Saturday, March 30, 2013

Jilbab Tanda Cinta Kepada Rasulullah SAW

Para penulis berjilbab: Sita Sidharta-Aku-
Rahmadiyanti-Asma Nadia. Jilbab tak menghalangi
aktivitas

Mengenang kembali ketika aku mendapatkan hidayah untuk memakai hijab. Saat itu, di akhir kelas dua SMA, aku sedang berjalan-jalan dengan teman-temanku ke sebuah mall besar di Serpong, yang dekat dengan sekolahku. Biasanya, kami ke mall untuk nonton film terbaru di bioskop, sekadar cuci mata, kongkow-kongkow, atau makan Pizza. Di antara kami bertiga, ada satu teman yang sudah memakai hijab sejak masuk SMA. Aku dan seorang teman lain, belum berhijab. Temanku yang berhijab itu tak memberikan alasan masuk akal mengapa dia berhijab, selain bahwa dia mengikuti tradisi di keluarganya. Jadi, aku pun tak tergerak untuk berhijab.


Di keluargaku dulu, tidak ada yang memakai hijab. Ibuku juga tidak. Zaman aku sekolah dulu, perempuan yang berhijab masih langka. Kalau ada teman perempuan yang memakai hijab, pasti langsung menjadi pusat perhatian. Aku, yang semula cuek bebek dengan hijab, mendadak tersadarkan saat membaca buku tentang muslimah. Aku sudah lupa judulnya, tetapi itulah buku Islam pertama yang menginspirasiku. Buku yang memberikan banyak ilmu mengenai bagaimana seorang muslimah bersikap, berpakaian, dan beribadah. Buku itu kubeli di toko buku yang ada di dalam mall tempatku hendak menonton bersama teman-teman. Sambil menunggu loket pembelian tiket dibuka, kami jalan-jalan dulu ke toko buku. Entah mengapa, aku tertarik untuk mendatangi rak-rak yang memajang buku-buku islami, sedangkan temanku menyasar ke rak komik Jepang. Dan, di rak buku islami itulah kutemukan buku yang menjadi pembuka jalanku mengenal Islam. Aku pun membeli buku itu, padahal uangku pas-pasan. Kurasa, itulah cara Allah untuk memberiku petunjuk.

Di rumah, kubaca pelan-pelan buku yang ditulis dengan bahasa mengesankan dan menggugah, membuat dadaku berkobar dan bergetar. Aku, yang dilahirkan dalam keadaan Islam, tapi tak banyak mengenal Islam, terutama disadarkan mengenai kewajiban memakai hijab. Aku terguncang saat membaca hadits berikut, yang ada di dalam buku itu:

Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua golongan yang penduduk neraka yang aku belum pernah lihat sebelumnya: Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang zalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang,  cenderung kepada kemaksiatan, dan membuat orang lain cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal, bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali).” (HR. Muslim)

Buku itu menjelaskan keterangan hadist di atas, yang intinya salah satu dari penghuni neraka yang tidak akan masuk surga (bahkan mencium baunya pun tidak bisa), adalah wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Seperti apakah wanita yang berpakaian tetapi telanjang? Yaitu, wanita yang berpakaian tidak menutup aurat yang disyariatkan oleh Al Quran dan Hadist Rasulullah Saw, berpakaian tipis sehingga memperlihatkan lekuk tubuh, berpakaian tertutup  tetapi ketat sehingga bentuk tubuh masih terlihat. Dengan pakaian semacam itu, wanita tersebut mendorong orang lain (para lelaki) untuk berbuat kemaksiatan.

Disebutkan pula bahwa Allah Swt berfirman, “Hai, Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka tidak dikenal, dan demikian mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al Ahzab: 59).

Sebatas apakah aurat wanita dapat dilihat? Dari hadist riwayat Aisyah ra, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian tipis. Lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata, “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid, maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini dan ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan.

Cukuplah dalil-dalil yang mewajibkan memakai hijab, di mana kita hanya boleh memperlihatkan muka dan tangan kepada orang yang bukan mahram. Subhanallah, aku tak perlu berpikir panjang untuk mengenakan hijab. Hidayah Allah begitu mudah memasuki diriku, setelah datangnya pengetahuan tentang hijab. Aku tak perlu berpikir bahwa yang penting menjilbabi hati dulu, atau menjadi baik dulu, dan sebagainya, seperti yang menjadi alasan banyak wanita yang enggan berjilbab.

Setelah mendapatkan ilmu tentang hijab itu, aku mengutarakan keinginan berjilbab di depan ibuku. Ibuku terkejut, “kamu yakin?” tanyanya. Tanpa ragu, aku mengangguk semangat. Ibuku bertanya lagi, “tapi, kalau kamu sudah pakai jilbab, kamu tidak bisa melepasnya lagi. Kamu harus terus memakai jilbab.”

