada yang menjadi sarjana, apalagi sarjana dari Perguruan Tinggi Negeri. Orang tuaku bukan orang berada, hanya Pegawai Negeri Sipil golongan tiga A dengan gaji masing-masing di bawah satu juta. Mereka juga bukan sarjana, sehingga mamahku bersikeras agar anak-anaknya menjadi sarjana, meskipun semuanya perempuan dan kondisi ekonomi keluarga kami pas-pasan. Aku tak ingin menyia-nyiakan kerja keras Mama, yang sudah bekerja siang malam demi bisa menyekolahkanku dan adik-adikku. Biaya kuliah di PTN memang relatif terjangkau karena ada subsidi pemerintah, tapi juga ada biaya hidup sehari-hari yang harus ditanggung sendiri; biaya kos dan makan. Aku harus berhemat agar semua biaya tertutupi dengan kiriman orang tuaku yang pas-pasan. Saking hematnya, aku sampai terkena penyakit thypus, akibat mengirit makan dan makan sembarangan (beli makan di pinggir jalan yang murah meriah).

Sedihnya waktu itu, karena Mamah harus mengeluarkan biaya rawat inap di rumah sakit. Tak ada tanggungan dari kantor, semua murni uang Mamah. Aku tak boleh mengecewakan Mamah. Belajar dengan giat dan tak menyiakan waktu. Aku juga mulai cari uang sendiri dengan menulis cerpen di majalah dan mengikuti lomba menulis novel. Honornya bisa kugunakan untuk sekadar fotokopi tugas kuliah atau biaya makan sehari-hari. Kerja kerasku menampakkan hasil, ketika IPK-ku selalu di atas 3.

Demi kuliahku, tubuh Mamah kurus kering. Masih kuingat saat aku ketinggalan kereta dan Mamah membelikanku kereta eksekutif dengan harga dua kali lipat dari kereta bisnis. Mamah juga masih harus mengganti uang tiket yang telah dikeluarkan oleh temanku, karena aku memesan tiket lewat temanku. 

Akhirnya, aku diwisuda setelah kuliah selama 3,5 tahun (termasuk cepat untuk ukuran Sarjana S1) dan mendapat IPK dengan predikat cumlaude, 3,62. Mamah dan Ayah datang mendampingiku wisuda, terlihat senyum terkembang di bibir mereka. Selalu ada kebanggaan di bibir Mamah kala menceritakan tentangku kepada teman-teman kantornya. 

1 comment:

  1. Subhanallah, kerja keras bunda yang satu ini luar biasa pastinya utk mengejar senyum orang tua.... semoga yg baca bisa mengambil ibrah ya, Bund...



    Salam dari http://faridwajdi.com

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....