Mungkin memang aku ini orang yang serba instan, pikirku, “memangnya kenapa harus lepas-lepas lagi?” Apa susahnya sih pakai jilbab, sampai harus dilepas lagi? Aku tak berpikir soal godaan yang mungkin akan datang, tak pernah terpikir bahwa ternyata memakai jilbab itu berat. Saat itu yang penting sudah kutunaikan salah satu kewajiban seorang muslimah bahwa memakai jilbab itu wajib. Ibuku pun mulai membuatkan seragam sekolah yang baru untukku (di akhir kelas 2 SMA! Sebenarnya kan tanggung ya, sebentar lagi aku lulus SMA), seragam panjang dan jilbab putih.

Aku begitu bersemangat memulai hariku yang baru, memakai hijab. Pakaian panjang dan jilbab penutup kepala. Memang, ketika itu belum banyak ilmu agama yang kuserap, jadi akhlakku pun masih belum baik. Kalau sekarang banyak yang bilang, “Ih, udah pakai jilbab kok begitu ya?” Silakan tunjuk jari telunjuk kalian ke arahku, sebab setelah memakai jilbab (di kelas 3 SMA), aku justru pacaran! Lho? Yaaa… berilmu itu kan proses. Saat berpacaran, aku belum tahu kalau pacaran itu dosa, biarpun aku sudah pakai jilbab.

Lama-kelamaan, seiring dengan konsistennya berjilbab, ilmu pengetahuanku bertambah. Allah Swt memasukkan ilmu-Nya sedikit demi sedikit. Diberitahukannya kepadaku bahwa pacaran itu haram, justru saat aku sudah duduk di semester satu kuliah. Setelah itu, kuputuskan hubunganku dengan pacarku. Allah mengetahui setiap apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang, apakah orang itu benar-benar ingin menuju kepada kebaikan atau tidak? Maka, diberinya jalan kepadaku untuk terus mendekat kepada kebaikan. Didekatkannya aku dengan orang-orang baik, komunitas pengajian, dunia dakwah, dan lain sebagainya, yang membuatku terus bertahan dengan jilbabku meski dihadapkan pada  berbagai ujian. Misalnya, sulit mendapatkan pekerjaan gara-gara jilbab. Alhamdulillah, aku dijauhkan dari lingkungan kerja yang buruk, justru karena memakai hijab. Aku bekerja di institusi muslim, sehingga senantiasa berhubungan dengan orang-orang yang konsisten dalam kebaikan.

Allah pun  memberikan jodoh yang terbaik untukku, yang diperoleh tidak melalui jalan pacaran. Jodoh yang juga instan—lewat taaruf—tapi tidak asal-asalan. Jodoh yang mendukungku untuk terus berproses menjadi baik, sebab tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, sekalipun sudah memakai hijab, tak akan terlepas dari kesalahan.

Seorang muslimah yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, akan segera mengamalkan segala perintah Allah dan tuntunan Rasul-Nya tanpa banyak alasan dan pengingkaran. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, adalah ucapan, “kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS: An-Nur 51:52).

Memakai hijab, yaitu kain panjang yang menutupi seluruh tubuh dan jilbab penutup kepala sampai ke dada, adalah perintah Allah yang sudah termaktub di dalam ayat-ayat Al Quran, dan dijelaskan dengan gamblang oleh Rasulullah mengenai batasannya (kecuali muka dan telapak tangan). Perintah yang jelas dan tak bisa dibantah.

Aisyah ra berkata, “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan. Dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshar. Ketika turun kepada mereka ayat, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya” (QS An-Nur:31), maka para suami segera mendatangi istri-istrinya dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita, dan semua kerabat wanita. Dan tidak seorang pun di antara wanita itu, kecuali segera menyambar kain gorden (tirai) untuk menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya.”

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mencintai Rasulullah, meyakini dan menjalankan ajarannya, termasuk tentang pemakaian hijab (termasuk jilbab) tanpa banyak berpikir, beralasan, dan pengingkaran? Jika para wanita di zaman Rasulullah dulu, langsung menyambar kain gorden untuk menutupi kepala dan tubuhnya,setelah mendengar perintah Allah Swt agar berhijab, bagaimana dengan kita?

6 comments:

  1. Subhanallah... Saya juga pakai jilbab sejak kelas 2 SMA mbak. Salah satu buku juga menjadi motivasi saya untuk semakin memantapkan diri ^_^

    ReplyDelete
  2. Subhanallah... semoga tulisan ini bisa berdampak untuk para muslimah yang belum berhijab... amin...

    ReplyDelete
  3. Masya Allah 4 bidadari aamiin.
    Like post mb, Bukti cinta itu ya dari mulai yg kecil hingga yang terhijabi :)

    ReplyDelete
  4. seneng euy baca cerita2 postingan mbak leyla :)
    semoga selalu istiqomah ya mbak :)

    ReplyDelete
  5. Senang bisa bertemu dan kenal denganmu, Teh. Dah lama ya gak ketemu lagi ^_^

    ReplyDelete
  6. Kapan ya saya bisa bergabung (^_^)/

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya.
Mohon gunakan kata-kata yang sopan dan santun yaaa.....